
DM2 – Tinggal bersama
Suster meminta Gadis keluar dari ruang ICU,
mereka memeriksa kondisi Kinanti dengan cepat. Tapi Kinanti tidak membiarkan
Gadis pergi dari sisinya. Ia menggenggam tangan Gadis sampai Gadis meringis
kesakitan.
“Bu, tolong dilepas dulu tangan ibu ini ya.”pinta
suster. Ia kesulitan menyuntikkan obat ke selang infus Kinanti.
“Aku gak pa-pa. Dia gak boleh keluar dari
sini. Kami belum selesai bicara.”
“Aku akan tetap disini. Biarkan suster
memeriksamu dulu. Kamu denger gak monitormu berisik.”tunjuk Gadis ke samping
Kinanti. “Aku tunggu di kursi disana.”
Kinanti tetap bersikeras menahan Gadis
tetap di sampingnya. Suster akhirnya membiarkan Gadis tetap disana. Setelah
tekanan darah Kinanti stabil kembali, suster baru meninggalkan mereka berdua.
“Bayi itu bayinya Rio. Kamu jangan asal
ngomong.”cetus Kinanti.
“Aku gak asal ngomong. Endy mengatakan
semuanya dengan jelas. Bayi itu anak kalian.”kata Gadis dingin. “Kau bisa
menyangkalnya tapi kalau sampai aku melakukan test DNA pada bayi itu, apa yang
akan kau lakukan?”
Kinanti mulai ketakutan dengan tantangan
Gadis. “Aku... Aku...”
Gadis menghela nafasnya, ia sudah lelah
dengan Kinanti dan kebohongannya. Tapi ia masih ingat dengan jelas kata-kata
Endy.
“Anak itu milik Rio. Aku sudah tidur dengan
Rio dan hamil anaknya.”tutur Kinanti masih halu.
“Endy sudah mengatakan semuanya, Kinanti.
Kamu tidak perlu menutupi apapun dari aku. Apa yang kau inginkan sekarang?”
“Aku tidak mau pergi dari Rio!”ketus
Kinanti.
Gadis menghela nafasnya lagi. “Baik. Ayo,
kita tinggal bersama di rumah papa Alex. Aku tidak akan mengatakan yang
sebenarnya pada siapapun.”kata Gadis dengan berat hati.
Kinanti menatap Gadis tidak percaya dengan
apa yang didengarnya barusan. Ia meyakinkan sekali lagi kalau Gadis sedang
tidak bercanda dengannya. Saat ia menanyakan alasannya pada Gadis, wanita itu
bungkam.
“Aku hanya minta satu hal. Setelah kita
tinggal bersama-sama lagi, kamu tidak boleh lagi berhubungan dengan Endy. Atau
hasil test DNA akan sampai ke tangan papa Alex dan mama Mia.”ancam Gadis.
Gadis hanya ingin menggertak Kinanti, cepat
atau lambat kebenaran akan terungkap seperti kata papa Alex. Setidaknya Gadis
sudah mengetahui dan menyimpan rahasia Kinanti sekarang.
“Apa kau setuju, Kinanti? Kita bisa tinggal
sama-sama, tapi kamu tidak boleh lagi berhubungan dengan Endy.”kata Gadis lagi.
“Dan aku akan tahu kalau kamu melanggarnya, Kinanti.”
Kinanti menimbang sesuatu, ia tidak bisa
melepaskan Endy tapi juga masih terobsesi dengan Rio. Anehnya, Gadis malah
membantunya, menjaga rahasianya.
“Apa hanya itu? Tidak ada yang lain?”tanya
Kinanti meyakinkan dirinya.
Gadis mengangguk, ia hanya ingin Reynold
tetap aman sampai kebenarannya terungkap. Gadis yakin, papa Alex dan mama Mia
sudah menyusun rencana untuk mengungkap kebenaran tentang bayi Kaori.
“Satu lagi sebelum aku lupa. Aku sudah
memberi nama pada bayi itu. Kaori. Seperti nama yang diinginkan Rio untuk anak
perempuannya. Meskipun bukan putri kandungnya.”sindir Gadis.
Setelah satu jam berlalu, Gadis keluar dari
ruang ICU. Ia tersenyum pada Rara dan mengajaknya ke ruang bayi. “Aku harus
memberitahu dokter kalau Kinanti sudah sadar.”
Gadis berlalu bersama Rara tanpa melihat
Endy lagi. Endy beranjak mendekati pintu ruang ICU, ia bertanya pada suster apa
dirinya boleh masuk menemui Kinanti. Suster mengatakan kalau Kinanti perlu
kembali duduk di depan ruang ICU.
Rara melihat Gadis lebih banyak melamun
setelah menemui Kinanti, “Gadis, kamu gak pa-pa?”tanya Rara.
“Iy... Iya, kak. Bayinya sudah lahir, tapi
kondisinya gak baik.”kata Gadis sedih. “Bayi itu buta.”
“Apaa?!!”teriak Rara kaget.
Mereka sudah sampai di depan ruang bayi,
Gadis meminta ijin untuk menengok bayi Kinanti. Ia mengatakan kalau ibunya
sudah sadar di ruang ICU. Suster memperbolehkan Gadis masuk sementara Rara
tidak boleh.
Gadis memakai baju steril masuk ke ruang
bayi Kaori. Ia menghampiri inkubator, menatap bayi di dalam sana. “Nak, entah
ini karma atau sudah takdir. Mama akan menjagamu mulai sekarang.”
Sebulan kemudian, bayi Kaori sudah boleh
pulang. Kondisi Rio masih sama saja seperti sebelumnya. Gadis masih bungkam
mengenai kebenaran tentang bayi Kaori. Ia sudah menerima peringatan dari Endy,
Reynold terjatuh di depan sekolahnya saat pulang sekolah dan hampir ditabrak
mobil yang lewat.
Sikap Kinanti pada Gadis sudah berubah jauh
lebih baik. Tapi ia masih belum bisa mengurus Rio dengan baik. Mia bukannya
tidak menyadari ada yang disembunyikan Gadis, ia mulai curiga saat mendengar
Gadis histeris melihat luka di lutut Reynold. Padahal itu hanya luka kecil.
Diam-diam Mia menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi di rumah sakit. Alex juga
ingin melakukan test DNA secara sembunyi-sembunyi terhadap bayi Kaori.
Kinanti menggendong bayinya memasuki rumah
Alex. Bayi itu mulai menangis ketika sampai di kamar yang biasa dipakai
Kinanti. Gadis mengatakan kalau bayi Kaori perlu minum susu.
“Kasi dia minum susu dulu. Aku mau lihat Rio
sebentar.”
Gadis keluar dari kamar Riri, ia masuk ke
kamarnya dan Rio. Pria itu tampak duduk di atas ranjang seperti biasa. “Rio,
baby Kaori sudah pulang. Apa kamu mau ketemu dia?” Gadis memijat tangan Rio, ia
menghela nafas karena tangisan baby Kaori masih terdengar jelas. “Aku lihat
bayi Kaori dulu ya. Nanti kita bicara lagi.”
Gadis kembali lagi ke kamar Riri, ia
melihat bayi Kaori terbaring di atas ranjang dengan botol susu di sampingnya.
Sementara Kinanti entah dimana. “Kinanti!”panggil Gadis. “Kamu kemana sich?!”
Gadis menggendong baby Kaori, memberinya
susu melalui botol susu sambil menimangnya perlahan. Bayi itu tertidur lagi
dengan cepat. Kinanti masuk kembali ke kamar Riri.
“Kamu kemana aja sich? Kenapa Kaori
ditinggal? Kan aku udah bilang kasi dia susu dulu.”kata Gadis sedikit kesal.
“Aku kebelet.”saut Kinanti santai.
Gadis meletakkan Kaori kembali ke atas
ranjang. “Kamu kalau ninggalin Kaori, kasi tau aku. Apalagi kalau sampai nangis
kenceng gitu. Kasian bayi sekecil ini ditinggal sendirian.” Gadis keluar dari
kamar Riri, masuk lagi ke kamar Rio. Gadis melanjutkan memijat tangan Rio
sambil bicara dengannya.
Belum sampai sepuluh menit, baby Kaori
kembali menangis. Kinanti sibuk memanggil Gadis karena gak ngerti gimana cara
menenangkan bayi itu. Gadis berjalan keluar kamarnya, ia melihat Kinanti
membiarkan bayi Kaori menangis tanpa mau menggendongnya.
“Kinanti, gendong dia dong. Kalo nangis
cari tahu, jangan didiemin aja.”
“Aku dah suruh dia diem. Malah tambah
kenceng nangisnya.”ujar Kinanti tanpa dosa.
Gadis tepok jidat, ia memeriksa popok bayi
Kaori dan benar saja popoknya sudah basah. “Nich, liat dia buang air.”tunjuk
Gadis pada Kinanti.
“Hii...”jengit Kinanti jijik.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.