GADIS BERACUN

GADIS BERACUN
BAB 215. Penyamaran terbongkar


***Ruang depan Paviliun Wu Dong**


Yang Ruo Li mengangkat kepalanya sedikit dan melirik ke arah Bangsawan Fu Chen.


"Tua bangka ini sangat licik. Bahkan lebih licik dari pada Wen Hui Min. Aku harus hati-hati menghadapinya," kata hati Yang Ruo Li.


Yang Ruo Li mengalihkan perhatiannya menuju ke Tang Ying. Putri manja itu sudah menghentikan tangisannya dan menatap Fu Jiu Yun dengan tatapan mata yang berbinar-binar sehingga Yang Ruo Li pun ikut melihat ke arah Fu Jiu Yun.


"Bahkan putri kesayangan Kaisar Tang bisa tertarik kepada Fu Jiu Yun. Apa sih daya tarik pria sombong ini?" kata hati Yang Ruo Li dengan penasaran.


Yang Ruo Li menatap Fu Jiu Yun dari atas kepala ke ujung kaki dengan intens karena rasa penasarannya. Tiba-tiba Fu Jiu Yun menoleh ke arahnya sehingga mereka saling bertatapan dalam hitungan beberapa detik.


Yang Ruo Li terkejut dan segera menundukkan kepalanya lagi, sedangkan Fu Jiu Yun merasa familiar dengan sepasang mata Yang Ruo Li sehingga berniat berjalan mendekati pria berpakaian prajurit itu.


Tang Ying berlari menghampiri Fu Jiu Yun dan menggenggam erat tangan pria itu. Tindakan Tang Ying membuat Fu Jiu Yun mengurungkan niatnya.


"Kak Jiu Yun. Kak Tang Song masih belum ditemukan sampai sekarang," ucap Tang Ying dengan suara sendu dan menatap lekat ke wajah Fu Jiu Yun.


Fu Jiu Yun menatap mata sembab Tang Ying. Mata putri manja itu memang besar dan bagus, tetapi Fu Jiu Yun tidak menyukainya sedikit pun, melainkan saat ini ada sepasang mata lain melintas di pikirannya.


Sepasang mata yang indah dan selama ini selalu diacuhkan olehnya hingga akhirnya sepasang mata itu berubah menjadi lebih indah dan menarik lagi, tetapi hanya ditujukan kepada pria lain.


"Mata itu," kata hati Fu Jiu Yun.


Fu Jiu Yun menoleh ke arah prajurit, bawahan Kapten Wu Kong yang sedang menunduk secara spontan. Entah mengapa Fu Jiu Yun merasakan mata prajurit itu sangat mirip dengan mata Yang Ruo Li.


"Apa aku sudah gila? Menganggap pria itu sebagai Ruo Li?" kata hati Fu Jiu Yun.


"Kak Jiu Yun. Aku ingin ikut mencari kak Tang Song. Bisakah Kak Jiu Yun menemani Ying Ying?" tanya Tang Ying.


Ying Ying merupakan nama panggilan mesra yang diucapkan oleh Kaisar Tang dan Selir Bai Li ke Tang Ying sehingga putri manja itu ingin Fu Jiu Yun memanggilnya dengan nama panggilan itu.


"Jiu Yun. Kamu temanin Putri Tang Ying mencari Pangeran Tang Song," ujar Bangsawan Fu Chen.


"Baik, ayah," jawab Fu Jiu Yun dengan patuh.


"Ayo Putri Tang Ying. Kita cari Pangeran Tang Song disekitar gerbang perbatasan Kota Shang Ri La," ajak Fu Jiu Yun.


"Terima kasih kak Jiu Yun," jawab Tang Ying dengan wajah semringah sambil berjalan berdampingan dengan Fu Jiu Yun untuk keluar meninggalkan ruang depan Paviliun Wu Dong.


Saat mereka berdua melewati rombongan Wu Kong, Fu Jiu Yun melirik sekilas lagi ke arah A Liang alias Yang Ruo Li. Bawahan Kapten Wu Kong itu masih menunduk sehingga tidak terlihat jelas sepasang matanya lagi.


"Jangan gila Fu Jiu Yun! Ruo Li sedang berada di Kota Shang Ri La. Tidak mungkin pria ini ada hubungan dengan Ruo Li," umpat Fu Jiu Yun terhadap dirinya sendiri di dalam hati.


Fu Jiu Yun tidak memedulikan rombongan Wu Kong dan mempercepat langkah kakinya, sedangkan Tang Ying yang berada di sampingnya merasa senang dengan reaksi Fu Jiu Yun.


Putri manja itu mengira Fu Jiu Yun ingin membantu menemukan Tang Song degan cepat agar dirinya tidak sedih lagi.


***


Yang Ruo Li menarik napas lega di dalam hatinya setelah kepergian Fu Jiu Yun dan Tang Ying. Tadi gadis muda itu bisa merasakan kecurigaan Fu Jiu Yun terhadapnya.


"Wu Kong! Kenapa membawanya ke sini?" tanya Bangsawan Fu Chen dengan ketus.


"Begitukah sambutan Bangsawan Fu Chen terhadap sekutu?" tanya Yi Bo dengan suara khasnya yang serak dan senyuman menyeringai ke arah Bangsawan Fu Chen.


"Ikut aku!" perintah Bangsawan Fu Chen sambil berjalan menuju ruang kerja pribadinya.


Yi Bo, Wu Kong, dan Yang Ruo Li mengikutinya dari belakang. Sepanjang perjalanan Yang Ruo Li melihat banyak prajurit yang berpatroli dan mereka semua merupakan kultivator tingkat atas.


"Tua bangka ini mempunyai banyak prajurit elit yang menjaganya. Aku tidak boleh bertindak gegabah," kata hati Yang Ruo Li.


***Ruang kerja Bangsawan Fu Chen***


Tepat pada saat Yang Ruo Li melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kerja Bangsawan Fu Chen, sebuah cermin besar yang terletak di dalam ruangan memantulkan seberkas cahaya putih mengenai tubuh Yang Ruo Li.


Cermin besar itu mengeluarkan suara gemerincing yang nyaring.


"Sialan!" kata hati Yang Ruo Li.


Insting Yang Ruo Li membuatnya melarikan diri dari ruangan itu dengan cepat dan pada saat yang bersamaan, Bangsawan Fu Chen sudah melayangkan pukulan dari kekuatan spiritualnya ke tempat Yang Ruo Li berdiri tadi.


"Pengawal! Kejar dan bunuh dia!" perintah Bangsawan Fu Chen.


Dua puluh prajurit berlari mengejar ke arah Yang Ruo Li menghilang.


"Apa yang telah terjadi tadi?" tanya Yi Bo.


Suara gemerincing yang nyaring disertai sosok A Liang alias Yang Ruo Li menghilang dan pukulan Bangsawan Fu Chen mengenai tempat kosong, membuat Yi Bo mempunyai firasat yang tidak baik.


"Kalian berdua bodoh! Membawa musuh ke tempatku!" geram Bangsawan Fu Chen.


Cermin besar itu merupakan salah satu senjata spiritual milik Bangsawan Fu Chen. Kegunaannya adalah mengeluarkan suara peringatan gemerincing yang nyaring apabila menemukan orang yang memakai jimat pengubah wujud.


Bangsawan Fu Chen hanya akan menemui orang kepercayaannya di dalam ruang kerja sehingga sengaja meletakkan cermin besar di sana untuk menjadi suara peringatan terhadap musuh yang menyamar.


"Dia memakai jimat pengubah wujud!" ucap Bangsawan Fu Chen.


"Aku akan menangkapnya! Berani sekali membohongiku!" geram Yi Bo.


Yang Ruo Li masih dibutuhkan untuk memperbaiki formasi besar sehingga Yi Bo berencana menangkap dan memberi hukuman yang tidak mengambil nyawa Yang Ruo Li dalam waktu singkat.


***Kereta kuda besar Li Zhe Liang***


Chong Yun sedang berkonsentrasi menusuk jarum perak ke tubuh Li Zhe Liang satu persatu, sedangkan Lu Jing mengawasinya dengan saksama.


Pada saat Chong Yun ingin menusuk sebuah jarum perak ke lengan Li Zhe Liang, telapak tangan Chong Yun terasa nyeri sehingga jarum perak itu malahan menusuk ke punggung tangan kiri Chong Yun sendiri.


"Tuan muda Chong Yun. Hati-hati!" teriak Lu Jing dengan panik secara spontan.


Li Zhe Liang membuka kedua matanya dan menatap Lu Jing serta Chong Yun bergantian.


"Ada apa?" tanya Li Zhe Liang.


"Ti…tidak apa-apa! Aku tidak sengaja menusuk jarum perak ke punggung tanganku," jawab Chong Yun dengan terbata-bata.


Chong Yun bisa merasakan telapak tangannya masih nyeri dan berusaha bersikap biasa-biasa saja di hadapan Li Zhe Liang dan Chong Yun.


"Chong Yun. Kamu pasti kelelahan karena mengobatiku selama beberapa hari. Istirahatlah sebentar," kata Li Zhe Liang.


"Tidak apa-apa Zhe Liang. Tinggal sepuluh buah jarum perak lagi, kamu bisa tidur nyenyak. Aku akan melanjutkannya sekarang," ucap Chong Yun.


"Baiklah," kata Li Zhe Liang.


Chong Yung memegang jarum perak dengan erat dan berkonsentrasi penuh menusuk di bagian lengan Li Zhe Liang tadi.


"Apa yang sedang terjadi dengan Yang Ruo Li? Aku harap semuanya baik-baik saja," kata hati Chong Yun.


***


Selamat siang readers. Apakah Ruo Li bisa lolos atau tertangkap?


Ditunggu kelanjutan ceritanya nanti malam ya.


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE