Duren Manis

Duren Manis
Rindu Om


Hari-hari sebagai mahasiswa mulai dijalani Rara


dan Mia, karena masih semester awal, mereka bisa kuliah di kelas yang sama. Tugas-tugas kampus dan tugas organisasi membuat


hari-hari mereka sangat sibuk.


Rara terlihat kelelahan mengatur waktunya kuliah dan juga menjaga


kedua adiknya. Pasalnya si kembar sedang sibuk mengikuti ospek SMA dan tidak


mungkin membiarkan nenek mengurus mereka sendiri.


Sore itu setelah mengumpulkan tugas, Mia mengantar Rara pulang. Mereka


memilih membawa motor untuk alat transportasi agar bisa lebih cepat dan


praktis.


Sampai di rumah Rara, si kembar baru saja pulang. Mereka melihat Mia


dan langsung memeluknya, menangis karena sangat lelah. Mia diapit si kembar


masuk ke dalam rumah mereka.


Mia : “Kalian mandi dulu dan ganti baju ya. Nanti kakak bantu buat


tugas ospeknya.” Rio dan Riri berjalan ke lantai 2.


Rara : “Kak Mia gak capek? Aku aja capek banget loh.”


Mia : “Capek dikit, abis mandi juga seger lagi.”


Rara : “Kakak mandi dulu sana, ada baju ganti di lemariku. Aku mau


rebahan bentar.”


Mia : “Ok.”


Mia naik ke lantai 2, bergantian mandi dengan si kembar. Ketika mereka


turun dari lantai 2, terlihat Rara sudah tertidur di sofa ruang keluarga. Mia mencoba


membangunkannya agar Rara mandi dulu.


Mia : “Ra.. Rara, bangun… Mandi dulu…”


Rara menggeliat, memicingkan matanya dan naik ke lantai 2.


Mia : “Nah, mana tugas kalian?”


Mario dan Marie mengeluarkan lembaran tugas yang harus mereka


kerjakan. Mia mulai membagikan tugas yang bisa mereka kerjakan duluan agar


cepat selesai. Sesekali Mia memijat pundak si kembar agar lebih semangat


mengerjakan tugasnya. Rara yang sudah mandi, ikut bergabung dengan mereka.


Tepat jam makan malam, Mario dan Marie merenggangkan tubuh mereka,


tugas mereka tinggal sedikit lagi.


Mario : “Wah, kalau gak dibantu sama kakak, gak bakalan cepet kelar


dan kita harus begadang lagi dech.”


Marie : “Iya nich, malam ini bisa tidur lebih awal.”


Suara Marie terdengar lemah, wajahnya juga pucat. Mia mengulurkan


tangannya menyentuh dari Marie yang panas. Anak itu demam karena kelelahan.


Mia : “Kamu demam, Ri. Ayo, makan dulu sekarang ya. Rara punya obat


penurun panas?”


Rara : “Ada di kulkas, kak. Ayo, makan dulu Ri.”


Mia : “Rio, makan juga ya habis itu minum vitamin.”


Mario malah menggelayut manja pada Mia, ia ingin Mia menyuapinya


makan. Mia ikut bergabung di meja makan, ia sibuk menyuapi Mario sementara Rara


menyuapi Marie.


Ketika sedang makan, Mia baru menyadari kalau nenek tidak ada di


rumah,


Mia : “Loh, nenek kemana?”


Rara : “Nenek sama papa lagi ke kota S, jenguk tante yang lagi sakit.


Papa juga ada meeting bisnis disana. Uda dari kemarin perginya, katanya sich


mau balik hari ini, tapi gak tau kenapa belum sampai juga.”


Mia hanya mengangguk, ia sedikit merindukan Alex. Bukan sedikit sich,


tapi sangat merindukan Alex. Sudah hampir 1 bulan mereka gak ketemu meskipun


Mia sering datang ke rumah Rara. Apakah malam ini mereka akan bertemu?


-------


Sementara itu Alex sedang menyetir mobilnya memasuki gerbang kota Y. Kemacetan


panjang membuatnya mengerem, sepertinya ada system buka tutup membuat kemacetan


panjang di satu sisi jalan. Nenek sudah tertidur di samping Alex, terlihat


lelah sekali.


Pikiran Alex mulai melayang mengingat Mia, betapa ia merindukan gadis


manis itu. Sambil menunggu jalanan lancar, Alex membuka HP-nya, melihat


foto-foto Mia yang seksi. Matanya yang lelah kembali bersemangat, entah kenapa


ia ingin secepatnya sampai di rumah.


--------


Mario dan Marie berjuang menyelesaikan tugas mereka sebelum jam 10


malam. Setelah selesai, Rara membawa Marie ke kamar agar dia bisa istirahat.


Mia masih duduk di ruang keluarga karena ia melihat tugas Marie ada yang


terlewat sedikit, sepertinya anak itu sudah mengantuk karena pengaruh obat


penurun panas.


Mario yang masih mengemasi tugasnya ke dalam tas, memperhatikan Mia


yang tekun mengerjakan tugas Riri.


Mario : “Kakak istirahat dulu, biar Rio yang selesaikan tugas Riri.”


Mia : “Dikit lagi selesai kok, tidur duluan sana. Besok kan harus


bangun pagi-pagi. Ini aja kan? Sudah selesai semua?”


Mia : “Iya.”


Tinggallah Mia sendiri di ruang keluarga, mb Minah sudah beristirahat


dan Rara sepertinya sudah ketiduran juga sambil menjaga Riri.


------


Jam 11 malam, deru mobil Alex memasuki halaman rumah. Alex turun dari


mobil dan melihat lampu ruang depan masih menyala. Ia pikir mungkin


anak-anaknya belum tidur karena banyak tugas. Pelan-pelan Alex membangunkan


ibunya,


Alex : “Bu, kita sudah sampai.”


Ceklek! Pintu depan terbuka, Mia berjalan menghampiri mereka.


Alex : “Mia kok disini?”


Mia : “Iya, om. Tadi bantuin si kembar buat tugas, sampai lupa waktu.


Ayo, nek.”


Mia menuntun nenek yang sedikit pusing karena tidurnya tidak nyaman,


masuk ke dalam rumah sampai ke kamar. Setelah membantu nenek berbaring, Mia


menyelimuti nenek dan keluar kamar.


Alex tampak kerepotan membawa barang-barang mereka masuk ke dalam


rumah. Mia melihat ada oleh-oleh yang harus masuk kulkas dan meletakkannya di


dalam sana.


Mia : “Ini tas nenek ya om?”


Alex : “Iya, biarkan saja disini. Biar mb Minah yang bereskan.”


Mia : “Saya bawa saja ke kamar nenek ya. Om sudah makan?”


Alex : “Sudah tadi, tapi sepertinya aku lapar lagi.”


Mia : “Bentar saya liat di dapur ada apa ya.”


Alex melihat Mia berjalan ke kamar nenek, masuk sebentar dan keluar


lagi mengambil air dari dispenser dan membawanya ke kamar nenek. Kemudian Mia


berjalan ke dapur, membuka kulkas dan melihat sisa lauk dan sayur makan malam


tadi masih ada.


Dengan cekatan Mia memanaskan makanan dan menghidangkannya diatas meja


makan. Gerakan Mia terhenti saat menyadari Alex sudah berdiri di belakangnya.


Lampu ruang depan dan ruang keluarga sudah mati, dan tersisa lampu dapur saja


yang masih menyala.


Bau sabun mandi tercium dari tubuh Alex yang baru selesai mandi, tubuh


Alex menghimpit tubuh Mia ke meja makan. Wajah Mia memanas, ia tidak berani


bergerak karena takut akan memancing birahi Alex.


Tangan Alex mulai nakal menelusuri pinggang Mia ke bawah, meremas


pahanya pelan. Alex mulai mencium tengkuk Mia, dengan tangan meraba perut dan


bawah ******** Mia. Menyadari situasinya semakin panas\, Mia mendorong tubuh Alex


dan ingin berjalan memutari meja


makan. Tapi Alex menarik tubuh Mia dan memeluknya.


Mia : “Om, nanti ada yang liat...” Mendengar bisikan


Mia, Alex segera menarik Mia masuk ke kamarnya.


Mia : “Gak disini juga, om.”


Alex : “Kamu gak kangen sama aku? Aku hampir gila


gak ketemu kamu, Mia.”


Mia : “Om, makan... dulu...”


Alex : “Cium aku...”


Mia : “Gak mau...” kata Mia sambil menggeleng.


Alex menunduk dan mencium Mia, menyudutkan Mia ke


dinding kamarnya. Tangan Alex menahan tangan Mia diatas kepalanya,


Alex : “Katakan kalau kau merindukanku.” Bisik


Alex sambil meniup leher Mia.


Mia : “...” Mia merasakan gigi Alex menggigit


kecil lehernya.


Alex : “Cepat katakan...”


Mia : “Alex... aku...kangen...”


Alex menghentikan aktivitasnya pada tubuh Mia, ia


menatap Mia yang menunduk dengan nafas ngos-ngosan. Malu dengan apa yang


terjadi barusan,


Alex : “Ayo, temani aku makan.”


Mia : “Iy... Iya.”


Alex makan dengan lahap, setelah sekian tahun


lamanya, ada seseorang wanita yang menemaninya makan. Wanita yang ia sayangi


dan cintai, wanita yang ia harapkan akan jadi pendampingnya kelak.


-------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini,


jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan


IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------