Duren Manis

Duren Manis
Mengejar cinta


Jelita merasa sedih melihat sikap dingin Romi padanya. Sudah lewat tiga hari ini Jelita selalu lembur dengan Romi tapi sikap Romi tidak juga menghangat. Ia kembali seperti sebelum kenal dengan Jelita, dingin dan kaku. Alex sampai kebingungan dengan perubahan sikap Romi.


Romi sama sekali tidak pernah membahas tentang perasaannya ataupun lamarannya yang ditolak Pak Hary. Ia hanya fokus bekerja dan bekerja seperti mesin tanpa istirahat. Sudah beberapa hari ini Alex memergoki Romi bekerja sampai pagi hari.


Kalau Romi terus begini, kondisinya akan cepat drop. Alex meminta Jelita memasak makanan untuk Romi, tapi Romi sama sekali tidak menyentuh makanan itu sampai makanannya basi. Alex sampai harus menghibur Jelita yang merasa sedih.


Untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, Alex mengajak Romi minum di ruang kerjanya. Ia tidak mau ambil resiko pergi ke bar yang cukup ramai, apalagi Mia sedang hamil sekarang.


Romi awalnya curiga karena Alex tidak biasanya mengajaknya minum, tapi kesedihan yang ia rasakan karena tidak bisa memiliki Jelita, membuat Romi terus meneguk miras yang dituangkan Alex ke gelasnya.


Jelita mengintip dari pintu ruang kerja Alex yang tidak tertutup rapat, Alex sudah memberitahunya kalau Romi akan mengatakan kebenaran dari apa yang sebenarnya terjadi ketika ia mabuk. Disamping Jelita ada Arnold dan Rara. Mereka berjaga kalau-kalau Alex mabuk dan harus dibopong pulang ke rumah.


Alex : "Romi, gimana hubunganmu dengan Jelita?"


Romi belum mau menjawab, kepalanya sudah cukup pusing dan alkohol tampaknya membuat kesadarannya mulai menurun.


Alex : "Hei, kau mabuk ya. Berhenti minum."


Romi : "Kau ini aneh sekali, tadi kau menyuruhku minum sekarang berhenti."


Alex : "Kau akan sangat merepotkan kalau mabuk, pulang sana."


Romi : "Apa kau mengusirku? Seperti Pak Hary... ach, tidak-tidak bukan Pak Hary, tapi aku yang mau pergi."


Alex : "Apa yang kau bicarakan?" Tubuh Alex menegang, begitu juga dengan Jelita ketika mendengar Pak Hary disebutkan Romi.


Romi : "Pak Hary sudah banyak bertanya, aku sudah menjawabnya. Tapi kenapa dia tidak menerima lamaranku?"


Deg! Jantung Jelita berdetak kencang, lamaran? Kapan Romi bertemu papanya? Romi melamar siapa? Jelita tiba-tiba amnesia, ia lupa kalau dirinya anak tunggal. Kan gak mungkin Romi melamar ART di rumahnya yang rata-rata sudah menikah semua.


Alex : "kamu sudah mabuk, istirahatlah."


Romi : "Tidak... Kau belum tahu mahar apa yang diminta Pak Hary, rahasia perusahaan kita. Aku..."


Alex : "Tidak mungkin Pak Hary minta hal seperti itu." Alex sedikit terkejut dengan kenyataan yang didengarnya, tapi selama ini Pak Hary tidak pernah ikut campur dalam bisnis Alex yang lain. Ia hanya fokus pada kerja sama mereka saja.


Romi : "Jelas dan tegas, Pak Hary minta aku jadi mata-matanya. Bekerja di perusahaan kita dan aku harus jadi mata-mata. Tidak bisa!"


Prak! Romi meletakkan gelas kosong yang baru diteguk isinya sampai habis tak bersisa. Bruk! Tubuhnya terjatuh bersandar pada sofa ruang kerja Alex. Romi hampir menghabiskan miras koleksi Alex.


Alex : "Apa yang kau katakan benar?"


Romi : "Aku bersumpah atas kedua orang tuaku kalau aku mengkhianatimu, biarlah aku ikut menyusul mereka. Aku bukan pengkhianat, bukan..."


Bruk! Tubuh Jelita meluncur jatuh di pintu ruang kerja Alex. Romi juga sudah tidak sadarkan diri. Rara membantu Jelita berjalan masuk ke ruang kerja Alex dan mendudukkannya di samping Romi. Jelita menatap Romi dengan air mata berlinang, ia juga kaget mendengar kenyataan kalau papanya bisa berbuat seperti itu.


Jelita merasa tidak nyaman dengan pandangan semua orang di ruangan itu, sungguh papanya hanya minta ia bekerja di perusahaan Alex untuk mempelajari seputar projek kerjasama mereka. Ia bahkan tidak pernah melihat-lihat dokumen lainnya yang tidak ada hubungannya dengan projek papanya.


Alex : "Aku rasa ada salah paham disini, Pak Hary tidak mungkin melakukan itu. Aku kenal papamu, Jelita. Sudah bertahun-tahun kami kerja sama. Aku akan menelpon papamu."


Alex mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Pak Hary, Alex menekan tombol laudspeaker dan tombol record pada ponselnya.


Pak Hary : "Halo, Alex. Ada apa menelpon malam-malam?"


Alex : "Maaf sebelumnya, pak Hary. Ini urusannya sangat mendesak, apa bisa kita bicara sebentar?"


Pak Hary : "Ya, silakan. Saya mendengarkan."


Alex : "Beberapa hari lalu sewaktu Romi melamar Jelita, apa yang bapak minta dari Romi?"


Pak Hary : "Romi itu cepat sekali tersinggung. Aku hanya mengujinya saja, kau tahu Alex, cepat atau lambat penyakit darah tinggiku ini akan membunuhku. Aku benar-benar memerlukan orang yang bisa menggantikanku suatu saat nanti dan pilihanku hanya Jelita."


Alex : "Maksud Pak Hary, bapak menerima lamaran Romi?"


Pak Hary : "Aku suka dia, sejak ketemu pertama kali dan juga perkembangannya. Dan aku mengujinya saat ia datang bersamamu. Apa dia sudah cerita?"


Alex : "Kurang lebih begitu, pak. Tapi saya perlu mendengar langsung juga dari bapak. Romi terlihat kecewa sekali setelah kami keluar dari rumah bapak hari itu."


Pak Hary : "Sepertinya ia menanggapi serius perkataanku, aku minta dia mengkhianatimu agar bisa menikah dengan Jelita. Dan dia menolakku dengan tegas. Dia tidak tergoda dengan kenyamanan yang kutawarkan meskipun kau akan membuangnya setelah tahu."


Alex : "Romi memang orangnya sangat serius, pak. Mungkin ia terlalu menjunjung persahabatan kami, sampai rela mengorbankan perasaannya."


Pak Hary : "Sudah jarang ada orang seperti Romi, Alex. Kau beruntung mendapatkannya sebagai sahabatmu. Tapi kalau dia mau menjadi menantuku, hidupku mungkin bisa lebih panjang lagi."


Alex : "Akan saya pikirkan caranya agar Romi mau menjadi menantu bapak. Ya, mungkin dengan adanya kejadian ini, akan agak sulit untuk melakukannya."


Pak Hary : "Aku juga tidak memaksa, aku bahkan belum tahu tentang perasaan Jelita pada Romi. Kabari aku kalau Romi berubah pikiran. Sampai jumpa, Alex."


Alex : "Sampai jumpa, pak Hary."


Alex meletakkan ponselnya di atas meja, ia menatap semua orang di ruangan itu dan terakhir menatap Jelita,


Alex : "Jelita, ada yang mau kau katakan?"


Jelita : "Apa, pak?"


Jelita : "Mungkin tidak sekecil itu, tapi saya mulai mencintainya, pak."


Rara jadi terharu mendengar ungkapan perasaan Jelita. Arnold memeluk pinggangnya, ia tersenyum pada Rara.


Alex : "Masalahnya sekarang bagaimana cara meyakinkan Romi untuk mau melamarmu lagi."


Jelita : "Aku yang akan melamarnya."


Alex : "Kurasa itu bukan cara yang tepat. Ada usul lain?"


Arnold : "Sepertinya aku punya ide, agak nekat, tapi mungkin bisa berhasil."


Arnold menyampaikan rencananya pada semua orang di dalam ruangan itu kecuali Romi yang sudah tertidur pulas.


------


Keesokan harinya, Romi terbangun dengan rasa sakit kepala yang hebat. Ia memicingkan matanya mencoba melihat dimana dia sekarang. Romi sadar kalau ia ada di dalam kamarnya sendiri. Tapi siapa yang membawanya kesini?


Romi : "Aduh, kepalaku."


Romi melihat sekeliling, matanya melotot ketika melihat ada seseorang berbaring di sampingnya. Ia mengulurkan tangannya mencoba menyibak rambut yang menutupi wajah orang itu.


Deg! Itu Jelita, apa yang sudah terjadi. Romi mengangkat sedikit selimut yang menutupi tubuhnya dan melihat tubuhnya telanjang dibawah sana. Romi melihat pakaian mereka berserakan di sekitar tempat tidur.


Ia merebahkan tubuhnya lagi ke ranjang sambil memijat kepalanya yang sakit. Ia ingat semalam minum dengan Alex. Tapi bagaimana ia bisa berada disini dengan Jelita.


Romi teringat CCTV di rumahnya, pasti ada sesuatu yang bisa menjelaskan kejadian tadi malam. Romi mencari-cari ponselnya yang entah berada dimana. Mungkin ponselnya ketinggalan di kantor.


Romi memaksakan tubuhnya bangun, ia ingin mengambil pakaiannya dan pakaian Jelita yang berserakan. Satu-satunya cara sekarang adalah membangunkan Jelita dan bertanya langsung padanya.


Setelah memakai boxernya, Romi berjalan ke lemari pakaiannya dan mengambil kaos. Ia memakai kaosnya, sambil berjalan mendekati Jelita.


Romi : "Jelita... Jelita, bangun."


Jelita menggeliat bangun, matanya langsung melotot saat melihat Romi duduk di pinggir ranjang.


Romi : "Katakan apa yang terjadi semalam? Kenapa kita bisa ada disini?"


Jelita : "Aku... kamu mabuk semalam aku mengantarmu pulang dan..."


Romi : "Cepat katakan! Apa yang kita lakukan?"


Jelita : "Kamu yang maksa... aku gak kuat nolak kamu..."


Romi : "Kenapa bukan Alex yang nganterin aku pulang?"


Jelita : "Pak Alex juga mabuk, aku memesan taksi untuk dia pulang."


Romi : "Aku yakin tidak terjadi apa-apa diantara kita semalam, kepalaku sakit."


Jelita : "Ka.. kamu gak mau tanggung jawab?"


Romi : "...Kau bisa anggap aku brengsek, cepat pakai bajumu. Pergi dari sini."


Jelita : "Gimana kalau aku hamil?"


Romi : "...Tidak akan terjadi, pergi sana."


Romi masuk ke kamar mandi, meninggalkan Jelita sendirian diatas ranjang. Ia menjatuhkan dirinya di lantai kamar mandi dan menangis dengan sangat memilukan.


Romi tidak bermaksud menjadi pria brengsek yang tidak mau bertanggung jawab. Ia siap menikahi Jelita, tapi dengan syarat yang diberikan pak Hary, Romi akan menyiapkan surat pengunduran dirinya.


Setelah mandi selama setengah jam, Romi keluar dari kamar mandi. Ia melihat ke atas ranjang yang sudah rapi, hatinya terasa sakit membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Jelita karena kecewa padanya.


Romi memakai pakaiannya dengan cepat, ia sudah kesiangan berangkat ke kantor.


------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


 


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


 


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...


 


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------