
Rio meletakkan
tasnya diatas meja di dalam ruang kuliah. Sesekali ia menyapa temannya yang
sudah datang lebih dulu. Ruang kuliah itu sama sekali belum penuh, Rio bukan
datang terlalu pagi, tapi memang sebagian besar teman-temannya akan datang
semenit sebelum dosen masuk ke ruang kuliah.
Rio celingukan
mencari sosok Kaori dan Riri. Seharusnya mereka sudah datang sekarang. Baru
saja Rio memikirkan Kaori, orangnya sudah duduk di samping Rio.
Kaori : “Pagi,
Rio.”
Rio : “Pagi, Kaori.
Tidurmu nyenyak?”
Kaori : “Sedikit
gelisah.”
Rio : “Kok bisa?”
Kaori : “Aku
terlalu lama memikirkanmu.”
Rio tersenyum
dengan wajah merona, setelah kejadian semalam entah bagaimana mereka jadi lebih
dekat satu sama lain. Tangan Rio bergerak menyentuh tangan Kaori yang nangkring
diatas meja. Ia menatap dalam mata kekasihnya itu.
*****
Flash back...
Rio mencium bibir
Kaori dan memaksa gadis itu membuka bibirnya yang mengatup. Rio mengajari Kaori
cara berciuman yang sangat lama tanpa kehabisan nafas. Sedetik kemudian, tangan
Rio mulai menarik kaos Kaori ke atas.
Rio dengan berani
menambahkan cupangan di bagian depan tubuh Kaori. Tubuh Kaori menegang
merasakan sensasi yang baru pertama ia rasakan. Kaori bahkan tidak mencoba
melawan Rio,
Kaori : “Rio...
Rio...”
Kaori mulai meracau
memanggil nama Rio, ia meremas rambut hitam Rio. Ciuman Rio pindah ke perut
Kaori, lagi-lagi menambahkan cupangan disana.
Ingin sekali Rio
membuka seluruh pakaian Kaori dan mencium seluruh tubuhnya, tapi dirinya masih
menahan diri. Rio menegakkan tubuhnya lagi, ia tersenyum melihat keadaan Kaori
yang kacau dengan kaos tersingkap.
Kaori merentangkan
tangannya dan menarik tengkuk Rio, gadis ini semakin agresif mencium Rio.
Rio : “Kaori...
jangan...”
Rio menahan tangan
Kaori yang hampir membuka kancing kemejanya, untuk mengalihkan perhatian Kaori,
Rio membalik tubuh gadis itu dan kembali menciumi punggungnya. Kulit putih
Kaori mulai memerah akibat ciuman Rio.
Kaori : “Rio...”
Ketika ciuman Rio
berakhir, Kaori bersandar padanya dengan nafas tersengal.
Rio : “Sudah cukup
ya. Atau kau mau lagi?” Rio menggigit telinga Kaori yang mengaduh kegelian.
Kaori : “Jangan gigit
disitu... Rio...”
Rio : “Berhenti
bergerak. Aku gak mau sesuatu terjadi yang lebih dari ini. Tidak sekarang.”
Rio menurunkan kaos
Kaori dan mengusap rambutnya yang berantakan.
Kaori : “Apa kau
sedang berperan jadi pria sejati sekarang?”
Rio : “Jangan
mengejekku. Aku memang menginginkan kamu, tapi aku masih bisa menahannya.”
Kaori : “Sebelum
ini kau tidak malu-malu seperti ini.”
Rio : “Sebelum ini
kau terus melawan, aku jadi tidak tahan melihatnya.”
Kaori : “Jadi kalau
aku pasrah saja, kau akan berhenti?”
Rio : “Iya, aku
jadi takut melanjutkannya.”
Kaori : “Kamu manis
banget sich. Aku semakin sayang sama kamu.”
Rio : “Tapi jangan
sering-sering pasrah ya. Kalau aku bablas gimana?”
Kaori : “Iya,
sayang.”
Rio : “Apa? Bilang
lagi.”
Kaori :
“Sayangku...”
Rio menggaruk
kepalanya, ia menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona. Kaori berbalik
ingin melihat wajah Rio yang malu-malu.
Kaori : “Kamu
malu?”
Rio : “Apa sich?
Nggak...”
Kaori memegang
kedua pipi Rio dan mencubit pipinya. Ia dengan gemas mencium Rio lagi. Rio
membalas ciuman Kaori sambil sesekali tersenyum.
Rio : “Apa kita
akan terus disini? Menginap?”
Kaori : “Kau mau
menginap? Kita bisa...”
Rio : “Stop!
Berhenti bicara...” Rio menutup mulut Kaori tepat waktu.
Kaori : “Apa sich?
Aku belum selesai bicara.”
Rio : “Kamu mau
bilang apa lagi?”
