
DM2 – Jujur atau...
Alex bisa melihat dari CCTV dan kamera
video yang dipasang di dekat mejanya kalau Melda memang hanya mencari map merah
dan membukanya. Ketika Melda menelpon Alex lagi untuk bertanya warna map-nya,
Alex mengatakan kalau ia sudah membawanya di tasnya. Melda langsung merapikan
kembali dokumen itu ke laci meja Alex.
Seharian itu Melda hanya sendirian di
kantor. Ia punya banyak kesempatan untuk membongkar meja Alex dan meja Romi
untuk mengambil dokumen rahasia perusahaan Alex. Tapi Melda lebih banyak
menghabiskan waktunya duduk di depan laptop. Makan siang juga ia lakukan di
mejanya sambil menjawab telpon masuk.
Alex, Rio dan Romi tersenyum saat mendengar
Melda bicara di telpon dengan X. Sepertinya X sedang merayu Melda sampai Melda
terlihat salah tingkah dan berkali-kali mengatakan iya dengan mesra.
“Sepertinya tidak apa-apa. Tapi kita harus
tanyakan langsung padanya. Kau siap?”tanya Alex pada Rio.
“Ya, pah. Rio kesana sekarang.”kata Rio
beranjak dari ruang meeting di lantai bawah kantor Alex. Mereka bertiga bekerja
di ruangan itu sementara sambil memata-matai Melda. Rio kembali ke ruang
kerjanya. Melda menyapanya sekilas dan lanjut kerja.
“Mel, bisa ikut bentar. Aku mau
bicara.”kata Rio sambil membawa sebuah amplop coklat.
Melda yang mendengar kata-kata Rio
terdengar serius, ia mengikuti pria itu masuk ke ruang kerja Alex. Setelah
mereka duduk di sofa, Rio menyerahkan amplop itu pada Melda.
“Bukalah.”pinta Rio melihat Melda
menatapnya.
Melda membuka amplop itu dan melihat
fotonya dengan pakaian body guard dan juga detail tentang identitasnya yang
sebenarnya. Namanya memang Melda, tapi sesungguhnya dia adalah body guard yang
disusupkan Endy untuk memberikan informasi mengenai Kaori.
“Kamu sudah tahu.”kata Melda tenang. Ia
sadar cepat atau lambat kebenaran tentang dirinya juga akan terbongkar.
“Aku kaget, Mel. Aku kira kamu bukan orang
seperti itu.”kata Rio.
“Tepatnya orang seperti apa, Rio? Apa
selama aku disini, ada sesuatu yang buruk terjadi pada perusahaan ini? Pada
kalian, pada Kaori? Aku hanya dikirim kesini untuk menjaga perusahaan pak Alex
tetap berjalan normal.”
“Apa kau jujur atau...”
“Aku bersumpah atas nama suamiku. Aku sudah
tidak punya orang tua. Aku hanya menjalankan tugasku.”kata Melda tanpa ragu.
“Apa maksud Endy mengirimmu kesini? Apa
untungnya buat dia kalau perusahaan papa tetap berjalan normal?”tanya Rio.
“Semua demi nona Kaori. Tuan Endy tidak mau
perusahaan ini bangkrut dan membuat nona Kaori menderita selama hidupnya. Tentu
saja kalian tidak akan mau menerima uang bulanan kiriman tuan Endy. Ini hanya
satu-satunya cara untuk bisa menjaga nona Kaori. Tapi aku akan berhenti jadi
mata-mata untuk tuan Endy. X sudah memintaku berhenti.”kata Melda sendu.
Rio menghela nafasnya, sulit percaya kalau
wanita yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri itu ternyata seorang
mata-mata.
“Selama kita kenal, apa semua yang kau
lakukan itu palsu? Hanya pura-pura?”tanya Rio.
“Nggak. Jujur, aku sangat puas bisa memaki
dan mengumpat padamu waktu kita bertengkar. Aku tidak punya saudara. Terima
kasih sudah memberiku kesempatan merasakan jadi seorang kakak.”
“Kau itu kakak yang jahat.”kata Rio.
“Terima kasih atas pujiannya.”kata Gadis.
Keduanya tersenyum satu sama lain. Tring!
Tring! Ponsel Melda berbunyi. Telpon dari Endy. Melda menjawabnya di depan Rio.
Endy meminta Melda menghadap padanya sekarang juga. Melda bangkit dari
duduknya, ia hampir keluar dari ruang kerja Alex.
“Kau mau pergi?”tanya Rio.
“Ach, ya. Aku mungkin gak bisa kembali
kesini karena misiku sudah ketahuan. Terima kasih, Rio. Sampaikan salamku pada
Gadis. Pak Alex dan pak Romi juga. Selamat tinggal.”
kalimatnya. Melda berbalik menghadap padanya. “Kalau kau bisa kembali,
bergabunglah dengan kami. Aku masih memerlukan seorang sekretaris. Kita bisa
review ulang kontrak kerjamu.”kata Rio sambil cengengesan.
“Dasar bocah asem!”bentak Melda sebelum
keluar dari ruang kerja Alex.
Melda mengemasi barangnya, ia berpapasan
dengan Alex dan Romi saat menunggu lift terbuka. Melda hanya tersenyum pada
keduanya, sebelum masuk ke dalam lift. Lift itu membawa Melda turun sampai ke
lobby kantor tempat taksi online sudah menunggunya disana. Sebelum pergi, ia
menyempatkan melihat ke kantor Alex dan tersenyum.
Kembali ke lantai paling atas kantor Alex.
Rio, Alex, dan Romi duduk bersama di ruang kerja Alex. Mereka membahas mengenai
Melda. Kepergian Melda sama saja dengan kehilangan salah satu anggota tubuh.
Masing-masing dari mereka teringat bagaimana Melda selalu bisa membantu mereka
dalam pekerjaan.
“Apa aku perlu cari sekretaris baru?”tanya
Romi.
“Nggak usah. Kita kerjakan seperti biasanya
saja.”saut Alex.
“Hilang deh waktu liburku.”saut Romi.
“Kamu gimana, Rio?”tanya Alex.
Rio mengatakan kalau boleh memilih, ia
lebih memilih Melda kembali bekerja bersamanya. Ketiganya menarik nafas panjang
bersamaan merasakan penatnya hari ini.
*****
Melda segera menghadap ke mansion Endy. Ia
tampak berdiri di hadapan Endy dengan sikap tegak sempurna. Sebuah pemecetan
dengan tidak hormat harus diterima Melda. Ia membungkuk sejenak pada Endy
sebelum berjalan keluar dari mansion itu.
Setelah pergi dari kantor Alex dan sekarang
dipecat dari Endy. Melda melempar tasnya ke sofa ketika ia sudah sampai di
apartment X lagi.
“Fix, pengangguran!”teriak Melda kesal.
Ia mengambil ponselnya, menelpon X yang
saat itu sedang dalam perjalanan pulang. X mengatakan kalau dia akan segera
sampai dan meminta Melda untuk mandi dulu. Melda melakukan apa yang diminta X,
lagipula ia tidak ada kerjaan juga.
Ketika ia keluar dari kamar mandi, X baru
saja masuk ke kamar itu. Melihat X, Melda langsung memeluknya.
“Aku dipecat.”keluh Melda.
X tersenyum, ia mengatakan kalau X sudah
mencarikan pekerjaan untuk Melda. Ia menyerahkan sebuah amplop coklat pada Melda.
Tapi sebelum Melda sempat membukanya, X sudah menggendongnya lalu
menjatuhkannya diatas ranjang mereka.
“X, aku mau makan dulu ya. Laper banget
nich.”pinta Melda.
“Ya, ayo makan.”ajak X.
X mengambil bungkusan makanan yang sempat
ia beli tadi sebelum pulang. Melda mengambil piring dan gelas berisi air minum.
“Kalau kau mau masak sendiri, kita harus belanja. Aku jarang makan di rumah,
paling pesan antar aja.”jelas X.
“Ya, sama. Aku gak bisa masak juga. Paling
goreng telur.”saut Melda.
X membukakan bungkusan makanan untuk Melda, lalu
meletakkan piring itu ke depan Melda. Mereka mulai makan bersama sambil sesekali ngobrol.
“Apa kamu selalu pulang jam segini?
Setahuku kerjaan itu gak selalu bisa pulang on time.”kata Melda.
“Aku memang harusnya masih kerja, tapi aku
ijin pulang duluan untuk jemput kamu.”saut X.
Melda tidak menyahut lagi, ia mengambil
amplop coklat yang tadi diberikan X. Saat ia mulai membacanya sambil meminum
air, Melda tidak sengaja menyemburkan air di mulutnya ke samping. Untung saja X
gak kena.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.