
Lan Xi berdiri di depan bangunan itu dengan perasaan ragu-ragu untuk menyusul ke dalam atau tidak. Lan Xi tidak menyangka Yang Ruo Li berani masuk ke dalam tempat itu walaupun penampilan gadis muda itu dalam wujud pria saat ini.
Akhirnya Lan Xi memutuskan menggunakan indra spiritualnya untuk memeriksa apa yang dilakukan oleh Yang Ruo Li di dalam sana. Lan Xi berfirasat Tang Song akan mengalami kemalangan dalam waktu dekat.
Lan Xi berjalan masuk ke dalam tempat makan yang berada di sebelah bangunan itu agar memudahkannya menggunakan indra spiritual mengintai perbuatan Yang Ruo Li.
Sementara itu Fu Rong dan Fu An juga berdiri tidak jauh dari bangunan itu. Wajah kedua gadis muda itu merona merah dan malu.
"Kak Fu Rong. Apakah kita harus mengirim berita tentang Mona Ruo Li mengunjungi tempat itu?" tanya Fu An dengan suara kecil.
"Iya. Cepat kirimkan berita ini ke Lu Jing," jawab Fu Rong dengan yakin.
"Baik Kak Fu Rong," jawab Fu An dengan patuh.
Beberapa saat kemudian cahaya jimat burung bangau terbang menuju Paviliun Ru Yi. Fu Rong dan Fu An tidak berani membayangkan apa reaksi Li Zhe Liang saat tahu Yang Ruo Li berada di tempat bord*l pria.
***
Yang Ruo Li berada di dalam tempat bord*l pria dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
Berbagai macam tipe pria ada di sana. Yang tampan, kurus, elegan, maupun yang kasar. Seorang pria gemulai menghampiri Yang Ruo Li dan menyambutnya dengan ramah.
"Selamat datang tuan tampan. Aku A Bai, akan menyenangkan hati tuan tampan hari ini," ucap A Bai sambil mengedipkan mata dengan genit.
"Aku datang untuk melakukan transaksi jual beli," jawab Yang Ruo Li.
"Jual beli?" tanya A Bai.
Yang Ruo Li menunjuk ke arah Tang Song, yang dipapah oleh dua pria gemulai. A Bai berjalan menghampiri Tang Song dan memegang dagu Tang Song untuk melihat jelas wajah pangeran kelima Kerajaan Tang itu.
Terlihat jelas bekas tamparan di pipi kiri dan kanan Tang Song sehingga A Bai menoleh ke arah Yang Ruo Li.
"Pelayan ini membuat nyonya besar marah dan menamparnya. Nyonya besar memintaku untuk menjualnya ke sini," ucap Yang Ruo Li dengan santai.
"Wajah dan postur tubuhnya lumayan bisa menarik banyak pelanggan. Berapa harga jualnya?" tanya A Bai.
"Sesuka hati saja. Nyonya besarku kaya," jawab Yang Ruo Li dengan cepat.
"Kalau begitu, aku bayar sepuluh koin emas. Bagaimana?" tanya A Bai.
"Iya," jawab Yang Ruo Li sambil mengulurkan tangannya ke arah A Bai.
A Bai mengambil satu kantong kecil berisi sepuluh koin emas dan memberikannya ke Yang Ruo Li.
"Bawa dia ke ruangan khusus untuk pemula. Kalian bedua latih dia di sana!" perintah A Bai ke dua pemuda bertubuh kekar dan penampilan kasar.
Yang Ruo Li merasakan bulu roma tubuhnya berdiri semua dan tidak berani membayangkan kemalangan Tang Song dalam waktu dekat. Tang Song memang pantas mendapatkannya karena berani berniat menjadikannya selir.
"A Bai akan tunggu kedatangan tuan tampan lain kali. Jangan khawatir. Harga khusus," kata A Bai sambil mengedipkan matanya sekali lagi.
"Iya, iya," jawab Yang Ruo Li dan mempercepat langkah kakinya meninggalkan tempat bord*l pria itu.
***
"Ha ha ha! Tang Song! Kamu suka memaksa wanita menjadi selirmu bukan? Rasakan sendiri menjadi selir orang," kata hati Yang Ruo Li.
Suasana hati Yang Ruo Li sangat gembira sehingga berjalan masuk ke dalam tempat makan yang berada di sebelah bangunan tadi, yang mana Lan Xi juga berada di sana. Kera Purba sudah disimpan ke dalam ruang dimensi cincin lotus.
Tempat makan ini terlihat lebih berkelas dibandingkan tempat makan sebelumnya. Menu makanan yang dijual juga bervariasi, bahkan buah roh berkualitas tinggi juga ada.
"Tang Song! Tang Song! Tidak disangka harga jualmu hanya sebanding dengan sepuluh buah roh kualitas tinggi," kata hati Yang Ruo Li.
Saat ini Yang Ruo Li sudah bisa meracik pil elixir kualitas tinggi dengan bantuan api surgawi sehingga gadis muda itu tidak perlu makan buah roh lagi.
"Baik Tuan," jawab pelayan.
Beberapa saat kemudian pelayan datang mengantarkan dua piring yang berisi sepuluh buah roh. Yang Ruo Li langsung membayarnya dengan sepuluh koin emas.
"Bai Hu sangat menyukai buah roh. Xue Qiu dan Lan Long pasti menyukainya juga," kata hati Yang Ruo Li sambil menyimpan sepuluh buah roh itu ke dalam cincin penyimpan batu giok.
Yang Ruo Li tidak menyimpannya ke dalam ruang dimensi karena takut Xue Qiu arogan akan menghabiskan semuanya sehingga Lan Long dan Bai Hu tidak kebagian.
Beberapa saat kemudian Yang Ruo Li memegang lempengan giok milik Lan Xi dan mendekatkannya ke bibir.
"Lan Xi! Lan Xi!" panggil Yang Ruo Li dengan suara kecil.
Lempengan giok memancarkan cahaya dan Lan Xi muncul secara tiba-tiba, duduk di hadapan Yang Ruo Li sehingga membuat gadis muda itu terkejut.
"Lan Xi! Kamu muncul seperti hantu. Mengejutkanku saja!" keluh Yang Ruo Li sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri.
"Terkejut? Aku kira kamu tidak takut pada apa pun," jawab Lan Xi dengan suara datar.
Dengan indra spiritualnya, Lan Xi sudah tahu Yang Ruo Li menjual Tang Song di tempat bord*l pria dan menggunakan semua koin emas itu untuk membeli buah roh berkualitas tinggi.
Sementara Yang Ruo Li tidak mengerti maksud perkataan Lan Xi dan tidak memedulikannya. Gadis muda itu memberikan racun pelacak jiwa pil yang sudah diraciknya ke Lan Xi.
"Ini racun pelacak jiwa pil yang kamu mau," kata Yang Ruo Li.
"Kamu memang alchemist yang hebat," puji Lan Xi.
"Aku ingin meminta bantuanmu," ucap Yang Ruo Li secara spontan.
"Nona ingin meminta bantuan apa?" tanya Lan Xi.
"Nona? Kamu sudah tahu aku memakai jimat pengubah wujud?" tanya Yang Ruo Li.
"Iya," jawab Lan Xi dengan singkat.
Yang Ruo Li menatap intens Lan Xi dari atas kepala sampai ujung kaki. Gadis muda itu berfirasat Lan Xi bukanlah orang jahat dan bisa dijadikan teman. Sama seperti Li Jian Ming.
"Aku sedang mencari anak hilang di Kota Shang Ri La dan yakin ada hubungannya dengan Sekte Sesat. Racun pelacak jiwa pil yang kamu inginkan pasti untuk mencari anak yang hilang bukan?" tanya Yang Ruo Li tanpa basa-basi.
"Iya! Tepatnya aku ingin menemukan sarang Sekte Sesat," jawab Lan Xi dengan jujur.
"Kamu ingin menggunakan racun pelacak jiwa pil ke salah satu anak dan dijadikan umpan untuk memancing Sekte Sesat menangkapnya?" tanya Yang Ruo Li sekali lagi.
"Betul dugaanmu. Kamu simpan dulu lempengan giok ini. Aku akan menghubungimu jika berhasil melacak tempat anak hilang," ucap Lan Xi.
"Baiklah," jawab Yang Ruo Li.
Lan Xi meninggalkan tempat makan dengan cepat, sedangkan Yang Ruo Li memesan beberapa makanan kecil untuk mengisi perutnya terlebih dahulu.
***
Selamat malam readers. Banyak yang kasihan atau acungkan jempol untuk kemalangan Tang Song? 😂😂
Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya besok ya. Ruo Li akan bertemu dengan anggota Sekte Sesat.
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE