Duren Manis

Duren Manis
Dinner sama kakek


πŸ’―πŸ’― Persetujuan kakek


Yeeyy!! 200 episode!!


Author gak nyangka bisa sampai titik ini juga.


Mohon maaf kalau author sering telat up atau up cuma dikit.


Makasi banyak untuk kk reader yang selalu setia menunggu up novel 'Duren Manis'. Dan makasi banget selalu ngingetin author untuk up yang banyak.


Sekali lagi terima kasih.


🌺🌺🌺🌺🌺


Riri menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi kamar Elo. Dress yang ia pakai terlihat sangat mahal dan mewah.


Riri terlihat lebih dewasa memakai dress itu. Dengan bingung, ia bolak-balik di dalam kamar mandi.


Riri merasa tidak nyaman memakai dress itu. Apalagi sepatu dan aksesorisnya terlihat gramor.


Riri : "Sepertinya Pak Kim salah memberikan kantong belanja."


Riri memilih keluar dari kamar mandi, ia celingukan mencari Elo yang masih berdiri di pojok kamarnya.


Riri : "Kakak! Ngapain disitu?"


Elo : "Bukannya kamu yang nyuruh aku berdiri disini?"


Riri : "Maksudku cuma sampai aku masuk ke kamar mandi. Kak, ini dressnya salah kayaknya."


Elo : "Kenapa?"


Elo balik badan dan menatap Riri.


Elo : "Wow! Coba putar."


Riri melakukan yang diminta Elo. Rambut panjangnya bergoyang mengikuti gerakan tubuhnya.


Riri : "Jelek ya, kak?"


Elo : "Cantik banget!"


Melihat reaksi Elo membuat Riri tersenyum juga.


Riri : "Tapi kak, dress ini terlalu berlebihan. Apa Pak Kim salah ngasi dress?"


Elo : "Gak mungkin Pak Kim buat kesalahan. Tapi kamu memang cantik banget, Ri."


Riri : "Kak... Aku jadi malu. Coba kakak tanya dech."


Elo : "Emangnya longgar ya? Atau terlalu sempit?"


Riri : "Pas banget sich, kak. Nyaman banget dipakai, tapi tetep aja terlalu berlebihan."


Elo : "Coba aku tanya Pak Kim dulu ya."


Elo menelpon ke bawah,


Elo : "Halo, Pak Kim. Dressnya Riri sudah benar kan?"


Pak Kim : "Iya, tuan muda. Malam ini Tuan Besar mengundang nona Riri dan tuan muda untuk makan malam bersama."


Elo : "Kenapa mendadak? Tante Dewi ikut juga?"


Pak Kim : "Saya diperintahkan hanya menyiapkan empat set makan malam. Nyonya Ratna juga ikut makan malam ini."


Elo : "Ok, kalau begitu saya juga akan bersiap."


Pak Kim : "Saya akan kesana untuk mengantar pelayan yang akan membantu persiapan nona Riri."


Elo : "Saya yang akan membantu Riri bersiap-siap. Sudah cukup kejadian tadi, saya tidak bisa membiarkan Riri bersama pelayan."


Pak Kim : "Baik, tuan muda. Saya akan bawakan peralatannya."


Elo menutup telponnya dan menatap Riri yang sudah menatapnya dengan bingung.


Riri : "Ada apa, kak? Kejadian apa?"


Elo : "Itu tadi... Akan kuceritakan lain kali. Sekarang kamu harus siap-siap. Kakek mengundang kita makan malam."


Riri : "Makan malam? Tapi aku..."


Elo tahu kalau Riri tidak menguasai table manner untuk makan malam.


Elo : "Dengar, Ri. Nanti kamu lihat saja aku ambil peralatan makan yang mana aja ya. Ikuti caraku makan. Kamu harus tenang."


Riri : "Aku takut salah, kak. Nanti kakek marah."


Elo : "Kamu tenang saja, ada aku. Mama juga ada kan."


Elo menatap Riri sambil berjalan mendekat. Riri kaget karena Elo tiba-tiba menarik tangannya.


Riri : "Mau apa, kak?"


Elo : "Panggil aku sayang."


Riri : "Apa??!! Gak mau!!"


Riri menggeleng, ia menghindar dari Elo yang sudah mendekatkan wajahnya. Elo dengan cepat memeluk pinggang Riri dan mencium bibir gadis itu.


Elo : "Aku sangat mencintaimu, Ri." Ucap Elo setelah ciuman mereka terlepas.


Riri : "Aku juga..."


Tok, tok, tok... Ketukan di pintu kamar membuat Elo frustasi. Ia tidak mau melepaskan tangannya dari pinggang Riri.


Riri : "Kak, buka pintunya."


Elo : "Panggil sayang dulu."


Riri : "Iih, kakak! Cepetan bukain sana."


Elo : "Gak mau. Apa passwordnya?"


Riri : "Password?"


Tok, tok,tok... Riri menoleh melihat pintu dengan cemas. Ia mendorong Elo yang tidak bergerak sedikitpun.


Riri : "Sayang, buka pintunya ya."


Pak Kim masuk membawa kotak make up dan juga peralatan untuk mengatur rambut. Ia meletakkan semuanya diatas meja dan berjalan ke pintu lagi.


Pak Kim : "Makan malam 1 jam lagi. Permisi, tuan muda."


Riri menatap peralatan make up di depannya.


Riri : "Ini buat apa, kak?"


Elo : "Aku akan mendandani kamu."


Riri : "Apa??!! Gak usah, kak. Aku bisa sendiri."


Elo : "Yakin?"


Riri nyengir, dia juga gak terlalu bisa berdandan. Biasa pakai bedak tabur dan lipgloss aja.


Riri : "Emangnya aku jelek ya, kak kalau gak dandan?"


Elo : "Nggak kok. Kamu seksi dengan rambut panjangmu itu."


Elo menatap Riri yang terpana dengan kata-kata Elo. Isi hati Elo spontan ia lontarkan tadi.


Elo : "Maksudku... Maaf, Ri."


Elo menutup mulutnya yang keceplosan.


Riri : "Trus, bagusnya gimana, kak?"


Elo menatap Riri dan juga kotak make up.


🌸🌸🌸🌸🌸


Makan malam di rumah Elo sudah dimulai. Riri terlihat cantik dengan rambut diikat sedikit di belakang kepalanya dan riasan natural yang simple.


Mama Ratna : "Wah, Riri cantik banget."


Riri : "Makasih, mama Ratna."


Mama Ratna : "Gemes liatnya. Siapa yang ngrias?"


Elo : "Elo, mah."


Mama Ratna : "Are you kidding me?"


Elo : "Serious, mah."


Mama Ratna : "Punya bakat juga kamu ya, selain baca buku doang."


Riri tersenyum menatap Elo yang juga tersenyum menatapnya.


Kakek Michael : "Riri, ayo makan yang banyak."


Riri : "Iya, kek."


Riri melirik Elo yang mengambil sendok untuk makan sup yang sudah dihidangkan di hadapan Riri. Ia makan dengan anggun sambil sesekali menanggapi obrolan santai kakek Michael.


Setelah sup lanjut ke steak, Riri memegang pisau dengan canggung. Elo memotong steak di depannya denganΒ  cepat dan menukar piringnya dengan Riri.


Riri : "Makasih, kak."


Elo : "Iya, sayang."


Wajah Riri memerah mendengar panggilan Elo.


Mama Ratna : "Oohh... Sweet banget sich. You're look like your father."


Elo tersenyum manis, melirik Riri yang makan sambil tersipu malu.


Saat dessert di letakkan di depan Riri, ia tersenyum manis. Es krim strawberry dengan selai blueberry dan foam diatasnya.


Riri menoleh menatap Elo,


Elo : "Kau suka? Pak Kim khusus menyiapkannya untukmu."


Riri : "Iya, makasih Pak Kim." Kata Riri dengan tulus pada Pak Kim yang mengangguk padanya.


Kakek Michael : "Oho... Riri suka berries? Kim, siapkan satu dessert yang sama."


Mama Ratna : "Are you sure, papa?"


Riri menatap Elo yang tersenyum geli melihat tingkah kakeknya.


Riri : "Kenapa, kak?"


Elo : "Kakek gak suka buah yang asam seperti macam berries. Sekarang minta dibuatkan dessert yang sama denganmu. Kebayang wajah kakek kalau makan buah itu."


Dessert yang diminta kakek Elo segera datang. Kakek Elo memperhatikan dessert di depannya. Ia mengambil sendok, dan mulai menyendok es krim dengan selai blueberry.


Semua orang yang ada di meja makan menatap kakek Elo yang sudah memasukkan sesendok es krim ke mulutnya. Mata kakek tiba-tiba terbelalak, ia menyendok sekali lagi dan mulai asyik menghabiskan dessert itu.


Elo menatap dessert di depan Riri. Ia mengambil sendok dan Riri menyodorkan gelasnya. Elo merasakan dessert itu sangat enak. Rasa asam dan manis benar-benar berpadu semua dalam mulut.


Elo : "Enak..."


Riri : "Enak, kak? Aku juga mau cicip."


Elo menyendok es krim dan menyodorkannya pada Riri. Riri membuka mulutnya dan kombinasi rasa yang fantastis meledak di mulut Riri.


Riri : "Enak banget..."


Mama Ratna cuma bisa menghabiskan dessertnya karena Pak Kim bilang persediaan berries mereka sudah habis.


γ€€


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