GADIS BERACUN

GADIS BERACUN
BAB 216. Jimat sepuluh bayangan


***Paviliun Wu Dong***


"Dasar tua bangka! Tidak kusangka dia memiliki senjata spiritual yang hebat!" umpat Yang Ruo Li sambil melarikan diri dari kejaran dua puluh prajurit yang merupakan kultivator tingkat atas.


Yang Ruo Li yakin cermin besar di ruang kerja Bangsawan Fu Chen telah membongkar penyamarannya.


"Tombak Ular!"


"Kapak Perang!"


"Pedang bermata dua!"


"Garpu Harimau!"


Terdengar suara empat prajurit dari dua puluh prajurit yang mengejar Yang Ruo Li. Mereka berempat mengerahkan kekuatan spiritual ke dalam senjata andalan masing-masing dan terbang ke arah Yang Ruo Li.


Yang Ruo Li mengeluarkan kipas lipat abadi dan melemparkannya ke udara. Gadis muda itu melompat naik ke atas kipas lipat abadi sambil menghadap ke arah empat senjata rahasia yang sedang mengejarnya.


Yang Ruo Li memusatkan kekuatan spiritualnya untuk menghindari serangan keempat senjata itu dan berhasil.


Dua prajurit berhasil menyusul Yang Ruo Li. Mereka berdua berdiri di atas pedang terbang masing-masing dan melancarkan pukulan dari telapak tangan mereka ke Yang Ruo Li secara bersamaan.


Yang Ruo Li menahan dengan telapak tangannya dan memancarkan api surgawi ke bagian telapak tangan sehingga kedua prajurit itu segera menarik kembali tangan mereka dan menghunuskan pedang menyerang tubuh Yang Ruo Li.


Yang Ruo Li mengggunakan pedang terbang hadiah dari Zhe Liang untuk menangkis setiap serangan dari kedua prajurit dan juga melemparkan bubuk racunnya di udara sehingga dua prajurit itu serta puluhan prajurit yang mengejarnya bergerak mundur menjauhi bubuk beracun.


"Bangsawan Fu Chen memerintahkan untuk membunuhnya!" teriak salah satu prajurit itu, saat melihat Yang Ruo Li ingin melarikan diri lagi.


Sekitar tiga puluh prajurit yang berpatroli segera muncul di sana dan mengeluarkan anak panah masing-masing serta menembakkannya ke arah Yang Ruo Li.


Yang Ruo Li menggerakkan tubuhnya dengan gesit menghindari hujan panah itu dan juga menggunakan pedang terbang untuk menangkis semua anak panah.


Konsentrasi Yang Ruo Li terfokus ke semua anak panah itu sehingga tidak menyadari Yi Bo mengawasinya dari belakang.


Yi Bo mengumpulkan kekuatan spiritual hitam ke dalam telapak tangan dan melayangkannya ke arah bahu kanan Yang Ruo Li dengan cepat.


"Auh!" pekik Yang Ruo Li kesakitan sambil memegang bahu kanannya.


Pukulan itu berisi ratusan jarum beracun dan langsung menembus tulang bahu Yang Ruo Li. Api surgawi segera menetralisir semua racun tersebut dari dalam tubuh Yang Ruo Li.


Yang Ruo Li melemparkan sepasang jarum terbangnya ke arah Yi Bo. Sepasang jarum terbang itu sudah dikombinasikan dengan racun langka sehingga Yi Bo segera berlari menghindarinya.


Yang Ruo Li menggunakan kesempatan itu untuk mengambil jimat baru dari dalam cincin penyimpan batu giok.


Dalam hitungan detik, tubuh Yang Ruo Li berubah menjadi sepuluh dan berlari ke arah yang berbeda secara serentak. Yang Ruo Li menggunakan jimat sepuluh bayangan.


Para prajurit pun berpencar mengejar ke arah yang berbeda. Mereka sama sekali tidak menyadari Yang Ruo Li asli sudah bersembunyi ke dalam ruang dimensi cincin lotus.


***Kereta kuda besar Li Zhe Liang***


Chong Yun memegang jarum perak terakhir dan akan digunakan di bagian dahi Li Zhe Liang. Tiba-tiba Chong Yun merasakan kesakitan luar biasa sehingga menghentikan gerakan tangan yang sedang memegang jarum perak.


Keringat dingin bercucuran dari kening Chong Yun. Wajahnya pun berubah menjadi pucat seketika.


"Ada apa tuan muda Chong Yun?" tanya Lu Jing dengan khawatir.


"Aku…aku hanya kelelahan. Akan kulanjutkan nanti," jawab Chong Yun terbata-bata.


Jarum perak terakhir harus ditusuk di bagian kening Li Zhe Liang sehingga Chong Yun tidak mau melakukannya sekarang karena tahu pasti tubuhnya sedang mengalami serangan balik.


"Apakah bahu tuan muda Chong Yun sakit?" tanya Lu Jing saat melihat Chong Yun menekan keras bahu kanan dan terdengar suara meringis kesakitan.


"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," jawab Chong Yun.


Chong Yun mengalihkan pandangannya ke arah lain karena merasakan Li Zhe Liang sedang menatap tajam ke arahnya.


"Chong Yun. Apa yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Li Zhe Liang.


"Tidak! Aku tidak menyembunyikan apa pun," bantah Chong Yun.


Chong Yun memegang erat pergelangan tangan kirinya secara spontan. Bahkan Chong Yun berpindah duduk ke samping Lu Jing, menjauhi Li Zhe Liang.


"Lu Jing!" ucap Li Zhe Liang.


"Siap putra mahkota!" jawab Lu Jing.


Lu Jing mengetahui maksud Li Zhe Liang dengan cepat dan menahan Chong Yun serta membawanya ke hadapan Li Zhe Liang.


"Lu Jing! Apa yang kamu lakukan?" bentak Chong Yun sambil meronta-ronta.


Li Zhe Liang menarik pakaian yang menutupi pergelangan kiri Chong Yun sehingga terlihat gelang kristal di sana.


"Tuan muda Chong Yun memakai gelang kristal ini? Berarti tadi menerima serangan balik dari nona Ruo Li?" ucap Lu Jing.


Chong Yun diam seribu bahasa dan menundukkan kepalanya. Li Zhe Liang mengambil gelang kristal itu dari pergelangan tangan Chong Yun.


"Lu Jing! Percepat kereta kudanya! Aku mau tiba di lembah Pegunungan Wu Dong segera!" perintah Li Zhe Liang.


"Siap putra mahkota," jawab Lu Jing dengan patuh.


"Panggil Feng Teng, Fu Rong, dan Fu An menghadapku segera setelah tiba di sana," lanjut Li Zhe Liang.


"Baik putra mahkota," jawab Lu Jing.


Lu Jing segera mengirim jimat burung bangau ke Feng Teng. Saat ini Lu Jing ikut khawatir dengan keadaan Yang Ruo Li. Lu Jing tidak berani membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Li Zhe Liang jika Yang Ruo Li terluka parah.


***


"Zhe Liang. Yang Ruo Li sangat cerdik. Aku yakin dia sudah bersembunyi di dalam cincin dimensi," kata Chong Yun beberapa saat kemudian sewaktu merasakan aura dingin menyelimuti seluruh kereta kuda.


"Iya putra mahkota. Nona Ruo Li pasti bersembunyi di dalam cincin dimensi sekarang. Lu Jing bisa memakai gelang kristal itu sekarang untuk meringankan luka nona Ruo Li," kata Lu Jing.


"Tidak perlu!" tolak Li Zhe Liang singkat.


Walaupun Li Zhe Liang sangat mengkhawatirkan keadaan Yang Ruo Li, dirinya tidak mungkin menjadikan Lu Jing sebagai tumbal.


Suasana di dalam kereta kuda menjadi sunyi hingga akhirnya kereta kuda berhenti di dekat lembah Pegunungan Wu Dong.


Feng Teng, Fu Rong, dan Fu An sudah menunggu di sana. Mereka bertiga masuk ke dalam kereta kuda menemui Li Zhe Liang.


"Putra mahkota!" Mereka bertiga memberi hormat ke Li Zhe Liang sambil berlutut dengan satu kaki.


"Di mana Li Er?" tanya Li Zhe Liang.


"Ampun, putra mahkota. Nona Li Er menghilang di dalam lembah Pegunungan Wu Dong. Kami sudah mencarinya beberapa hari ini," lapor Feng Teng sambil menundukkan kepala.


"Fu Rong! Pimpin pasukan rahasia untuk ikut bersamaku menyerang lembah Pegunungan Wu Dong sekarang juga!" perintah Li Zhe Liang.


"Baik putra mahkota!" jawab Fu Rong dengan patuh.


Fu Rong sebagai pemimpin pasukan rahasia segera mengatur anggotanya untuk menjalankan perintah Li Zhe Liang, sedangkan Chong Yun, Lu Jing, dan Feng Teng juga ikut serta.


Mereka bertiga tahu pasti tidak ada yang bisa menghentikan niat Li Zhe Liang saat ini. Mereka bisa memastikan pasukan Bangsawan Fu Chen di lembah Pegunungan Wu Dong akan mengalami kehancuran besar-besaran.


***


Selamat malam readers. Jimat sepuluh bayangan ini author terinspirasi dari foto di bawah ini😁



Dikarenakan Zhe Liang masih sakit karena racun, jadi jimat itu dipakai Li Er dulu ya🤣. Jadi bukan niru jurus seribu bayangan milik naruto 😂😂😂.


Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya besok ya.


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG


AUTHOR: LYTIE