
***Tempat makan di perbatasan Kota Shang Ri La***
Yang Ruo Li terkejut dengan kemunculan pria asing yang duduk di hadapannya dan menatap tajam ke arahnya.
Gadis muda itu mengedarkan pandangan ke sekeliling dan melihat masih banyak tempat duduk kosong di sana.
Yang Ruo Li berfirasat pria itu duduk di hadapannya karena ada maksud tersembunyi. Gadis muda itu pun membalas tatapan tajam dan mengamati saksama pria itu.
Aura yang dipancarkan oleh pria itu sangat dingin. Wajahnya memang tampan, tetapi tertutupi dengan sikap dingin sehingga Yang Ruo Li bisa menebak pria di hadapannya mempunyai sifat yang kaku dan serius. Hampir sama dengan Li Zhe Liang.
Ada satu perbedaan yang jelas antara pria itu dengan Li Zhe Liang. Walaupun Li Zhe Liang memiliki sikap dingin dan kaku serta terkenal dengan wajah tanpa ekspresinya, tetapi tatapan mata Li Zhe Liang terhadap Yang Ruo Li selalu lembut dan menghangatkan hati gadis muda itu.
Sementara tatapan pria di hadapannya tidak ada kelembutan sama sekali sehingga membuat Yang Ruo semakin waspada.
"Kamu adalah komplotan mereka?" tanya Yang Ruo Li dengan suara datar.
Yang Ruo Li menduga kemungkinan besar pria asing ini mengenal rombongan Tang Song sehingga menghampirinya sekarang.
Pria itu mengernyitkan alisnya dan terlihat berpikir keras, seolah-olah dirinya tidak mengerti perkataan Yang Ruo Li.
Yang Ruo Li menunjuk ke arah pertarungan sengit antara rombongan Tang Song dan prajurit Bangsawan Fu Chen, tidak jauh dari tempat makan.
"Bukan!" jawab pria itu dengan singkat.
"Ternyata aku salah paham. Ada apa Tuan mencariku?" tanya Yang Ruo Li dengan sopan.
Yang Ruo Li menuangkan teh ke cangkir baru dan menaburkan racun racikannya dengan cepat tanpa terlihat oleh siapa pun, lalu mendorong cangkir ke hadapan pria itu.
Yang Ruo Li bisa menebak tingkat kultivasi pria di hadapannya sangatlah tinggi dan belum diketahui pasti apakah pria itu adalah musuh atau teman sehingga Yang Ruo Li memutuskan meracuninya terlebih dahulu.
Jika memang pria ini tidak mempunyai niat jahat maka Yang Ruo Li akan memberikan obat penawar.
Pria misterius itu menundukkan kepala dan menatap cangkir teh yang diberikan oleh Yang Ruo Li. Senyum samar muncul di sudut bibir pria itu.
Beberapa saat kemudian pria misterius itu mengangkat kepala dan menatap wajah Yang Ruo Li lagi.
"Hebat! Bisa memasukkan racun tanpa disadari olehku," puji pria itu dengan suara datar.
Sejak awal pria itu duduk di hadapan Yang Ruo Li, dirinya sudah mengamati saksama Yang Ruo Li dalam wujud pria berumur tiga puluh tahun itu dan sama sekali tidak tahu bagaimana Yang Ruo Li bisa memasukkan racun ke dalam cangkir teh.
"Tuan. Aku tidak mengerti maksud perkataanmu." Yang Ruo Li berpura-pura bodoh dan tidak akan mengakuinya karena yakin pria itu hanya menebak.
Keahlian racun Yang Ruo Li sudah semakin tinggi dan dirinya bisa meracuni siapa pun dengan mudah, termasuk meracuni Tang Ying tadi.
Pria itu memajukan tangan kanannya ke arah Yang Ruo Li dan gadis muda itu dengan sigap menjauhkan tubuhnya ke belakang.
Yang Ruo Li menarik napas lega karena pria itu bukan berniat menyentuhnya melainkan meletakkan sesuatu dari genggaman tangan kanannya di atas meja, tepat di hadapan Yang Ruo Li.
"Batu opal," kata hati Yang Ruo Li, setelah mengenali benda yang diletakkan oleh pria itu.
Batu opal memiliki kelebihan diantara batu permata lainnya karena permainan warna yang disebabkan oleh sifat optiknya yang sangat unik.
Di dalam batu opal bisa terlihat keindahan mirah delima, zamrud, topas, kecubung, dan semua warna cemerlang dari batu permata lain.
Batu opal sering disebut sebagai ratunya permata dan khasiatnya yang paling utama adalah bisa mendeteksi racun.
Jika batu opal berada di dekat benda beracun, maka akan memancarkan warna merah. Semakin merah dan gelap warnanya bisa dipastikan racun itu semakin berbahaya.
Pria itu yakin Yang Ruo Li mengenali batu opal dan pastinya tahu jelas kegunaan batu itu sehingga mengambil batu opalnya dari atas meja dan meletakkan di samping cangkir yang berisi teh dari Yang Ruo Li tadi.
Dalam hitungan detik batu opal berubah warna menjadi merah darah sehingga pria itu menatap ke arah Yang Ruo Li sambil menunjuk cangkir teh.
"Ha ha ha! Hanya salah paham, Tuan. Aku adalah alchemist pemula. Mungkin tanpa sengaja menjatuhkan bubuk racun ke cangkir teh tadi," ucap Yang Rup Li sambil tersenyum lebar dan mengambil cangkir teh racun itu dari hadapan pria misterius dengan cepat serta membuang teh itu ke tanah.
"Apakah pria ini gila? Aku meracuninya dan dia memberiku hadiah batu opal yang luar biasa ini?" kata hati Yang Ruo Li.
Ketika pertama kali melihat batu opal ini, Yang Ruo Li memang sangat tertarik dan menyukainya. Hal yang pertama kali melintas di pikirannya adalah menggunakan api surgawi mengubah batu opal ini menjadi cincin untuk Li Zhe Liang.
Walaupun sepengetahuan Yang Ruo Li, Li Zhe Liang kebal terhadap racun. Akan tetapi, cincin batu opal bisa membantu Li Zhe Liang mendeteksi racun disekitarnya dengan cepat.
"Baiklah. Terima kasih Tuan," jawab Yang Ruo Li tanpa ragu dan mengambil batu opal itu.
"Aku membutuhkan keahlian alchemist mu. Batu opal itu bayarannya," kata pria itu.
Yang Ruo Li tercengang dengan mulut terbuka lebar secara tidak sadar. Pantas saja pria itu memberikan batu opal secara gratis dan ternyata disebabkan oleh keahlian racunnya.
"Ruo Li, kamu sangat naif. Bagaimana mungkin ada yang gratis di dunia ini," gerutu Yang Ruo Li di dalam hatinya.
"Racun apa yang kamu inginkan?" tanya Yang Ruo Li.
"Racun pelacak jiwa pil. Jika seseorang terkena racun itu, aku bisa menemukannya di mana pun dia berada. Akan tetapi, racun itu tidak merusak jiwa pilnya," jelas pria itu tentang racun yang diinginkan olehnya.
Yang Ruo Li terdiam sebentar memikirkan permintaan pria itu. Racun yang diinginkan oleh pria itu bukan racun jahat dan tidak membahayakan nyawa orang lain.
Yang Ruo Li tidak ingin racun racikannya digunakan untuk kejahatan sehingga gadis muda itu memutuskan akan membuat racun pelacak jiwa pil. Tentu juga dikarenakan bayarannya adalah batu opal.
"Aku akan mencoba membuatnya. Racun ini agak rumit sehingga memerlukan waktu untuk membuatnya," ujar Yang Ruo Li.
"Berapa hari?" tanya pria itu.
"Satu hari," jawab Yang Rup Li dengan yakin.
Adanya ruang dimensi cincin lotus membuat Yang Ruo Li bisa meracik racun itu dengan cepat.
"Apakah kamu membutuhkan bahan tanaman langka? Aku bisa menyediakannya," ujar pria itu.
"Aku akan menggunakan bahan tanaman langka milikku. Jika kurang, aku akan mencarimu. Bagaimana aku menghubungimu nanti dan siapa nama Tuan?" tanya Yang Ruo Li.
Pria itu mengeluarkan satu buah lempengan giok dan meletakkan di hadapan Yang Ruo Li.
"Ada indra spiritualku di dalam lempengan giok ini. Kamu hanya perlu menyebut namaku saat memegang lempengan giok ini, aku akan mencarimu. Namaku Lan Xi," ucap pria itu.
"Cara kerjanya hampir sama dengan gelang kristal pemberian Zhe Liang," kata hati Yang Ruo Li.
Yang Ruo Li menarik lengan bajunya sedikit sehingga bisa melihat jelas gelang kristal hadiah dari Li Zhe Liang.
Senyum lebar menghias bibir Yang Ruo Li karena mengingat perkataan Li Zhe Liang, yang akan menyusulnya secepat mungkin dengan petunjuk gelang kristal itu.
Selama dua hari ini Yang Ruo Li memang sengaja mengenakan pakaian pria berlengan panjang agar gelang kristal hadiah dari Li Zhe Liang tidak menarik perhatian orang lain untuk merebutnya.
"Dari mana kamu mendapatkan gelang itu?" tanya Lan Xi dengan ekspresi wajah serius, ketika melihat jelas gelang kristal yang melingkar di pergelangan tangan Yang Ruo Li.
***
Selamat siang readers tercinta. Ada apa dengan gelang kristal hadiah dari Zhe Liang?
Jawabannya ada di bab malam ya. Jangan lupa membacanya 🤗.
Spoiler dikit : Kemunculan Lan Xi ada hubungannya dengan anak hilang.
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE