
**Ruang depan Paviliun Wu Dong***
Tang Ying menangis tersedu-sedu di hadapan Bangsawan Fu Chen. Putri manja itu menduga Tang Song menghilang pasti ada sangkut pautnya dengan Bangsawan Fu Chen.
Tang Ying tahu Tang Song pergi menemui Yang Lim untuk membicarakan tentang menjadikan Yang Ruo Li sebagai selir.
Lai Yi dan lima pengikut lainnya menemani Tang Song ke sana. Akam tetapi, di malam hari Tang Song tidak ikut pulang bersama para pengawalnya.
Lai Yi memberitahu Tang Yi bahwa mereka melihat orang mencurigakan di tempat makan sehingga berlari mengejar orang tersebut.
Ketika mereka kembali ke tempat makan, Tang Song dan Yang Lim tidak ada di sana. Lai Yi dan lima pengikut sudah berkeliling mencari Tang Song dan tidak menemukannya sehingga mereka terpaksa pulang ke Paviliun Wu Dong untuk melaporkan semuanya ke Tang Ying.
Yang Lim merupakan letnan jendral pasukan Bangsawan Fu Chen sehingga Tang Ying mencurigai Tang Song diculik oleh Bangsawan Fu Chen karena mengetahui niat mereka untuk mendapatkan api surgawi dari Yang Ruo Li.
Tang Ying sudah mengirim kabar melalui lempengan giok ke Kaisar Tang dan meminta bantuan dikirim pasukan dari sana. Akan tetapi, dirinya masih tinggal di Paviliun Wu Dong sehingga berusaha bersikap biasa saja di depan Bangsawan Fu Chen agar tidak membuat dirinya ikut tertangkap.
Tang Ying sengaja mendatangi Bangsawan Fu Chen setiap hari untuk menangisi Tang Song yang belum ada kabar sama sekali.
***
Prajurit Bangsawan Fu Chen membawa rombongan Wu Kong ke ruang depan dan berhenti tepat di pintu masuk ruang depan. Mereka semua bisa mendengar jelas suara isak tangis Tang Ying serta suara Bangsawan Fu Chen yang membujuknya untuk bersabar karena puluhan prajurit sudah dikerahkan untuk menemukan Tang Song.
"Kapten Wu Kong tunggu di sini sebentar. Aku akan melapor ke Bangsawan Fu Chen," ucap prajurit itu.
"Iya," jawab Wu Kong dengan singkat.
Tepat pada saat prajurit itu ingin masuk ke dalam ruang depan Paviliun Wu Dong, dia menghentikan langkah kakinya karena melihat seorang pria sedang berjalan menuju ke arahnya.
"Tuan muda Fu Jiu Yun!" sapa prajurit itu sambil meembungkukkan badan sedikit untuk memberi hormat.
"Tuan muda Fu Jiu Yun!" sapa Wu Kong, Yi Bo, dan Yang Ruo Li bersamaan.
Mereka bertiga membungkukkan badan dan menundukkan kepala masing-masing. Fu Jiu Yun berjalan melewati mereka dengan penuh wibawa dan berhenti tepat di depan pintu ruang depan Paviliun Wu Dong.
"Kapten Wu Kong ingin bertemu ayah?" tanya Fu Jiu Yun.
Fu Jiu Yun pernah melihat Wu Kong datang beberapa kali ke Paviliun Wu Dong untuk bertemu dengan Bangsawan Fu Chen sehingga mengenalinya, sedangkan Yi Bo dan Yang Ruo Li memakai pakaian prajurit biasa sehingga Fu Jiu Yun menganggap mereka hanya bawahan Kapten Wu Kong dan tidak memedulikan keberadaan mereka berdua.
"Iya, tuan muda Fu Jiu Yun. Hamba ingin melaporkan tentang perkembangan pelatihan pasukan hari ini," jawab Wu Kong.
"Ikut aku masuk!" ucap Fu Jiu Yun.
"Terima kasih tuan muda Fu Jiu Yun," jawab Wu Kong.
Wu Kong memberi isyarat tangan kepada Yi Bo dan Yang Ruo Li untuk mengikutinya dari belakang. Mereka bertiga berbaris rapi di belakang Fu Jiu Yun dan berjalan masuk ke dalam ruang depan Paviliun Wu Dong.
***
Sebuah kereta kuda besar bergerak menuju lembah Pegunungan Wu Dong. Kereta kuda itu ditarik oleh empat ekor kuda berwarna hitam.
Keermpat ekor kuda hitam itu bukanlah kuda biasa, melainkan hewan roh tingkat empat. Kuda hitam merupakan hewan roh tingkat menengah yang diinginkan setiap summoner, tetapi saat ini digunakan untuk menarik kereta besar.
Tentu saja yang berada di dalam kereta kuda itu bukan orang biasa melainkan putra mahkota Kerajaan Dong Ming, Li Zhe Liang.
Li Zhe Liang sedang berbaring di dalam kereta kuda dan Chong Yun duduk di sebelahnya sambil memeriksa nadi di pergelangan tangan Li Zhe Liang.
Sementara Lu Jing duduk tegak di sisi yang lain dengan posisi siaga.
"Berapa lama lagi tiba di sana?" tanya Li Zhe Liang.
"Putra mahkota. Kita akan tiba di sana lima jam lagi," jawab Lu Jing.
"Kenapa lama sekali?" ujar Li Zhe Liang dengan gusar.
Kereta kuda sudah menempuh perjalanan selama tiga hari. Kesabaran Li Zhe Liang sudah hampir habis karena mengkhawatirkan keadaan Yang Ruo Li.
"Zhe Liang. Kamu harus mengendalikan emosimu. Kereta kuda berjalan lambat demi kesehatanmu juga. Bukankah keadaan tubuhmu semakin baik kan?" bujuk Chong Yun.
Li Zhe Liang menghela napas dalam dan memejamkan kedua matanya untuk beristirahat. Li Zhe Liang mencoba sabar menempuh perjalanan lima jam lagi untuk bisa bertemu dengan Yang Ruo Li.
"Lagi pula Yang Ruo Li baik-baik saja. Kita tidak perlu terburu-buru tiba di sana," ucap Chong Yun.
Li Zhe Liang membuka matanya secara tiba-tiba dan menatap tajam Chong Yun.
"Bagaimana kamu bisa tahu Li Er tidak berada dalam keadaan bahaya?" tanya Li Zhe Liang dengan nada menyelidiki.
"Ka…karena Feng Teng tidak ada mengirim jimat burung bangau sampai saat ini," jawab Chong Yun terbata-bata.
"Aku akan mencoba menyegel beberapa racun di tubuhmu lagi supaya kamu bisa tidur nyenyak. Saat kamu bangun nanti, kita sudah tiba di sana," lanjut Chong Yun.
Li Zhe Liang memejamkan kedua matanya lagi dan membiarkan Chong Yun merawatnya, sedangkan Chong Yun merasa lega karena terhindar dari kecurigaan Li Zhe Liang tadi.
***Ruang depan Paviliun Wu Dong***
"Ayah!" sapa Fu Jiu Yun sambil memberi hormat ke Bangsawan Fu Chen.
"Tuan Fu Chen!" sapa Wu Kong, diikuti oleh Yi Bo dan Yang Ruo Li.
Wajah Bangsawan Fu Chen sekilas berubah suram karena mengenali sosok Yi Bo, yang berdiri di belakang Wu Kong.
"Kenapa Wu Kong begitu bodoh membawa Yi Bo ke Paviliun Wu Dong?" geram Bangsawan Fu Chen di dalam hatinya.
Saat ini di ruang depan masih ada Tang Ying sehingga Bangsawan Fu Chen ingin menyingkirkan putri manja itu dari ruang depan secepatnya.
Bangsawan Fu Chen tahu Tang Ying menyukai dan mengagumi Fu Jiu Yun. Hal ini memberinya kesempatan untuk terlepas dari rengekan dan tangisan Tang Ying, yang membuatnya sakit kepala.
"Jiu Yun. Kamu sudah selesai latihan?" tanya Bangsawan Fu Chen.
"Iya ayah," jawab Fu Jiu Yun.
Selama tinggal di Paviliun Wu Dong, Fu Jiu Yun berlatih ilmu kultivasi dan mencoba menggunakan api elixir di dalam tubuhnya untuk meracik pil elixir.
Walaupun tidak mendapatkan api surgawi, Fu Jiu Yun tidak melupakan ambisinya untuk menjadi kultivator dan alchemist terkuat di daratan Zhong Yuan.
Fu Jiu Yun ingin menjadi lebih kuat dan memiliki kekuatan spiritual yang hebat sehingga tidak akan kalah dari pria misterius yang selalu berada di sisi Yang Ruo Li.
***
Selamat malam readers.
Babang Jiu Yun kepedean untuk mengungguli Zhe Liang 😅😅
Apakah penyamaran Ruo Li akan ketahuan?
Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya besok siang ya.
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE