
Mengaku saja
Gadis merubah posisi tidurnya menghadap ke arah
Rio. Ia meletakkan tangannya ke dada Rio untuk merasakan detak jantungnya.
Perlahan Gadis mengatur nafasnya agar sama dengan hembusan nafas Rio. Bohong
kalau Gadis bilang dia bisa melupakan Rio, melihat Rio hampir kehilangan
nyawanya tadi, terasa jantungnya hampir berhenti berdetak.
Gadis merasa lebih baik setelah mendengarkan detak
jantung Rio. Ia merasakan tubuh Rio bergerak, Rio mulai sadar.
Gadis : “Rio. Dimana yang sakit?”
Rio : “Gadis.”
Gadis : “Aku disini. Rio, dimana yang sakit?”
Rio : “Kepalaku. Pusing.”
Gadis : “Kamu mau minum?”
Rio : “Ya.”
Gadis hampir bangun dari sisi Rio, tapi tangan Rio
menarik tangannya.
Rio : “Jangan pergi.”
Gadis : “Aku cuma mau ambil air.”
Rio : “Jangan pergi.”
Gadis : “Iya. Aku gak pergi.”
Rio menggenggam tangan Gadis, matanya belum bisa
terbuka dan Rio gak mau Gadis menjauh darinya sebelum dirinya pulih. Gadis
tersenyum merasakan kehangatan tangan Rio di tangannya. Meski hanya sebentar,
ia juga ingin merasakan kasih sayang Rio.
Gadis mencoba melepaskan tangannya dari tangan Rio
setelah jantungnya mulai berdetak kencang. Tapi Rio mengeratkan pegangannya.
Gadis : “Rio, lepas bentar. Aku mau ke kamar
mandi.”
Rio : “Kamu mau ngapain?”
Gadis : “Ini udah sore. Aku mau mandi.”
Rio : “Aku ikut.”
Gadis : “Apa? Tunggu, ini bukan seperti kamu yang
biasanya. Ada apa, Rio?”
Rio tidak menjawab Gadis, ia mencoba bangun, duduk
sambil memegangi kepalanya. Rio memaksakan dirinya untuk berdiri dan Gadis
terpaksa memeganginya.
Gadis : “Kamu bisa jalan?”
Rio : “Iya. Cuma pusing sedikit. Aku juga mau
mandi.”
Gadis : “Dokter bilang luka di dahimu jangan sampai
kena air dulu.”
Rio : “Nanti aku lap aja kalo gitu. Ayo, naik.”
Keduanya berjalan perlahan menaiki tangga. Rara
yang tadi mengintip dari kamarnya, tersenyum melihat mereka berdua. Mia juga
datang dari ruangan sebelah dan melakukan tos bersama Rara.
Mia : “Sepertinya mereka mulai akrab ya.”
Rara : “Harus luka dulu biar bisa gitu. Kasian amat
Rio. Tapi biarin aja dech. Orang dia yang salah ini.”
Mia : “Sudah. Jangan marah lagi. Kasian Rio sampai
stress gitu.”
Rara : “Iya, mah. Tapi Rara masih gemes. Mama tau
sendiri gimana sakitnya malam pertama. Gak dipaksa aja sakitnya bukan main,
apalagi sampe dipaksa. Denger ceritanya Gadis, Rara masih pengen bejek-bejek
Rio.”
Mia : “Ya, Rio kan mabuk. Udah ach, gak boleh
marah-marah lagi. Ntar ASI-nya macet. Ayo, makan es krim.”
Rara mengikuti Mia mengambil es krim dari kulkas. Mereka
mengobrol lagi di meja makan sambil membantu mb Minah menyiapkan makan malam.
Gadis hampir masuk ke kamar mandi ketika ia melihat
Rio duduk di tempat tidur Riri.
Gadis : “Rio, kamu bisa gak nunggunya di kamarmu
sendiri. Aku mau mandi.”
Rio : “Aku juga gak akan ngintip. Cepat mandi, aku
juga mau lap badan.”
Gadis malas mendebat Rio lagi. Setelah Gadis masuk
ke kamar mandi, Rio mengusap-usap dagunya. Ia ingin menjawab apa yang terjadi
padanya tadi pada Gadis, itupun kalau ia tahu jawabannya. Apa yang terjadi
padanya sampai ia tidak mau melepaskan Gadis tadi.
Rio takut kalau ia melepaskan tangan Gadis, wanita
itu akan pergi darinya. Dia tidak akan membiarkan Gadis lepas dari
Rambutnya basah karena sepertinya ia keramas tadi.
Rio : “Kamu keramas?”
Gadis : “Iya. Kepalaku gatal, sudah tiga hari gak
keramas. Air di kost dingin banget sich.”
Rio melihat tubuh Gadis menggigil, meskipun sudah
mandi dengan air hangat. Ia menarik kedua tangan Gadis dan menggenggamnya.
Rio : “Duduk sini. Kenapa kamu menggigil gini?”
Gadis : “Mungkin karena aku baru mandi.”
Rio : “Apa? Kamu gak pernah mandi?”
Gadis : “Uda seminggu ini sich. Aku gak berani
mandi. Paling cuma bagian tertentu aja yang kubersihkan.”
Rio : “Bagian situ ya.”
Gadis melirik sengit pada Rio yang langsung
gelagapan karena gak sengaja keceplosan. Rio berdehem untuk menghilangkan
kecanggungan diantara mereka. Ia masih menggenggam tangan Gadis sampai wanita
itu melepaskan tangannya.
Gadis : “Kamu mau lap sendiri? Bisa?”
Rio : “Paling punggung aja gak sampai. Biarin dah.”
Gadis menarik nafasnya, ia menanyakan dimana
washlapnya. Rio menunjuk lemari Riri, meminta Gadis mencarinya disana. Gadis
membuka lemari Riri dan melihat di bagian bawah lemari itu ada handuk baru dan
washlap juga.
Gadis mengambil baskom di kamar mandi dan
mengisinya dengan air hangat. Setelah meletakkan baskom di dekat kaki Rio, ia
menyuruh Rio membuka kaosnya. Bau anyir darah yang tadi menempel di kaos Rio,
membuat Gadis mual lagi.
Rio : “Biar aku aja. Kamu duduk jauhan sana.”
Gadis mengambil minyak kayu putih dan mengusap-usap
hidungnya. Rio mengelap tubuhnya sendiri, sampai air di baskom berubah pink.
Rio : “Mending aku mandi sekalian. Bau darahnya gak
mau hilang.”
Gadis : “Tapi lukanya gimana?”
Rio : “Kayaknya Riri punya penutup rambut di
lemarinya.”
Gadis mencari yang dimaksud Rio dan membantunya
memasangkan pembungkus rambut berwarna pink itu ke kepala Rio. Gadis menahan
senyumnya melihat Rio tampak menggemaskan dengan penutup rambut pink.
Rio : “Kenapa kamu nahan senyum gitu?”
Gadis : “Nggak. Cepetan sana mandi. Kamu bau.”
Rio membawa baskom dan washlap tadi ke kamar mandi.
Ia cukup lama berada di dalam sana sampai Gadis mencoba menguping apa yang
dilakukan Rio di dalam.
Ceklek! Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka, Gadis
menatap Rio yang sudah menatapnya juga. Gadis refleks berbalik dan menutup
matanya ketika melihat Rio gak pakai apa-apa.
Gadis : “Kamu kenapa gak pake handuk!!!”
Rio : “Aku baru mau ambil. Kamu ngapain disini?
Ngintip?”
Gadis : “Idih!! Kamu lama banget di dalem, kirain
mati.”
Rio : “Bilang aja mau liat.”
Gadis kabur ke tangga dan hampir turun ke lantai
bawah,
Rio : “Gadis! Tunggu aku pake baju!”
Gadis : “Gak mau! Aku laper!”
Rio buru-buru memakai pakaiannya, ia meringis saat
memakai kaosnya melewati kepalanya. Ia harus mengejar Gadis segera atau dirinya
tidak akan tenang.
Gadis yang sudah sampai di lantai bawah, melihat
Mia sedang menghidangkan makan malam. Gadis mencium bau ikan dan langsung
mual-mual lagi. Ia memilih duduk di ruang keluarga sambil memegangi perutnya
yang sudah lapar.
Alex berjalan cepat ke pintu keluar, ia membawa
sesuatu masuk dan meletakkannya di depan Gadis.
Alex : “Kalau ini, mau gak?”
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.