
Mia manggut-manggut saat mendengarkan cerita Riri tentang kejadian di rumah kakek Elo tadi. Setelah meyakinkan perasaan mereka berdua, Elo mengantar Riri ke rumah sakit untuk menjenguk Mia lagi.
Elo hanya sebentar berada disana karena harus mengantar mama Ratna ke bandara. Riri pun ingin women talk dengan mamanya dan Mia meminta Alex dan Rio keluar kamar. Kedua pria dewasa itu menurut keluar dari kamar dan pergi ke kantin sambil ngobrol.
Mia : "Jadi apa status kalian sekarang? Pacaran?"
Riri : "Iya, mah."
Riri terlihat malu-malu. Gadis 18 tahun itu baru pertama kali pacaran dan sepertinya harus terus dipantau agar tahu batasannya.
Mia : "Mama sich gak nglarang. Mama percaya Riri bisa jaga diri, jangan terlalu sering berduaan. Ntar ada setan lewat bisa bahaya."
Riri : "Maksud mama?"
Mia : "Riri kan sudah dewasa, sudah punya KTP. Jadi sudah sewajarnya tahu apa bahayanya kalau pacaran tanpa tahu batasan dan akibatnya juga."
Riri : "Iya, sich mah. Tapi kayaknya kak Elo gak gitu dech. Ya dapet sich tadi hampir aja..."
Mia : "Apa? Kamu di *****?"
Riri : "Hampir dicium... Kayaknya, Riri gak yakin. Tiba-tiba ada tukang kebunnya lewat. Buyar dech."
Mia : "Trus ngapain lagi?"
Riri : "Dipeluk aja, mah. Gak di *****-*****."
Mia : "Kalau seandainya kejadian gitu gimana?"
Riri : "Riri gak mau lah. Ntar kebablasan gimana?"
Mia : "Yang penting Riri selalu cerita sama mama ya. Jadi mama bisa bantu kasi peringatan juga sama Elo."
Riri : "Makasi ya mah. Mama selalu bisa jadi teman curhat yang baik."
Mia : "Sama-sama sayang."
Riri memeluk Mia sambil mengelus perut buncit mamanya. Adik kembarnya menendang di dalam sana.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Alex dan Rio baru balik dari kantin. Mereka pergi satu jam lamanya dan tidak betah lebih lama lagi di kantin tanpa pembicaraan yang jelas.
Rio memang lebih dekat dengan Mia dan sering curhat pada mama sambungnya itu daripada dengan Alex. Kalau sama Alex hanya sebatas pengajuan dana buat sekolah aja.
Alex : "Gimana mobilnya? Bagus?"
Rio : "Bagus, pah. Itu baru namanya mobil bagus. Gak rewel."
Alex : "Coba mau yang baru, kan jelas bagusnya."
Rio : "Ah, kalau mobil baru, nanti Rio beli sendiri aja. Mau nyicil sendiri."
Alex : "Kapan mulai nyicil? Belum kerja gitu."
Rio : "Uda mulai kerja, pah."
Alex : "Kerja apa?!"
Rio kaget mendengar nada tinggi Alex. Kalau reaksi Mia gak segitunya tapi abis itu Mia akan bicara panjang lebar memberikan kemungkinan apa yang akan terjadi kalau dia salah langkah.
Rio : "Jadi ojek mobil, pah. Makanya Rio minta mobil second."
Alex : "Bisa ngatur waktunya?"
Rio : "Rio itu kuliah dari jam 8 sampai jam 1 siang. Kalau tugasnya banyak, Rio kerjain sebagian dulu sama Riri. Jam 3 gitu baru mulai keliling. Dapet seratus ribuan, baru pulang."
Alex : "Kamu gak capek, nak?"
Rio : "Awalnya capek sich, pah. Tapi waktu pertama dapet uang sendiri tuh, rasanya bangga banget. Sekarang uda biasa."
Alex menatap wajah Rio yang terlihat kembar dengannya. Tangannya terulur mengacak rambut Rio.
Alex : "Kalau uda lulus, mau nerusin perusahaan papa?"
Rio : "Mau, pah. Tapi Rio mau kerja dari bawah ya. Gak pake koneksi papa."
Alex : "Maksudnya?"
Rio : "Ya, Rio nglamar jadi staf dulu gitu. Bukan langsung jadi bos."
Alex : "Papa juga gak mau kamu langsung jadi bos. Ntar papa kerja apa dong?"
Rio : "Papa tuch harusnya lebih sering jagain mama. Bukan sibuk kerja kayak gini."
Sambil bicara tangan Alex sesekali membalas chat dari Romi dan membalas e-mail masuk. Alex menghentikan kegiatannya. Ia merasa tertohok putra bungsunya itu.
Alex : "Ya, papa salah. Harusnya gak ambil kerjaan saat ngobrol gini."
Rio : "Rio paham kok, pah. Cuma kadang papa kerja terlalu keras sampai lupa jaga diri sendiri."
Alex : "Semuanya buat memenuhi kebutuhan kalian, buat pensiun papa sama mama juga sich. Papa punya rencana ngajak mama jalan-jalan keluar negeri. Tapi nanti kalau adik-adikmu sudah lebih besar."
Rio : "Ntar kalo Rio nikah sama Kaori, harus kerja keras juga dong."
Alex : "What!! Nikah!!"
Rio menatap papanya yang histeris. Reaksi mamanya gak gini amat. Rio jadi malas melanjutkan ceritanya.
Alex : "Tunggu dulu. Bagaimana kau bisa memutuskan menikah dengan gadis itu?"
Rio : "Kami saling mencintai, Rio rasa cukup. Tentu saja gak nikah sekarang, pah. Rio harus kerja dulu, nabung dulu."
Rio : "Rio belum nanya sich, pah. Coba ntar Rio tanya dech."
Alex : "Sebaiknya ditanya setelah kalian kerja ya."
Alex gak mau ambil resiko Rio melamar Kaori sebelum keduanya lulus kuliah. Dan dia gak mungkin melarang Rio karena dia melamar Mia sebelum Mia lulus kuliah.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Alex dan Rio mendengar suara tawa Mia ketika mereka kembali dari kantin. Sepertinya Mia sedang v-call dengan seseorang.
Mia : "Iya, Ra. Mama baik-baik aja. Uda kangen rumah sich. Bosen disini."
Rara : "Maaf ya, Rara jarang nengok mama. Sibuk di kantor sama persiapan mas Arnold terapi."
Mia : "Jadwalnya kapan? Minggu ini kan?"
Rara : "Uda mulai, sih mah. Sekarang lagi di cek dokter."
Mia : "Loh, kamu gak nemenin?"
Rara : "Dokternya gak ngasi. Takut Rara kena efeknya. Soalnya lagi gak enak badan."
Mia : "Kamu sakit?"
Rara : "Cuma lesu, kayak kurang darah gitu, mah. Rara uda dikasi vitamin sama dokter."
Mia : "Kalo gitu istirahat dulu. Tiduran gitu. Uda makan?"
Rara : "Uda makan dikit, mah. Kangen masakan mama."
Mia : "Emang mama bisa masak ya? Perasaan mb Minah sama nenek dech yang masak."
Mia tertawa geli bersama Riri dan Rara. Mereka saling menghibur meski harus berjauhan.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Rara melambaikan tangan pada Mia dan Riri, ia ingin mengecek Arnold dulu. Tapi baru mau bangkit dari sofa kamar rawat inap Arnold, ia merasa pusing.
Rara memijat kepalanya yang berkedut. Semalam ia tidur jam 2 pagi hanya untuk mempersiapkan presentasi ke client pagi tadi. Setelah itu mengantar Arnold ke rumah sakit untuk terapi.
Tok, tok, tok. Seseorang mengetuk pintu kamar. Rara ingin membuka pintu tapi ia masih pusing.
Rara : "Ya, masuk aja."
Jodi muncul dari balik pintu. Ia terlihat membawa sesuatu di tangannya.
Jodi : "Loh, Ra. Arnold mana?"
Jodi meletakkan barang yang dibawanya diatas meja di depan Rara. Ia masih berdiri di depan Rara yang memijat kepalanya.
Jodi : "Kamu kenapa?"
Rara : "Kepalaku pusing, kak."
Jodi : "Kamu sakit?"
Rara tidak menjawab Jodi, ia terlalu pusing untuk bicara. Jodi melihat air putih diatas meja dan menyodorkannya pada Rara.
Jodi : "Ra, minum dulu. Kamu mau sesuatu?"
Rara mengambil air minum yang disodorkan Jodi dan mulai minum perlahan. Uhuk! Uhuk! Huummpp...! Rara merasa mual, ia tiba-tiba bangkit dari duduknya dan berlari ke kamar mandi.
Hueekk... Rara memuntahkan air yang barusan ia minum sampai ia tersedak dan batuk-batuk. Uhuk! Uhuk!
Jodi : "Kamu gak pa-pa, Ra?"
Jodi ingin masuk ke kamar mandi, tapi ia gak mau ada salah paham nantinya. Ia memanggil suster yang berjaga di ujung lorong untuk membantu Rara.
Saat ia berbalik, Arnold baru kembali dari ruang terapi.
Arnold : "Loh, Jodi? Baru dateng. Ada apa?"
Suster berjalan masuk ke dalam kamar rawat inap Arnold.
Jodi : "Rara muntah-muntah di dalem. Sepertinya dia sakit. Suster lagi bantuin dia."
Arnold buru-buru masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Rara keluar dari kamar mandi dipegangi suster.
Arnold : "Kamu kenapa, Ra?"
Rara : "Aku pusing, mas. Perutku sakit."
Arnold : "Baring dulu. Suster, tolong panggilkan dokter."
Arnold menatap wajah Rara yang pucat, tangannya sangat dingin dan tubuhnya basah berkeringat.
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
π²π²π²π²π²