
***Kamar tamu Yang Ruo Li***
Yang Ruo Li meletakkan dua piring kosong itu ke atas meja yang berada di dalam kamar tamu.
Beberapa saat kemudian Yang Ruo Li mendengar suara ketukan pintu kamar dari luar.
"Nona Yang Ruo Li! Nona Yang Ruo Li!" Suara seorang wanita memanggil Yang Ruo Li sambil mengetuk pintu.
"Iya! Sebentar!" jawab Yang Ruo Li.
Yang Ruo Li bangun dari tempat duduk dan berjalan ke arah pintu. Ketika dirinya membuka pintu kamar, terlihat seorang pelayan wanita Kediaman Bangsawan Fu Chen berdiri di sana.
"Nona Yang Ruo Li!" sapa pelayan wanita sambil menundukkan kepala memberi hormat.
"Ada apa ya?" tanya Yang Ruo Li.
"Tuan muda Fu Jiu Yun mengundang Nona Yang Ruo Li untuk menemuinya," jawab pelayan wanita.
"Aneh! Fu Jiu Yun ingin menemuiku? Bukankah seharusnya dia mengurung diri di dalam kamar karena racun gatalku bertambah parah? Atau ini tipu muslihat dari Wen Hui Min, Lim Hsuang Hsuang, dan Peng Wei Wei?" kata hati Yang Ruo Li.
"Tuan muda Fu Jiu Yun ingin aku menemuinya di mana?" tanya Yang Ruo Li.
"Di taman Kediaman tuan muda Fu Jiu Yun," jawab pelayan wanita.
"Baiklah. Aku ikut denganmu," ucap Yang Ruo Li.
Yang Ruo Li pura-pura tidak tahu jalan menuju Kediaman Fu Jiu Yun dan berjalan mengikuti pelayan wanita dari belakang.
"Untung saja aku sudah meracik beberapa jenis racun baru di ruang dimensi tadi. Aku bisa menggunakannya nanti jika mereka bertindak macam-macam," kata hati Yang Ruo Li.
"Li Er!" Li Zhe Liang muncul tiba-tiba dan berada di samping Yang Ruo Li. Pelayan wanita yang menunjukkan jalan terkejut dengan kemunculan Li Zhe Liang.
"Zhe Liang!" ucap Yang Ruo Li sambil tersenyum lebar.
Yang Ruo Li tahu Li Zhe Liang menggunakan sihir teleportasi lagi. Yang Ruo Li bertekad dalam hatinya untuk menjadi kuat dengan cepat sehingga bisa menggunakan sihir teleportasi seperti Li Zhe Liang.
"Mau ke mana?" tanya Li Zhe Liang dengan nada datar.
"Menemui Fu Jiu Yun. Kamu mau ikut?" tanya Yang Ruo Li.
Jika memang Fu Jiu Yun yang mengundangnya, Yang Ruo Li tidak ingin bertemu secara pribadi dengan Fu Jiu Yun sehingga mengajak Li Zhe Liang.
Li Zhe Liang menganggukkan kepala dan berjalan berdampingan dengan Yang Ruo Li.
Wajah pelayan wanita itu menjadi pucat karena perintah dari Fu Jiu Yun adalah mengundang Yang Ruo Li seorang saja. Akan tetapi, sekarang Li Zhe Liang ikut ke sana. Pelayan wanita itu tidak berani mencegah Li Zhe Liang ikut karena bisa saja membuat Yang Ruo Li ikut menolak menemui Fu Jiu Yun.
"Aku pasti akan dihukum tuan muda," kata hati pelayan wanita.
***Kediaman Fu Jiu Yun***
Yang Ruo Li mendengar alunan alat musik ketika tiba di depan Kediaman Fu Jiu Yun.
"Siapa yang memainkan musik?" tanya Yang Ruo Li ke pelayan wanita.
"Nona Lim Hsuang Hsuang memainkan alat musik 'Pipa'," jawab pelayan wanita.
Gambar alat musik Pipa
Note : Pipa adalah alat musik yang dimainkan dengan cara dipetik.
"Tuan muda Fu Jiu Yun sudah sembuh penyakit gatalnya?" tanya Yang Ruo Li spontan.
"Tuan muda Fu Jiu Yun baru kembali dari kolam es," jawab pelayan wanita.
***
"Tuan muda Fu Jiu Yun! Nona Yang Ruo Li sudah datang!" Pelayan wanita memberi hormat ke Fu Jiu Yun dan melaporkan kedatangan Yang Ruo Li.
Fu Jiu Yun duduk di tengah taman, sedangkan Peng Wei Wei dan Lim Hsuang Hsuang duduk di sisi kiri dan kanannya.
Tangan lentik Lim Hsuang Hsuang memegang 'Pipa' yang diletakkan diatas pangkuannya. Alunan musik yang lembut mengalun dengan indah dari Pipa. Yang Ruo Li akui Lim Hsuang Hsuang pintar memainkan 'Pipa'.
Peng Wei Wei sedang mengupas buah jeruk dengan senyuman paksa di sudut bibirnya karena kesal dengan keahlian Lim Hsuang Hsuang memainkan 'Pipa'.
Fu Jiu Yun baru saja kembali dari kolam es setelah duduk bermeditasi selama satu jam di atas bongkahan es berusia ribuan tahun. Hawa dingin itu akan bertahan selama beberapa jam dan bisa meringankan rasa gatal di tubuhnya.
Peng Wei Wei dan Lim Hsuang Hsuang setia menunggunya di taman selama Fu Jiu Yun bermeditasi di kolam es. Kedua gadis itu berusaha menyenangkan hatinya. Lim Hsuang Hsuang memainkan alunan musik lembut dari 'Pipa', sedangkan Peng Wei Wei mengupas buah-buahan segar untuknya.
Walaupun ada Lim Hsuang Hsuang dan Peng Wei Wei berada di sisinya dan memberikan perhatian penuh terhadapnya, hati Fu Jiu Yun terasa hampa. Seolah-olah ada sesuatu yang hilang.
Pada saat itulah Fu Jiu Yun teringat akan Yang Ruo Li, tunangannya sejak kecil itu juga berada di Kediaman Bangsawan Fu Chen. Akan tetapi, gadis muda itu sama sekali tidak mengkhawatirkan keadaannya dan mengacuhkannya sehingga Fu Jiu Yun memerintahkan pelayan wanita untuk memanggil Yang Ruo Li.
Sementara itu Yang Ruo Li mendekatkan wajahnya ke arah Li Zhe Liang untuk berbicara dengan suara kecil ketika melihat Fu Jiu Yun duduk diapit oleh Lim Hsuang Hsuang dan Peng Wei Wei.
"Fu Jiu Yun akan mengikuti jejak Bangsawan Fu Chen. Calon selir kesatu dan selir kedua sudah ada," kata Yang Ruo Li sambil mengerjapkan kedua matanya.
"Seleranya payah!" jawab Li Zhe Liang singkat. Tangan kanan Li Zhe Liang mencubit gemas hidung Yang Ruo Li secara spontan.
"Aku setuju denganmu," ucap
Yang Ruo Li sambil ketawa kecil.
Suara tawa kecil Yang Ruo Li menusuk ke dalam kalbu Fu Jiu Yun. Wajah Fu Jiu Yun memerah menahan amarah karena keakraban Yang Ruo Li dan Li Zhe Liang.
Beberapa kali pertemuan dengan Yang Ruo Li sebelumnya, gadis muda itu selalu menundukkan kepala dan bersikap takut serta malu dengan orang disekitarnya. Bagaimana mungkin gadis itu bisa berubah menjadi pribadi yang ceria saat ini? Sifat riang gadis muda itu malahan ditunjukkan kepada pria lain.
"Kenapa aku tidak nyaman dan benci dengan keakraban mereka berdua? Aku tidak mungkin menyukai Yang Ruo Li," kata hati Fu Jiu Yun.
Fu Jiu Yun mencoba menemukan alasan kenapa dirinya merasa kesal, benci, dan marah dengan Yang Ruo Li. Fu Jiu Yun ingin sekali membunuh Li Zhe Liang dan menendang jasadnya keluar dari Kediaman Bangsawan Fu Chen.
"Aku marah pasti karena Yang Ruo Li menggoda pria lain didepan mataku padahal dia masih berstatus sebagai tunanganku. Yang Ruo Li merusak reputasi Keluarga Fu!" kata hati Fu Jiu Yun.
***
Halo Readers. Pasti banyak readers penasaran apa itu Pipa?
Pipa merupakan sebuah alat musik tradisional yang berasal dari Tiongkok. Alat musik yang bahannya terbuat dari kayu ini telah berusia lebih dari 2000 tahun. Pipa telah ada sejak zaman Dinasti Qing (221 SM – 206 SM).
Dulunya, Pipa memiliki bentuk vertikal pada bagian atasnya dan dimainkan secara horizontal. Permukaannya dilapisi oleh kulit dan terdiri dari 4 senar serta memiliki 12 nada standar, mirip dengan instrumen dari Persia atau Timur Tengah yaitu ‘Barbat’ dan diperkenalkan ke Tiongkok pada masa Dinasti Jin (sekitar tahun 265-420). Tetapi seiring berkembangnya zaman, Pipa juga ikut berkembang ,yaitu pada masa Dinasti Tang (618-907 A.D.).
Alat musik Pipa menjadi populer dalam mengisi acara kerajaan dan mengalami perubahan. Perubahan Pipa terjadi pada cara memainkannya, jumlah senar dan fret. Pada awalnya yang dimainkan secara horizontal berubah menjadi dimainkan secara vertikal dengan empat sampai dengan lima senar sutra dan lima sampai 6 fret.
Permainan Pipa modern masih dapat kita jumpai di daerah tradisional Tiongkok. Permainan Pipa zaman dahulu yang dimainkan secara horizontal masih dipertahankan dalam musik nanguan yang populer di Quan Zhou. Pipa horizontal ini disebut juga nanguan Pipa.
Cara memainkannya cukup sulit, dipetik dengan diberdirikan tegak pada lutut. Suaranya yang jernih membuat Pipa menjadi alat musik petik yang memegang posisi penting dalam musik tradisional Tiongkok. Teknik memainkan Pipa juga sangat bervariasi. Pipa dapat digunakan baik untuk solo maupun sebagai instrumen pengiring dalam suatu orkestra.
Sumber ; google
Di tunggu ya bab berikutnya yang pasti akan semakin seru 😊. Jangan lupa menekan like untuk bab yang sudah dibaca ya.
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE