
Arnold menggenggam tangan Rara sebelum dirinya dibawa masuk ke ruang operasi. Jadwal operasi dimulai jam 9 pagi ini dan akan berakhir sekitar jam 1 siang.
Tim dokter yang disiapkan Jodi berjumlah 7 orang termasuk dokter Kevin yang akan menemani Arnold selama operasi.
Alex, Ronald, Rara, dan Jodi mengantar Arnold sampai di depan pintu ruang operasi. Mia tidak ikut karena kondisi kehamilannya semakin berat. Ia tidak bisa bepergian dan berjalan terlalu jauh.
Semalam saja setelah kembali dari rumah sakit, Mia mengeluh tubuhnya sakit. Ia langsung tidur dan baru terbangun pagi tadi. Alex memintanya istirahat saja di rumah dan berjanji akan mengabari perkembangan Arnold.
Arnold menggenggam tangan Rara dan mengusap perut istrinya itu.
Rara : "Mas, jangan tegang ya. Aku nunggu disini."
Arnold : "Jangan disini, Ra. Istirahat di kamar aja. Ini loh lama. Nanti dokter Kevin aku suruh manggil kalo uda selesai ya."
Ronald : "Iya, nanti papa yang antar Rara balik ke kamar. Kamu yang tenang ya."
Arnold melambaikan tangannya sambil tersenyum pada Rara.
Pintu ruang operasi terbuka, Arnold dibawa masuk ke dalam dan pintu ditutup. Arnold melihat tim dokter sudah siap disana, berdiri berjajar menunggu ia masuk.
Dokter Kevin memegang lengan Arnold, menenangkan dirinya,
dr.Kevin : "Kamu akan dibius. Tenang ya."
Arnold : "Dok, kasi tahu Rara kalau nanti operasinya sudah selesai. Dia menunggu di kamar."
dr.Kevin : "Ok."
Oksigen dipasangkan dokter menutupi hidung dan mulut Arnold. Pelan-pelan ia menutup matanya menghirup udara yang bercampur dengan obat bius.
Lampu ruang operasi menyala, Alex menuntun Rara kembali ke kamar Arnold dan menemaninya disana. Sementara Ronald menunggu di depan ruang operasi bersama Jodi.
Ronald : "Kamu Jodi kan? Bukannya kamu yang dulu hampir mencelakai Rara?"
Jodi sebenarnya tidak ingin membahas masa lalu, tapi ia harus menjawab pertanyaan Ronald.
Jodi : "Iya, om. Saya tahu saya salah dan saya sedang berusaha meminta maaf pada Rara."
Ronald : "Jadi kau berharap Arnold mati agar bisa mendapatkan Rara."
Jodi : "Sumpah, saya gak pernah berpikir kesana, om. Saya dan Arnold berteman sejak SMA. Saya hanya mau membantu dia saja."
Ronald : "Sumpah yang keluar dari mulut orang macam kamu tidak pantas dipercaya."
Jodi terdiam mendengar kata-kata pedas Ronald. Wajahnya memerah menahan gejolak dihatinya. Jodi tidak mengatakan apa-apa lagi pada Ronald.
Ronald mengalihkan pandangannya ke pintu ruang operasi. Operasi baru saja dimulai, memakan waktu 3 - 4 jam lagi baru selesai.
Ronald memijat kepalanya yang sakit. Ia belum sarapan tadi dan perutnya sedikit lapar.
Jodi : "Om, tunggu di kamar saja. Biar saya jaga disini."
Ronald : "Kamu ngusir saya?! Biar leluasa disini?"
Jodi : "Gak, om. Anggap saja saya tidak bicara apa-apa."
Jodi bangkit dari duduknya, ia memesan 2 kopi, air mineral dan roti dari kantin rumah sakit. Ketika pesanannya datang, Ronald melirik sekilas kopi yang tampak menggugah seleranya itu.
Jodi : "Silakan, om. Saya belum sempat sarapan tadi."
Jodi mempersilakan Ronald untuk sarapan dulu. Ia sengajaΒ mengatakan kalau dia belum sarapan. Padahal tadi pagi, Katty sudah menyiapkan roti bakar kesukaannya.
πΉπΉπΉπΉπΉ
Flash back...
Tengah malam kemarin, Katty terbangun dalam dekapan Jodi. Ia mengingat apa yang sebelumnya terjadi.
Jodi membelainya dengan lembut dan tidak menuntut. Katty benar-benar terlena dengan sentuhan Jodi sampai lupa segalanya.
Mereka menanggalkan pakaian mereka satu persatu sambil berciuman mesra. Katty melayang merasakan setiap sentuhan Jodi sampai Jodi menggumamkan nama Rara dan Katty spontan mendorong tubuh Jodi kesamping.
Jodi tidak bergerak setelah itu, ia tertidur sambil sesekali memanggil nama Rara. Mereka bahkan baru mulai akan bercinta dan Jodi menyebutkan nama wanita lain.
Katty kembali menangis. Ia ingin menyerahkan dirinya bukan menjadi pengganti orang lain. Sampai saat ini pun ia masi mengingkari rasa cintanya pada Jodi.
Katty mengusap air matanya, ia bangkit dari sisi Jodi dan memakai bathrobe menutupi tubuhnya. Ia baru ingat belanjaannya tadi belum sempat ia bereskan.
Katty mengambil 2 kantong belanjaan yang tergeletak di dekat sofa dan membawanya ke dapur. Es krim yang dibelinya sampai mencair karena terlalu lama di luar.
Katty membuka bungkus es krim itu dan mengaduk-aduk isinya hingga tercampur gak jelas persis seperti hatinya yang kacau sekarang.
Setelah membersihkan rumah untuk menghilangkan kegalauannya, Katty kembali ke dalam kamar. Ia melihat Jodi masih tertidur di bawah selimut.
Katty merapikan selimut Jodi dan berbaring di sampingnya. Ia menatap wajah Jodi yang tampan dan membalik tubuhnya. Sudah cukup ia menatap wajah Jodi malam ini.
Ketika hari sudah berganti pagi yang cerah, Katty bangun pagi sekali. Ia membasuh wajahnya di kamar mandi dan menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
Jodi keluar dari kamar, setelah Katty menyelesaikan membuat sarapan.
Jodi : "Pagi."
Katty : "Pagi, Jodi. Apa kepalamu sakit? Mau kopi?"
Jodi : "Iya aku mau kopi."
Katty membuatkan kopi untuk Jodi dan menghidangkan roti bakar dihadapannya. Jodi menarik tangan Katty hingga berdiri di sampingnya.
Jodi : "Katakan, apa kita melakukannya semalam?"
Katty : "..."
Jodi : "Kamu gak mau bilang?"
Jemari Jodi merayap masuk ke balik bathrobe Katty. Katty hampir berontak saat Jodi menciumnya. Wajahnya memerah dan tubuhnya menegang,
Setelah Jodi melepaskannya, Katty menarik bathrobe-nya menutup.
Katty : "Ka... Kau akan pergi sepagi ini?"
Jodi : "Ya. Aku harus ke rumah sakit."
Katty : "Apa kau mau..."
Jodi : "Mau apa? Kenapa berhenti?"
Katty menggeleng, ia tidak mungkin bertanya soal Rara. Ia sadar dirinya hanya simpanan yang tidak berhak ikut campur urusan Jodi. Dia cukup bersikap manis dan menurut, maka hidupnya akan baik-baik saja.
Katty : "Apa kau mau mengantarku? Tapi aku sudah ada mobil ya. Aku lupa."
Jodi merasa Katty sedang menutupi sesuatu. Jodi tidak bertanya lagi dan menghabiskan sarapannya.
Flash back end...
πΉπΉπΉπΉπΉ
Ronald mengambil kopi yang masih panas itu dan meminumnya sedikit. Rasa sakit di kepalanya perlahan mulai mereda.
Ronald juga mengambil roti dan mulai memakannya. Sesekali ia melirik Jodi yang juga sedang memakan rotinya sambil sesekali melihat ke pintu ruang operasi.
Ronald : "Terima kasih."
Jodi menengadah menatap lurus pada Ronald dan mengangguk. Ia menarik nafas panjang dan berat. Lebih baik ia menunggu disana sendirian saja.
Ronald : "Dimana kau kenal Rara?"
Jodi : "Dia adik tingkat saya di kampus, om."
Ronald : "Apa kamu suka sama Rara?"
Jodi : "Dulu iya, om."
Ronald : "Sekarang?!"
Jodi menggeleng sambil menunduk, tolong siapa saja, dia benar-benar gak mau membahas Rara saat ini.
Tiba-tiba ponsel Jodi berdering, Katty menelponnya,
Jodi : "Maaf, om. Saya harus angkat telpon dulu. Halo?"
Katty : "Jodi, aku harus keluar kota besok. Apa boleh?"
Jodi : "Sama siapa? Kemana?"
Katty : "Pak Brian memintaku mengejar target penjualan di salah satu cabangnya. Di kota M."
Jodi : "Jaraknya hanya 1 jam, kamu gak boleh nginep."
Katty : "Tapi kalau aku setir bolak-balik, capek nich. Dan aku gak tau sampai jam berapa selesainya."
Jodi : "Pakai sopirku. Aku telpon pak Jang sekarang. Tapi kamu gak boleh nginep."
Katty : "Apa kau tidak percaya padaku?"
Jodi : "Katty... Kau masih berhutang padaku, ingat."
Katty : "Iya, tuan muda. Kau sangat menyebalkan!"
Jodi tersenyum mendengar teriakan Katty diseberang sana. Ronald bisa mendengar samar suara seorang wanita yang terdengar manja pada Jodi.
Jodi menutup telponnya, dan hampir menelpon pak Jang ketika Ronald bicara lagi,
Ronald : "Pacarmu? Yang telpon?"
Jodi : "Partner, om. Bisa dibilang hubungan yang saling menguntungkan."
Ronald : "Dasar anak muda."
Jodi tersenyum dan lanjut menelpon pak Jang minta dikirimkan sopir ke rumah Katty besok lagi.
Jodi : "Tolong sopir perempuan ya. Kita punya satu kan?"
Pak Jang : "Maksud anda, Fika? Baik, tuan muda."
Jodi : "Dia akan mengantar Katty ke kota M untuk bisnis. Katakan pada Fika untuk mengawasi Katty. Aku tidak mau dia terlibat dengan laki-laki lain di luar sana."
Pak Jang : "Apa perlu saya kirim bodyguard bayangan, tuan muda?"
Jodi : "Ide bagus. Minta mereka melapor padaku sore ini."
Pak Jang : "Baik, pak."
Jodi menutup telponnya, Ronald terlihat sibuk dengan ponselnya.
Operasi masih berjalan di dalam ruang operasi dan belum juga ada tanda-tanda ada yang akan keluar dari dalam sana.
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
π²π²π²π²π²