
***Paviliun Ru Yi***
Yang Ruo Li bersiap melangkahkan kaki meninggalkan Paviliun Ru Yi menuju Kediaman Bangsawan Fi Chen untuk meminjam pedang penghancur.
"Bangsawan Fu Chen, Wen Hui Min, Fu Jiu Yun! Ini saatnya kalian membalas budi ibuku puluhan tahun yang lalu. Jika tidak mau meminjamkan pedang penghancur, aku akan merebutnya!" tekad hati Yang Ruo Li.
"Tunggu sebentar!"
Tiba-tiba Li Zhe Liang bersuara, sehingga Yang Ruo Li menghentikan langkah kakinya dan membalikkan badan menghadap ke arah Li Zhe Liang.
"Ikut aku!" perintah Li Zhe Liang dan berjalan masuk ke dalam salah satu kamar yang terletak di sebelah kamar Mu Dan.
Yang Ruo Li menatap punggung Li Zhe Liang yang berjalan tanpa ragu ke dalam kamar itu, seolah-olah yakin dirinya pasti akan ikut masuk ke sana.
"Dasar pria dingin!" kata hati Yang Ruo Li.
Yang Ruo Li ingin segera menuju Kediaman Bangsawan Fu Chen untuk mendapatkan pedang penghancur. Akan tetapi, dirinya tidak ingin menyinggung perasaan pria tampan yang berbahaya itu sehingga berjalan masuk ke dalam kamar dengan enggan.
Pada saat kaki Yang Ruo Li melangkah masuk ke dalam kamar l, pintu kamar langsung tertutup rapat dengan sendirinya.
Li Jian Ming ingin ikut masuk ke dalam kamar, tetapi dicegat oleh Lu Jing dan Feng Teng yang sudah berdiri berjaga di depan pintu kamar.
"Tuan Li Jian Ming! Tuanku ingin bicara secara pribadi dengan nona Ruo Li!" kata Lu Jing.
"Baiklah! Aku akan tunggu di sini!" jawab Li Jian Ming.
Entah mengapa Li Jian Ming merasa takut Yang Ruo Li akan berada dalam bahaya jika berduaan dengan Li Zhe Liang di dalam kamar. Apa lagi kamar itu adalah kamar tidur yang dipersiapkan untuk Yang Ruo Li.
Li Jian Ming memutuskan untuk berjaga di luar kamar. Jika Yang Ruo Li terancam bahaya di dalam sana, dirinya akan menolong Yang Ruo Li.
Li Jian Ming sama sekali tidak tahu jika Li Zhe Liang sudah menggunakan sinar energi pembatas sehingga percakapannya dengan Yang Ruo Li di dalam kamar, tidak bisa terdengar oleh siapa pun.
***
Yang Ruo Li menatap ke arah Li Zhe Liang yang sudah duduk di depan meja dengan wajah tanpa ekspresi.
"Tuan tampan! Ada keperluan apa memanggilku?" tanya Yang Ruo Li.
Li Zhe Liang melihat Yang Ruo Li dari atas kepala sampai ujung kaki.
"Kamu tidak malu pergi ke Kediaman Bangsawan Fu Chen dengan penampilan berantakan seperti ini?" tanya Li Zhe Liang.
Yang Ruo Li menundukkan kepala untuk memeriksa penampilannya dan mengakui dalam hatinya, perkataan Li Zhe Liang sangat benar.
Tadi seluruh perhatiannya hanya fokus kepada Mu Dan sehingga tidak peduli dengan keadaan dirinya sendiri yang luka di sekujur tubuh, rambut berantakan, dan juga pakaian penuh dengan percikan darah.
"Aku akan ganti pakaian baru!" kata Yang Ruo Li.
Li Zhe Liang menuangkan teh ke dalam cangkir dan meminumnya secara perlahan. Yang Ruo Li berdiri di hadapannya menunggu dengan sabar.
Lima menit sudah berlalu. Akan tetapi, Li Zhe Liang masih duduk dengan tenang dan wajah tanpa ekspresi di sana sehingga membuat Yang Ruo Li tidak sabar untuk berbicara lagi.
"Tuan tampan! Sepertinya ini adalah kamarku. Aku ingin ganti pakaian. Silakan keluar sekarang!" kata Yang Ruo Li.
Pajangan dan hiasan di dalam kamar ini sama persis dengan keadaan kamar yang ditempati Mu Dan sehingga Yang Ruo Li yakin kamar ini dipersiapkan untuknya.
***
"AH!" Yang Ruo Li berteriak keras karena tiba-tiba tubuhnya ditarik oleh kekuatan kasat mata dan berakhir dengan dirinya duduk di atas pangkuan Li Zhe Liang.
Li Zhe Liang memeluk pinggang ramping Yang Ruo Li dan mendekatkan wajahnya ke wajah Yang Ruo Li.
"Kamu mengusirku?" tanya Li Zhe Liang.
"Tidak! Akuβ¦.aku sudah bertunangan sehingga tidak baik bagi tuan tampan berada di kamar yang sama denganku. Aku tidak mau merusak nama baik tuan tampan," kata Yang Ruo Li.
"Namaku sudah tercemar ketika berjalan denganmu di jalan tadi!" kata Li Zhe Liang.
Li Zhe Liang menatap ke arah lengan kiri Yang Ruo Li sehingga membuat gadis muda itu teringat akan kejadian pakaiannya dibuka oleh Li Zhe Liang beberapa waktu yang lalu.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Yang Ruo Li sambil menyilangkan tangan kanan di depan dada secara spontan.
Li Zhe Liang tersenyum tipis melihat reaksi Yang Ruo Li sehingga muncul keinginan untuk mengerjai Yang Ruo Li.
"Hal yang sedang kamu pikirkan!" jawab Li Zhe Liang.
***
Di tunggu ya readers lanjutan ceritanya sambil pikiran menghalu tentang apa yang akan dilakukan oleh Li Zhe Liang terhadap Yang Ruo Liπππ.
Positive thinking ya gaesss....
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE