
Sore hari, di kamar Jelita...
Romi memegang kepalanya yang sakit, ia ingin membuka matanya tapi rasa sakit yang dirasakannya memaksanya tetap memejamkan mata.
Romi : "Aduch!"
Suara Romi terdengar oleh Jelita yang langsung menghampirinya.
Jelita : "Kamu uda bangun? Mau minum?"
Romi : "Aku dimana? Minta minum..."
Jelita membantu Romi minum, sambil memeganginya. Tangan Romi memegang gelas, ia menghabiskan satu gelas air putih dan terengah-engah menarik nafas.
Jelita : "Kamu dikamarku, tadi kamu pingsan. Kamu kenapa sampai bisa luka gitu?"
Romi : "Aku nabrak trotoar waktu mau jalan kesini. Mobilku masih disana kayaknya. Aku harus telpon derek."
Jelita : "Pak Alex sudah mengurusnya, tadi ada polisi kesini tanyain keadaanmu. Kamu mau makan?"
Romi : "Aku mau bicara sama papamu..."
Jelita : "Kamu mau apa? Kamu perlu istirahat sekarang."
Romi : "Aku mau melamarmu lagi."
Jelita : "Papaku masih sibuk sama pestanya. Aku ambilkan makanan dulu ya."
Romi menarik tangan Jelita hingga wanita itu jatuh di atas tubuhnya. Matanya sudah bisa terbuka, ia menatap wajah cantik Jelita yang sangat dekat dengannya.
Romi : "Aku akan menghukummu."
Jelita : "Apa salahku?"
Romi : "Kamu pencuri..."
Jelita : "Apa yang kucuri?"
Romi : "Hatiku..."
Jelita tersenyum malu mendengar gombalan Romi, ia tidak menyangka kalau Romi bisa mengatakan hal manis juga.
Romi memegang tengkuk Jelita, mendekatkan wajahnya dan hampir mencium wanita itu saat seseorang mengetuk pintu kamar Jelita.
Jelita membukakan pintu, seorang pelayan membawakan makanan dan minuman untuk keduanya,
Jelita : "Makasi, mb. Papa masih sibuk?"
Pelayan : "Tuan sedang istirahat, non. Tuan berpesan kalau Tuan Romi sudah membaik, Tuan mau bicara bertiga dengan non juga."
Pelayan itu keluar dari kamar Jelita. Ia membantu Romi duduk diatas ranjangnya dan menyuapinya makan. Romi terus menatap Jelita dan membuat wanita itu salah tingkah.
Tangan Romi meraba paha Jelita hingga tubuhnya bergetar. Jelita menepis tangan Romi,
Jelita : "Jangan nakal..."
Romi : "Kita sudah pernah melakukannya, kenapa kau malu?"
Jelita : "Ini dirumahku, nanti papa liat..."
Romi : "Kunci pintunya..."
Jelita : "Nggak!"
Romi tertawa sambil memegangi kepalanya yang sudah diperban. Wajah Jelita bahkan lebih merah dari tomat yang ada di piringnya.
Romi : "Aku sudah tahu, malam itu tidak terjadi apa-apa. CCTV dirumahku gak bisa bohong."
Romi sudah mengecek CCTV di rumahnya dan melihat Alex dan Arnold membopongnya ke dalam kamarnya dan melucuti pakaiannya. Ia juga melihat ketika Jelita ditinggalkan disana dan melepas pakaiannya di kamar mandi.
Setelah mengatur pakaian mereka agar berserakan di lantai kamarnya, Jelita masuk ke bawah selimut dan membuka bathrobe-nya.
Romi : "Apa kamu gak takut?"
Jelita : "Takut apa?"
Romi : "Gimana kalau pagi itu, aku beneran melakukannya?
Jelita terdiam, sebelumnya Alex sudah meyakinkannya kalau Romi bukan pria yang kurang ajar pada semua wanita. Ia sangat menghormati wanita dan tidak akan mengambil kehormatannya.
Jelita : "Kalau kamu maksa, mungkin aku akan memberikannya..."
Romi : "Dengan resiko aku gak mau tanggung jawab? Gimana kalau kamu hamil?"
Jelita : "Aku akan minta tolong pak Alex. Dia pasti bisa membuatmu bertanggung jawab."
Romi : "Kalau aku maksa sekarang?"
Jelita : "Aku akan teriak..."
Romi : "Coba saja..."
Jelita langsung ngibrit dari sisi Romi, ia duduk di sofa untuk memakan makanannya sendiri. Sementara Romi tersenyum jahil, ia mengirimkan pesan pada Alex dan mengatakan akan mengundurkan diri kalau lamarannya kali ini diterima Pak Hary.
-------
Pak Hary hanya menjawab, akan dipertimbangkan dengan emoji ketawa ngakak. Pak Hary tidak akan melakukan itu meskipun Romi akan menjadi menantunya. Ia hanya perlu fokus mengajari Jelita dan Romi bisa membantunya sambil tetap bekerja pada Alex.
Alex membalas chat Romi agar bicara dulu dengan Pak Hary sekali lagi, baru memutuskan yang terbaik untuknya. Saat ini ia masih memerlukan Romi karena Rio belum selesai dengan pendidikannya.
Alex kembali fokus pada meeting dengan staf-nya. Mereka sedang melakukan investigasi atas penyelewengan dana projek kerja sama dengan Pak Hary. Saat ini ada dua orang yang sudah diperiksa dan dicurigai melakukan hal itu.
Tapi bukti yang mereka miliki masih belum cukup untuk menuntut kedua orang ini. Kalau Romi ada disini, mereka akan lebih cepat mengumpulkan bukti. Alex mengakui kemampuan detektif Romi yang sangat jeli mencari kesalahan.
------
Romi berjalan pelan-pelan dipapah Jelita menuju ruang kerja Pak Hary. Mereka masuk kesana dan melihat Pak Hary duduk di sofa.
Pak Hary : "Silakan duduk, gimana kondisimu, Romi?"
Romi : "Baik, pak Hary. Terima kasih sudah membantu saya."
Pak Hary : "Tidak masalah. Saya ingin membicarakan kembali tentang lamaran kamu pada Jelita."
Romi : "Saya siap menikahi Jelita, pak. Tapi saya tidak bisa memenuhi mahar yang bapak minta. Saya akan mengundurkan diri dari perusahaan Alex."
Pak Hary terdiam, ekspresi wajahnya kaku sejenak, tapi perlahan senyum mengembang di bibirnya.
Pak Hary : "Bagus sekali. Sangat mengesankan. Alex beruntung memiliki kamu. Saya tidak serius meminta mahar, itu sama saja menjual putriku. Jadi kapan kalian akan menikah?"
Romi : "Mungkin dalam 2 bulan? Jelita?" Rona bahagia menyeruak dari wajah keduanya.
Pak Hary : "Dua minggu lagi. Biar saya yang atur pestanya. Tidak akan terlalu ramai, hanya beberapa kolega dan keluarga besar. Kalian setuju?"
Romi memandang Jelita yang mengangguk malu-malu. Hatinya sangat senang karena bisa menikahi wanita yang membuatnya jatuh cinta.
Pak Hary : "Satu lagi, kalau papa ada disini, kalian harus sering-sering tinggal disini sama papa ya. Rumah ini terlalu besar untuk papa tinggali sendiri. Dan cepatlah kasi papa cucu. Tiga atau lima, papa rasa cukup."
Kali ini Jelita melotot kaget, tapi tidak dengan Romi yang terlihat bersemangat.
Romi : "Pasti, pak. Saya bisa mulai membuatnya sekarang juga. Aaooowww...!!!
Jelita : "Romi...!" Jelita mencubit pinggang Romi dengan gemas.
Pak Hary tersenyum senang melihat kebahagiaan terpancar dari wajah putri tunggalnya. Ia mengharapkan penerusnya akan segera hadir dari Jelita dan Romi.
------
Malam hari setelah makan malam, Jelita mengajak Romi ke tempat favoritnya di dalam rumah besar itu. Pak Hary meminta Romi menginap sampai lukanya membaik dan mengijinkan Romi sekamar dengan Jelita.
Romi memandang sekeliling rumah yang terlihat jelas dari gazebo di lantai 2. Jelita mengajak Romi duduk di tumpukan bantal yang ada disana.
Suasana sangat tenang dan sejuk. Meski gazebo itu terbuka tapi tidak ada nyamuk yang berani mendekat karena ada beberapa tanaman anti nyamuk di sekitar mereka.
Romi : "Papamu benar-benar tidak sabaran ya. Gimana kalau aku khilaf?"
Jelita : "Tenang aja, aku pasti akan mengingatkanmu."
Romi : "Aku masih perlu istirahat, mungkin dua atau tiga hari lagi."
Jelita : "Kamu bisa sabar gak? Dua minggu itu tidak lama."
Romi : "Kamu terlalu cantik untuk kutunggu."
Wajah Jelita merona lagi, ia mulai merasakan lelah dan ingin cepat tidur.
Jelita : "Romi, aku mau mandi dulu. Kamu juga mau mandi?"
Romi : "Kita mandi sama-sama?"
Jelita : "Bukan gitu maksudku. Aku akan mandi dulu, abis itu kamu bisa mandi."
Romi : "Yah, kirain boleh..."
Jelita segera masuk ke kamar mandi. Ia menghabiskan waktu lima belas menit di dalam sana. Saat kembali, Jelita mendapati Romi sudah tertidur.
Di tangan Romi ada buku yang biasa dipakai Jelita untuk menulis sesuatu saat berada di gazebo itu. Jelita mengambil buku itu dan melihat tulisan besar berwarna merah "Merry me, Jelita."
Jelita mengelus pipi Romi dan mengatakan, "I will".
Jelita mengambilkan bed cover untuk menyelimuti Romi dan mencium pipinya. Kemudian ikut berbaring di sampingnya berbagi bed cover.
------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------