
***Taman halaman kamar tamu***
Pelayan Kediaman Bangsawan Fu Chen menyajikan beraneka ragam masakan mewah di atas meja. Li Zhe Liang dan Yang Ruo Li duduk berdampingan, sedangkan Lu Jing menggunakan alasan ingin bermeditasi di dalam kamar dan tidak bergabung makan malam dengan mereka.
Lu Jing sangat tahu diri untuk tidak mengganggu waktu berduaan Li Zhe Liang dan Yang Ruo Li. Sejak tiba di halaman kamar tamu, Lu Jing tidak pernah keluar dari kamar tamu yang dipersiapkan untuknya.
"Nona Yang Ruo Li. Semua masakan lezat ini dipersiapkan untuk menyambut tamu agung di Kediaman Bangsawan Fu Chen," kata salah satu pelayan wanita.
"Tamu agung? Sejak kapan aku menjadi tamu agung di sini? Wen Hui Min benar-benar rubah betina yang licik dan pintar,"kata hati Yang Ruo Li.
"Terima kasih!" jawab Yang Ruo Li dengan sopan.
"Nona Yang Ruo Li. Ini adalah arak terbagus dari Kerajaan Dong Ming. Nyonya tahu Noma Yang Ruo Li pasti menyukai semua benda dari Kerajaan Dong Ming," ucap pelayan lainnya sambil menuangkan arak di cangkir Yang Ruo Li dan cangkir Li Zhe Liang.
"Sampaikan terima kasihku kepada kebaikan hati Nyonya Fu. Aku pasti akan menghabiskan arak ini," jawab Yang Ruo Li.
Pelayan wanita yang menuangkan arak tersenyum lebar mendengar perkataan Yang Ruo Li karena dia diberi perintah oleh Wen Hui Min untuk memastikan Yang Ruo Li minum arak tersebut.
"Nona Yang Ruo Li. Kami permisi dulu!" Para pelayan Kediaman Bangsawan Fu Chen berpamitan setelah menyajikan semua makanan dan arak di atas meja.
***
Li Zhe Liang menatap satu persatu makanan yang tersaji di atas meja. Kemudian mengangkat cangkir arak dan mencium aromanya. Lalu meletakkannya kembali di atas meja.
Tentu saja Yang Ruo Li mengetahui semua gerak gerik Li Zhe Liang. Dirinya sendiri pun melakukan hal yang sama. Walaupun racun cinta sudah meresap ke dalam semua makanan itu, kemampuan ilmu racun Yang Ruo Li pastilah mengetahui dengan cepat adanya racun itu di dalam semua makanan dan juga di dalam arak.
"Jika aku masih Yang Ruo Li dulu, pasti sudah mati di tangan rubah betina itu berkali-kali!" kata hati Yang Ruo Li.
Pantas saja Wen Hui Min bisa bertahan menjadi nyonya besar di Kediaman Bangsawan Fu Chen. Sifat Wen Hui Min sangat kejam, licik, dan egois.
Wen Hui Min khawatir Yang Ruo Li tidak mencicipi semua masakan yang telah diberi racun cinta sehingga memasukkan racun yang sama di arak bagus dari Kerajaan Dong Ming karena Wen Hui Min yakin Yang Ruo Li akan mencicipi arak yang berasal dari kampung halaman Mu Dan.
"Zhe Liang! Kamu pasti sudah tahu ada racun di makanan dan arak," kata Yang Ruo Li dengan suara kecil.
Li Zhe Liang menganggukkan kepalanya.
Beberapa saat kemudian Yang Ruo Li mendekatkan kursinya ke kursi Li Zhe Liang.
"Zhe Liang! Cepat makan obat penawar ini. Kemudian berpura-pura terkena racunnya," kata Yang Ruo Li sambil memberikan pil penawar ke Li Zhe Liang melalui bawah meja.
Yang Ruo Li yakin saat ini penjaga Kediaman Bangsawan Fu Chen pasti sudah dikirim oleh Wen Hui Min untuk mengawasinya dan Li Zhe Liang. Para penjaga itu diberi tugas untuk mengawasi dan memastikan Yang Ruo Li serta Li Zhe Liang terkena racun cinta tersebut.
"Berpura-pura terkena racun? Kalau pria lain yang di sisinya saat ini, apakah Li Er juga akan memintanya berpura-pura? Gadis pemberani ini harus diberi pelajaran!" kata hati Li Zhe Liang.
Li Zhe Liang tidak mengambil pil penawar yang diberikan oleh Yang Ruo Li. Bahkan dirinya langsung meneguk habis arak di cangkirnya dan menuangkan arak ke cangkirnya lagi.
"Zhe Liang pasti menggunakan kekuatan spiritualnya sehingga tidak memerlukan pil penawar," kata hati Yang Ruo Li.
Yang Ruo Li berpura-pura mengambil cangkir araknya dan menelan pil penawar racikannya terlebih dahulu sebelum meneguk arak itu.
"Zhe Liang. Kamu bisa menebak berapa penjaga yang sedang mengawasi kita?" tanya Yang Ruo Li dengan suara kecil.
"Dua penjaga di sebelah barat dengan tingkat ilmu Tahap Membangun Pondasi. Dua penjaga lainnya di sebelah timur dengan tingkat ilmu Tahap Kondensasi," jawab Li Zhe Liang dengan nada datar.
"Zhe Liang! Kamu hebat sekali!" puji Yang Ruo Li.
Sejak awal Li Zhe Liang tidak mengangkat kepalanya dan melihat sekelilingnya sama sekali, tetapi bisa mengetahui berapa jumlah penjaga Kediaman Bangsawan Fu Chen yang sedang mengawasi mereka, termasuk tahap ilmu yang dikuasai oleh para penjaga itu.
Beberapa saat kemudian, Yang Ruo Li mulai berpura-pura terkena efek racun cinta.
"Panas sekali! Tubuhku panas sekali!" kata Yang Ruo Li sambil berdiri dari kursinya dan duduk di pangkuan Li Zhe Liang.
Li Zhe Liang duduk tenang dengan wajah tanpa ekspresi andalannya dan tidak bereaksi apa pun terhadap gadis muda dipangkuannya. Akan tetapi, aura dingin memancar dari tubuh Li Zhe Liang secara perlahan.
"Sifat Zhe Liang sangat dingin dan kaku. Dia tidak bisa berpura-pura. Ini akan membuat para penjaga itu curiga," kata hati Yang Ruo Li.
"Zhe Liang. Kepalaku pusing," ucap Yang Ruo Li sambil menyandarkan kepalanya di dada Li Zhe Liang.
Pada saat itu Li Zhe Liang menghentakkan tubuhnya dengan keras sehingga tubuh Yang Ruo Li hampir saja terjatuh dari pangkuan Li Zhe Liang. Yang Ruo Li memeluk leher Li Zhe Liang dengan erat secara spontan.
Li Zhe Liang bisa merasakan kulit halus dan tubuh ringan Yang Ruo Li menyelimuti seluruh tubuhnya.
"Li Er! Kamu akan mengajak pria lain berpura-pura juga?" tanya Li Zhe Liang sambil menggertakkan giginya.
"Pria lain? Apa maksudnya?" kata hati Yang Ruo Li.
Yang Ruo Li merasa bingung dengan pertanyaan Li Zhe Liang sehingga menatap dalam wajah pria dingin yang sedang menunggu jawaban darinya.
Yang Ruo Li merasakan seluruh pikirannya terhanyut dalam bola mata tajam milik Li Zhe Liang. Samar-samar Yang Ruo Li bisa melihat bayangan dirinya di dalam mata Li Zhe Liang.
"Jawab!" perintah Li Zhe Liang.
Kekuatan spiritual mulai memancar dari tubuh Li Zhe Liang dan membuat Yang Ruo Li teringat akan saat pertemuan mereka di tepi sungai Hutan Tengkorak. Tubuhnya terhempas jauh dan jatuh ke atas tanah karena sengaja pura-pura tersandung jatuh ke dalam pelukan Li Zhe Liang.
"Tidak dengan pria lain! Hanya kamu saja!" jawab Yang Ruo Li sambil mempererat pelukannya di tubuh Li Zhe Liang.
Yang Ruo Li menarik napas lega sewaktu merasakan Li Zhe Liang menyimpan kembali kekuatan spiritualnya. Akan tetapi, Yang Ruo Li tidak berani melepaskan pelukannya dari tubuh Li Zhe Liang.
***
Halo readers. Ini bab kedua hari ini ya
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE