
***Tepi sungai Hutan Tengkorak***
Yang Ruo Li menghentikan laju kipas lipat abadi dengan kekuatan spiritualnya, lalu melompat turun dan menyimpan kipas lipat abadi yang sudah mengecil ke dalam cincin penyimpan batu giok miliknya.
Senyuman lebar menghias di sudut bibir Yang Ruo Li ketika melihat punggung Li Zhe Liang. Li Zhe Liang berdiri di tepi sungai Hutan Tengkorak.
Yang Ruo Li masih mengingat jelas pertemuannya dengan Li Zhe Liang di sana. Pada saat itu Yang Ruo Li sengaja bersikap genit dan ingin jatuh ke dalam pelukan Li Zhe Liang. Tujuan utamanya adalah membuat Li Zhe Liang merasa muak dan tidak mencurigainya sebagai gadis misterius di malam itu. Tentu saja rencananya berhasil.
Yang Ruo Li tidak menyangka pada akhirnya antara Li Zhe Liang dan dirinya akan terjalin hubungan erat dan dekat. Mungkin hubungan mereka berdua bisa diibaratkan seperti sepasang burung parkit.
Burung parkit adalah burung yang kesetiaannya terhadap pasangan tidak diragukan lagi. Ketika burung parkit sudah mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama pada lawan jenisnya, maka ia tidak akan meninggalkan pasangannya tersebut.
Bahkan, jika salah satu pasangan dari burung parkit mati, maka pasangannya akan merasakan kesedihan yang sangat dalam dan cemas.
Cahaya bulan jatuh tepat di atas tubuh Li Zhe Liang sehingga membuat pria dingin itu terlihat semakin menawan.
Walaupun hanya bagian punggung saja yang terlihat oleh Yang Ruo Li saat ini, gadis muda itu merasakan jantungnya berdetak dengan kencang.
"Zhe Liang!" panggil Yang Ruo Li sambil berlari kecil menghampiri Li Zhe Liang.
Li Zhe Liang membalikkan tubuhnya dan menatap lekat-lekat gadis muda yang sedang berlari kecil ke arahnya. Senyum tipis mengembang di sudut bibirnya.
"Zhe Liang. Kenapa kamu berada di sini?" tanya Yang Ruo Li sambil menggenggam tangan Li Zhe Liang dengan kedua tangannya secara spontan.
Li Zhe Liang tidak menjawab pertanyaan Yang Ruo Li dan mengalihkan pandangannya ke arah sungai. Yang Ruo Li pun mengikuti arah pandangan Li Zhe Liang.
"Hah? Kenapa air sungainya berkurang setengah?" tanya Yang Ruo Li dengan raut wajah bingung.
Li Zhe Liang mengambil sebuah kotak dari cincin penyimpan batu rubi miliknya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya masih dibiarkan dalam genggaman erat tangan Yang Ruo Li.
"Li Er. Ini untukmu," ucap Li Zhe Liang.
Yang Ruo Li melepaskan genggaman tangannya untuk menerima kotak itu dan membukanya. Di dalam kotak ada puluhan ikan salju berekor pelangi.
"Zhe Liang. Kamu menangkapnya untukku?" tanya Yang Ruo Li dengan wajah berseri-seri.
"Iya," jawab Li Zhe Liang sambil menganggukkan kepala.
"Terima kasih Zhe Liang," jawab Yang Ruo Li dan menyimpan kotak itu ke dalam ruang dimensi cincin lotus.
Ikan salju berekor pelangi hidup di bagian paling terdalam sungai sehingga udara dinginnya bisa menembus tulang. Jika tidak ingin mati kedinginan dalam upaya menangkap ikan salju berekor pelangi maka bisa menggunakan perangkap, tetapi memerlukan waktu berhari-hari untuk bisa menangkap satu ikan salju berekor pelangi saja.
Yang Ruo Li mengira Li Zhe Liang pergi ke sungai Hutan Tengkorak untuk menangkap ikan salju berekor pelangi untuknya.
Gadis muda itu merasa senang dengan hadiah dari Li Zhe Liang. Banyak jenis racun maupun pil elixir bisa diraciknya dengan bahan itu.
"Zhe Liang. Ayo kita pulang," ajak Yang Ruo Li.
Li Zhe Liang tidak menjawab ajakan Yang Ruo Li. Tangan kanan Li Zhe Liang merangkul erat bahu Yang Ruo Li dan menarik tubuh gadia muda itu sehingga mendekat ke tubuhnya.
"Sebentar lagi kita akan pulang, Li Er. Sekarang kita nikmati cahaya bulan yang cantik," ucap Li Zhe Liang dengan suara kecil.
Yang Ruo Li melihat pantulan bulan di atas permukaan air sungai. Malam ini bulan purnama sehingga menampilkan bulan yang penuh dan bercahaya terang.
"Baiklah," jawab Yang Ruo Li.
Yang Ruo Li menyandarkan kepalanya di dada Li Zhe Liang. Mereka berdua menikmati cahaya bulan dan ketenangan di tepi sungai Hutan Tengkorak.
Beberapa saat kemudian terlihat sekelompok cahaya kecil berkelap-kelip muncul dan mengelilingi tubuh Li Zhe Liang serta Yang Ruo Li.
"Kunang-kunang! Cahayanya sangat cantik, Zhe Liang," ucap Yang Ruo Li dengan riang.
Seumur hidupnya Yang Ruo Li tidak pernah melihat kunang-kunang karena hanya bisa berada di dalam kamar tidurnya di Kediaman Keluarga Yang sambil menahan rasa sakit tubuhnya akibat racun.
Yang Ruo Li menatap kagum kunang-kunang yang berterbangan di sekitarnya. Li Zhe Liang menjentikkan tangannya perlahan sehingga puluhan ekor kunang-kunang terbang ke arahnya dan berhasil ditangkap dan berada di dalam genggaman tangannya.
"Li Er!" panggil Li Zhe Liang.
"Iya," jawab Yang Ruo Li dan menatap wajah Li Zhe Liang.
Li Zhe Liang membuka genggaman tangannya secara perlahan. Puluhan ekor kunang-kunang itu pun terbang keluar tepat di tengah mereka berdua.
Pandangan mata Yang Ruo Li mengikuti arah terbang kunang-kunang ke atas. Senyum lebar menghias di sudut bibirnya.
Kecantikan Yang Ruo Li terpancar oleh cahaya kunang-kunang sehingga membuat hati Li Zhe Liang menjadi hangat seketika.
Tepat saat puluhan ekor kunang-kunang telah terbang jauh ke atas langit, Li Zhe Liang menangkupkan kedua tangannya di pipi Yang Ruo Li dan mencium bibir gadis muda itu dengan lembut.
Mata Yang Ruo Li membulat besar karena terkejut. Akan tetapi, dirinya tidak menolak ciuman Li Zhe Liang. Kedua tangannya merangkul pinggang Li Zhe Liang dan membalas ciuman lembut itu.
Yang Ruo Li tidak mau menutupi perasaannya lagi. Saat ini gadis muda itu yakin dirinya menyukai Li Zhe Liang. Yang Ruo Li yakin perasaan Li Zhe Liang sama dengannya.
Beberapa saat kemudian, Li Zhe Liang terpaksa menghentikan ciumannya karena merasakan racun di dalam tubuhnya bereaksi lagi. Li Zhe Liang memeluk erat tubuh Yang Ruo Li.
Mereka berdua berpelukan dan menutup rapat kedua mata bersamaan, tetapi dengan ekspresi yang berbeda.
Yang Ruo Li tersenyum kecil dengan pipi merona merah dan menghayati pelukan dari tubuh Li Zhe Liang. Gadis muda itu merasa sangat bahagia dan nyaman di dalam pelukan Li Zhe Liang.
Sementara Li Zhe Liang berusaha menahan rasa sakit yang luar biasa di dalam tubuh dan menutupinya agar tidak terlihat oleh Yang Ruo Li dari raut wajahnya.
"Li Er. Setelah ibumu siuman, aku akan membawamu ke Kerajaan Dong Ming," kata Li Zhe Liang dengan suara kecil.
"Aku akan ikut kemanapun Zhe Liang pergi," jawab Yang Ruo Li dengan yakin.
Li Zhe Liang semakin mempererat pelukannya setelah mendengar jawaban Yang Ruo Li.
"Racun di tubuhku harus hilang, " tekad hati Li Zhe Liang.
"Ayo kita pulang, Li Er," ajak Li Zhe Liang setelah mencium puncak kepala Yang Ruo Li dengan lembut.
***
Selamat malam readers setia. Semoga readers tercinta menikmati romantis ala Zhe Liang dan Li Er ya 🤗🥰.
Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya besok. Akan ada lagi sisi romantis dari Zhe Liang dan berlanjut dengan konflik baru ya.
Ayuk persiapkan vote, like, hadiah, tips dari iklan serta komentar positif sebagai dukungan untuk novel Gadis Beracun 😁🤗
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE