GADIS BERACUN

GADIS BERACUN
BAB 159. Kekhawatiran rakyat Kota Shang Ri La


***Aula Besar Kota Shang Ri La***


Dua puluh orang yang masih hidup itu segera meninggalkan aula besar Kota Shang Ri La. Dalam waktu yang singkat tidak ada lagi orang dari keluarga terpandang Kota Sang Ri La berada di sana, menandakan pertarungan sudah berakhir.


Kerumunan rakyat Kota Shang Ri La melihat pemandangan jasad-jasad yang berserakan di tengah aula besar dengan perasaan yang tidak menentu. Perasaan panik dan khawatir tercermin di wajah mereka semua.


Rasa kekhawatiran mereka semua sama. Mereka khawatir keamanan Kota Shang Ri La akan terancam.


Bagaimana tidak? Hanya dalam waktu satu jam an saja sudah banyak kultivator yang merupakan bawahan dan anggota pasukan mati. Selain itu Tetua Klan Peng, Klan Huo, dan Klan Yang juga mati.


"Banyak sekali kultivator yang mati. Kota Shang Ri La mengalami kerugian besar."


"Bagaimana jika ada monster yang tiba-tiba menyerang Kota Shang Ri La? Siapa yang bisa melindungi kita?"


"Bukan hanya monster jahat saja. Sekte Sesat sudah mulai beraksi belakangan ini."


"Iya. Putraku yang malang di culik."


"Putriku juga."


"Anakku. Apakah kamu masih hidup?"


Kericuhan terjadi di tengah kerumunan rakyat Kota Shang Ri La. Puluhan orang tua menangis mengingat anaknya yang hilang diculik.


Pertumpahan darah kali ini telah mencabut nyawa hampir sebagian dari kultivator yang tinggal di Kota Shang Ri La. Padahal selama ini rakyat Kota Shang Ri La bisa menjalani kehidupan yang aman dan tenang karena adanya kelima Keluarga terpandang yang membantu menjaga keamanan.


***


Lu Jing segera berjalan menghampiri Li Zhe Liang setelah mendengar pergunjingan kerumunan rakyat Kota Shang Ri La.


"Tuan. Ternyata di Kota Shang Ri La juga ada anak kecil yang hilang," kata Lu Jing.


Li Zhe Liang menganggukkan kepalanya, sedangkan Yang Ruo Li terkejut dengan perkataan Lu Jing dan penasaran apa yang terjadi.


Selama ini Yang Ruo Li jarang keluar dari Kediaman Keluarga Yang karena wajah kirinya yang penuh bercak hitam dan juga tubuhnya yang lemah akibat racun. Yang Ruo Li sama sekali tidak tahu apa saja yang terjadi di luar sana.


Chun Hua sebagai pelayan pribadi Yang Ruo Li juga jarang keluar dari Kediaman Keluarga Yang karena harus menjaga Yang Ruo Li.


Tadi Yang Ruo Li memang mendengar tuduhan terhadap Sekte Sesat yang menculik anak kecil dari Kota Shang Ri La. Akan tetapi, Yang Ruo tidak menyangka di kota lain juga mengalami hal yang sama.


"Kak Lu Jing. Di kota lain juga ada anak yang hilang?" tanya Yang Ruo Li.


"Iya Nona Ruo Li. Puluhan anak hilang di Kota Chang Sha dan Cheng Du," jawab Lu Jing.


Kota Chang Sa dan Cheng Du dekat dengan Kota Shang Ri La. Ketiga kota itu merupakan bagian dari Kerajaan Tang.


Rombongan Li Zhe Liang melewati kedua kota itu sebelum tiba di Kota Shang Ri La sehingga mereka mendengar gosip mengenai puluhan anak hilang di Kota Chang Sa maupun Kota Cheng Du. Tidak disangka Kota Shang Ri La mengalami hal yang sama.


Apakah semua anak kecil itu diculik oleh Sekte Sesat? Ataukah ada kelompok yang sengaja menggunakan nama Sekte Sesat untuk melakukan kejahatan? Tidak ada yang tahu kebenarannya sampai saat ini.


***


" Li Er. Ayo kita pulang ke Paviliun Ru Yi," ajak Li Zhe Liang.


"Baiklah," jawab Yang Ruo Li.


Yang Ruo Li melihat sekali lagi pemandangan di aula besar Kota Shang Ri La yang penuh dengan jasad dalam kondisi tragis. Bahkan Huo Si Cheng dan Wen Hui Min masih pingsan di antara tumpukan jasad itu.


Yang Ruo Li sedang berpikir keras bagaimana cara menangani tumpukan jasad itu? Tidak mungkin dibiarkan di tengah aula besar Kota Shang Ri La. Apakah Bangsawan Fu Chen sebagai penguasa kota akan mengurusnya?


Sementara Bangsawan Fu Chen tidak akan disalahkan karena tidak muncul di aula besar Kota Shang Ri La. Meskipun nantinya pasti akan ada orang yang menuduh Bangsawan Fu Chen terlibat dalam kejadian hari ini, pria licik itu tetap bisa menyangkalnya dan melimpahkan semua kesalahan ke Wen Hui Min.


"Fu Rong!" panggil Li Zhe Liang secara tiba-tiba.


Li Zhe Liang yakin Fu Rong dan pasukan rahasia sudah selesai menghancurkan Keluarga Huo dan berada di sekitar sana untuk menunggu perintah darinya.


Pemikiran Li Zhe Liang sangat tepat. Fu Rong langsung muncul di hadapan mereka semua setelah mendengar perintah Li Zhe Liang. Wanita pemimpin pasukan rahasia dan berpakaian serba hitam itu berlutut dengan satu kaki di depan Li Zhe Liang.


"Fu Rong siap melaksanakan perintah Tuan!" ucap Fu Rong.


"Bersihkan tempat ini dan kirim sebagian pasukan rahasia untuk menghancurkan Kediaman Keluarga Yang!" perintah Li Zhe Liang dengan singkat.


"Baik Tuan!" jawab Fu Rong dengan patuh. Dalam waktu singkat Fu Rong sudah menghilang di aula besar Kota Shang Ri La.


Li Zhe Liang menatap lembut ke arah Yang Ruo Li. " Apakah Li Er mau mengampuni nyawa anggota keluarga Yang?" tanya Li Zhe Liang.


Bagaimana pun juga Kediaman Keluarga Yang adalah tempat tinggal Yang Ruo Li sejak kecil sehingga Li Zhe Liang menanyakan keinginan gadis muda itu.


"Sejak aku menyelamatkan ibu dan membawanya ke Paviliun Ru Yi, kediaman Keluarga Yang bukan lagi rumahku," jawab Yang Ruo Li.


"Aku akan menjadi rumahmu," ucap Li Zhe Liang sambil menggenggam erat tangan Yang Ruo Li sehingga membuat pipi gadis muda itu merona merah.


Li Zhe Liang tersenyum tipis melihat pipi merah Yang Ruo Li. Semburat merah itu sangat menonjol di wajah cantik Yang Ruo Li sehingga Li Zhe Liang menatap intens gadis muda itu.


"Zhe Liang. Aku mengkhawatirkan ibu. Ayo kita pulang sekarang."


Yang Ruo Li merasa malu dengan tatapan intens dari Li Zhe Liang sehingga berusaha mengalihkan perhatian pria dingin itu. Yang Ruo Li melemparkan pedang terbang hadiah Li Zhe Liang ke atas udara dan melompat ke atasnya.


Tentu saja Li Zhe Liang pun ikut melompat ke atas pedang terbang yang membesar. Pria dingin itu memeluk erat pinggang Yang Ruo Li dari belakang.


"Zhe…Zhe Liang. Kamu mau ikut bersamaku?" tanya Yang Ruo Li terbata-bata. Semburat merah di pipinya sudah menjalar ke telinga.


"Li Er yang memintaku untuk memulihkan kekuatan spiritual dulu. Aku hanya bisa berharap pada kekuatan spiritual Li Er sehingga menumpang pedang terbang ini," jawab Li Zhe Liang dengan tenang.


"Baiklah," jawab Yang Ruo Li dengan pasrah.


"Zhe Liang. Kamu bisa ikut… ah…ah…"


Chong Yun tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Lu Jing sudah menggunakan pedang terbangnya membawa Chong Yun pergi meninggalkan aula besar Kota Shang Ri La.


"Tuan dan Nona Ruo Li. Aku dan Lu Jing berangkat duluan. Kita akan menunggu di Paviliun Ru Yi," ucap Feng Teng sambil tersenyum ramah. Kemudian melompat naik ke atas pedang terbangnya untuk menyusul Lu Jing dan Chong Yun.


***


Selamat siang readers. Zhe Liang modus banget ya peluk-peluk Li Er 😂. Pasti readers senyum-senyum sendiri ya, seperti author waktu mengetik cerita ini.


Ditunggu kelanjutan ceritanya nanti malam ya readers 🙏


Terima kasih kepada semua readers setia yang sudah memberikan vote, hadiah, like, dan komentar posititIf.


Love You All 😙


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE