
Extra part 57 Alan & Ginara
“Kamu lihat disini, aku sudah punya tempat tidur
dan lemari baju. Kamu perlu apalagi? Kita bisa memilih barang-barang yang kamu
suka,” kata Alan sambil menunjukkan kamarnya.
Alan membuka pintu kamarnya sampai terbuka lebar
agar Ginara bisa melihat dari luar. Akhirnya gadis itu melangkah masuk ke kamar
Alan. Ia melihat-lihat kamar yang masih cukup lowong itu.
“Di dekat jendela itu bagus ditaruh meja rias
dengan cermin yang besar. Di depannya gelar karpet bulu yang tebal trus kasih
bantal besar. Sinar mataharinya bagus untuk berjemur di pagi hari. Lemarinya
sepertinya kurang besar untuk baju kita. Apa kita boleh menggantinya? Di
samping tempat tidur harusnya ada sofa besar. Apa aku boleh pilih sofanya? Di
depan tempat tidur bisa ditaruh lemari kecil. Tapi buat apa ya? Disini kan
nggak ada TV. Gimana kalau kita isi TV? Aku suka nonton drakor,” tanya Ginara
mulai bicara tanpa jeda.
Gadis itu berbalik karena tidak mendengar jawaban
apa-apa, ia menatap Alan yang sudah tersenyum menatapnya. Ginara tercekat saat
melihat Alan berjalan mendekatinya lalu memeluk tubuhnya.
“A—Alan, tolong jangan...,” kata Ginara mulai
takut.
“Terima kasih. Makasih kamu sudah kembali ceria
seperti sebelumnya. Banyak bicara dan sangat cerewet. Aku senang sekali
mendengarnya,” kata Alan.
Ginara tersenyum manis dalam pelukan Alan, ia
tersentak saat tiba-tiba Alan melepaskan pelukannya dan berbalik dengan cepat.
“Maaf, aku terlalu berlebihan. Apa kamu takut sama
aku?” tanya Alan tanpa berani berbalik.
“Nggak. Aku senang, Alan. Maaf tadi aku sempat
kaget karena kamu tiba-tiba mendekat. Tapi aku percaya sama kamu,” kata Ginara.
Ina yang melihat kedatangan tamu, membawakan
minuman ke kamar Alan. Ia melirik ekspresi merona Alan dan Ginara, lalu
berdehem menanyakan mau ditaruh dimana minuman yang dibawanya. Alan bukannya
menyahut, malah melirik Ginara. Gadis itu meminta minumannya diletakkan di
lantai saja. Tanpa canggung, Ginara duduk di lantai. Ia melihat sekeliling
kamar sekali lagi.
“Kordennya nggak cocok ya. Eh, belum ada kordennya
ya?” tanya Ginara setelah memperhatikan jendela besar yang baru di tutupi
korden yang sangat tipis berwarna putih.
“Sekalian kamu pilih kordennya, Ra. Minum dulu.
Habis ini kita belanja,” kata Alan sambil mengambil segelas sirup berwarna
kuning itu.
“Belanja dimana?” tanya Ginara yang masih takut
bertemu orang lain.
Alan belum menjawab Ginara, pemuda itu menikmati
saat-saat berdua dengan gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
Keduanya memang tidak saling pandang, tapi perasaan mereka perlahan mulai
tertaut. Setelah diam yang menyenangkan, Alan beranjak membuka lemarinya. Ia
mengambil sesuatu dari dalam sana, sebuah laptop.
“Ayo, kita belanja, Ginara,” ajak Alan.
Ginara hampir berdiri tapi bingung melihat Alan
duduk di sampingnya dengan laptop di tangan. Di layar laptop muncul katalog
perabotan rumah lengkap dengan ukuran, jenis bahannya, model, dan cara
pemesanannya.
“Aku sudah menghubungi beberapa vendor yang
produknya kira-kira cocok untuk kita. Untuk aku sich, aku harap pilihanku juga
cocok di kamu. Kita mulai dari meja riasnya?” tanya Alan.
Ginara mengangguk setuju, gadis itu bergeser
sedikit mendekati Alan agar bisa melihat lebih jelas. Alan tersenyum tipis
melihat Ginara mau dekat-dekat dengannya. Pilihan Ginara langsung tertuju pada
meja rias sederhana berwarna putih. Ia menanyakan ukurannya pada Alan yang
menunjuk tiga keramik di lantai.
Saat Ginara melihat lebih dekat ke jendela besar,
Ina masuk ke dalam kamar Alan bersama Adi sambil membawa karpet tebal berwarna
abu-abu.
“Tuan Alan, ini karpet untuk duduk. Saya taruh
dimana ya?” tanya Ina.
Ginara yang menoleh melihat Adi, langsung berbalik
lagi sambil merapatkan kerudung yang dipakainya. Alan melihat reaksi Ginara
terhadap Adi, lalu meminta pria itu untuk keluar dulu.
“Ina, gelar saja dulu disini. Terima kasih. Ina,
calon istriku agak pemalu. Dia tidak terbiasa dengan pria asing. Tolong minta
Adi untuk sembunyi dari dia ya. Sampai Ginara terbiasa nanti,” kata Alan.
“Oh, nona itu calon istri tuan Alan, cantik sekali,
tuan. Saya akan sampaikan pada mas Adi. Minumannya mau ditambahkan lagi, tuan?”
tanya Ina sebelum keluar dari kamar.
