
Extra part 10
Nafas Mia ngos-ngosan menahan amarahnya. Ia membuka remasan kertas hasil tes di tangannya dan tiba-tiba menangis meraung-raung. Rio sampai kesulitan menahan tubuh Mia yang meronta dalam pelukannya.
“Mah, tenang, mah. Semuanya masih bisa dibicarakan, mah. Tolong jangan gini, mah,” bujuk Rio juga ikut menangis melihat kesedihan Mia.
Bagaimana hancurnya perasaan Mia ketika mengetahui suami yang sangat dicintainya ternyata berselingkuh. Suami yang selalu mencintainya tanpa syarat. Suami yang sudah bersamanya selama bertahun-tahun.
Suami yang tidak pernah tergoda oleh pelakor meskipun fisik Mia sedikit berubah setelah punya anak. Suami yang selalu bergairah setiap mereka bersama.
Hanya sebuah kertas membuat Mia meragukan kesetiaan Alex dalam pernikahan mereka. Mia ingin sekali mengatakan pada Rio kalau papanya tidak mungkin mengkhianati pernikahan mereka. Tapi Mia memilih percaya dengan kertas itu daripada ikatan pernikahan mereka.
Rio menimbang ingin memberitahu Alex atau menunggu papanya itu pulang. Ia juga sebenarnya tidak yakin dengan hasil tes DNA itu. Rio percaya, papanya terlalu mencintai Mia sampai-sampai tidak terbersit untuk
selingkuh.
Kalaupun papanya dijebak, seharusnya papanya jujur mengatakan pada mereka semua. Tapi Alex tidak pernah menunjukkan perubahan sedikitpun setelah menikah dengan mamanya. Bahkan semakin lengket dan mesra seperti kembali pacaran dulu.
“Mah, Rio yakin ada sesuatu yang salah disini. Mama denger Rio,” kata Rio memaksa Mia untuk mendengarkannya. “Rio pernah bilang mungkin Renata tertukar. Mungkin memang Ken, anak kandung papa sama mama. Dan Renata, anak Endy dan Kinanti.” Rio berusaha menyampaikan teorinya meskipun Mia sedang dalam kondisi yang tidak ingin mendengarkan apapun.
“Kamu jangan bela papamu, Rio.” Mia bicara dengan suara serak habis menangis keras.
“Papa nggak perlu dibela, mah. Papa setia sama mama. Rio yakin itu. Tolong, mama tenang dulu,” kata Rio lagi berusaha meyakinkan Mia.
Ceklek! Keduanya menoleh saat Alex membuka pintu kamarnya. Ia baru saja pulang dari dinas keluar kota selama dua hari satu malam dan merasa sangat lelah.
“Rio, ngapain kamu disini?” tanya Alex dengan wajah lelah dan kantung mata menghitam.
“Papa baru pulang. Aku buatin kopi dulu ya,” kata Rio sambil bangkit dari sisi Mia.
Mia merasa iba melihat kondisi Alex yang terlihat capek sekali. Ia meremas kertas tes DNA di tangannya dan menyembunyikannya di belakang bantalnya.
“Mas, mandi dulu ya. Aku ambilin makanan,” lirih Mia tanpa berani menatap Alex lama-lama.
Alex yang merasa kalau Mia menyembunyikan sesuatu darinya, memilih mengikuti permintaan Mia. Padahal Alex sangat penasaran, apa yang membuat istri tercintanya itu terlihat sangat sedih.
Usai mandi, Alex keluar hanya memakai handuk. Mia masih belum kembali dari dapur. Alex menatap sekeliling kamarnya yang masih seperti sebelumnya. Dilihat dari gerak-gerik Mia tadi, ia menyembunyikan
sesuatu di bawah bantalnya. Alex mendekati pintu kamar, ia melongok keluar kamar, memastikan Mia tidak cepat-cepat kembali ke kamar.
Alex segera membalik bantal Mia dan melihat sebuah kertas lecek teronggok disana. Matanya menyapu sekeliling kamar mencari sesuatu untuk menggantikan kertas itu. Ia akan memeriksanya nanti setelah Mia tertidur.
**
Mia masuk ke kamarnya membawa nampan berisi makanan dan minuman. Alex tidak berkomentar apa-apa lagi, ia hanya duduk diatas ranjang, belum memakai pakaiannya.
“Mas, nggak pake baju? Ntar masuk angin,” kata Mia masih menghindari tatapan mata Alex.
“Nanti, aku masih capek. Yank, sini dong. Duduk sini,” pinta Alex sambil menepuk tempat kosong diantara kakinya.
“Yank, aku kangen banget sama kamu. Aku mau itu, boleh?” tanya Alex pura-pura tidak tahu apa yang terjadi.
Alex mengecup tengkuk Mia, ia terus mengendus wangi tubuh Mia yang selalu membuatnya mabuk kepayang. Mia memejamkan matanya, ia juga sangat merindukan Alex. Mia mencoba memfokuskan pikirannya hanya pada Alex untuk saat ini.
Mereka saling menyentuh, memberi kepuasan satu sama lain. Penyatuan mereka segera terjadi diselingi kecupan dan bisikan mesra. Alex menyimpan tenaganya dengan membiarkan Mia bermain lebih dulu. Tampak jelas gurat kekecewaan memenuhi wajah Mia. Untuk pertama kalinya mereka bersatu dalam
keraguan dan memendam sesuatu.
Meskipun merasa lelah, Alex sama sekali tidak mengecewakan Mia. Ia memberikan pelayanan penuh sampai Mia tertidur karena kelelahan. Setelah meyakinkan dirinya kalau Mia benar-benar sudah tertidur lelap,
Alex bangkit dari sisi istri tercintanya itu.
Alex mendekati jendela kamar mereka sambil membawa kertas lecek yang sudah ia dapatkan dari bawah bantal Mia. Jelas tertulis namanya di kertas itu bersama dengan Ken, hasil menunjukkan sembilanpuluh
sembilan koma sembilanpuluh delapan persen, Ken dan Alex memiliki hubungan ayah dan anak. Alex menoleh menatap wajah Mia yang tampak sembab, ia mengerti apa yang Mia rasakan.
“Yank, makasih sudah berusaha tegar setelah cobaan ini. Aku janji akan menyelidiki ini sampai akhir,” lirih Alex.
Alex bukannya tidak terkejut sama sekali. Ia sangat terkejut ketika pertama kali bertemu dengan Ken. Alex melihat sosok Rio kecil pada anak itu. Ingatannya berputar saat Mia melahirkan Renata di rumah sakit. Dan ia bertemu dengan Endy disana.
Hanya sekali Endy dan Kinanti membodohi keluarganya tentang Kaori, tapi Alex bersyukur karena dewi secantik Kaori tinggal bersama keluarganya. Setidaknya putri kandung Kinanti dan Endy itu akan tumbuh dengan baik, tidak seperti kedua orang tuanya yang licik. Tapi ketika ia melihat sosok Ken, Alex jadi berpikir tentang Renata. Anak-anaknya selalu bilang Kaori dan Renata seperti anak kembar. Mereka berdua memang mirip, tapi selama ini Alex tidak memperhatikannya.
Alex mengambil ponselnya dan memotret kertas itu, lalu mengirimkannya ke chat seseorang.
“Tolong cek lagi laporan ini. Aku ingin jawaban segera. Besok pagi semuanya sudah harus lengkap di mejaku,” ketik Alex pada seseorang.
Alex meletakkan ponselnya dan menukar kembali kertas lecek itu dibawah bantal Mia. Ia membaringkan tubuhnya di samping Mia, lalu memeluk tubuh istrinya itu.
“Hmm...,” gumam Mia mulai terbangun. “Mas, makan dulu.”
“Aku mau makan kamu, sayang. Sekali lagi ya,” pinta Alex.
Mia merasakan ciuman Alex mulai memancing hasratnya lagi. Tangan Alex menyusuri tubuh Mia, menggoda setiap kelemahan wanita dibawahnya. Hembusan nafas panas Alex, membuat Mia tidak merasakan kedinginan ketika suaminya menarik selimut yang membungkus tubuhnya.
Mia memicingkan matanya, berusaha mengimbangi permainan Alex yang semakin memanas. Tubuhnya tersentak hebat, setelah Alex mulai menggerakkan tubuhnya.
“Mia, cintaku... ratuku... hidupku...,” Bisikan Alex membuat Mia tersenyum malu.
Ekspresi yang selalu membuat Alex merasa jatuh cinta lagi.
“Mia sayang, menikahlah denganku lagi. Ach...!” lenguh Alex saat Mia bergerak karena kaget mendengar kata-kata Alex.
**
Dilamar lagi, gimana rasanya ya? Maaf jiwa author sedikit traveling. Masih penasaran? Tenang aja masih marathon ngetiknya.
Vote-nya jangan di sini ya. Tapi di novel CINTA KEMBARKU.