
Tak terasa akhirnya wisuda Mia sudah dekat.
Mia sedang mempersiapkan kebaya untuk wisudanya minggu depan. Tak lupa juga Mia menyiapkan setelan seragam untuk keluarganya dan mamanya.
Warna yang ia pilih adalah biru muda. Penjahit yang dipilih Mia, memintanya datang untuk fitting baju kebaya yang sudah selesai, sekalian mengambil baju seragam yang sudah selesai untuk para laki-laki.
Mia mencoba baju kebaya yang akan menjadi pakaiannya saat wisuda nanti, tapi ia kesulitan memasukkan tangannya. Penjahit mengukur ulang tubuh Mia dan ukurannya sudah bertambah beberapa centimeter.
Mia : "Saya tambah gemuk, mb? Aduh gimana nich?"
Penjahit : "Gak masalah, mb. Saya masih menyisakan potongan kebayanya, tinggal di jahit ulang sedikit saja."
Mia : "Tapi kok saya tambah gemuk ya? Harus diet nich sebelum melar lebih parah."
Penjahit : "Mb Mia bukannya baru nikah ya? Apa gak lagi hamil?"
Mia : "Masa sich? Tapi saya baru datang bulan, mb. Masa bisa hamil?"
Penjahit : "Siapa tahu, mb. Salah satu cirinya kan nambah berat badan."
Mia : "Aih, saya gak mau mikir itu dulu dech. Yang penting ini kebaya muat aja buat wisuda saya."
Penjahit : "Tiga hari lagi selesai, kok mb. Nanti saya telpon kalau sudah jadi ya."
Mia : "Iya, mb. Makasih ya."
Mia meninggalkan tempat penjahit dan pergi ke kampus untuk menjemput Rara. Ia sempat kepikiran dengan kata-kata penjahit tadi. Kalau memang dia hamil, masih dikasi kerja gak ya?
Mia ingin merasakan kerja dulu selama beberapa waktu. Sebelum hamil dan punya anak sendiri. Selama ini ia hanya mengurus di kembar dan juga menjaga Rara.
Rara sudah kembali kuliah seperti biasa, meskipun sudah sembuh dari trauma, tapi Mia, Arnold, dan Alex kini bergantian menjemput Rara di kampus.
Dalam perjalanan ke kampus, Mia mampir ke apotek untuk membeli vitamin dan juga test pack. Besok ia ingin memastikan apakah ia hamil atau tidak. Mia yakin kalau dia belum hamil sekarang.
Sampai di kampus, Rara masih duduk di dalam kelas. Beberapa teman Rara masih menungguinya disana sambil membahas tugas kuliah yang harus dikejar Rara selama cutinya.
Mia masuk ke kelas Rara, duduk di sampingnya. Teman-teman Rara mulai beranjak dari sana untuk pulang. Rara ditinggal berdua dengan Mia.
Rara : "Mah, apa Rara bisa ikut percepatan juga ya?"
Mia : "Bukannya gak bisa, tapi nilaimu masih kurang buat pengajuan percepatan, Ra. Kenapa emangnya?"
Rara : "Itu, Rara pengen cepet-cepet lulus kuliah biar bisa... punya anak." Rara mengecilkan suaranya takut ada yang mendengar mereka.
Mia : "Loh, bukannya Arnold mau kalian pacaran dulu. Arnold juga pengen cepet-cepet punya anak?"
Rara : "Mas Arnold gak bilang apa-apa sich. Tapi Rara pengen tahu rasanya hamil."
Mia : "Haduh, ini anak. Kamu pengen jadi ibu muda? Yakin?"
Rara : "Emang kenapa, mah?"
Mia : "Gak ada yang salah, Ra. Bahkan kalau kamu hamil sekarang. Kamu harus tahu kalau hamil dan melahirkan itu memang takdirnya perempuan. Tapi ingat, setelah melahirkan akan ada bayi yang harus kamu urus dengan baik. Kamu yakin sudah siap?"
Rara : "Kalau ada bayi, gak bisa jalan-jalan ya mah?"
Mia : "Masi bisa, tapi lebih ribet. Harus bawa perlengkapan bayi kan. Kalau sekarang mau jalan-jalan gimana? Cuma bawa tas kecil, uda jalan."
Rara : "Iya, sich mah."
Mia : "Bicarakan saja dengan Arnold. Mama lihat dia lebih tahu kapan waktu yang tepat untuk kamu hamil."
Rara : "Ya, mah. Kalo mama kapan hamilnya?"
Mia : "Gak tahu, mungkin juga lagi hamil sekarang."
Rara : "Apa...??!!! Beneran?"
Mia : "Yang jelas mama tambah gemuk, gak tau karena hamil atau emang kebanyakan makan. Haih.."
Rara : "Mama uda cek?"
Mia : "Besok aja, tapi kayaknya gak dech. Ayo pulang."
Mereka berdua berjalan keluar dari ruang kelas dan menunggu ojol di dekat parkiran kampus. Mia melihat ojol memasuki halaman kampus, ia memastikan lagi nopol dan jenis kendaraan sebelum mendekati sopir yang sedang menelponnya.
Setelah memastikan sekali lagi, Mia mengajak Rara masuk ke dalam mobil. Mia sedikit parno setelah kejadian dengan Jodi dulu. Ia lebih hati-hati terhadap apapun yang diluar kebiasaan.
Mereka sampai juga di rumah, tepat waktu untuk makan siang. Mia sedikit mengkerutkan keningnya melihat masakan diatas meja. Entah kenapa ia tidak ingin makan lauk pauk yang tersedia, tapi hanya makan sayur dan nasi sedikit.
Nenek : "Mia, kenapa makannya sedikit sekali? Gak suka masakannya?"
Mia : "Bukan gitu, bu. Tadi waktu fitting baju kebaya, gak muat. Mia tambah gemuk."
Nenek : "Masa sich? Kayaknya gak dech."
Mia : "Jadinya dijahit ulang lagi dikit. Mia takut kalo makan seperti biasa, ntar tambah gemuk lagi. Wisudanya kan seminggu lagi, bu."
Nenek : "Iya, tapi jangan sampai sakit ya. Ini sudah musim peralihan. Kalo sakit kan repot."
Mia : "Iya, bu. Cuma beberapa hari kok."
-------
Tiga hari kemudian, Mia beneran jatuh sakit. Penjahit sampai datang ke rumah Mia untuk membantunya fitting baju seragam wisuda, sekalian mengirimkan seragam yang tersisa.
Kebayanya nampak sudah pas dikenakan Mia, tinggal tunggu hari H saja. Penjahit menyarankan agar jahitannya diubah lagi sedikit untuk jaga-jaga. Kebaya itu akan siap sehari sebelum wisuda.
Alex : "Sayang, kalau kamu gak makan, ntar gak kuat ikut wisuda loh. Kan wisuda ini sudah kamu tunggu-tunggu."
Mia : "Tapi aku beneran gak bisa makan, mas. Perutku sakit."
Alex : "Ayo, kita ke dokter."
Alex membopong Mia ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Mia diperiksa dokter di UGD yang memintanya melakukan test urine.
Alex membantu Mia di dalam toilet, ia tidak ingin Mia jatuh kalau dibiarkan sendirian. Dokter jaga mencelupkan test pack ke dalam urine Mia dan jreng..!! Dua garis merah muncul dengan sangat jelas.
Alex hampir berteriak senang, lupa dengan keberadaannya di UGD. Ia mengelus rambut Mia lembut dan mengucapkan terima kasih.
Alex : "Sayang, makasih. Kamu hamil anak kita."
Mia : "Hmm??"
Mia tidak menjawab lagi, ia terlalu mengantuk untuk menjawab pertanyaan apapun saat ini.
Dokter jaga menyarankan Mia segera ke dokter kandungan secepatnya dan hari itu Mia bisa pulang.
Alex membawa Mia pulang tapi di tengah jalan, Mia terbangun dan ingin makan hamburger. Alex berbelok ke restauran cepat saji terdekat dan memesan apapun yang diinginkan Mia.
Mia melahap hamburger setelah memisahkan dagingnya. Ia merasa mual ketika melihat daging penuh minyak itu. Setelah makan tiga porsi hamburger tanpa daging, Mia kembali tertidur.
Alex harus membopong Mia lagi ke dalam kamar mereka setelah sampai di rumah. Ia mengatakan hasil pemeriksaan Mia pada nenek yang tampak bahagia sekali.
Alex : "Besok kepastiannya di dokter kandungan, bu. Tolong jangan bilang apa-apa dulu sama anak-anak."
Nenek : "Iya, ibu seneng banget mau punya cucu lagi."
Alex : "Semoga Mia dan bayinya sehat ya, bu."
Nenek : "Amin."
-------
Mia merasa lebih segar ketika bangun keesokan harinya, ia menanyakan tentang hasil pemeriksaannya kemarin pada Alex yang menunjukkan hasil test pack pada Mia.
Mia : "Aku hamil, mas?"
Alex : "Iya, sayang dan kita harus ke dokter kandungan secepatnya. Hari ini kita cek ya."
Mia : "Mas, bisa nunggu sampai wisuda dulu gak? Aku ngrasa uda baik-baik aja. Tolong ya mas."
Alex : "Kamu yakin? Masih gak mau makan?"
Mia : "Aku mau makan, aku makan sarapan sekarang."
Alex : "Awas aja kalau sampai diet lagi. Ini kehamilan pertamamu, kamu harus sehat agar bayi kita kuat."
Mia : "Iya, mas. Yang lainnya uda pada tahu?"
Alex : "Baru ibu aja. Aku juga mau pastikan dulu ke dokter kandungan sudah berapa umurnya."
Mia : "Habis wisuda, kita langsung cek ya, mas."
Alex mau gak mau memenuhi keinginan Mia. Ia hanya ingin Mia bisa tenang selama proses kehamilannya.
------
Akhirnya hari wisuda tiba juga, kondisi Mia benar-benar sudah sehat dan baju kebayanya hampir tidak muat. Ia cuma bisa pasrah menahan rasa sedikit sesak pada tubuhnya.
Beruntung ia belum mengalami morning sickness akibat kehamilannya. Tapi ia tidak bisa lepas dari buah asam yang saat ini sedang dibawanya.
Saat akhirnya nama Mia dipanggil, ia maju ke depan rektor dan menyalaminya. Ia tersenyum senang karena predikat cum laude yang disandangnya diumumkan sebagai yang terbaik tahun ini.
Mia mendapatkan penghargaan dari kampusnya atas prestasinya itu. Ketika turun dari atas panggung, Mia merasa sedikit pusing. Alex yang berada tak jauh darinya segera berjalan menghampiri Mia.
Alex sudah mengatakan pada petugas kesehatan yang berjaga tentang kondisi Mia yang sedang tidak enak badan dan diijinkan berjaga di dekatnya.
Alex menuntun Mia untuk istirahat di ruang bawah. Mia melepas toganya dan mengambil nafas dalam-dalam lewat oksigen yang sudah terpasang di hidungnya.
Alex : "Mia, kamu baik-baik aja?"
Mia : "Iya, mas. Aku cuma sedikit sesak."
Alex : "Kita buka kebayamu ya."
Mia : "Nggak ach, mas. Bentar lagi juga baikan. Kita masih harus ambil foto kan."
Alex mengelus kepala Mia yang berbaring dengan nyaman di tempat yang sudah disediakan di ruang kesehatan itu.
Ia juga mengelus perut Mia yang masih rata. Dirinya merasa sangat bangga karena bisa membuat Mia hamil. Meskipun Alex sudah berumur, masih tokcer juga.
------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------