
DM2 – Rahasia apa
Gadis tersenyum penuh arti pada Rio. Mereka
menghabiskan malam yang dingin dan sepi dengan saling berpelukan satu sama
lain.
-------
Seminggu kemudian, di kantor Alex.
Rio sudah kembali bekerja bersama Romi.
Melda juga masih bekerja di kantor Alex. Identitasnya belum diketahui siapapun
di kantor itu kecuali oleh X. Tapi Melda sudah membuat perjanjian dengan X,
untuk menyimpan rahasianya itu. X ingin berkencan lagi dengan Melda seperti
dulu. Melda terpaksa mengikuti kemauan X itu.
Rio mengalihkan pandangannya saat melihat
Melda sedang memakai lisptiknya. “Mau kemana, Mel?”tanya Rio kepo.
“Ada dech. Mau tau aja.”jawab Melda malas.
Melda ada janji kencan hari ini dengan X.
Pria itu akan menjemputnya sepulang kerja sebentar lagi.
“Mau kencan ya?”kejar Rio sambil
cengengesan.
“Bocah gak usah kepo.”desis Melda judes.
“Ngatain aku bocah lagi. Gini-gini udah
jadi papa. Wek.”
“Pamer. Ntar lagi aku juga punya anak.”kata
Melda gak mau kalah.
“Sama sapa? Tuyul?”gelak Rio mengejek Melda
yang ia tahu masih jomblo. “Hati-hati jadi perawan tua, loh.”
“Bacot, bocah asem!”sungut Melda.
Romi yang berada di dekat mereka, langsung
pasang mode mute. Mending gak didengerin karena berisik. Sejak mereka berdua
berkenalan di kantor Alex, keduanya langsung akrab. Melda menganggap Rio
seperti adiknya sendiri. Ia tidak segan mengumpat pada anak bosnya itu kalau
mereka sedang berdebat. Rio juga tidak segan mengejek Melda.
Mereka berdua menoleh ketika Alex keluar
dari ruangannya. “Mel, ayo ikut.”ajak Alex sambil berjalan ke ruang meeting.
Romi juga bangkit menyusul Alex dan Melda meninggalkan Rio yang bingung
sendiri.
“Ada apaan sich?”tanya Rio sendirian.
Alex mengungkap suatu temuan kalau proyek
yang mereka kerjakan bersama perusahaan Arnold, dicurangi nilainya. Entah itu
berasal dari perusahaan Alex atau perusahaan Arnold. Yang jelas nilai yang
tercantum pada anggaran proyek itu jauh berbeda dari yang seharusnya.
Alex meminta Melda dan Romi membantunya
mencari tahu siapa dalangnya. Jelas mereka akan lembur hari ini. Melda
membayangkan wajah kesal X nanti saat ia memberitahunya kalau kencan mereka
batal.
Arnold dan Ilham juga datang ke perusahaan
Alex. Mereka menyapa Rio sebelum berjalan ke ruang meeting.
“Hai, Rio. Papa mana?”tanya Arnold.
“Hai, kak. Ada di ruang meeting. Ada apa
sich, kak?”tanya Rio kepo.
“Ada yang mau dibahas. Kesana dulu ya.
Jangan pulang telat.”kata Arnold.
Rio mulai jengkel, papanya main rahasia
dengannya. Ia melihat Melda keluar dari ruang meeting, kembali ke mejanya.
“Mel, ada apaan sich?”tanya Rio.
“Kamu belum pulang?”tanya Melda balik.
“Dih, gimana sich. Aku nanya malah ditanya
balik.”kata Rio manyun.
“Tambah memble tuch bibir. Manyun terus.
Pulang sana.”usir Melda.
“Serius nich. Ada masalah ya? Sampe kak
Arnold juga dateng.”
Melda hanya mengangguk, X menelponnya
menanyakan apa dirinya sudah siapa atau belum. X sudah menunggu di lobby kantor
Alex.
“Aku gak bisa pulang sekarang. Masih sibuk
meeting. Kamu pulang aja dech.”kata Melda membuat X kesal.
“Aku naik sekarang.”Telpon dimatikan tanpa
sempat Melda menahan X.
“Mel, bilang dong. Masalah apaan?”tanya Rio
masih mengejar Melda.
“Tanya papamu ntar di rumah. Sana pulang
Rio mengalah, kalau sampai tidak ada yang
mau cerita, kemungkinannya masalahnya masih belum jelas atau sangat genting. X
yang sudah sampai di lantai kantor Alex, segera mendekati Melda.
“Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba
lembur?”tanya X sambil menarik tangan Melda. Dipeluknya pinggang wanita itu
dengan erat. Melda tidak sempat menghindar saat X tiba-tiba menciumnya.
“Mmmppp... lepasin.. kamu gila! Ntar ada
yang liat.”kata Melda kesal.
Mata Melda tertuju pada sosok pria di depan
mereka. Rio masih berdiri di depan ruangannya. Seringai jahat dan tanduk setan
keluar dari kepala Rio. Tatapan tajam Rio membuat Melda merinding.
“Oo.. kamu ketahuan.”kata Rio. “Hai, kak X.”
“Oh, kamu masih inget aku ya.”saut X.
“Ya dong, kak.”
“Rio, aku bisa jelasin. Gak seperti apa
yang kamu bayangin. Kami gak ada hubungan apa-apa.”kata Melda cepat.
“Oh gitu ya. Jelas-jelas aku lihat kalian
ciuman. Masih bilang gak ada hubungan, sudah berapa lama kalian pacaran?”tanya
Rio curiga.
“Baru aja.”jawab Melda.
“Udah lama.”jawab X gak kompak.
“Noh! Ketauan kan. Cepetan bilang ada
masalah apa tadi di ruang meeting atau aku adukan kalian ke papa sama ke om
Ilham.”ancam Rio.
“Jangan!”cegah Melda yang tidak ingin
siapapun tahu hubungannya dengan X.
Kalau sampai ketahuan oleh Ilham dan Alex, semua
orang akan tahu kalau mereka sudah kenal lama. Dan pekerjaan yang diberikan
Endy akan segera ketahuan. Melda terpaksa memberi tahu Rio tentang temuan yang
dikatakan Alex tadi.
“Kenapa papa gak ajak aku juga
meeting?”tanya Rio lagi.
“Kamu baru sembuh. Gadis juga perlu
perhatianmu, kan. Belum saatnya kamu terlalu fokus sama kantor. Makanya pak
Alex gak cerita. Tapi please jangan kasi tau hubungan kami ya.”pinta Melda.
Rio mengangguk. “Aku gak janji ya. Makanya
jangan coba-coba bohong sama aku lagi. Pake sok gak mau cerita lagi.”
“Kasi tau juga gak pa-pa, kok. Biar
rame.”saut X. Melda melotot padanya. “Kamu kalo melotot gitu tambah cantik
ya.”gombal X.
Rio jadi eneg melihat kebucinan X pada
Melda. “Ya, udah. Aku pulang duluan dech. Kalian jangan mesum disini ya.”kata
Rio sambil memeletkan lidahnya pada Melda.
Melda balik mencibir Rio. Ia menepis tangan
X yang kembali ingin memeluk pinggangnya. “Pulang sana. Kamu ngapain malah naik
kesini?”
“Aku kan lagi tugas. Wajib mengawal suami
Ny. Bianca.”saut X menaik-turunkan alisnya. Melda menatapnya kesal.
“Sana duduk jauh-jauh. Jangan ganggu aku.”usir
Melda.
“Kamu berani ngusir aku. Kamu lupa
perjanjian kita, kamu harus nurut sama aku atau kubongkar rahasiamu.”ancam X.
Melda terdiam. Ia belum ingin pergi dari
sini. Dirinya sudah terlanjur nyaman bekerja di kantor Alex. Semua orang
seperti keluarga disini. Belum lagi kalau Mia datang membawa bekal makan siang
untuk Alex, Mia akan mengundangnya makan bersama juga.
Sempat Melda ingin mengatakan kebenaran
pada Alex, tapi ia takut diusir dari sana. Lebih takut lagi kalau sampai Endy
murka. Melda jadi serba salah, ia sangat tersiksa bersama X. Lebih tepatnya
takut terluka lagi. Dulu hubungannya dengan X terlalu dalam sampai ia takut
menjalin hubungan dengan pria lain setelah berpisah dengan X.
“Rahasia apa?”
Deg! Melda dan X menoleh menatap Rio yang
sudah berdiri di depan mereka lagi. Padahal jelas-jelas Rio sudah masuk ke
dalam lift tadi. Wajah Melda memucat, alasan apa yang harus ia katakan
sekarang.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.