Duren Manis

Duren Manis
Jalani bersama


Arnold terus melamun tanpa menyadari kalau mereka sudah sampai di basement apartment. Rara keluar mobil duluan, ia memanggil Arnold yang masih duduk di dalam mobil.


Rara : "Mas? Mas Arnold. Ayo keluar."


ArnoldΒ  tersadar dan segera mengejar Rara yang hampir masuk ke dalam lift. Rara masih diam saja, membuat Arnold semakin tidak tenang.


Sesampainya mereka di apartment, Rara melempar tas di tangannya ke atas sofa dan berbalik menghadap Arnold.


Ia melepaskan flat shoes-nya dan berjalan cepat mendekati Arnold. Arnold terdorong ke belakang sedikit, saat Rara tiba-tiba menciumnya.


Arnold : "Ra...?"


Rara tidak berhenti menciuminya sampai mereka berdua tersengal-sengal diatas sofa.


Arnold : "Kamu kenapa, Ra?"


Arnold terkesiap melihat wajah Rara yang dipenuhi air mata. Ia ingin memeluk Rara tapi istrinya itu mulai melangkah menjauhinya.


Rara : "Mas, bilang yang sebenarnya. Apa akibat operasi itu?"


Arnold : "Kamu uda denger dokter bilang apa kan?"


Rara : "Aku merasa ada sesuatu yang gak bener disini. Mas menyembunyikan sesuatu."


Arnold : "Aku gak bohong, Ra. Itu dokter yang bilang, kemungkinannya aku bisa lumpuh."


Rara : "Kalau itu yang sebenarnya, kenapa mas alihkan semua aset mas atas nama aku? Apa maksud mas?"


Arnold : "Aku sudah jelasin waktu kamu tanda tangan kan?"


Rara : "Mas bohong!! Mas mau ninggalin aku kan??!!"


Arnold menahan tangan Rara yang mulai emosi. Ia tidak ingin Rara menyakiti dirinya dan anak mereka.


Arnold : "Sayang, kamu harus tenang. Inget anak kita."


Rara perlahan mulai berhenti menangis. Ia memegangi perutnya yang sedikit nyeri karena terlalu tegang.


Arnold yang melihat Rara memegangi perutnya langsung berlutut dihadapan Rara dan memeluk pinggangnya.


Arnold : "Maafkan aku, Ra. Aku egois."


Arnold menangis dengan sangat menyedihkan. Rara memeluk kepala Arnold, keduanya menangis bersama-sama.


🌚🌚🌚🌚🌚


Rara membuka matanya yang terasa berat. Ia masih sangat mengantuk, tapi panggilan alam tidak bisa ia lewatkan.


Perlahan ia bangun dari atas ranjang dan berjingkat ke kamar mandi. Setelah menuntaskan hasrat ingin pipis, Rara masuk ke dalam shower.


Ia mandi besar membersihkan seluruh tubuhnya yang berkeringat karena Arnold. Usai puas bertangis-tangis ria, keduanya saling pandang dan berakhir dengan kemesraan diatas ranjang.


Rara mematikan air shower, ia mengeringkan tubuhnya dan berjalan keluar kamar dalam keadaan masih sedikit basah.


Ketika melewati cermin di dekat lemari, Rara melirik perutnya yang masih rata. Ia mengelus perutnya sambil tersenyum manis.


Rara : "Nak, kamu lagi ngapain?"


Arnold : "Lagi liatin mama cantik."


Rara : "Hii.. maaas... ngagetin aja. Kirain beneran bayinya ngomong gitu."


Arnold : "Belum bisa kali, kan kata dokter masih sebesar biji kacang hijau."


Rara melihat Arnold menatapnya dengan intens. Ia segera memakai pakaiannya dan lanjut mengeringkan rambutnya.


Arnold berjalan mendekati Rara, ia mengambil handuk yang dipakai Rara dan membantunya mengeringkan rambut.


Arnold : "Sayang, jangan sampai masuk angin."


Rara merasakan tengkuknya dicium Arnold. Getaran aneh perlahan merayap di sekujur tubuh Rara.


Suaminya itu tahu dimana harus bermain untuk memancing libidonya. Rara menghentikan tangan Arnold yang mulai nakal lagi.


Ia masih mengantuk dan ingin tidur lagi. Rara mulai menguap lebar.


Arnold : "Sayang, kamu mau tidur lagi?"


Rara : "He-eh. Masi ngantuk, mas."


Arnold : "Makan dulu ya. Dedek bayi gak laper?"


Rara : "Males makan..."


Arnold : "Eh, gak boleh gitu. Tetep harus makan. Kamu harus selalu sehat, Ra."


Rara : "Gendut, maksudnya?"


Arnold : "Sehat, Ra. Bukan gendut. Sensi dech."


Rara : "Kalau aku jadi bulat kayak mama, mas masi suka?"


Arnold : "Mau jadi apapun, aku akan tetap selamanya sama kamu, Ra."


Rara : "Janji?"


Arnold : "Aku janji. Sekarang makan ya."


Rara : " Tapi suapin ya..."


Arnold memesan makanan untuk mereka, saat itu diluar apartment sana sedang mendung. Awan hitam menggantung sangat tebal dan langit gelap.


🌼🌼🌼🌼🌼


Glegaar!! Petir mulai menyambar menandakan hujan deras akan segera turun. Rio menghentikan mobilnya di depan sebuah bengkel dipinggir jalan raya.


Hari itu ia dan Kaori berjalan-jalan ke sebuah tempat rekresi di pinggir kota. Karena tempatnya lumayan jauh, mereka berdua sudah berangkat sejak subuh.


Sampai di tempat rekreasi itu mereka bersenang-senang berdua saja, mencoba semua wahana permainan yang sederhana tapi sangat menyenangkan.


Pemandangan disana juga sangat indah, Rio sampai menghabiskan memori ponselnya untuk mengambil foto Kaori dan dirinya.


Pulang dari sana setelah makan siang berdua di sebuah warung makan yang sederhana, dalam perjalanan pulang, Rio merasakan mobilnya agak aneh. Sesekali mobil tersendat terutama saat akan berhenti.


Ia ingat belum men-service mobilnya itu yang harusnya ia lalukan seminggu yang lalu. Karena tidak ingin perjalanan mereka kembali terhambat mobil mogok, Rio mencari bengkel disekitar sana.


Rio : "Kamu tunggu sini ya. Aku mau tanya montirnya dulu."


Kaori : "Iya."


Rio turun dari mobil, berjalan menghampiri mekanik yang sedang memperbaiki mobil di bengkel itu.


Rio : "Siang, pak. Bisa minta tolong cek mobil saya?"


Montir : "Kenapa mobilnya?"


Rio : "Sepertinya ada masalah sama radiatornya. Mobilnya belum diservice, pak."


Montir : "Ok, coba saya cek dulu."


Montir mendekati mobil Rio dan mengecek mobil itu dengan cepat. Ia mengencangkan baut-baut yang kendor dan membersihkan beberapa debu yang menempel di mesin mobil.


Montir : "Air radiatornya kurang, mas. Saya kerjakan sebentar lagi ya. Mesinnya masih panas."


Rio : "Disini ada tempat nunggu gak, pak?"


Montir : "Kalau mau duduk di sana tapi bentar lagi mau hujan, mas. Disebelah ada sich motel."


Rio melihat tempat yang ditunjuk montir itu sebuah bangku yang terletak di pinggir emperan. Kalau hujan mereka pasti basah. Tapi kalau ke motel, ntar Kaori berpikir dirinya mesum.


Rio berpikir sejenak, ada motel, mungkin ada tempat makannya juga. Mereka bisa menunggu sambil minum teh atau kopi. Ia menitipkan mobil pada montir itu dan mengajak Kaori ke sebelah bengkel.


Kaori melihat plang motel dan deretan kamar yang sedikit terlihat dari luar motel.


Kaori : "Motel? Kita ngapain kesini?"


Rio : "Nunggu mobil diperbaiki. Bentar lagi ujan, ntar kita basah kalau nunggu disitu."


Kaori : "Tapi gak ke motel juga, Rio. Gak ada tempat lain?"


Glegaarr!! Hujan langsung turun membasahi mereka berdua yang masih ngobrol di pinggir jalan. Rio menarik Kaori berlari masuk ke loby motel.


Sebagian pakaian mereka basah kuyup karena hujan turun dengan lebatnya. Kaori memeluk lengannya, ia tidak kuat dingin dan mulai bersin-bersin.


Rio merasa bersalah pada Kaori, ia membuka jaketnya dan memberikannya pada Kaori.


Rio : "Dingin ya?"


Kaori : "He-eh. Aku gak kuat dingin. Haattssyyuu...!"


Kaori menyedot ingusnya yang hampir meleleh keluar dari hidungnya. Ia bahkan tidak memperhatikan wajah Rio yang sedikit berjengit melihatnya melakukan itu.


Rio : "Bajumu basah tuch. Kita keringkan dulu ya."


Kaori : "Caranya?"


Rio : "Ntar ya, aku tanya mb disana."


Rio menunjuk wanita yang duduk di meja depan. Ia segera menghampiri wanita itu dan terlibat pembicaraan serius.


Tak lama Rio kembali. Ia membawa kunci di tangannya.


Rio : "Ayo, ikut."


Kaori menahan tangan Rio,


Kaori : "Mau kemana?"


Rio : "Ngeringin baju kamu."


Kaori : "Tapi... Haattssyuu...!"


Rio menarik tangan Kaori masuk ke salah satu kamar di motel itu.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