GADIS BERACUN

GADIS BERACUN
BAB 183. kecurigaan Tang Ying


***Hutan Tengkorak***


Tang Song merasa ngeri dengan tatapan dingin yang diberikan oleh Lu Jing, Feng Teng, dan pasukan rahasia Li Zhe Liang.


Pangeran kelima Kerajaan Tang itu yakin statusnya yang tinggi tidak membuat lawan yang mengepungnya merasa gentar.


"A…apa yang ingin kalian lakukan terhadap rombonganku?" tanya Tang Song dengan terbata-bata.


Keringat dingin mulai bercucuran di kening Tang Song. Ketakutan akan nyawanya melayang membuatnya berpikir keras untuk melakukan negosiasi. Tang Ying yang berdiri di samping Tang Song pun menggigil ketakutan.


Putri manja itu tidak ingin mati sia-sia di dalam Hutan Tengkorak. Masih banyak kemewahan dan kesenangan duniawi yang belum dirinya nikmati.


"Aku akan memberi kalian dua ratus koin emas jika melepaskan kita sekarang," tawar Tang Song.


Koin emas adalah uang yang digunakan di daratan Zhong Yuan dan merupakan koin dengan nilai tertinggi. Selain itu ada koin perak dan koin perunggu. Satu koin emas senilai dengan sepuluh koin perak ataupun seratus koin perunggu.


Tang Song semakin panik ketika Lu Jing dan Feng Teng terlihat jelas tidak tertarik dengan penawarannya.


"Dua ratus koin emas ini untuk ditukar dengan nyawaku dan nyawa Tang Ying. Kalian pasti tidak mau menjadi musuh dari Kerajaan Tang kan?" tanya Tang Song dengan hati-hati.


Tang Song mengeluarkan kantong yang berisi semua koin emas miliknya untuk membuktikan niatnya yang tulus. Tang Song bisa meminjam uang dari Bangsawan Fu Chen nantinya jika memang rombongan Lu Jing mau menerima penawaran darinya.


Sementara itu wajah Lai Yi dan pengikut lainnya menjadi semakin pucat. Perkataan Tang Song mengisyaratkan nyawa mereka sudah tidak dipedulikan lagi.


Tang Song hanya ingin menyelamatkan nyawanya sendiri dan nyawa Tang Ying saja. Walaupun ada kemarahan muncul seketika di dalam hati Lai Yi dan pengikut lainnya, mereka hanya bisa terdiam dan pasrah menunggu ajal menjemput mereka.


Tetua Wu Yuan menggelengkan kepala perlahan mendengar perkataan Tang Song. Orang tua itu bersyukur dirinya meninggalkan Kediaman Bangsawan Fu Chen dan menjadi pengikut Yang Ruo Li.


Tetua Wu Yuan yakin Bangsawan Fu Chen maupun Wen Hui Min pasti akan mengorbankan nyawa para bawahannya seperti Tang Song.


Sementara Yang Ruo Li tidak mungkin melakukan hal picik itu. Yang Ruo Li akan menjaga dan melindungi para pengikutnya. Bukti nyatanya Pengurus Ming Ye dan juga para penjaga Paviliun Ru Yi.


Sewaktu di aula besar Kota Shang Ri La, Yang Ruo Li meminta Pengurus Ming Ye dan para penjaga Paviliun Ru Yi untuk mengikuti Qi Lin pulang. Tetua Wu Yuan tahu Yang Ruo Li tidak ingin para pengikutnya itu terluka lagi.


Lu Jing dan Feng Teng saling berbicara melalui isyarat mata. Tadi Li Zhe Liang hanya memberi isyarat asap untuk memanggil mereka berkumpul melindungi Yang Ruo Li saja.


Selain itu Li Zhe Liang menggunakan sihir telepati ke Lu Jing untuk meminta Yang Ruo Li mencarinya di tepi sungai Hutan Tengkorak.


Li Zhe Liang belum memberikan perintah untuk melenyapkan rombongan Tang Song sehingga Lu Jing dan Feng Teng memutuskan akan melepaskan rombongan Tang Song kali ini.


Lu Jing memberikan isyarat tangan ke pasukan rahasia yang sedang mengepung rombongan Tang Song. Dalam hitungan detik pasukan rahasia yang berjumlah tiga puluh orang itu bergerak menghilang di dalam kegelapan.


Lu Jing dan Feng Teng mengacuhkan rombongan Tang Song dan melemparkan pedang terbang mereka ke atas udara lagi.


"Baiklah," jawab Tetua Wu Yuan.


Mereka bertiga pun bergerak meninggalkan Hutan Tengkorak. Beberapa saat kemudian rombongan Tang Song menarik napas lega karena yakin nyawa mereka aman untuk saat ini.


"Pangeran Tang Song. Kita harus secepatnya meninggalkan Hutan Tengkorak menuju Kediaman Bangsawan Fu Chen," usul Lai Yi.


"Betul sekali Kak Tang Song. Aku akan meminjam pasukan dari Bangsawan Fu Chen untuk menyerang Paviliun Ru Yi. Gadis sialan itu pasti tinggal di sana. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri," geram Tang Ying sambil mengepalkan kedua tangannya.


Tang Ying mendengar jelas perkataan Lu Jing mengajak Tetua Wu Yuan pulang ke Paviliun Ru Yi sehingga putri manja itu yakin Yang Ruo Li ada di sana.


"Tang Ying! Jangan bertindak gegabah! Kita pergi ke Kediaman Bangsawan Fu Chen untuk mencari tahu dulu apa yang sedang terjadi di Kota Shang Ri La. Bagaimana Pejabat Peng Chong bisa mati dan jiwa pil Nyonya Fu hancur," ujar Tang Song.


Tang Song mempunyai firasat buruk akan sesuatu hal besar telah terjadi di Kota Shang Ri La. Mungkin Bangsawan Fu Chen sendiri pun tidak bisa mengatasinya. Buktinya Tetua Wu Yuan sudah memutuskan hubungan dengan Kediaman Bangsawan Fu Chen.


"Baik Kak Tang Song," jawab Tang Ying dengan muka cemberut.


Rombongan Tang Song pun segera meninggalkan Hutan Tengkorak. Langkah kaki mereka sangat cepat dan terburu-buru karena takut kelompok pasukan berpakaian serba hitam itu akan muncul lagi secara tiba-tiba dan mengambil nyawa mereka semua.


Tang Ying pun tidak mengeluh kakinya yang sakit dan kelelahan akibat perjalanan cepat dan melelahkan ini. Pikiran putri manja itu hanya terfokus untuk membalas dendam terhadap gadis sialan yang melebihi kecantikannya itu.


"Nona Ruo Li? Para pengikutnya memanggilnya Ruo Li. Ruo Li? Tidak mungkin dia adalah Yang Ruo Li," batin Tang Ying.


Tang Ying akui gadis kampung tadi memiliki usia yang hampir sama dengan Yang Ruo Li, mantan tunangan Fu Jiu Yun. Akan tetapi, wajahnya sangat berbeda jauh.


Yang Ruo Li terkenal dengan wajah kiri yang rusak dan penuh bercak hitam. Selain itu Yang Ruo Li juga lemah dan tidak bisa berlatih kultivasi.


Tang Ying yakin gadis kampung itu pasti bukan Yang Ruo Li, si nona sampah dan buruk rupa, mantan tunangan Fu Jiu Yun.


***


Selamat siang readers. Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya nanti malam ya. Abang Zhe Liang akan muncul nih. Kali ini bukan prank lagi lo 🥰🤗


Apakah kencan romantis Zhe Liang dan Li Er berjalan lancar di tepi sungai Hutan Tengkorak?


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE