GADIS BERACUN

GADIS BERACUN
BAB 185. Botol bertuah


***Hutan Tengkorak***


Yang Ruo Li melepaskan tangannya dari pinggang Li Zhe Liang dengan perlahan, lalu menatap lekat wajah Li Zhe Liang.


"Iya. Ayo kita pulang, Zhe Liang. Pakai kipas lipat abadi lebih nyaman," ucap Yang Ruo Li.


Yang Ruo Li mengeluarkan kipas lipat dari cincin penyimpan batu giok miliknya dan melemparkan ke udara sehingga berubah bentuk menjadi besar.


Mata Yang Ruo Li melirik ke arah kunang-kunang yang masih berterbangan di sekitarnya. Sebenarnya gadis muda itu belum puas menikmati cahaya terang dari tubuh kunang-kunang.


Li Zhe Liang bisa membaca isi hati Yang Ruo Li sehingga mengambil salah satu senjata abadi lainnya dari cincin penyimpan batu rubi. Sebuah botol bening berada di genggaman tangan Li Zhe Liang.


Li Zhe Liang membuka tutup botol bening itu. "Kunang-kunang!" ucap Li Zhe Liang.


Secara ajaib semua kunang-kunang yang terbang di sekitar mereka, semuanya terbang masuk ke dalam botol bening itu. Yang Ruo Li pun merasa takjub dan penasaran apa kegunaan botol bening itu.


"Zhe Liang. Ini senjata spiritual juga?" tanya Yang Ruo Li ketika melihat Li Zhe Liang menutup botol bening itu setelah semua kunang-kunang masuk ke dalamnya.


"Iya. Namanya botol bertuah. Bisa menyimpan makhluk hidup di dalamnya dan mengikat kontrak secara langsung," jawab Li Zhe Liang.


Yang Ruo Li menatap botol bertuah yang berisi kunang-kunang dengan mata berbinar-binar. Gadis muda itu berusaha menebak di dalam hati, apa yang hendak dilakukan oleh Li Zhe Liang terhadap semua kunang-kunang itu.



"Kemarikan tanganmu Li Er," pinta Li Zhe Liang.


Yang Ruo Li menuruti dan mengulurkan tangan kanannya ke Li Zhe Liang. Li Zhe Liang memegang jari telunjuk Yang Ruo Li dan menempelkan ke atas tutup botol bertuah.


"Li Er. Kerahkan sedikit kekuatan spiritualmu ke jari telunjuk ini," ucap Li Zhe Liang.


Yang Ruo Li menganggukkan kepala dan melakukan permintaan Li Zhe Liang.


Beberapa saat kemudian Li Zhe Liang mengangkat jari telunjuk Yang Ruo Li dari atas tutup botol bertuah.


"Sekarang Li Er pemilik botol bertuah ini," ucap Li Zhe Liang.


"Zhe Liang. Bagaimana cara menggunakannya?" tanya Yang Ruo Li dengan semangat.


Yang Ruo Li tahu Li Zhe Liang menghadiahkan botol bertuah berisi kunang-kunang itu kepadanya dan yakin ada kegunaan lain dari botol bertuah.


"Aku akan memperlihatkannya padamu," jawab Li Zhe Liang.


Li Zhe Liang memeluk pinggang Yang Ruo Li dan melompat naik ke atas kipas lipat abadi yang sudah berukuran besar.


Mereka berdua duduk bersila di atas kipas lipat abadi karena tempatnya cukup luas. Li Zhe Liang membuka tutup botol bertuah. Semua kunang-kunang terbang keluar dan mengelilingi mereka lagi.


Yang Ruo Li tersenyum lebar dan memandang takjub sekelilingnya. Ada beberapa ekor kunang-kunang yang terbang mendekati Yang Ruo Li dan hinggap di pergelangan tangan gadis muda itu.


"Zhe Liang. Mereka bisa membaca keinginanku. Sangat menakjubkan," ucap Yang Ruo Li dengan riang.


"Iya. Umur kunang-kunang dewasa hanya dua sampai tiga minggu saja. Akan tetapi, jika mereka tinggal di ruang dimensi maka masa hidupnya bisa lebih lama," jelas Li Zhe Liang.


Yang Ruo Li mengerti maksud perkataan Li Zhe Liang. Lima jam di dalam ruang dimensi sama dengan lima menit di dunia nyata sehingga semua kunang-kunang ini bisa berumur lebih panjang saat berada di ruang dimensi.


"Li Er tidak perlu mengkhawatirkan makanan mereka. Pada saat mereka lapar, mereka akan masuk ke dalam botol bertuah ini dan mereka akan kenyang dalam waktu singkat," lanjut Li Zhe Liang.


Kunang-kunang termasuk jenis karnivora yaitu hewan pemakan daging. Makanan kunang-kunang adalah makhluk kecil seperti siput, laba-laba, dan serangga lainnya.


Di ruang dimensi Yang Ruo Li hanya ada tanaman langka, rumput roh, serta kayu roh saja sehingga Li Zhe Liang sudah memikirkan semuanya terlebih dahulu dengan sempurna agar Yang Ruo Li tidak perlu menghabiskan waktu mencari makanan untuk kunang-kunang.


"Terima kasih Zhe Liang. Aku sangat menyukai hadiah ini," kata Yang Ruo Li sambil mencium pipi Li Zhe Liang satu kali dengan cepat.


Li Zhe Liang memegang pipi merona merah Yang Ruo Li dan membelainya dengan lembut. Yang Ruo Li merasakan aliran listrik kecil menyengat pipinya melalui sentuhan tangan Li Zhe Liang.


"Ayo kita pulang sekarang, Li Er," kata Li Zhe Liang.


"Iya," jawab Yang Ruo Li.


Gadis muda itu menggunakan kekuatan spiritualnya menggerakkan kipas lipat abadi menuju Paviliun Ru Yi.


Kipas lipat abadi terbang di atas langit dengan kecepatan biasa saja karena Yang Ruo Li ingin menikmati kebersamaannya bersama Li Zhe Liang dan juga pemandangan malam Kota Shang Ri La.


Sesekali Yang Ruo Li berdiri di atas kipas lipat abadi sambil bermain dengan kunang-kunang yang berterbangan di sekitarnya. Yang Ruo Li merasa sangat senang dan bahagia.


Sementara itu Li Zhe Liang tetap duduk bersila saja. Li Zhe Liang sedang berusaha menahan rasa sakit organ dalamnya dan menyembunyikannya dari Yang Ruo Li.


Li Zhe Liang memang sengaja membuat perhatian Yang Ruo Li teralihkan oleh kunang-kunang yang indah. Akan tetapi, sepandai-pandainya Li Zhe Liang menyembunyikan kondisinya saat ini, Yang Ruo Li bisa merasakannya.


***


Selamat siang readers tercinta. Semoga suka ya romantis ala Zhe Liang, putra mahkota yang tampan, dingin, dan beraroma cuka 😊.


Bab ini full sweet untuk membuat readers senyum-senyum sendiri. Bab nanti malam akan membuat perasaan readers serasa makan permen nano-nano.


Author tunggu dukungan vote, tips iklan, hadiah, like serta komentar positifnya ya 🤗🙏.


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE