Duren Manis

Duren Manis
Canggung


Tiba-tiba Guntur bergerak mengambil botol air minum di samping Anisa. Anisa menelan


salivanya saat melihat wajah mereka sangat dekat.


Guntur : “Mau kucium sekarang?”


Guntur membisikkan kalimat itu dan wajah Anisa langsung terasa panas. Guntur tersenyum


melihat wajah merah Anisa. Ia kembali duduk di samping Anisa dan membuka botol


minuman di tangannya. Guntur menyodorkan botol itu pada Anisa yang langsung


meminumnya sampai setengah botol.


Ia mengembalikan botol itu pada Guntur yang langsung minum dari botol yang sama. Anisa terkejut melihat hal itu, mereka jadi berciuman secara tidak langsung kalau gitu caranya.


Guntur : “Strawberry?” kata Guntur menoleh pada Anisa.


Anisa : “Cherry.” balas Anisa menyebut rasa pelembab bibirnya.


Keduanya mengalihkan pandangan mereka dengan wajah merah. Kaori yang memperhatikan interaksi


pengantin baru itu jadi senyum-senyum sendiri. Rio mencolek pipi Kaori,


Rio : “Kamu ngapain senyum-senyum gitu?”


Kaori : “Tante Anisa lucu deh malu-malu gitu.”


Rio : “Namanya pengantin baru. Makan yuk.”


Kaori : “Kamu makan duluan aja. Aku ke kamar mandi dulu.”


Rio mengambil makanan untuknya dan untuk Kaori. Ia duduk kembali ke tempat semula


dan menunggu Kaori kembali. Tapi sampai makanan di piring Rio habis, Kaori


belum juga datang. Saat Rio hampir menyusul Kaori, gadis itu sudah datang


kembali ke hadapannya.


Rio : “Kenapa lama banget?”


Kaori : “Aku mimisan tadi. Makanya lama.”


Rio : “Parah?”


Kaori : “Nggak sich. Mungkin aku terlalu capek. Kan begadang terus nemenin papa.”


Rio tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia menyodorkan makanan untuk Kaori dan mengambilkan


minum untuknya.


Satu persatu tamu undangan yang hadir, berpamitan pada keluarga Anisa. Termasuk keluarga


Guntur yang sudah pulang duluan. Mereka memang tidak mengadakan pesta resepsi


besar-besaran karena usia keduanya yang bisa dibilang cukup dewasa dan juga


keinginan kedua mempelai untuk tidak mengadakan pesta karena papa Katty masih


di rumah sakit.


Jodi dan Katty sudah menunggu kedua pengantin masuk ke mobil pengantin. Jodi sengaja


menyiapkan mobilnya untuk mengantar Anisa dan Guntur pulang ke rumah Guntur.


Jodi : “Khusus hari ini aku akan jadi sopir untuk om Guntur.”


Guntur : “Terima kasih, pak Jodi.”


Katty : “Tunggu, ini aneh banget.”


Anisa : “Memang aneh banget. Tapi mau gimana lagi, kan?”


Keempatnya tersenyum geli. Gitu dech kekacauan yang timbul karena Guntur menikah dengan


tantenya Katty. Jodi jadi ikutan memanggil Guntur dengan sebutan om. Dan Guntur


tetap menghormati Jodi sebagai atasannya dengan memanggilnya pak.


Setelah kedua pengantin duduk di dalam mobil, Jodi mulai mengendarai mobilnya menuju


rumah Guntur. Sesekali mereka mengobrol untuk mengurangi kecanggungan. Tapi


akhirnya diam juga karena kedua pengantin terlihat malu-malu.


Sampai di rumah Guntur, masih tersisa beberapa keluarga Guntur yang belum pulang.


Mereka masih mengobrol dengan orang tua Guntur. Jodi dan Katty segera


berpamitan karena Katty harus banyak istirahat. Tapi sebelum pamit, Katty


mengantar Anisa ke dalam kamar Guntur yang sudah dihias dengan banyak bunga.


Katty : “Tante, ini ada sesuatu untuk tante. Pakai ya.”


Anisa : “Apaan, nich? Masa tante pake ginian?”


Anisa mengangkat lingerie yang dikeluarkan Katty dari dalam kantong sutra yang


dibawanya.


Katty : “Tante harus pakai ini. Biar diserang...”


Anisa : “Sekalian aja gak pake apa-apa. Pasti langsung diserang. Hihi...”


Katty : “Pake ini dulu, biar om Guntur panas dingin.”


Anisa : “Kamu nich, hamil-hamil nakal ya.”


Katty tersenyum lebar, ia segera keluar dari kamar Guntur karena sepertinya Guntur


sudah tidak sabaran ingin berduaan dengan istrinya.


tidur Guntur. Anisa mengambil kelopak mawar yang berserakan di atas tempat


tidur itu. Ia menyobek kelopak mawar itu untuk menghilangkan kegugupannya.


Guntur masuk ke dalam kamarnya. Ia langsung mengunci pintu kamarnya dan menatap Anisa.


Keduanya duduk agak berjauhan di pinggir tempat tidur. Keduanya larut dalam


pikiran masing-masing dan membuat suasana tambah canggung.


Anisa : “Kamarmu gak banyak berubah ya.” Kata Anisa.


Saat sekolah dulu, Anisa pernah beberapa kali ke rumah Guntur dan mereka


menghabiskan waktu di kamar itu untuk mengerjakan tugas atau sekedar bermain


game.


Guntur : “Ya. Kalau kau mau, kita bisa mendekorasi ulang kamar ini.”


Anisa : “Biarkan seperti ini saja. Aku sudah nyaman disini.”


Tangan Anisa meraba ke atas tempat tidur ingin mencari kelopak mawar lainnya. Tapi


tidak sengaja ia menyentuh tangan Guntur. Keduanya menoleh dan saling menatap.


Guntur : “Canggung ya.”


Anisa : “Iya. Aku... mandi duluan ya.”


Anisa bangkit dari pinggir tempat tidur, tapi Guntur menarik tangannya.


Anisa : “Apa?” tanya Anisa dengan wajah memerah.


Guntur : “Kamu bisa lepas kebayanya sendiri? Aku bantu ya.”


Anisa hanya mengangguk, ia duduk lagi di pinggir tempat tidur. Guntur mulai melepas


kancing kebaya yang dipakai Anisa. Setelah lepas semua, Guntur membantu membuka


kebaya itu.


Guntur : “Hijabnya sekalian dilepas?”


Anisa mengangguk lagi. Guntur menarik satu persatu jarum pentul yang terpasang di


hijab Anisa. Lembaran hijab Anisa mulai terlepas, Guntur menghentikan


gerakannya, ia melihat tubuh Anisa gemetar. Sekarang untuk pertama kalinya


Anisa akan membuka hijabnya di depan suaminya. Meskipun Guntur pernah melihat


tubuh Anisa sebelumnya, tapi saat itu Anisa tidak sadarkan diri.


Guntur : “Udah bisa lepas sendiri kan?”


Anisa mengangguk lagi. Ia berjalan masuk ke kamar mandi sambil membawa handuknya. Guntur


menghela nafas, ia juga merasa gugup setelah menikah dengan Anisa. Malam ini


malam pertama pernikahan mereka dan Guntur tidak mau Anisa merasa tidak nyaman.


Setelah menunggu cukup lama, Anisa akhirnya keluar dari kamar mandi. Guntur terpana


melihat Anisa keluar dengan tubuh dibalut handuk saja. Rambut hitamnya terurai


tidak tertutup hijab lagi. Anisa tidak berani menatap Guntur, ia merapat ke


lemari Guntur, memberi jalan agar Guntur bisa masuk ke kamar mandi.


Guntur : “Aku mandi dulu ya.”


Anisa hanya mengangguk. Guntur cepat-cepat masuk ke kamar mandi, ia mandi secepatnya


agar Anisa tidak lama menunggu. Tapi saat ia keluar dari kamar mandi hanya


berbalut handuk, ia tidak melihat Anisa di kamarnya.


Guntur : “Kemana dia?”


Guntur melihat koper Anisa sudah terbuka. Ia ingat mereka belum makan malam. Mungkin


Anisa keluar untuk mengambil makanan. Guntur membuka lemarinya. Ia segera


memakai boxer dan celana pendek. Saat Guntur hampir memakai kaosnya, pintu


kamar terbuka. Anisa masuk sambil membawa nampan berisi makanan untuk mereka


berdua. Ia sudah memakai hijab dan juga dress longgar menutupi tubuhnya.


Anisa tertegun melihat tubuh Guntur yang belum memakai kaosnya. Tubuh Guntur terlihat


kokoh dengan beberapa otot di lengan dan perutnya. Rambutnya yang masih basah,


membuat Guntur terlihat seksi. Guntur mendekati Anisa, ia membantu membawakan


teko air minum.


Anisa : “Ibu tadi manggil, kita kan belum makan malam. Ayo, kita makan.”


Mereka makan malam dulu berdua disertai obrolan


ringan mengenang masa mereka waktu sekolah dulu. Usai makan, Guntur membawa


piring kotor keluar dari kamar mereka dan rasa gugup kembali menyerang Anisa.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).