GADIS BERACUN

GADIS BERACUN
BAB 157. Hukuman untuk Huo Si Cheng


***Aula Besar Kota Shang Ri La***


Mata Chong Yun, Lu Jing, dan Feng Teng terbelalak menatap ke arah Huo Si Cheng. Mereka bertiga yakin pria muka tembok itu akan mendapatkan hukuman berat dari Li Zhe Liang karena berani menginginkan Yang Ruo Li.


Sementara Yang Ruo Li sendiri pun merasa jijik dan mual dengan sikap tidak tahu malu Huo Si Cheng.


"Huo Si Cheng ini kecoak, sama seperti Yang Rong Le!" kata hati Yang Ruo Li.


Yang Ruo Li mengangkat tangannya untuk menampar wajah Huo Si Cheng. Akan tetapi, tiba-tiba tubuh Huo Si Cheng terangkat dari posisi berlututnya dan terhempas jauh menabrak penghalang di belakangnya, lalu akhirnya memantul lagi serta jatuh di atas tanah dengan keras.


Darah segar memuncrat dari mulutnya. Huo Si Cheng berusaha bangkit dan mengelap darah di sudut bibir dengan punggung tangannya. Huo Si Cheng berjalan ke arah Yang Ruo Li dengan tubuh yang terhuyung-huyung.


"Ruo Li. Aku berani bersumpah! Apa yang kukatakan tadi bukan omong kosong," kata Huo Si Cheng sambil menatap intens wajah Yang Ruo Li.


Huo Si Cheng mengira Yang Ruo Li memukulnya karena tidak percaya dengan ucapannya. Apa pun caranya, Huo Si Cheng bertekad dalam hati untuk memperlihatkan sikap tulusnya ke Yang Ruo Li.


Huo Si Cheng menarik napas lega karena kali ini tubuhnya tidak terhempas jauh lagi. Kegembiraan hatinya hanyalah sesaat dan berubah menjadi jeritan pilu.


"Arghhh! Mataku sakit sekali!" teriak Huo Si Cheng sambil menutup matanya dengan kedua tangannya.


"Ah!" pekik Peng Xiao Ran yang masih berlutut dan posisinya berada di dekat Huo Si Cheng.


Peng Xiao Ran menepuk-nepuk pakaiannya secara spontan karena merasakan ada sesuatu yang melompat ke tubuhnya tadi.


"Xiao Ran. Kamu terluka?" tanya Pejabat Peng Chong dengan panik. Pria tua bangka itu melihat noda darah di pakaian Peng Xiao Ran.


Tetua Huo Guang pun berdiri posisi berlututnya dan menghampiri Huo Si Cheng yang masih menjerit kesakitan.


Tetua Huo Guang berinisiatif membantu menarik kedua tangan Huo Si Cheng yang menutup matanya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Tetua Klan Huo itu terpaku melihat kondisi mengenaskan dari Huo Si Cheng saat ini.


Mata Huo Si Cheng sudah berubah menjadi dua lubang darah dan sesuatu yang melompat ke tubuh Peng Xiao Ran tadi ternyata adalah mata Huo Si Cheng.


"I…itu mata Huo Si Cheng!" ucap Peng Xiao Ran terbata-bata sambil menunjuk ke arah bawah kakinya.


Wajah semua orang yang terkurung oleh sihir Tembok Raksasa menjadi pucat seperti warna kertas, sedangkan Huo Si Cheng masih berteriak kesakitan dan berlari ke sana kemari.


Jeritan Huo Si Cheng membuat suasana di aula tengah semakin menakutkan. Sisa pasukan dan bawahan dari para keluarga terpandang itu melakukan kowtow berkali-kali kepada Li Zhe Liang dan Yang Ruo Li.


Kening mereka berdarah akibat kowtow yang terlalu kuat, tetapi mereka sama sekali tidak merasa sakit. Mereka hanya bisa menangis dan berteriak memohon ampun secara bersamaan.


"Tuan muda. Nona Ruo Li. Tolong ampuni aku!"


"Aku tidak mau mati! Aku berjanji akan menjadi orang yang baik."


"Istriku baru saja melahirkan. Aku tidak mau dia menjadi janda."


"Ayahku sudah tua. Aku putra satu-satunya."


"Nona Ruo Li. Tuan muda. Tolong lepaskan aku!"


Pejabat Peng Chong, Peng Xiao Ran, dan kedua Tetua Klan juga ikut melakukan kowtow. Nyawa mereka lebih berharga dibandingkan malu yang diperoleh saat ini. Asalkan masih hidup, mereka masih bisa balas dendam di kemudian hari.


Sementara Wen Hui Min sudah terkapar pingsan karena jiwa pilnya rusak dan juga rasa sakit akibat dibakar api surgawi di setiap bagian tubuhnya. Tidak ada lagi sosok Nyonya Fu yang anggun dan terhormat melainkan hanya tinggal sosok wanita tua yang lemah dengan luka bakar di sekujur tubuhnya.


Yang Rong Li menatap kerumunan orang yang sedang meminta ampun kepada Li Zhe Liang dan dirinya dengan ekspresi wajah tenang.


"Zhe Liang. Aku tidak akan membunuh mereka," jawab Yang Ruo Li beberapa saat kemudian.


Chong Yun, Lu Jing, dan Feng Teng menarik napas lega setelah mendengar jawaban Yang Ruo Li. Setidaknya gadis muda itu tidak bersikap kejam dan membunuh sembarangan.


Walaupun kemungkinan besar tidak semua orang disana bersikap tulus memohon ampun, tetapi keputusan bijak Yang Ruo Li sekarang akan meminimalkan jumlah musuh di kemudian hari.


Sementara Li Zhe Liang mempunyai pemikiran yang berbeda dari mereka bertiga. Kebaikan hati Yang Ruo Li sekarang akan menimbulkan masalah besar di kemudian hari.


Li Zhe Liang yakin mereka yang dilepaskan hari ini pasti akan berusaha mencari cara untuk merebut api surgawi lagi dan membalaskan dendam terhadap Yang Ruo Li.


Namun Li Zhe Liang tidak membantah Yang Ruo Li. Dirinya mendukung penuh keputusan gadis muda itu dan akan selalu berada disisi Yang Ruo Li untuk melindunginya.


"Kera Purba. Gunakan sihir ilusi untuk membuat mereka bunuh diri sendiri," ucap Yang Ruo Li sambil melihat ke arah pohon besar tempat Kera Purba bersembunyi.


Kera Purba segera melompat turun dari atas pohon. Sejak awal kemunculan Li Zhe Liang, Kera Purba berusaha menahan keinginannya untuk menghampiri Li Zhe Liang karena dirinya mematuhi perintah untuk membantu Yang Ruo Li.


Sekarang Yang Ruo Li memanggilnya keluar sehingga Kera Purba yang masih berwujud kera kecil bersemangat ingin melompat ke arah bahu Li Zhe Liang. Akan tetapi, tatapan tajam dari Li Zhe Liang membuat Kera Purba mengurungkan niatnya dan mendarat sempurna di atas tanah dan dihadapan mereka semua.


"Monyet kecil?"


"Kenapa bisa ada monyet di sini?"


"Monyet itu hewan peliharaan nona Ruo Li kah?"


Kerumunan rakyat Kota Shang Ri La yang membisu sejak tadi, tidak bisa menahan rasa penasaran terhadap monyet kecil yang tiba-tiba muncul di tengah aula besar Kota Shang Ri La.


Yang Ruo Li tersenyum kecil dan melepaskan jimat pengecil dari tubuh Kera Purba sehingga dalam hitungan detik ukuran tubuh Kera Purba kembali seperti semua.


"Kera Purba!" teriak Tetua Huo Guang dan Tetua Peng Mu bersamaan. Mereka tidak menyangka akan muncul monster Kera Purba di Kota Shang Ri La.


Tetua Wu Yuan tersenyum sambil mengelus janggut panjangnya. Orang tua itu merasa yakin di masa yang akan datang, dirinya berkesempatan bertemu dengan lebih banyak hal menarik karena menjadi pengikut Yang Ruo Li.


Li Zhe Liang mengernyitkan alisnya ketika merasakan Yang Ruo Li sedang berbicara dengan Kera Purba melalui sihir telepati.


"Li Er pasti merencanakan sesuatu," kata hati Li Zhe Liang.


***


Halo readers setia. Hari senin waktunya VOTE nih. Author tunggu ya 🤗🤗.


Apa yang direncanakan oleh Li Er?


Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya nanti malam.


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE