GADIS BERACUN

GADIS BERACUN
BAB 206. Yang Lim


***Kamar tamu tempat Tang Song menginap di Paviliun Wu Dong***


Tang Song memberitahukan kepada Tang Ying bahwa dirinya akan menemui Yang Lim besok pagi di perbatasan Kota Shang Ri La. 


Tang Song akan membawa Lai Yi dan lima orang pengikut dengannya, sedangkan sisa pengikut yang lain akan melindungi Tang Ying di Paviliun Wu Dong.


Tang Song melarang Tang Ying ikut dengannya besok karena takut sifat arogan dan angkuh Tang Ying akan membuat rencana mereka gagal.


Tang Ying menyanggupi permintaan Tang Song dan tidak merengek untuk ikut pergi. Tang Ying ingin menggunakan kesempatan di Paviliun Wu Dong untuk mendekati Fu Jiu Yun.


Tang Ying merasa kecewa karena belum berhasil bertemu dengan Fu Jiu Yun tadi. Padahal Tang Ying tahu Fu Jiu Yun berada di Paviliun Wu Dong saat ini.


Beberapa saat kemudian Tang Song dan Tang Ying meninggalkan kamar. Tang Song mengantar Tang Ying ke kamar tamu yang dipersiapkan untuk putri manja itu. Kamar Tang Ying berada tepat di samping kamar tamu Tang Song.


"Tang Ying. Jangan meninggalkan Paviliun Wu Dong sebelum aku kembali besok," pesan Tang Song.


"Baik Kak Tang Song," jawab Tang Ying dengan patuh sambil tersenyum lebar.


Suasana hati Tang Ying sangat baik karena sudah mendapatkan rencana bagus untuk menghadapi Yang Ruo Li dan juga bisa bertemu Fu Jiu Yun besok.


Ketika Tang Song ingin kembali ke kamar tamu yang dipersiapkan untuknya, Tang Song mendadak menghentikan langkah kaki dan mengedarkan pandangan ke sekeliling, yang terlihat gelap Dan sunyi.


Entah mengapa Tang Song merasakan ada yang mengawasinya secara diam-diam.


"Lai Yi. Apakah kamu merasakan ada orang yang mengawasi kita secara diam-diam?" tanya Tang Song ke Lai Yi, yang berjaga di depan pintu kamarnya.


"Iya, Pangeran Tang Song. Lai Yi pun mempunyai perasaan aneh itu, tetapi tadi Lai Yi dan mereka bertiga sudah memeriksa keadaan sekeliling kamar Pangeran Tang Song dan Putri Tang Ying. Tidak ditemukan hal-hal yang mencurigakan," jawab Lai Yi.


"Paviliun Wu Dong merupakan milik Bangsawan Fu Chen. Kalian harus bersikap waspada dan hati-hati selama berada di sini!" perintah Tang Song.


"Baik Pangeran Tang Song," jawab Lai Yi dan tiga pengikut lainnya.


"Lai Yi. Besok pagi kamu dan lima pengawal lainnya ikut aku ke perbatasan Kota Shang Ri La, sedangkan sisa pengawal lainnya lindungi Putri Tang Ying di Paviliun Wu Dong," ucap Tang Song.


"Baik Pangeran Tang Song. Lai Yi akan menyampaikannya ke pengawal lainnya," jawab Lai Yi dengan patuh.


"Bagus! Kalian berempat bergiliran berpatroli dengan pengawal lainnya untuk  berjaga di depan kamarku dan Tang Ying malam ini," lanjut Tang Song.


"Iya Pangeran Tang Song!" jawab Lai Yi dan tiga pengawal bersamaan.


Tang Song berjalan masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, sedangkan di tempat gelap tidak jauh dari kamar tamu Tang Song terlihat sosok pria berdiri di sana.


Sedikit cahaya bulan secara samar menyinari wajahnya di dalam kegelapan malam. Pria itu adalah Lan Xi. Lan Xi memantau Lai Yi dan tiga pengawal yang berjaga di depan kamar Tang Ying serta Tang Song.


Beberapa saat kemudian Lai Yi bergerak cepat meninggalkan tempat itu tanpa disadari oleh Lai Yi maupun tiga pengawal lainnya.


***Perbatasan Kota Shang Ri La***


Yang Ruo Li berada di salah satu tempat makan di sekitar perbatasan Kota Shang Ri La sambil mengawasi gerbang Kota Shang Ri La.


Banyak orang berlalu lalang keluar masuk gerbang kota sambil menunjukkan identitas diri ke prajurit Bangsawan Fu Chen yang berjaga di sana. 


Tentu saja Yang Ruo Li juga mempunyai kartu identitas palsu yang sudah ditunjukkannya kepada prajurit ketika keluar masuk gerbang perbatasan Kota Shang Ri La itu.


Mata tajam Yang Ruo Li sedang mengawasi seorang pria tua yang berdiri di sekitar gerbang Kota Shang Ri La. Pria tua itu terlihat sangat familiar di mata Yang Ruo Li, tetapi gadis muda itu tidak bisa mengingat di mana dirinya pernah bertemu pria tua itu.


Pakaian prajurit yang dikenakan pria itu terlihat sedikit berbeda dengan prajurit biasa. Yang Ruo Li menebak pria tua itu pasti memiliki jabatan yang lebih tinggi dibandingkan prajurit lainnya.


Pria tua itu mengangguk ramah dan sopan kepada setiap orang yang berlalu lalang dan menyapanya. Itu membuktikan pria tua itu sering berjaga di sana.


Batuan andesit ini adalah salah satu formasi yang berhasil dibuat oleh Yang Ruo Li beberapa waktu yang lalu. Kegunaannya adalah mendengar pembicaraan orang dalam jarak dekat. 


Yang Ruo Li ingin mengetahui siapa identitas pria itu. Dari tempatnya berada, Yang Ruo Li bisa mendengar jelas suara setiap orang yang menyapa pria tua itu.


***


"Selamat pagi Letnan Jendral Yang Lim," sapa seorang wanita tua.


"Selamat pagi," balas Yang Lim dengan sopan.


"Letnan Jendral Yang Lim sangat rajin dan sudah berjaga di gerbang kota sepagi ini," ucap seorang pria tua.


"Demi keamanan Kota Shang Ri La," jawab Yang Lim sambil tersenyum ramah.


***


"Ternyata dia Yang Lim, ayah brengsek dan tidak berguna!" umpat Yang Ruo Li di dalam hati.


Yang Ruo Li menyimpan kembali batuan andesitnya setelah memastikan identitas pria itu.


Pantas saja Yang Ruo Li merasa familiar karena wajah Yang Rong Xian dan Yang Rong Le ada sedikit kemiripan dengan Yang Lim.


Yang Ruo Li bersyukur di dalam hatinya bahwa dirinya tidak mirip Yang Lim sama sekali. Malahan Yang Ruo Li lebih mirip Mu Dan.


Yang Ruo Li tidak pernah memaafkan perbuatan Yang Lim menelantarkan dirinya serta Mu Dan di Kediaman Keluarga Yang.


"Benar-benar tua bangka berhati dingin! Kabar kematian Huo Rong, Yang Rong Le, dan Yang Rong Xian pasti sudah diketahui olehnya. Akan tetapi, Yang Lim masih saja bisa tersenyum membalas sapaan setiap orang saat ini," gumam Yang Ruo Li sambil menggelengkan kepalanya.


Yang Ruo Li bertekad di dalam hatinya untuk menghalangi Yang Lim bertemu dengan Mu Dan ketika ibunya siuman nanti. Gadis muda itu akan membawa Mu Dan mengikuti Li Zhe Liang pulang ke Kerajaan Dong Ming sehingga Yang Lim tidak memiliki kesempatan mendekati Mu Dan lagi.


Yang Ruo Li mengeluarkan lempengan giok milik Lan Xi dan bermaksud memanggil pria itu, tetapi gadis muda itu menghentikan niatnya karena melihat seorang pria muda berjalan mendekati Yang Lim.


"Tang Song? Mengapa Tang Song bertemu Yang Lim? Di mana putri manja itu?" kata hati Yang Ruo Li.


Terlihat Yang Lim tersenyum ramah ke Tang Song, lalu mereka berdua berbincang sejenak. Kemudian Yang Lim mengikuti Tang Song menuju tempat makan, tepatnya di tempat Yang Ruo Li berada sekarang.


Yang Ruo Li menundukkan kepalanya dengan cepat dan berpura-pura minum teh dari cangkirnya.


Tang Song, Yang Lim, beserta enam orang pengikutnya berjalan melewati Yang Ruo Li menuju kamar makan khusus untuk tamu yang memesannya terlebih dahulu.


Mereka sama sekali tidak mencurigai Yang Ruo Li dalam penyamaran pria dewasa.


"Aku penasaran apa yang akan mereka bicarakan di sana," kata hati Yang Ruo Li.


***


Selamat malam readers. Aksi balas dendam Yang Ruo Li akan dilanjutkan di bab besok siang ya.


Pastinya Tang Song tidak bisa pulang ke Paviliun Wu Dong nih 😂 Apa yang terjadi dengan Pangeran kelima Kerajaan Tang itu?


Terima kasih sudah mengikuti jalan ceritanya readers tercinta 🤗


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE