GADIS BERACUN

GADIS BERACUN
BAB 37. Pil Jiwa Mu Dan terancam bahaya


***Paviliun Ru Yi***


Dua penjaga yang berdiri di depan pintu Paviliun Ru Yi segera memberi hormat kepada Yang Ruo Li.


"Nona Yang Ruo Li!" sapa kedua penjaga dengan sopan.


Yang Ruo Li menganggukkan kepala ke arah mereka dan berjalan masuk ke dalam Paviliun Ru Yi menuju ke kamar tempat Chun Hua beristirahat.


Ming Ye bersama beberapa penjaga berjalan menghampiri Yang Ruo Li dan memberi hormat.


"Nona Yang Ruo Li! Kamar nona dan nyonya sudah Ming Ye persiapkan. Kedua kamar itu berada di samping kamar Chun Hua!" kata Ming Ye.


Ming Ye sudah mendapat kabar dari Sha Sha yang sedang menjaga Chun Hua bahwa Yang Ruo Li akan pulang ke Kediaman Keluarga Yang untuk menjemput ibunya dan membawanya ke Paviliun Ru Yi sehingga Ming Ye meminta pelayan mempersiapkan dua kamar yang bagus untuk Yang Ruo Li serta Mu Dan.


"Ming Ye! Apakah ada pedang penghancur yang terbuat dari besi hitam berumur ribuan tahun di Paviliun Ru Yi? Aku membutuhkannya untuk memotong rantai besi di tubuh ibuku!" kata Yang Ruo Li sambil menunjuk ke arah Mu Dan yang terbaring di atas tandu.


"Ming Ye akan segera memeriksanya sekarang!" jawab Ming Ye.


"Pergilah! Oh iya, tolong persiapan tiga kamar tamu untuk ketiga temanku!" perintah Yang Ruo Li.


"Baik, Nona Yang Ruo Li!" jawab Ming Ye.


***


Ketika Yang Ruo Li hampir tiba di kamar, Chun Hua dan Sha Sha yang sudah lama menunggu kedatangannya di depan kamar segera berlari menghampiri Yang Ruo Li.


"Nona Ruo Li terluka? Bagaimana dengan nyonya?" tanya Chun Hua dengan raut wajah khawatir.


Penampilan Yang Ruo Li sangat kacau dengan rambut yang berantakan dan percikan darah di seluruh pakaian berwarna biru langit yang dikenakannya. Chun Hua yakin Yang Ruo Li pasti mengalami pertarungan besar di Kediaman Keluarga Yang.


"Hanya luka kecil. Bantu aku merawat ibu di kamar," jawab Yang Ruo Li.


"Baik Nona Ruo Li!" kata Chun Hua.


Chun Hua berlari kecil untuk membuka salah satu pintu kamar yang disediakan untuk Yang Ruo Li serta Mu Dan.


Li Zhe Liang berjalan masuk ke dalam kamar mengikuti Yang Ruo Li. Mata Chun Hua terbelalak melihat wajah tampan nan dingin Li Zhe Liang. Bahkan mulut Chun Hua terbuka lebar secara tidak sadar.


Kesadaran Chun Hua kembali dengan cepat sewaktu melihat wanita kurus yang tidur terbaring di atas tandu yang dibawa oleh Lu Jing dan Feng Teng.


"Nyonya!" panggil Chun Hua sambil berlinang air mata.


Lu Jing dan Feng Teng meletakkan tandu di samping tempat tidur dengan hati-hati. Yang Ruo Li, Chun Hua, dan Sha Sha memapah tubuh Mu Dan dan membaringkannya di atas tempat tidur.


"Terima kasih Kak…."


Perkataan Yang Ruo Li terhenti sambil melihat ke arah Lu Jing dan Feng Teng.


"Lu Jing!"


"Feng Teng!"


"Terima kasih Kak Lu Jing dan Kak Feng Teng!" kata Yang Ruo Li.


"Sama-sama Nona Yang Ruo Li!" jawab Lu Jing dan Feng Teng bersamaan.


"Panggil saja aku, Ruo Li!" kata Yang Ruo Li.


"Iya, Nona Ruo Li!" jawab Lu Jing sambil memberi isyarat mata ke Feng Teng.


Lu Jing dan Feng Teng segera menyingkir dari hadapan Yang Ruo Li dan berdiri di belakang tubuh Li Zhe Liang. Mereka berdua masih ingin berumur panjang sehingga tidak berani bersikap akrab dengan Yang Ruo Li.


Saat ini Yang Ruo Li baru menyadari wajah dingin tanpa ekspresi Li Zhe Liang terlihat semakin dingin.


"Tuan tampan bisa beristirahat dulu di kamar tamu. Aku mau merawat ibuku terlebih dahulu!" kata Yang Ruo Li.


Li Zhe Liang berjalan keluar dari kamar tanpa bicara sepatah kata pun. Lu Jing dan Feng Teng mengikutinya dari belakang.


***


Yang Ruo Li melepaskan jubah hitam dari tubuh Mu Dan secara perlahan. Chun Hua menahan isak tangisnya melihat rantai besi yang membelenggu pinggang Mu Dan.


"Nona Ruo Li! Sha Sha akan menyiapkan air hangat dan pakaian baru untuk nyonya," kata Sha Sha.


"Baiklah!" jawab Yang Ruo Li.


Yang Ruo Li memegang pergelangan tangan Mu Dan untuk memeriksa nadinya. Kemudian mengambil dua butir pili elixir dari cincin penyimpan batu giok dan memasukkannya ke dalam mulut Mu Dan.


Pil elixir itu langsung melebur di dalam mulut Mu Dan. Beberapa detik kemudian, Yang Ruo Li memeriksa lagi nadi Mu Dan.


"Nona Ruo Li! Bagaimana keadaan nyonya?" tanya Chun Hua.


Walaupun Yang Ruo Li terlihat menarik napas lega setelah memeriksa nadi Mu Dan untuk kedua kalinya, tetapi raut wajah Yang Ruo Li masih terlihat khawatir.


"Ibu menggunakan seluruh kekuatan spiritualnya untuk menolongku sehingga dirinya tidak sadarkan diri sekarang. Dua pil elixir itu bisa memulihkan kekuatan spiritual ibu secara perlahan. Akan tetapi, rantai besi yang membelenggu pinggang ibu bisa menghisap kekuatan spiritual sehingga harus segera dihancurkan dengan pedang penghancur," jawab Yang Ruo Li.


Tubuh Mu Dan terlalu lemah untuk menahan efek dari rantai besi. Jika dibiarkan terus menerus, besar kemungkinan pil jiwa Mu Dan akan hancur.


"Nona Ruo Li! Pedang penghancur pasti ada di Paviliun Ru Yi," kata Chun Hua.


"Ming Ye sedang mencarinya," kata Yang Ruo Li.


***


Halo readers setia. Author up dulu satu bab ini . Bab kedua masih proses pengetikan. Di tunggu ya.


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE