
Bukan dia
Arnold yang baru keluar dari kamar, sudah berganti
pakaian dan terlihat lesu. Ia duduk di samping Rara dan menoel-noel lengan
istrinya itu sambil pasang tampang imut.
Mia : “Ich, lucu banget. Gemes.”
Alex : “Aku lebih ngegesin, sayangku.”
Mia : “Dih, cemburu ama mantu sendiri.”
Alex memonyongkan bibirnya pada Mia yang dibalas dengan bekapan pada mulutnya.
Rara : “Sabar, mas. 5 hari lagi.”
Mia, Alex dan mb Roh terkikik geli melihat wajah
cemberut Arnold yang tetep ganteng. Mereka bergantian makan malam sambil menjaga
3 bayi yang mulai aktif duduk dan berguling-guling.
*****
Gadis merenggangkan tubuhnya, ia sudah
menyelesaikan semua keperluan untuk meeting besok. Diliriknya jam di sudut
laptopnya, sudah hampir jam 10 malam. Gadis mengemasi tas dan menutup
laptopnya. Ia memasukkan file penting ke dalam laci yang terkunci dan membawa
kuncinya ke ruangan Romi untuk ia taruh di tempat rahasia yang hanya dia dan
Romi yang tahu.
Setelah menyelesaikan masa magangnya dengan cepat,
Gadis langsung diminta bekerja di perusahaan Alex oleh HRD. Ia menggantikan
sekretaris Wanda yang saat ini sedang cuti melahirkan dan akan kembali 2 bulan
lagi. Nantinya Alex tetap memerlukan sekretaris lagi untuk menjadi sekretaris
Rio pada akhirnya.
Brak! Gadis menajamkan pendengarannya. Ada suara
barang jatuh dari ruangan Alex. Gadis celingak-celinguk melihat tidak ada orang
di sekitarnya. Lantai itu khusus ruang meeting dan ruangan Alex. Jalan ke bawah
hanya lewat tangga dan lift. Tapi sejak tadi tidak ada orang yang lewat di
depan Gadis.
Gadis berpikir apa itu Alex, tapi Alex, Romi, dan
Rio sudah pergi sejak tadi. Mereka ada meeting di luar dan langsung pulang.
Gadis memberanikan diri membuka pintu ruang kerja Alex untuk mengecek. Ia masuk
kesana dan melihat di meja sofa ada botol minuman yang hampir kosong tergeletak
miring.
Gadis menegakkan botol minuman itu dan melihat
seseorang duduk di atas karpet. Ia memicingkan matanya karena ruangan yang
sedikit gelap dengan lampu yang sudah dimatikan.
Gadis : “Rio? Kamu ngapain disini? Kamu minum?”
Gadis menyambar gelas minuman di tangan Rio dan
meletakkannya diatas meja.
Rio : “Aku masih mau minum!”
Gadis menahan tangan Rio yang ingin mengambil gelas
minuman itu lagi.
Gadis : “Jangan minum lagi. Aku tahu kamu sedih
karena ingat Kaori, tapi gak gini caranya. Bangun!”
Rio : “Pergi sana! Biarin aku sendiri.”
Gadis : “Kamu besok ada meeting penting. Sudah
cukup! Sekarang pulang!”
Rio masih ngeyel, Gadis terpaksa menyeretnya keluar
dari kantor Alex. Rio masih bisa jalan meskipun jalannya miring-miring dan
keseringan nabrak tembok. Bruk! Gadis mendudukkan Rio di kursi tunggu.
Gadis : “Diem dulu disini. Aku mau kunci kantor
dulu.”
Gadis mengunci kantor Alex dan juga kantor Romi, ia
mengambil tasnya dan mendekati Rio. Ia membantu Rio berdiri, Gadis hanya
memegangi lengan Rio agar kepalanya tidak membentur tembok.
Gadis membawa Rio ke dalam mobilnya, susah payah ia
berjalan sambil menopang tubuh Rio yang lebih besar darinya. Setelah Rio duduk
di kursi belakang, Gadis memacu mobilnya menuju apartment Rio.
Sampai di parkiran mobil, Gadis membantu Rio keluar
dari mobilnya. Ia menuntun Rio sampai ke depan lift dan menekan tombolnya agar
terbuka. Gadis melepaskan pegangannya dari Rio, ia mengira Rio bisa masuk
sendiri tapi ternyata Rio malah tersungkur di lantai lift.
Gadis : “Hadeh! Nyusahin aja kamu ya.”
Gadis mengangkat Rio lagi, ia menekan tombol 14 dan
lift menutup. Gadis menahan tubuh Rio agar tetap berdiri sambil memperhatikan
angka-angka yang muncul di atas lift.
Gadis : “Sudah tau gak bisa minum, malah minum.
Pintu lift terbuka, sejenak Gadis ragu harus ke
kiri atau ke kanan. Ia hanya pernah sekali kesana itupun bersama Romi dan dia
lupa harus kemana lagi.
Gadis : “Rio, kemana kamarmu? Hei, Rio!”
Gadis mengguncang tubuh Rio yang akhirnya membuka
mata dan menunjuk ke sebuah kamar. Rio mengeluarkan kartu dari dalam dompetnya.
Ia berusaha memasukkan kartu itu tapi tak juga berhasil. Gadis merebut kartu di
tangan Rio dan memasukkannya ke tempat kunci. Pintu kamar apartment Rio
terbuka.
Gadis : “Masuk sana.”
Gadis mendorong Rio masuk dan pria itu kembali
tersungkur di depan pintu kamarnya. Gadis menghela nafas berat, ia menggunakan
tenaganya yang terakhir untuk menarik Rio bangun dan menuntunnya ke tempat
tidur.
Gadis : “Haduh, kamu berat banget sich.”
Gadis menggerutu setelah menjatuhkan Rio diatas
tempat tidurnya. Ia mengangkat kaki Rio, melepas sepatunya dan menarik selimut
menutupi tubuh Rio. Gadis mengalihkan pandangannya ke dinding kamar itu, ada
foto Kaori yang sedang tersenyum terpasang disana.
Gadis tersenyum ke arah foto itu. Ia meraba foto
Kaori dan berjalan ke arah pintu kamar sambil mencari kunci mobilnya di dalam
tasnya. Gadis hampir membuka pintu kamar apartment Rio ketika merasakan
tangannya ditarik dengan kasar.
Rio : “Kaori!! Kamu mau kemana?”
Gadis : “Apa? Aku Gadis. Rio!! Aku bukan Kaori!!”
Gadis menepis tangan Rio dan berjalan cepat ke pintu
kamar. Tapi Rio menariknya dengan keras sampai tas Gadis terlempar ke samping
tempat tidur. Gadis meronta memukul-mukul tangan Rio yang mencengkeram
tangannya.
Gadis : “Rio! Aku Gadis! Lepasin tanganku!”
Cengkeraman Rio terlepas, ia memegangi kepalanya yang
pusing. Gadis melihat keberadaan tasnya dan berjalan cepat mengambil tas itu.
Rio mencengkeram bahu Gadis, menariknya berdiri dan mendekatkan wajahnya. Gadis
menghalangi Rio yang seperti ingin menciumnya.
Rio : “Kaori, aku kangen kamu. Cium aku, Kaori.”
Gadis : “Nggaakk!! Rio sadar!! Aku bukan Kaori!
Bukan!!”
Gadis mendorong tubuh Rio menjauh, tapi ia
tersandung kaki Rio dan jatuh diatas tempat tidur Rio. Bruk! Gadis langsung
bangkit tapi Rio sudah menerjangnya diatas tempat tidur itu. Bruk! Sekali lagi
tubuh Gadis terbanting diatas tempat tidur.
Gadis : “Aduh!” rintih Gadis menahan sakit di
pinggangnya.
Rio : “Kaori, sayang. Kamu marah ya? Kamu ngambek
gak mau aku cium.”
Rio membelai pipi Gadis, Deg! Deg! Deg! Gadis
melihat mata Rio berkabut dengan gairah. Ia menggerakkan kakinya ingin menendang
Rio, tapi perbuatannya hanya membuat rok-nya semakin terangkat dan Rio bisa
lebih leluasa mengunci dirinya.
Gadis : “Rio sadar!! Kamu mabuk! Aku bukan Kaori! Lepasin aku!!”
Gadis menjerit sambil mendorong-dorong tubuh Rio
yang semakin dekat dengannya. Tangan Rio menangkap tangan Gadis, dan memerangkapnya di atas kepala gadis itu. Gadis menjauhkan wajahnya yang hampir dicium Rio, ia menggeleng ke kanan ke
kiri. Tubuhnya terkunci dengan baik dengan kaki dan tangan meronta-ronta.
Rio : “Kamu jangan marah, Kaori. Aku cium sekarang.”
Gadis : “Nggaakkk!! Rioo!!! Sadar!! Aku Gadis!!! Gadis!!!”
Terlalu banyak meronta dan berteriak membuat tenaga
Gadis perlahan mulai habis, kedua tangannya sudah kebas karena cengkeraman Rio.
Rio menyatukan tangan Gadis dan menahannya dengan satu tangan. Rio memegang
dagu Gadis, ia mendekat dan hampir mencium bibir Gadis saat gadis itu tiba-tiba
memukul kepala Rio dengan kepalanya.
Akibatnya kepala Gadis jadi berkunang-kunang
sekarang. Rio hanya meringis menerima pukulan Gadis. Ia tersenyum sambil
membelai pipi Gadis dan mengira itu pipi Kaori.
*****
Apa Gadis akan bisa melepaskan diri dari Rio? Nantikan terus up-nya kk. Jangan lupa vote yang banyak.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).