Kaori : “Kita bisa
tidur bersama. Kau di sofa, aku di ranjang.”
Kaori nyengir lebar
ke arah Rio, membuat laki-laki itu mencubit pipinya dengan gemas.
Kaori : “Aduch,
sakit! Kenapa aku dicubit?”
Rio : “Kau
memang... Ayo, kita pulang saja.”
Kaori : “Ayo.”
Mereka segera
melepaskan diri dan pulang ke asrama.
Flash back end...
*****
Riri yang melihat
keburu datang untuk memberikan kuliah.
*****
Habis kuliah jam
pertama, mereka bertiga ingin pindah ke kelas berikutnya. Saat itu Rio tidak
sengaja menabrak pundak seorang gadis.
Rio : “Maaf...”
Rio menatap gadis
itu yang terlihat baik-baik aja. Ia kembali fokus pada layar ponselnya.
Gadis : “Gak pa-pa.
Kenalin, aku Gadis.”
Rio : “Rio.” Mereka
berjabat tangan sekilas,
Gadis : “Kamu
jurusan apa? Aku Manajemen.”
Rio : “Sama.”
Kaori yang merasa
Rio tidak berjalan mengikutinya, berhenti dan menoleh ke belakang. Ia tanpa
sengaja meremas lengan Riri.
Riri : “Aduch,
sakit. Kamu kenapa sich?”
Kaori : “Eh, maaf
Ri. Rio tuch...”
Riri : “Kamu lagi
cemburu nich?”
Kaori : “Kenapa dia
lama banget berdiri disana. Siapa lagi cewek itu?”
Riri : “Lihat
baik-baik, Rio bukannya menanggapi cewek itu. Dia lagi balas chat.”
Kaori : “Trus
ngapain masih berdiri disana?”
Riri : “Coba kamu
panggil...”
Kaori : “Rio!”
Yang dipanggil
langsung menoleh dan berjalan cepat mendekati Kaori seperti puppy mendekati
pemiliknya. Rio bahkan tidak mengacuhkan Gadis. Gadis meremas kesal buku yang
dibawanya. Ia masih menatap Rio yang memberikan ponselnya pada Kaori. Gadis
tidak suka melihat Rio merangkul bahu Kaori dengan mesra.
Gadis : “Rio ya.
Menarik juga.”
*****
Kaori : “Tadi itu
siapa?”
Rio : “Yang mana?”
Kaori : “Cewek
cantik yang kamu ajak ngobrol di lorong.”
Rio : “Gak tau. Aku
gak sengaja nabrak dia. Dianya ngajak kenalan.”
Kaori : “Siapa
namanya?”
Rio : “Lupa. Anak
manajemen juga.”
Mereka sudah duduk
di dalam ruang kuliah, menunggu dosen mata kuliah berikutnya.
Kaori : “Cewek itu
cantik ya.”
Rio : “Masa? Aku
gak perhatian tuch.” Rio mendengar cara bicara Kaori agak aneh.
Rio : “Kamu
cemburu?”
Kaori : “Apa?
Nggak, ngapain cemburu.”
Rio : “Bilang aja
cemburu. Manis banget sich.”
Rio mencubit pipi
Kaori dengan gemas. Ia menggenggam tangan Kaori dan mencium punggung tangan
gadis itu.
Teman-teman mereka
yang melihat perilaku mesra Rio pada Kaori spontan berdehem. Ada juga yang
berteriak di belakang,
Mahasiswa 1 : “Woi,
jomblo nich!”
Mahasiswa 2 :
“Liat-liat dong, gak kasian apa!”
Mahasiswa 3 :
“Kuliah, kuliah! Pacaran mlulu.”
Mahasiswa 4 : “Ehem...
Ehem...”
Rio tertawa sambil
menoleh pada teman-temannya,
Rio : “Makanya
pacaran sana!”
Kaori yang merasa
malu, berusaha melepas genggaman Rio tapi Rio tidak mau melepaskannya.
Kaori : “Rio, malu
tuch diliatin temanmu.”
Rio : “Biar mereka
tahu, kamu milikku.”
Riri : “Idih,
barang kali milik.”
Rio : “Biarin,
sirik aja. Sana cari kak Elo.”
Riri : “Bucin.”
Rio : “Kamu juga
bucin.”
Rio memeletkan lidahnya
pada Riri, ia kembali memainkan jemari Kaori yang masih di genggamnya. Dosen
yang mereka tunggu tidak datang juga, sampai ketua di kelas mereka harus
mencarinya dan kembali membawa dua lembar tugas.
Ketua kelas : “Kerjakan
sekarang juga dan langsung dikumpulkan ya.”
Mereka langsung
berkumpul di dekat mahasiswa pintar termasuk Riri dan Rio yang langsung
mengerjakan tugas mereka tanpa kesulitan.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya
para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
🌲🌲🌲🌲🌲