Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Sebuah cincin


DM2 – Sebuah cincin


“Sini, sayang. Biar aku memuaskanmu dulu.”kata


Rio sambil membaringkan Gadis.


“Jangan lama-lama, Rio. Waktu makan malam


hampir tiba.”


Rio mengangguk, kali ini melakukannya lebih


cepat. Tubuh Gadis tersentak perlahan saat Rio memasukinya lagi dan lagi.


“Kalau terasa sakit, bilang ya. Jangan


memaksakan dirimu, Dis.”pinta Rio.


Gadis mengangguk. Nafas keduanya tak


beraturan saat permainan mereka akhirnya selesai. Rio memeluk tubuh Gadis,


menciumi wajahnya yang berkeringat.


“Kau membuatku gila, sayang. Rasanya sangat


nikmat.”bisik Rio.


“Kamu juga tetap perkasa, sayang. Aku mau


lagi...”bisik Gadis terpancing. Hormon kehamilannya membuatnya ketagihan


sentuhan Rio. Ia mengingat apa yang tadi dilakukannya untuk menggoda Rio dan


akhirnya malu sendiri. Gadis memeluk tubuh Rio, menyembunyikan wajahnya di dada


Rio.


“Kenapa, sayang? Apa kau malu? Gak pa-pa kalau


kamu minta duluan. Aku selalu siap memuaskanmu.”bisik Rio semakin membuat Gadis


malu.


Tok, tok, tok... Pintu diketuk seseorang,


Rio langsung menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua yang polos.


“Rio, Gadis. Ayo ma...kan. Hais, lupakan


saja.”kata Mia memergoki mereka berpelukan di bawah selimut. Ia jadi malu


sendiri lalu menutup pintu kamar lagi. “Kunci pintunya kalau kalian lagi


gituan!” teriak Mia sebelum pintu tertutup sempurna.


“Hadeh, kenapa juga aku harus membuka pintunya tanpa


menunggu mereka yang buka pintu.”gerutu Mia malu sendiri.


Rio nyengir jahil ketika melihat pintu


tertutup lagi. “Hehe... kamu lupa kunci pintu ya. Nggak sabaran banget.”


“Sapa suruh kamu cuma handukan doang. Pake


mancing segala lagi.”balas Gadis. “Jadi weekend kita piknik?”


“Eh, kayaknya ada yang belum kelar tadi.” Rio


celingukan mencari ponselnya, “HP-ku mana ya?”


Gadis mengambil ponselnya sendiri lalu menelpon


ke ponsel Rio yang berbunyi di bawah ranjang. Rio mengambil ponselnya dan


membuka chat dengan Melda.


“Mampus! Bisa salah paham nich kalo gini.”kata


Rio membuat Gadis penasaran dan ikut membaca chat Rio dengan Melda.


Gadis menoyor pipi Rio, “Bukan salah paham


lagi tapi perang dunia. Tuch kalo dibaca kak X gimana? Cepetan bales lagi.”


“Ehe, kamu sich nyerang duluan tadi. Eh,


kamu belajar darimana yang kayak tadi?”tanya Rio sambil mengetik chat.


“Belajar sendiri lah. Waktu kamu masih


sakit, aku mulai coba-coba. Jadi juga dua sekaligus lagi.”kata Gadis mengelus


perutnya.


Rio mengetik chat dengan cepat dan


mengirimkannya. Ia mengatakan kalau maksudnya mereka double date sama Kaori


juga. Weekend ini piknik di tempat yang ingin dikunjungi Gadis. Rio meminta


Melda mengajak X juga. Untuk bekal mereka, nanti Gadis yang siapkan dari rumah.


Melda dan X cukup datang saja ke tempat yang sudah mereka tentukan.


Melda yang masih mendengarkan kata-kata X,


menoleh melihat ponselnya yang berbunyi terus. Ia mengambil ponsel itu,


membukanya di hadapan X. Melda menunjukkan pada X kalau chat yang tadi hanya


salah paham dan maksudnya ia ingin mereka double date.


Melda memicingkan matanya ketika X bilang


kalau dia bisa datang. X mencoba meyakinkan Melda kalau ia akan datang


menjemputnya di kostnya saat weekend nanti. Tapi Melda memilih berangkat dengan


Gadis dan Rio saja dan menunggu X di tempat piknik mereka.


“Kenapa?”protes X.


“Daripada kamu telat atau malah gak dateng.


Mending aku berangkat sama Rio. Toh, tujuannya sama dan tempat kost-ku juga


deket sana, kan.”balas Melda.


X terdiam. Rupanya Melda masih belum lupa


kalau dirinya sering ingkar janji dulu. Setelah membalas chat dari Rio dan


mengatakan kalau dirinya akan ikut berangkat bersama Rio dan Gadis, Melda


meletakkan ponselnya lagi. Ia mengambil makanan yang masih ada di atas meja,


“Mel, suapin dong.”pinta X.


“Makan sendiri kan bisa.”balas Melda.


X menyusupkan tangannya masuk ke balik kaos


Melda. Darahnya berdesir merasakan lembutnya lingerie yang menutupi perut


Melda. Melda merasakan sesuatu mulai bergerak di belakang tubuhnya. Ia bergeser


sedikit dengan wajah merona. Melda berpura-pura tidak merasakan apa-apa,


setidaknya kalau ia tidak terpancing, X tidak akan berani berbuat lebih.


X semakin berani meraba sampai ke bagian


depan tubuh Melda. “X, jangan pegang disitu.”kata Melda memperingatkan X agar


berhenti.


Melda meletakkan piring di tangannya, ia


memaksa bangun dari duduknya. Melda beranjak ke dapur, ia ingin mengambil air


minum. X mengikuti Melda yang sedang minum air. Ia memeluk Melda dari belakang.


Hasratnya sudah menenggelamkan akal sehatnya. Ia merindukan Melda setelah


bertahun-tahun mencari wanita pujaannya itu.


Melda yang terus dikejar X, terus


menghindari pria itu. Mereka berkejar-kejaran di dalam apartment X sampai


apartment itu berantakan.


“X, jangan mendekat lagi. Aku serius.”ucap


Melda saat merasakan nafasnya mulai tertahan.


“Melda, aku ingin kamu.”rayu X.


Grep! X memeluk Melda dengan erat. Ia


mengangkat tubuh Melda masuk ke kamarnya. Bruk! Dilemparnya tubuh Melda sampai


terjerembab ke atas ranjangnya.


“X! Kamu dah gila ya!!”bentak Melda. Melda


mengambil bantal, bersiap menimpuk X agar tidak mendekatinya. “Aku gak mau


nglakuin itu. Jangan berani mendekat lagi!”ancam Melda mengambil jam di atas


nakas juga.


X yang melihat penolakan Melda, malah


berjalan ke lemarinya. Ia mengambil sesuatu dari dalam sana. Tibat-tiba X


berbalik, langsung berlutut di depan ranjangnya.


“Melda, aku ingin menebus semua kesalahanku


dulu sama kamu. Maukan kau menikah denganku?”


Melda menutup mulutnya yang ternganga


melihat X berlutut dengan sebuah cincin di tangannya. Ia mengucek matanya sebentar


meyakinkan dirinya kalau itu bukan mimpi. Bahkan dulu saat Melda menginginkan


menikah dengan X, pria itu tidak merespon sama sekali keinginannya. Sekarang X


tiba-tiba melamarnya kali ini dengan sebuah cincin.


Melda mendekat dengan cepat merebut cincin


itu. Ia melihat dengan detail cincin yang tampak mahal itu. X sampai bingung


dibuatnya.


“Cincinnya asli kok. Aku beli waktu harga


emas lagi bagus. Cuma buat kamu.”kata X.


“Kalau aku dah nikah sama orang lain,


cincin ini mau kamu apain?”tanya Melda masih belum bisa meyakinkan dirinya


untuk menerima X lagi.


“Aku jual lagi, lah. Ngapain nyimpen barang


begituan.”saut X keceplosan.


Melda cemberut, ia mengulurkan cincin itu kembali


ke tangan X. “Nich, jual lagi sana. Aku mau nikah sama orang lain aja.”saut Melda.


“Apa?! Nikah sama siapa?!”kata X tiba-tiba


merangsek menubruk Melda sampai mereka terjatuh diatas ranjang.


“Terserah sama siapa. Jauh sana!”kata Melda


mendorong-dorong tubuh X.


X menahan tangan Melda diatas kepalanya. Ia


langsung mencium bibir Melda sambil menarik paksa penutup tubuhnya. Melda


meronta-ronta minta dilepaskan tapi X sudah terlanjur kalap. X menyentuh hampir


seluruh tubuh Melda membuat wanita itu menangis.


“Katakan kau mau menikah denganku.”bisik X


setelah ia memberi tanda cinta di beberapa bagian tubuh Melda yang tidak akan


bisa ia sembunyikan.


Melda tidak menjawab, ia masih sibuk


menangis. X melepaskan tangannya dari Melda, ia duduk di samping wanita itu. “Dengar,


kita menikah saja ya. Aku akan menjagamu. Umur kita sudah gak muda lagi, masa


kamu mau sendirian terus.”


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.