
***Kediaman Edelweiss***
Roh Mu Dan memeluk tubuh Yang Ruo Li, tanpa takut akan terluka oleh kabut hitam yang mengelilingi tubuh Yang Ruo Li.
"Li Er, putriku yang malang!" kata roh Mu Dan.
"Ibu!" panggil Yang Ruo Li dengan mata berkaca-kaca.
Yang Ruo Li merasa senang dan terharu karena Mu Dan sudah sembuh dari penyakit gila dan bisa mengenalinya. Walaupun Mu Dan dalam wujud roh, Yang Ruo Li bisa merasakan pelukan yang hangat dari ibunya.
Roh Mu Dan melepaskan pelukannya dan menggenggam erat kedua tangan Yang Ruo Li.
"Li Er! Jangan gunakan sihir ini!" kata roh Mu Dan dengan suara lembut.
Yang Ruo Li menganggukkan kepalanya secara perlahan. Kabut hitam yang menyelimuti tubuh Yang Ruo Li secara perlahan menghilang karena dirinya menarik kembali kekuatan spiritual ke dalam tubuhnya.
"Ibu akan membantumu!" ucap roh Mu Dan sambil tersenyum.
Roh Mu Dan memberikan sebagian besar kekuatan spiritualnya ke tubuh Yang Ruo Li untuk membantu menekan serangan balik dari sihir racun tingkat dewa yang bisa merenggut nyawa Yang Ruo Li.
"Ibu! Ada apa denganmu?" tanya Yang Ruo Li dengan nada khawatir.
Sebagian besar kekuatan spiritual dari roh Mu Dan diberikan kepada Yang Ruo Li sehingga bentuk fisik roh Mu Dan melemah dan memudar, seolah-olah akan menghilang dalam waktu yang singkat.
***
Penjaga tua yang bernama Tetua Ming tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
"Nyonya besar! Ini adalah saat yang tepat untuk membunuh tubuh Mu Dan!" saran Tetua Ming ke Huo Rong.
"Benarkah?" tanya Huo Rong sambil melihat tubuh kosong Mu Dan yang masih terbelenggu rantai besi di dalam genggaman tangannya.
"Roh Mu Dan terlalu lemah untuk kembali ke tubuhnya!" jawab Tetua Ming.
"Baiklah! Bunuh dia sekarang juga!" perintah Huo Rong.
Huo Rong melepaskan pegangan rantai besi dan menyebabkan tubuh Mu Dan terjatuh ke atas tanah. Jiwa pil Huo Rong sudah rusak sehingga dirinya bagaikan orang lumpuh dan tidak bisa menggunakan kekuatan spiritualnya membunuh Mu Dan.
"Kalian pergi serang roh Mu Dan! Aku akan membunuh tubuhnya!" perintah Tetua Ming kepada lima penjaga lain yang masih hidup.
Walaupun Tetua Ming yakin roh Mu Dan terlalu lemah untuk kembali ke dalam tubuh dan melawannya, tetapi Tetua Ming tidak mau mengambil resiko. Tetua Ming sangat tahu tingkat kultivator Mu Dan lebih tinggi berkali lipat darinya.
"Baik, Tetua Ming!" jawab serentak kelima penjaga itu.
Kelima penjaga itu segera berlari ke arah Yang Ruo Li serta roh Mu Dan, sedangkan Tetua Ming berjalan mendekati tubuh kosong Mu Dan.
Roh Mu Dan memberikan tatapan tajam ke arah kelima penjaga itu sehingga mereka berlima terdiam di tempat dan tidak berani maju lebih dekat lagi. Kelima penjaga itu terintimidasi oleh roh Mu Dan.
Roh Mu Dan mengeluarkan semua kekuatan spiritual yang masih tersisa dalam wujud angin besar dan menerpa kelima penjaga itu sehingga mereka semua mati tanpa menyisakan jasad. Bersamaan dengan itu roh Mu Dan pun menghilang dari sisi Yang Ruo Li.
"Ibu!" teriak Yang Ruo Li dan melihat ke arah tubuh Mu Dan yang tergeletak di atas tanah.
Yang Ruo Li tahu semua kekuatan spiritual Mu Dan sudah habis untuk diberikan kepadanya dan membunuh kelima penjaga itu sehingga Mu Dan berada dalam kondisi tidak sadarkan diri sekarang.
"Matilah!" teriak Tetua Ming sambil mengumpulkan kekuatan spiritualnya di telapak tangan kanan dan akan menghantam ke jantung Mu Dan.
"HENTIKAN!" teriak Yang Ruo Li dengan keras dan berjalan cepat menuju tempat Mu Dan.
Teriakan Yang Ruo Li membuat Tetua Ming mengarahkan tangan kanannya ke arah Yang Ruo Li. Saat ini Yang Ruo Li lebih berbahaya daripada Mu Dan yang sudah tidak sadarkan diri sehingga Tetua Ming memutuskan menghabisi Yang Ruo Li terlebih dahulu.
Kekuatan spiritual Tetua Ming berubah menjadi bayangan kepala monster buas dan menghadang Yang Ruo Li. Mulut monster buas itu terbuka lebar dan bersiap untuk menelan Yang Ruo Li.
Yang Ruo Li tidak merasa gentar dan tetap berjalan maju. Garis hitam senjata racun keluar dari pergelangan tangan kanannya berubah bentuk menjadi ular hitam dan bertarung dengan bayangan kepala monster buas itu.
Beberapa saat kemudian bayangan kepala monster buas itu berhasil menelan ular hitam dan terbang menuju Yang Ruo Li.
Bayangan kepala monster buas itu membuka mulutnya lebar-lebar dan menelan tubuh Yang Ruo Li dengan cepat.
***
"Putra mahkota!" teriak Lu Jing dan Feng Teng bersamaan.
Keduanya mengalihkan perhatian dari tempat pertarungan ke arah Li Zhe Liang berdiri tadi. Akan tetapi, sosok Li Zhe Liang sudah menghilang di sana.
"Sihir teleportasi!" ucap Lu Jing dan Feng Teng bersamaan lagi.
***
Yang Ruo Li terkurung di dalam bayangan kepala monster buas itu dan merasakan seluruh kekuatan spiritualnya tersedot sehingga wajahnya berubah warna menjadi pucat. Tubuh Yang Ruo Li semakin melemah.
"Apakah aku akan mati? Setelah semalam berhasil menghindar bertemu dewa akhirat, tidak disangka akan bertemu dengannya hari ini!" kata hati Yang Ruo Li.
Tiba-tiba Yang Ruo Li merasakan kekuatan spiritual yang hangat menyelimutinya sehingga rasa sakit di sekujur tubuhnya menghilang.
Sepasang tangan yang kuat melingkar di pinggang Yang Ruo Li dan memeluknya dengan erat.
Aroma maskulin yang khas dan pelukan hangat membuat Yang Ruo Li merasa nyaman dan tenang.
"Apakah aku dipeluk oleh dewa akhirat?" kata hati Yang Ruo Li.
Yang Ruo Li mengangkat wajahnya untuk melihat jelas wajah 'dewa akhirat' yang sudah membuat perasaan hatinya tenang.
Kedua mata Yang Ruo Li beradu tatap dengan Li Zhe Liang, yang juga sedang menundukkan wajahnya untuk melihat gadis muda di dalam pelukannya.
Walaupun wajah Li Zhe Liang masih dingin dan tanpa ekspresi seperti biasanya, tetapi tatapan matanya sangat lembut sehingga membuat Yang Ruo Li terpesona.
"Tuan tampan? Si hidung belang? Kenapa dewa akhirat berwajah tampan seperti si hidung belang?" kata Yang Ruo Li.
Yang Ruo Li mengira dirinya sudah menginjak gerbang akhirat dan berhalusinasi melihat wajah Li Zhe Liang.
"Gadis bodoh!" ucap Li Zhe Liang sambil menyentil kening Yang Ruo Li dengan keras.
"Aduh! Sakit!" teriak Yang Ruo Li.
"Siapa yang kamu panggil si hidung belang?" tanya Li Zhe Liang dengan suara dingin, disertai aura dingin menyelimuti sekelilingnya. Bahkan Yang Ruo Li menggigil karena pelukan hangat telah berubah menjadi pelukan dingin sehingga membuat Yang Ruo Li sadar, dirinya masih hidup.
"Ka…kamu salah dengar! Aku bilang tuan tampan, bukan si hidung belang!" bantah Yang Ruo Li dengan spontan.
"Tampan?" tanya Li Zhe Liang sambil menatap tajam Yang Ruo Li.
"Iya! Hidungmu mancung, alismu tebal, bulu matamu lentik, dan bibirmu seperti tomat yang menggugah selera!" puji Yang Ruo Li dengan mata yang berbinar-binar.
Sudut bibir Li Zhe Liang terangkat sedikit, bahkan telinganya merona merah karena pujian Yang Ruo Li sehingga Li Zhe Liang berusaha menutupinya dengan mengalihkan perhatian Yang Ruo Li.
"Keluar dari sini dulu!" kata Li Zhe Liang dengan singkat.
Li Zhe Liang memancarkan kekuatan spiritualnya dan terbang keluar menembus bayangan kepala monster buas dengan mudah sambil menggendong Yang Ruo Li.
Bayangan kepala monster buas meledak hancur seketika seiring dengan keluarnya Li Zhe Liang dan Yang Ruo Li dari sana sehingga membuat Tetua Ming memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Tubuh Li Zhe Liang masih memancarkan kekuatan spiritual yang dahsyat sehingga membuat Kediaman Edelweiss porak poranda. Bahkan tubuh Huo Rong dan Yang Rong Xian ikut terlempar jauh dan jatuh di atas tanah.
Sementara itu tubuh Mu Dan dilindungi oleh Lu Jing dan Feng Teng sehingga dalam keadaan baik-baik saja.
Tubuh Tetua Ming pun terhuyung ke belakang beberapa langkah dan hampir saja terjatuh. Tetua Ming menatap ke arah Li Zhe Liang yang masih menggendong Yang Ruo Li dengan perasaan takut.
"Master!" sapa Tetua Ming sambil memberi hormat kepada Li Zhe Liang.
Tetua Ming berusaha mengambil hati Li Zhe Liang sehingga bisa mencari tahu identitas Li Zhe Liang.
"Mati!" ujar Li Zhe Liang dengan suara dingin.
Li Zhe Liang menunjuk ke arah Tetua Ming dan kekuatan spiritualnya melaju pesat menembus tubuh Tetua Ming sehingga dia mati tanpa meninggalkan jasad.
"Berani sekali mencoba membunuh wanitaku!" kata hati Li Zhe Liang.
***
Halo readers. Ini bab kedua hari ini ya. Ceritanya sudah panjang dan ga menggantung lagi end nya 😂😂😂.
Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya besok dan pastinya masih ada kejutan yang menanti.
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE