Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 37


Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 37


Langkah Alex terhenti saat ia mendengar sesuatu


dari kamar Kaori, Alex bergerak mendekat lalu menempelkan telinganya di pintu


kamar Kaori. Ekspresi wajahnya berubah mengeras saat mendengar suara Kaori dari


dalam sana.


“Mereka ngapain sich? Haduh, gawat nich. Buka nggak


ya?” gumam Alex ragu.


Suara-suara di dalam semakin bervariasi, ada juga


suara Ken yang seperti menggeram. Bersahut-sahutan dengan suara Kaori juga.


Alex ingin sekali membuka pintu kamar Kaori, tapi ia merasa tidak enak dengan


kedua orang yang berada di dalam.


“Aku harus ngapain? Kalau mereka melakukan itu,


haduh, kenapa mereka melakukannya disini? Tidak bisa, aku harus membuka pintu


ini,” gumam Alex bingung sendiri.


Tok, tok, tok... Akhirnya Alex nekat mengetuk pintu


kamar Kaori. Sungguh mengejutkan Alex saat ia mendengar suara Kaori mengatakan


masuk dengan sangat tenang. Perlahan Alex membuka pintu, ia melihat Kaori duduk


diatas tempat tidurnya dengan Ken yang sedang berbaring tengkurap.


“A—aduch... sakit...,” rintih Ken.


“Kaori, ada apa? Ken kenapa kayak kesakitan gitu?”


tanya Alex sambil mendekat.


Alex melihat pakaian Ken di ujung tempat tidur


Kaori. Ken hanya memakai boxer menutupi tubuhnya. Tampak lebam kebiruan di


kedua kaki Ken, bahkan di lengannya juga.


“Opa, Ken bilang badannya sakit semua. Katanya


kakek Martin mukul dia pake tongkat tadi. Opa punya obat nggak? Aku cuma punya


minyak kayu putih,” kata Kaori.


“Bentar, opa ambilin ya,” kata Alex lalu keluar


lagi dari kamar Kaori.


Mia yang melihat Alex mengambil kotak P3K dari laci


di ruang keluarga, mengikuti suaminya itu masuk ke kamar Kaori. Alex


mengoleskan obat lebam ke luka-luka di tubuh Ken. Bahkan pipinya juga bengkak.


Mia hampir menangis melihat Ken babak belur, tapi ia cepat-cepat mengusap


matanya.


“Ken, kenapa kamu bisa dipukuli tuan Martin?” tanya


Alex hati-hati.


“Kakek memang seperti itu kalau sedang marah, pa...


opa. Rupanya kakek sudah tahu kalau Kaori adalah cucu kandungnya. Dan kakek


marah karena aku sudah menyakiti hati Kaori. Jadinya ya begini. Aoowww...!!”


pekik Ken kesakitan saat Mia mengobati pipinya yang bengkak.


“Tapi kan bukan kamu yang nyakitin aku, Ken. Harusnya tuan


besar tidak memukulimu seperti ini,” sahut Kaori kuatir.


Ken tersenyum senang, Kaori tetap perhatian


padanya. Meskipun mereka belum sempat bicara tentang orang tua kandung Kaori.


“Kaori, kita harus bicara tentang mereka, orang


tuamu. Apa aku boleh bertanya satu hal?” tanya Ken penuh harap.


“Tanya apa, Ken?” sahut Kaori.


Ken menarik nafas panjang sebelum menanyakan


tentang bagaimana rencana pernikahan mereka berdua. Kaori menunduk malu-malu, gadis


itu mengatakan kalau apa yang tadi dilakukannya pada Ken sudah lebih dari cukup


untuk menjawab pertanyaan pria itu.


Alex dan Mia menatap wajah keduanya yang merona


merah. Mereka tentu saja jadi kepo dengan apa yang telah terjadi antara Ken dan


Kaori tadi. Kenyataannya, ketika Ken hampir melakukan malam pertamanya dengan


Kaori, ia malah melungker kesakitan sambil memegangi kakinya. Pukulan kakek


Martin baru terasa sakit di tubuh Ken.


Kaori yang kuatir, mencoba memijat kaki Ken dengan


minyak kayu putih. Saat Kaori menekan lebam di kaki Ken, pria itu menggeram


menahan sakit. Saking sakitnya, Ken tidak sengaja mencengkeram paha Kaori yang


duduk di sampingnya. Kaori tidak sengaja mendesah karena kaget. Suara-suara


aneh itu didengar Alex yang jadinya salah paham dengan apa yang terjadi di


dalam kamar Kaori.


“Jadi, kita bisa menikah secepatnya?” tanya Ken


dengan senyum tengil menyebalkan.


“Iya, Ken. Tapi Ken, aku nggak mau ketemu mereka


lagi. Apa itu mungkin?” pinta Kaori.


“Apapun untukmu, sayangku,” gombal Ken membuat Alex


menekan lebam di kaki Ken.


Ken menjerit kesakitan lagi, ia memukul-mukul


bantal sambil membenamkan wajahnya ke bantal itu. Mia mencubit Alex karena


menyakiti putranya. Pria paruh baya itu memajukan bibir bawahnya, kesal karena


Mia pilih kasih.


**


Saat makan malam, Kaori menemani Ken makan di


kamarnya. Pria itu masih merasakan sakit di kakinya dan terpaksa makan diatas


tempat tidur. Ken melirik Kaori yang makan ayam bakar dengan nikmat. Saos bakas


tertinggal di sudut bibir gadis itu. Kaori tersenyum manis saat merasakan sudut


bibirnya diusap Ken.


“Kaori, boleh aku tanya lagi? Kenapa kamu nggak mau


ketemu mereka? Apa kamu nggak mau minta penjelasan kenapa mereka melakukan ini


semua?” tanya Ken dengan hati-hati.


“Aku belum siap bicara dengan mereka, Ken. Apapun


alasan mereka, seharusnya mereka tidak meninggalkanku disini. Apalagi karena


aku buta,” ucap Kaori sendu.


Ken mengingat cerita bagaimana Kaori bisa


ditinggalkan di rumah Alex oleh Kinanti. Perbuatan Kinanti sudah sangat


keterlaluan karena menginginkan Rio saat itu. Tapi akhirnya Kinanti kembali


pada Endy karena melihat kekayaan Endy lebih besar dari kekayaan Rio.


Wajar bagi Kaori untuk merasa kecewa dengan Endy


dan Kinanti. Ken juga merasakan hal yang sama saat mengetahui tentang rahasia


kasih sayang kedua orang tuanya. Sedangkan Kaori tumbuh dengan baik dan penuh kasih


sayang dalam lingkungan keluarga Alex.


“Ken, apa kamu kecewa sama aku yang begini? Sikapku


yang tidak sopan pada orang tua,” kata Kaori menyadarkan Ken.


“Tidak, sayang. Aku juga kecewa dengan mereka.


Mereka mengangkatku sebagai anak hanya untuk mendapatkan harta kekayaan kakek


Martin. Sekarang mereka bahkan tidak mendapatkan apa-apa, tidak punya apa-apa,”


kata Ken tanpa ekspresi.


“Apa mereka jatuh miskin, Ken? Tidak punya apa-apa


lagi?” tanya Kaori sendu.


“Mereka hidup dari uang bulanan yang diberikan


kakek Martin dan juga pembagian keuntungan perusahaan milik mereka


masing-masing. Tapi perusahaan itu sudah aku akuisisi atas permintaan mereka sendiri.


Sekarang mereka hidup dari uang yang aku transfer tiap bulan dan juga fasilitas


milik keluarga Wiranata,” jelas Ken.


“Akhirnya juga nggak dapet harta ya,” celetuk Kaori.


Ken membenarkan kata-kata Kaori, tujuan mereka


tidak tercapai bahkan setelah menjadikan Ken sebagai putra pertama mereka.


Tiba-tiba Kaori menyebutkan tentang penyakit yang diderita Kinanti. Ken baru


sadar kalau ia bahkan tidak tahu apa yang diderita Kinanti dengan pasti.


Ken mengambil ponselnya, ia mengirimkan chat pada


seseorang. Pria itu meminta penyelidikan untuk mengetahui penyakit yang


diderita Kinanti. Tidak perlu waktu lama, chatnya dibalas dengan informasi


lengkap termasuk dokter yang menangani Kinanti.


“Psikosomatis?


Itu penyakit apa, Ken? Apa parah?” tanya Kinanti.


“Sepertinya itu


penyakit pikiran yang berakibat pada fisik pengidapnya. Mungkin mama Kinanti


stress atau semacamnya dan berpengaruh ke tubuhnya. Gejalanya mirip sich,” kata


Ken.


“Apa mungkin


stress karena kita?” tanya Kaori.


Ken mengangguk-angguk


lalu mengatakan mungkin, tapi hubungan mereka berdua jelas-jelas sudah mendapat


restu. Lalu apa yang membuat Kinanti stress? Kaori yang cerdas mengatakan kalau


mungkin penyebab sakitnya Kinanti adalah karena memikirkan putri kandungnya.


“Mungkin setelah bertahun-tahun, dia mulai


memikirkan putri yang dia tinggalkan di rumah orang lain. Putri yang buta,”


lirih Kaori sambil meletakkan garpu di tangannya.


Ken merasakan kata-kata Kaori penuh dengan


kekecewaan, ia jadi merasa bersalah karena mengungkit sesuatu yang seharusnya


tidak mereka bahas lagi. Kaori menggeleng, ia tidak apa-apa, hanya saja hatinya


belum bisa terima kalau memiliki orang tua kandung sejahat Endy dan Kinanti.


“Apa menurutmu aku jahat, Ken? Aku tidak mau


bertemu dengan mereka lagi. Meskipun mungkin kehadiranku bisa membuat mereka


merasa lebih baik. Tapi aku tidak bisa menerima mereka semudah itu, Ken,” ucap


Kaori.


“Aku mengerti, Kaori. Reaksimu menurutku wajar


saja. Aku juga akan bereaksi yang sama kalau aku jadi kamu. Sayangnya, orang


tua kandungku tidak bersalah dalam hal ini,” ucap Ken.


“Kamu sudah tahu siapa orang tua kandungmu, Ken?”


tanya Kaori.


“...Ya, Kaori. Tapi untuk suatu alasan, aku tidak


bisa membongkar identitas mereka saat ini. Yang aku tahu, mereka sangat baik, Kaori.


Sama baiknya dengan opa Alex dan oma Mia-mu,” kata Ken cepat.


“Apa aku juga tidak boleh tahu siapa mereka, Ken?


Sebentar lagi kan, aku akan jadi istrimu,” bujuk Kaori manja.


Ken menelan salivanya, godaan Kaori hampir


membuatnya lupa diri. Ken menarik nafas lalu menyingkirkan piring di depan


mereka berdua. Saat Kaori ingin membersihkan tangannya dengan tisu, Ken menarik


Kaori ke dalam pelukannya. Gadis itu memberontak karena tangannya masih kotor,


tapi Ken tidak peduli.


Kaori tercekat saat merasakan jemarinya dibersihkan


Ken dengan memakai lidahnya. Semakin Kaori memberontak, semakin kuat Ken


membelenggu tubuhnya. Bahkan protes yang keluar dari bibir pink Kaori, tidak


bisa membuat Ken melepaskan kekasihnya itu.


“Ken, aku cuci tangan dulu ya. Jangan gini dong.


Geli,” protes Kaori.


“Kenapa, sayang? Tadi, aku inget banget, kamu minta


ini, kan,” rayu Ken.


“Iya, tapi nggak habis makan ayam bakar juga, Ken.


Bau tangan sama bau mulut. Aku mau sikat gigi dulu,” elak Kaori.


Ken akhirnya melepaskan Kaori, ia berhasil


mengalihkan pembicaraan mereka tentang orang tua kandung Ken. Belum waktunya


Ken membongkar identitasnya sekarang atau ia tidak akan bisa mengerjai Reynold


nantinya. Ken sangat ingin membuat Reynold merasakan apa yang Ken rasakan


terhadap hubungannya dengan Kaori.


Ken cukup kesal dengan kelakuan Reynold yang


menurutnya sangat menyebalkan ketika ia dekat dengan Renata dulu. Pria itu


selalu mendominasi dirinya dan mengatai Ken, anak kecil. Bahkan ketika Ken


sudah semakin dewasa, Reynold tetap menganggapnya anak kecil.


Kaori yang sudah masuk ke kamar mandi, segera


keluar lagi. Ia meminta Ken untuk memberikan nampan berisi piring kotor mereka,


tapi Kaori tidak perlu melakukan itu. Mia sudah datang bersama Gadis yang


membawa es krim untuk mereka berdua.


“Ken, kamu mau menginap disini?” tanya Mia yang


tahu banget isi hati Ken.


“Memangnya boleh, oma?” tanya Ken dengan senyum


tengilnya.