Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Kram perut


DM2 – Kram perut


Ketika Alex tidak bisa datang sendiri


menemui mereka, mereka menghentikan kerja samanya. Romi yang baru kembali dari


meeting, melihat Melda memegangi kepalanya.


“Pusing ya. Sana makan dulu.”kata Romi.


“Pak, gimana meetingnya tadi?


Berhasil?”tanya Melda tidak sabaran.


Romi menggeleng. “Sepertinya pesonaku juga


sudah luntur.” ujar Romi galau.


Melda tidak menjawab lagi. Ia memikirkan


suatu cara menarik client mereka dengan menggunakan iklan yang lebih menarik


lagi. Tapi ia belum menemukan idenya.


“Gak usah dipikirin, Mel. Makan dulu sana.


Ini sudah hampir jam 2, aku tau kamu belum makan.”


Melda mengangguk, ia mengambil ponselnya


dan berjalan menuju lift. Grek! Lagi-lagi lift itu sepertinya mau macet. Melda


cepat-cepat menekan tombol lantai terdekat dan pintu lift terbuka di lantai 8


tempat department operasional.


Melda harus melewati ruang kerja yang


kebanyakan di sekat per masing-masing meja untuk bisa turun melalui tangga


darurat. Saat tiba di ujung ruangan, Melda mendengar seseorang bicara di


telpon.


“Iya, pak. Mumpung pak Alex masih absen,


kita bisa mengalihkan sebagian besar clientnya ke perusahaan bapak. Asal


komisinya ingat ya, pak.” Melda memperhatikan sosok pria di dekatnya itu, ia


ingin melihat wajahnya tapi pria itu tidak kunjung berbalik. Melda melirik CCTV


di atas kepala pria itu, ia mengambil ponselnya untuk mengakses CCTV di kantor


Alex. Melda bisa melakukannya dengan mudah karena Romi memberikan akses


password untuk membuka CCTV.


Melda memperbesar wajah pria itu yang masih


tetap bicara di telpon. Ia meng-screenshot gambar pria itu dan mengirimkannya


pada X. Untuk saat ini ia hanya bisa meminta bantuan pada X.


“X, cari tahu tentang pria ini.”ketik Melda.


“Apa hadiahnya kalau aku mau bantu kamu?”balas


X.


“Aku.”jawab Melda asal. Ia hanya ingin


cepat mengetahui identitas pria itu dan mengawasinya. Kalau sampai apa yang ia


dengar barusan benar, Melda akan menghajar orang yang sudah membuatnya pusing


beberapa minggu ini. Melda melihat pria itu sudah selesai menelpon, ia berbalik


sepertinya ingin kembali ke tempat duduknya. Melda pura-pura berjalan sambil


mengetik sesuatu di ponselnya.


Brak! Mereka bertabrakan tepat di sudut


tempat Melda mengintip tadi. “Aduch!”pekik Melda kesakitan.


“Maaf, bu. Maafkan saya gak lihat ibu.”kata


pria itu.


“Ya, gak pa-pa. Lain kali hati-hati.”kata


Melda sambil berlalu ke tangga darurat.


Tring! Ponsel Melda berdering, X


menelponnya.


“Apa yang kau temukan?”tanya Melda.


“Teri Simon. Single, 25 tahun. Pekerjaan


swasta. Jabatan staf operasional khusus mengurus kontrak dengan client. Sebuah


mobil mewah, rumah bagus dan jumlah uang yang cukup banyak di rekeningnya. Apa


menurutmu gaji staf cukup untuk membeli semua itu?”


“Bisa bantu aku menangkap basah dia? Dengan


buktinya juga. Aku terlalu sibuk bekerja. Ya?”rayu Melda dengan suara sok imut.


“Apa ini beneran Melda? Aku gak salah


telpon kan? Kau sangat gak cocok bertingkah imut, sayang. Bentak aku lagi, ayo


cepat.”pinta X.


“Sakit jiwa.”desis Melda.


“Hei, aku akan bantu kamu. Santai saja.


Nikmati pekerjaanmu dan nikmati juga pelayananku.”


Melda menutup telponnya dengan cepat


sebelum X mulai mengatakan gombalan yang membuatnya mual. Ia kembali ke lantai


atas, tidak jadi makan siang. Pikirannya sedang dipenuhi pengkhianatan orang


dalam perusahaan Alex sekarang. Romi yang melihat Melda kembali dengan cepat,


bertanya padanya. “Kok cepet? Udah selesai makan?”tanya Romi.


Melda tampak ragu mengatakan pada Romi,


tapi ia harus mengatakannya meski belum ada bukti kuat. Melda duduk di samping


yang memperlihatkan Teri dan dirinya yang sedang mengintip dari belakang Teri.


“Apa kau yakin?”tanya Romi. “Menuduh


seseorang tanpa bukti, itu tidak akan menghasilkan apa-apa.”


“Buktinya akan segera kudapatkan, pak.


Sekarang gimana langkah kita untuk mencegah orang ini  berbuat lebih berani lagi. Kalau terus seperti


ini, kita bisa kehilangan 50% client.”kata Melda.


“Saatnya bermain sepak bola.”gumam Romi


sambil tersenyum. Melda tidak mengerti apa yang akan dilakukan Romi. Romi


menggulung kedua lengan bajunya, ia mengetik sesuatu dengan cepat di laptopnya.


Dalam sekejap, dering telpon masuk ke kantor mereka. Melda sibuk mengangkat


telpon yang tidak henti-henti dari luar itu. Ia melihat Romi tersenyum puas.


Melda menumpuk tinggi kontrak baru yang


entah bagaimana bisa mereka peroleh dengan cepat dalam hitungan jam. “Pak, ini


beneran?”tanya Melda tidak percaya.


Romi tersenyum, “Kita sedang melempar


umpan, Melda. Tunggu saja bolanya disambut.”


Melda mendengarkan Romi dan menunggu.


*****


Gadis terbangun ketika waktu makan siang


tiba. Ia mengelap peluh yang membasahi leher dan tubuhnya. Tubuhnya sudah merasa


lebih baik sekarang. Pusingnya juga sudah hilang. Gadis merenggangkan lengannya


yang terasa kaku. Ia ingin mandi lagi, tapi tangan Rio masih memeluknya erat. “Rio,


bangun dong. Aku mau mandi nich.”


“Man...di.”kata Rio membuka matanya.


Gadis turun dari tempat tidurnya, ia mengambil


pakaian ganti sebelum keluar dari kamar. Rio mengikutinya hampir ikut masuk ke


kamar mandi. “Rio, kamu mandinya nanti sore. Aku gerah, mau mandi lagi.”


“Ge...rah.”kata Rio tetap menahan pintu


kamar mandi. Akhirnya Gadis membuka pintu lebih lebar, membiarkan Rio masuk.


Setengah jam kemudian, Gadis keluar dari


kamar mandi sudah berpakaian lengkap, beda dengan Rio yang cuma pakai handuk. Gadis


membantu Rio memakai pakaiannya dulu sebelum mengajak suaminya itu turun. Rio


sudah bisa berjalan menuruni tangga dengan cepat. Ia berpegangan dengan erat pada


pinggiran tangga dan melangkahkan kakinya lebih cepat.


Mia yang melihat kemajuan Rio, tersenyum


senang. “Gadis, kamu udah baikan?”tanya Mia.


“Udah, mah. Beneran masuk angin. Apa karena


semalam tidurnya kemalaman ya. Dimana Kaori, mah?”tanya Gadis celingukan


mencari bayi Kaori.


“Lagi di kamar sama mb Roh. Tadi rewel


perutnya sakit kayaknya. Gak bisa kentut, tapi sekarang udah tenang.”jelas Mia.


Gadis merasa bersalah karena merepotkan mb


Roh menjaga Kaori juga padahal dia sudah cukup repot dengan si kembar. Mia


melihat menantunya murung, ia tahu apa yang dirasaka Gadis.


“Gadis, gak pa-pa kalau sesekali Kaori


dijaga mb Roh. Kalau kamu sakit, kan gak boleh deket-deket sama bayi. Kalau


ketularan gimana?”


Gadis mengangguk mengerti. Ia menghidangkan


makan siang untuk Rio dan dirinya. Rio menatap cara Gadis makan, ia


mengikutinya sampai terbiasa sendiri.


“Waaaa!!!!!”teriak Mia mengagetkan Gadis


dan Rio. Keduanya menoleh menatap Mia bersamaan.


“Mama kenapa?”tanya Gadis khawatir.


Mia cengengesan, “Hehe, nggak. Kamu kan


bilang hal mengejutkan bisa menyembuhkan Rio. Jadi mama kagetin aja. Siapa tau


berhasil kan?”


Gadis tertawa geli menyadari ulah mertuanya


itu. Rio menatapnya lagi, kali ini mencoba tertawa tapi malah membuat ekspresi


wajahnya jadi aneh. Gadis tertawa semakin keras melihat wajah Rio. Ia memegangi


perutnya yang terasa nyeri.


“Aduduuh!”pekik Gadis memegangi perutnya.


“Kenapa, Gadis?”


“Perutku kram, mah. Apa karena mau haid ya?”tanya


Gadis.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


DM2 – Kram perut


Ketika Alex tidak bisa datang sendiri


menemui mereka, mereka menghentikan kerja samanya. Romi yang baru kembali dari


meeting, melihat Melda memegangi kepalanya.


“Pusing ya. Sana makan dulu.”kata Romi.


“Pak, gimana meetingnya tadi?


Berhasil?”tanya Melda tidak sabaran.


Romi menggeleng. “Sepertinya pesonaku juga


sudah luntur.” ujar Romi galau.


Melda tidak menjawab lagi. Ia memikirkan


suatu cara menarik client mereka dengan menggunakan iklan yang lebih menarik


lagi. Tapi ia belum menemukan idenya.


“Gak usah dipikirin, Mel. Makan dulu sana.


Ini sudah hampir jam 2, aku tau kamu belum makan.”


Melda mengangguk, ia mengambil ponselnya


dan berjalan menuju lift. Grek! Lagi-lagi lift itu sepertinya mau macet. Melda


cepat-cepat menekan tombol lantai terdekat dan pintu lift terbuka di lantai 8


tempat department operasional.


Melda harus melewati ruang kerja yang


kebanyakan di sekat per masing-masing meja untuk bisa turun melalui tangga


darurat. Saat tiba di ujung ruangan, Melda mendengar seseorang bicara di


telpon.


“Iya, pak. Mumpung pak Alex masih absen,


kita bisa mengalihkan sebagian besar clientnya ke perusahaan bapak. Asal


komisinya ingat ya, pak.” Melda memperhatikan sosok pria di dekatnya itu, ia


ingin melihat wajahnya tapi pria itu tidak kunjung berbalik. Melda melirik CCTV


di atas kepala pria itu, ia mengambil ponselnya untuk mengakses CCTV di kantor


Alex. Melda bisa melakukannya dengan mudah karena Romi memberikan akses


password untuk membuka CCTV.


Melda memperbesar wajah pria itu yang masih


tetap bicara di telpon. Ia meng-screenshot gambar pria itu dan mengirimkannya


pada X. Untuk saat ini ia hanya bisa meminta bantuan pada X.


“X, cari tahu tentang pria ini.”ketik Melda.


“Apa hadiahnya kalau aku mau bantu kamu?”balas


X.


“Aku.”jawab Melda asal. Ia hanya ingin


cepat mengetahui identitas pria itu dan mengawasinya. Kalau sampai apa yang ia


dengar barusan benar, Melda akan menghajar orang yang sudah membuatnya pusing


beberapa minggu ini. Melda melihat pria itu sudah selesai menelpon, ia berbalik


sepertinya ingin kembali ke tempat duduknya. Melda pura-pura berjalan sambil


mengetik sesuatu di ponselnya.


Brak! Mereka bertabrakan tepat di sudut


tempat Melda mengintip tadi. “Aduch!”pekik Melda kesakitan.


“Maaf, bu. Maafkan saya gak lihat ibu.”kata


pria itu.


“Ya, gak pa-pa. Lain kali hati-hati.”kata


Melda sambil berlalu ke tangga darurat.


Tring! Ponsel Melda berdering, X


menelponnya.


“Apa yang kau temukan?”tanya Melda.


“Teri Simon. Single, 25 tahun. Pekerjaan


swasta. Jabatan staf operasional khusus mengurus kontrak dengan client. Sebuah


mobil mewah, rumah bagus dan jumlah uang yang cukup banyak di rekeningnya. Apa


menurutmu gaji staf cukup untuk membeli semua itu?”


“Bisa bantu aku menangkap basah dia? Dengan


buktinya juga. Aku terlalu sibuk bekerja. Ya?”rayu Melda dengan suara sok imut.


“Apa ini beneran Melda? Aku gak salah


telpon kan? Kau sangat gak cocok bertingkah imut, sayang. Bentak aku lagi, ayo


cepat.”pinta X.


“Sakit jiwa.”desis Melda.


“Hei, aku akan bantu kamu. Santai saja.


Nikmati pekerjaanmu dan nikmati juga pelayananku.”


Melda menutup telponnya dengan cepat


sebelum X mulai mengatakan gombalan yang membuatnya mual. Ia kembali ke lantai


atas, tidak jadi makan siang. Pikirannya sedang dipenuhi pengkhianatan orang


dalam perusahaan Alex sekarang. Romi yang melihat Melda kembali dengan cepat,


bertanya padanya. “Kok cepet? Udah selesai makan?”tanya Romi.


Melda tampak ragu mengatakan pada Romi,


tapi ia harus mengatakannya meski belum ada bukti kuat. Melda duduk di samping


yang memperlihatkan Teri dan dirinya yang sedang mengintip dari belakang Teri.


“Apa kau yakin?”tanya Romi. “Menuduh


seseorang tanpa bukti, itu tidak akan menghasilkan apa-apa.”


“Buktinya akan segera kudapatkan, pak.


Sekarang gimana langkah kita untuk mencegah orang ini  berbuat lebih berani lagi. Kalau terus seperti


ini, kita bisa kehilangan 50% client.”kata Melda.


“Saatnya bermain sepak bola.”gumam Romi


sambil tersenyum. Melda tidak mengerti apa yang akan dilakukan Romi. Romi


menggulung kedua lengan bajunya, ia mengetik sesuatu dengan cepat di laptopnya.


Dalam sekejap, dering telpon masuk ke kantor mereka. Melda sibuk mengangkat


telpon yang tidak henti-henti dari luar itu. Ia melihat Romi tersenyum puas.


Melda menumpuk tinggi kontrak baru yang


entah bagaimana bisa mereka peroleh dengan cepat dalam hitungan jam. “Pak, ini


beneran?”tanya Melda tidak percaya.


Romi tersenyum, “Kita sedang melempar


umpan, Melda. Tunggu saja bolanya disambut.”


Melda mendengarkan Romi dan menunggu.


*****


Gadis terbangun ketika waktu makan siang


tiba. Ia mengelap peluh yang membasahi leher dan tubuhnya. Tubuhnya sudah merasa


lebih baik sekarang. Pusingnya juga sudah hilang. Gadis merenggangkan lengannya


yang terasa kaku. Ia ingin mandi lagi, tapi tangan Rio masih memeluknya erat. “Rio,


bangun dong. Aku mau mandi nich.”


“Man...di.”kata Rio membuka matanya.


Gadis turun dari tempat tidurnya, ia mengambil


pakaian ganti sebelum keluar dari kamar. Rio mengikutinya hampir ikut masuk ke


kamar mandi. “Rio, kamu mandinya nanti sore. Aku gerah, mau mandi lagi.”


“Ge...rah.”kata Rio tetap menahan pintu


kamar mandi. Akhirnya Gadis membuka pintu lebih lebar, membiarkan Rio masuk.


Setengah jam kemudian, Gadis keluar dari


kamar mandi sudah berpakaian lengkap, beda dengan Rio yang cuma pakai handuk. Gadis


membantu Rio memakai pakaiannya dulu sebelum mengajak suaminya itu turun. Rio


sudah bisa berjalan menuruni tangga dengan cepat. Ia berpegangan dengan erat pada


pinggiran tangga dan melangkahkan kakinya lebih cepat.


Mia yang melihat kemajuan Rio, tersenyum


senang. “Gadis, kamu udah baikan?”tanya Mia.


“Udah, mah. Beneran masuk angin. Apa karena


semalam tidurnya kemalaman ya. Dimana Kaori, mah?”tanya Gadis celingukan


mencari bayi Kaori.


“Lagi di kamar sama mb Roh. Tadi rewel


perutnya sakit kayaknya. Gak bisa kentut, tapi sekarang udah tenang.”jelas Mia.


Gadis merasa bersalah karena merepotkan mb


Roh menjaga Kaori juga padahal dia sudah cukup repot dengan si kembar. Mia


melihat menantunya murung, ia tahu apa yang dirasaka Gadis.


“Gadis, gak pa-pa kalau sesekali Kaori


dijaga mb Roh. Kalau kamu sakit, kan gak boleh deket-deket sama bayi. Kalau


ketularan gimana?”


Gadis mengangguk mengerti. Ia menghidangkan


makan siang untuk Rio dan dirinya. Rio menatap cara Gadis makan, ia


mengikutinya sampai terbiasa sendiri.


“Waaaa!!!!!”teriak Mia mengagetkan Gadis


dan Rio. Keduanya menoleh menatap Mia bersamaan.


“Mama kenapa?”tanya Gadis khawatir.


Mia cengengesan, “Hehe, nggak. Kamu kan


bilang hal mengejutkan bisa menyembuhkan Rio. Jadi mama kagetin aja. Siapa tau


berhasil kan?”


Gadis tertawa geli menyadari ulah mertuanya


itu. Rio menatapnya lagi, kali ini mencoba tertawa tapi malah membuat ekspresi


wajahnya jadi aneh. Gadis tertawa semakin keras melihat wajah Rio. Ia memegangi


perutnya yang terasa nyeri.


“Aduduuh!”pekik Gadis memegangi perutnya.


“Kenapa, Gadis?”


“Perutku kram, mah. Apa karena mau haid ya?”tanya


Gadis.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.