
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 18 – Happy Birthday
“Sampai kamu tidur. Aku nggak ngapa-ngapain, kok.
Janji. Udah, kamu tidur aja,” kata Ken santai.
“Nanti kalau kamu ketiduran disini, gimana?” tanya
Kaori.
“Nggak. Kamu tidur aja ya. Jangan kuatir. Peluk?”
tawar Ken sambil menarik Kaori ke dalam pelukannya.
Ken mengelus-elus kepala Kaori sampai gadis itu mulai
memejamkan matanya. Dengkuran halus Kaori terdengar beberapa saat kemudian. Ken
mengusap sudut matanya, ia sangat bahagia bisa merayakan ulang tahunnya bersama
Kaori.
“Makasih, Kaori. Aku belum pernah sebahagia ini di
hari ulang tahunku. Meskipun tanpa kue atau lilin, apa yang kudapatkan darimu
malam ini lebih manis dari kue terlezat di dunia ini. Aku harap kita bisa
bersama selamanya, sayang,” ucap Ken sambil mengecup kening Kaori.
Perlahan-lahan, Ken melonggarkan pelukan Kaori lalu
membaringkan gadis itu diatas tempat tidurnya yang nyaman. Pria itu menatap
wajah cantik Kaori sekali lagi sebelum keluar dari kamar gadis itu. Saat Ken
berbalik, ia melihat Mia dan Alex memergokinya keluar dari kamar Kaori. Mia
tampak membawa kue kecil dengan lilin yang belum menyala diatasnya.
Kali ini Ken benar-benar tidak bisa membendung air
matanya. Pria itu menunduk dengan pundak menggigil ketika Alex menyalakan lilin
diatas kue ulang tahun Ken.
“Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, selamat ulang
tahun, anakku Ken. Selamat ulang tahun.” Mia bernyanyi dengan sedikit berbisik
tapi bisa didengar Ken dengan sangat jelas.
“Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya
sekarang juga. Sekarang juga. Sekarang juga.” Alex juga menyanyikan lagu untuk
Ken.
Alex menuntun Ken menuju balkon samping yang tidak
akan dilihat siapapun. Ken menegakkan kepalanya dengan air mata berlinang lalu
hampir meniup lilin itu hingga padam.
“Tunggu, Ken. Make a wish dulu,” pinta Mia.
Ken memejamkan matanya, ia merasakan tangan lembut
mengusap air matanya hingga kering dari wajahnya. Sungguh, Ken sangat bahagia
dengan apa yang dilakukan orang tua kandungnya. Meskipun sederhana, bagi Ken
sudah lebih dari cukup. Ken berharap agar kebahagiaan seperti ini bisa terus ia
rasakan setiap tahun dan tujuannya akan tercapai.
Setelah meniup lilin hingga padam, Mia menyuapkan
kue itu pada Ken. Alex juga mengambil sedikit kue untuk ia suapkan pada Ken.
Giliran Ken juga menyuapkan kue pada Mia dan Alex. Rasa manis dan enak yang
dirasakan Ken pada kue itu tetap tidak bisa membuat dirinya berhenti menangis.
“Udah duapuluh tahun baru kali ini kita ngasih
kejutan sembunyi-sembunyi gini ya. Berhenti nangis dong, Ken,” kata Alex sambil
memeluk putranya itu.
Ken tidak bisa berkata-kata, ia hanya bisa
sesenggukan meskipun berkali-kali menarik nafas panjang. Mia juga memeluk Ken
dengan erat. Ketiganya duduk di lantai saling bersandar satu sama lain. Langit
malam itu sangat cerah, secerah suasana hati Ken yang sangat terharu.
“Papa sama mama kok tahu aku ada disini?” tanya Ken
setelah sedikit tenang.
“Itu, Alan yang telpon. Katanya kamu lagi dikamar
Kaori. Ngapain aja kalian didalam sana?” tanya Alex curiga.
“Cuma ngobrol, pa. Minta janjinya Kaori buat nunggu
aku kembali. Tapi, aku boleh ngelamar Kaori, kan pa?” tanya Ken mengingat
hubungannya yang cukup rumit. “Nggak dibacok kak Rio kan?” tanya Ken sedikit
ragu.
“Kamu nich gimana sich? Coba kamu bayangin, papa
sama mama ngelamar Kaori sama Rio dan Gadis. Nggak aneh ya?” tanya Alex masih
menggoda Ken.
“Iya juga ya, pa. Tapi aku kan cucunya kakek
Martin. Ntar kakek aja, ya, suruh ngelamar Kaori. Tapi kalau aku bilang
sekarang, besok pasti kakek langsung ngelamar Kaori. Haduh, ntaran aja dech,”
kata Ken memikirkan ulang keputusannya.
Mia mengelus kepala Ken yang bersandar padanya. Ken
mengusap matanya lagi, lalu tersenyum sambil memeluk Mia.
“Mah, aku suka makan sup iga, isi daun bawang yang
banyak. Sama sambel terasi pake ayam goreng,” kata Ken.
“Nggak kebalik ya, Ken. Ayam goreng pake sambel
terasi,” kata Mia.
“Maksudku sambel terasinya yang banyak, ayamnya
dikit, mah,” kata Ken lagi.
“Besok mama bikinin sambel terasi ya. Mama kirim ke
mansionmu. Deket sini kan?” tanya Mia sambil mengelus-elus kepala Ken.
“Nggak usah, mah. Ntar nggak nyampe ke aku. Mending
aku kesini atau ke rumah papa. Eh, kayaknya ada yang aneh ya, mah. Kok papa
nggak ada suaranya,” ucap Ken bingung.
Mereka sama-sama menoleh ke samping tempat Alex
duduk tadi. Pria paruh baya itu sudah tertidur pulas diatas karpet tebal sambil
memeluk bantal. Mia dan Ken menahan tawa mereka melihat Alex ketiduran seperti
itu.
“Biasalah, faktor umur. Papamu sudah tidak muda lagi.
Mama hanya berharap papamu bisa tetap sehat dan kuat,” ucap Mia tersenyum
menatap wajah Alex.
Ken berjanji dalam hatinya, ia akan menjaga
keluarga kandungnya dan tidak akan mengecewakan mereka. Saat Mia beranjak ke
kamar mereka untuk mengambil selimut, Ken diam-diam pergi dari sisi Alex dan
keluar dari mansion Steven dengan penyamaran lagi.
Sampai di mansion Endy, Ken segera masuk ke dalam
dan melihat seseorang sedang duduk di sofa besar. Endy menunggu Ken pulang
malam itu. Ken sempat kaget, tapi ia bisa belajar menutupi emosinya dengan
baik.
“Kamu darimana?” tanya Endy tanpa menjawab
pertanyaan Ken.
“Dari rumah teman, pah. Hari ini kan ulang tahunku,”
sahut Ken tanpa ekspresi.
Pria yang ia kira papanya selama bertahun-tahun itu
bahkan tidak mengucapkan selamat ulang tahun padanya saat mereka bertemu.
Malahan bertanya pertanyaan yang seharusnya Endy tanyakan saat Ken masih
berumur limabelas tahun dan kepergok pulang dini hari.
Ken tertawa miris dalam hatinya, apa yang ia
harapkan dari Endy. Percuma saja melakukan sesuatu untuk mengesankan Endy, pria
itu tidak akan memuji ataupun memberi hadiah atas keberhasilan Ken. Tapi
seingat Ken, ia tidak pernah mendengar Kenzo mendapatkan pujian dari Endy. Ia
jadi berpikir apa memang Endy seperti itu atau ada sesuatu yang ingin dimainkan
Endy.
“Kenapa kamu ngelamun? Besok ada pesta disini,
masuk ke kamarmu,” kata Endy dingin.
“Pah, boleh minta sesuatu nggak?” tanya Ken
memberanikan dirinya.
Endy hanya menaikkan alisnya seolah bertanya ‘apa?’.
Ken ingin sekali merasakan pelukan Endy sebagai seorang papa. Endy berdecih, ia
tidak melakukan hal-hal yang menggelikan seperti itu. Tapi pria itu
merentangkan tangannya, dan meminta Ken mendekat. Sebelum Ken memeluknya juga, Endy
meminta Ken berjanji tidak ada seorangpun yang boleh tahu kalau mereka
berpelukan seperti itu.
Untuk pertama kalinya Endy memeluk Ken seperti
seorang papa memeluk anak laki-lakinya. Pelukan yang pernah diberikan kakek
Martin dulu padanya, saat Endy membawa Ken yang masih bayi ke hadapan papanya
itu. Kakek Martin juga sama seperti Endy, bukan figur seorang papa yang hangat.
Endy masih lebih baik, ia tidak pernah memukul Ken tapi lebih banyak
mengabaikannya. Sedangkan kakek Martin lebih suka memukul kalau ia tidak puas.
“Apapun yang terjadi besok, kamu harus ingat Kenzo.
Kamu ngerti, Ken?” tanya Endy.
“Iya, pah. Aku janji akan jaga Kenzo,” jawab Ken
yakin.
Endy melepaskan pelukannya, lalu berjalan menjauhi
Ken kembali ke kamarnya. Entah kenapa, Ken merasa sesuatu yang besar akan
menunggunya besok.
**
Para tamu undangan mulai berdatangan ke mansion
Endy, seharusnya pesta itu berlangsung di sebuah hotel paling mewah dan
bergengsi di negara A. Tapi Ken meminta diadakan di mansion Endy saja, ia lebih
nyaman berada di mansion itu yang keamanannya sudah jelas terjaga dengan baik.
Endy sudah menyambut tamu undangan dilantai bawah. Musik yang dimainkan cukup
slow sesuai dengan tema pesta yang klasik.
Satu persatu pelayan berkeliling membawakan canape
dan juga minuman untuk para tamu. Diantara para pelayan itu tentu saja ada Ken
yang sedang menyamar. Ia harus mengetahui siapa saja tamu undangan yang datang
atau Ken akan terlihat menyedihkan nanti.
Beberapa relasi bisnis kakek Martin tampak membawa
cucu mereka yang cantik-cantik. Wajar saja karena hari ini kakek Martin akan
memperkenalkan Ken sebagai pewaris tunggal kekayaannya. Proses balik nama aset
akan langsung berjalan setelah tanda tangan surat wasiat malam ini. Siapapun
yang bisa menjadi cucu menantu kakek Martin, tidak akan merasakan kesulitan
selama hidupnya.
Ken hanya tersenyum dalam hatinya ketika mendengar
para gadis cantik itu mulai mengatakan kalau dirinya yang paling cantik dan
berhak bersanding dengan Ken. Tapi Ken tahu, jauh di lubuk hati mereka, tujuan
mereka yang sesungguhnya hanya kenyamanan dan hidup enak.
Mama Ken, Kinanti, akhirnya keluar dari kamarnya
bersama Kenzo. Pria kecil itu terlihat tampan dengan jas berwarna hitam.
Rambutnya juga diatur dengan pomade hingga berdiri tegak.
“Ma, dimana kak Ken?” tanya Kenzo sambil
celingukan.
“Kak Ken akan turun bersama kakek, Kenzo. Jangan
sembarangan bergerak atau rambutmu akan berantakan,” kata Kinanti sambil
bersikap anggun seperti biasanya.
Ken diam-diam menatap Kinanti yang selalu tampil
sempurna. Tentu saja dengan outfit yang dipesan khusus dari perancang ternama
dengan harga yang tidak murah sama sekali. Ken harus melakukan negosiasi dengan
beberapa perusahaan untuk bisa membayar outfit yang dipakai Kinanti. Kerja
keras seperti itu yang dilakukan Endy selama ini untuk membuat Kinanti senang.
Malam itu, Kinanti terlihat aneh. Ia tidak terlihat
senang seperti biasanya saat ada pesta. Atau Ken melewatkan sesuatu yang
berharga. Tiba-tiba Ken menyadari sesuatu, malam itu tamu undangan yang datang
hanya pria bersama anak atau cucu perempuannya. Bahkan ada yang seumuran Kenzo
juga ikut hadir. Bisa dibilang Kinanti adalah satu-satunya nyonya besar di pesta
itu.
Ken mendekati Kinanti dan Kenzo, ia menawarkan wine
pada Kinanti dan menanyakan apa Kenzo mau makan canape. Saat mengambil gelas
wine, tangan Kinanti sedikit gemetar. Ken bisa melihat dengan sangat jelas,
bahkan Kinanti harus memegang gelas itu dengan kedua tangannya.
“Kenzo, pergilah sama dia. Makan dulu sesuatu.
Pestanya akan lama,” kata Kinanti sambil menunjuk Ken yang menyamar.
Ken membungkuk hormat, lalu menuntun Kenzo
mendekati meja canape. Ia membantu Kenzo makan agar tidak belepotan. Ken baru
menyadari kalau Kenzo lebih pendek dari dirinya dulu saat berumur delapan
tahun.
Kenzo menunjuk beberapa canape dan menanyakan isinya
pada Ken. Ia cukup berhati-hati karena alerginya pada kacang. Ken sudah tahu
tentang itu dan memilihkan makanan yang aman untuk Kenzo. Ken juga menunjuk
beberapa canape yang mengandung kacang.