Alan hanya minta dibawakan cemilan lagi dan juga
satu termos sirup dingin dan air putih lagi. Ketika Ina hampir menutup pintu
kamar, Alan mencegahnya. Ia tidak mau Ginara merasa cemas hanya berdua dengan
Alan di dalam kamar.
“Ra, gimana pilihanmu jadi yang ini?” tanya Alan
mencoba memanggil Ginara.
Gadis itu mengintip ke belakang dan bernafas lega setelah
mendapati hanya ada Alan di kamar itu. Ginara mendekati Alan yang sudah duduk
di atas karpet bulu.
Seharian itu mereka asyik memilih perabotan untuk
kamar mereka setelah menikah nanti. Anisa yang tidak mendapat kabar apapun
sampai hampir waktunya makan malam, menelpon Ginara bersama Guntur.
“Halo, mah,” sapa Ginara.
“Gina sayang, kamu dimana?” tanya Anisa sedikit
cemas.
“Gina di rumah Alan, mah. Masih milih perabotan
telpon lalu menekan sambungan v-call, tapi tidak bisa tersambung karena
kuotanya kebetulan habis.
“Yah, habis,” keluh Ginara.
“Kenapa?” tanya Alan yang masih sibuk memilih warna
karpet bulu dan bantal.
“Kuotaku habis ternyata. Pantesan HP ini nggak
ribut seperti biasanya. Mau v-call mama, nggak bisa,” kata Ginara.
Alan mengulurkan tangannya mengambil ponsel Ginara,
ia mengaktifkan ponselnya juga dan setengah menit kemudian, ponsel Ginara sudah
bisa dipakai v-call.
“Nih, kuotamu nggak akan habis lagi,” kata Alan
dengan santainya.
Ginara masih ingin bertanya bagaimana bisa seperti
itu, tapi ia harus menelpon mamanya dulu. Sambungan v-call akhirnya terhubung.
Wajah Anisa dan Guntur muncul di layar ponsel Ginara.
“Halo, pah, mah. Gina lagi di kamar Alan,” kata
Ginara.
Anisa dan Guntur melihat Alan sibuk menekan layar
laptopnya di samping Ginara. Alan membandingkan antara korden berwarna merah
dengan korden warna coklat.
“Ginara, kamu pilih yang mana?” tanya Alan sambil
menoleh ke samping. Saat itu posisi mereka jadi sangat dekat dan hampir
berciuman. Alan refleks menghindar sampai ia jatuh terjengkang di samping Ginara.
“Maaf, Ra.” Alan nyengir sambil menggeser duduknya
lebih jauh.
Anisa dan Guntur saling pandang melihat peristiwa
tidak terduga barusan. Tampak wajah Ginara dan Alan sama-sama merona. Alan yang
melihat wajah orang tua Ginara, tersenyum ke arah layar ponsel.
“Om, tante,” sapa Alan sopan.
“Alan, jam berapa Ginara mau diantar pulang?” tanya
Anisa.
Alan langsung menoleh ke jendela besar yang sudah
gelap. Ia menatap Ginara sebelum tersenyum lagi.
“Kita kelamaan belanja ya. Sekarang, tante. Ayo, Ra.
Aku antar pulang sekarang,” ajak Alan.
“Lan, sekalian bawa piring kotornya kebawah ya,”
kata Ginara hampir mengangkat baki berisi piring kotor.
“Biarkan Ina yang melakukannya. Ayo, kita turun.
Mungkin papa mamaku sudah nunggu di bawah,” kata Alan lagi.
Mereka berdua berjalan keluar kamar lalu menuruni
tangga menuju lantai bawah. Melda dan X tampak sedang duduk di meja makan,
mereka belum makan malam karena menunggu Alan dan Ginara turun.
Ginara yang masih tersambung v-call dengan orang
tuanya, mengarahkan ponsel ke arah Melda dan X. Calon besan saling menyapa dan
Anisa mematikan sambungan v-call itu.
“Mah, kok nggak manggil?” tanya Alan.
“Nggak mau ganggu kalian. Habisnya asyik banget
berduaan,” kata Melda santai.
Alan melirik wajah Ginara yang merona, pemuda itu
lantas berpamitan pada Melda dan X karena akan mengantar Ginara pulang dulu. Ginara
berterima kasih atas keramahan Melda dan X. Keduanya lalu beranjak keluar rumah
dan masuk ke mobil Alan.
“Ginara, apa kau senang? Persiapan pernikahan
kita...,” kata-kata Alan terpotong ucapan Ginara.
“Lan, kamu maunya kita nikah kapan?” tanya Ginara
cepat.
“Secepatnya,” sahut Alan cepat. Mamaku bilang kalau
persiapan pernikahan bisa sampai sebulan lebih. Kita harus pesan gedung, catering,
dekorasi, transportasi, undangan juga, masih banyak banget yang perlu di
siapin,” kata Alan antusias.
Alan terdiam melihat Ginara tampak sedih. Ia
menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang cukup aman dan duduk menghadap
gadis itu.
“Kamu kenapa, Ra? Kamu nggak suka dengan semua
rencana pernikahan kita?” tanya Alan.
Ginara mengangguk, “Aku hanya ingin pernikahan
tanpa kehadiran orang lain, Lan. Aku takut orang jahat itu akan datang,” lirih
Ginara.
Alan bersandar di kursi pengemudi, ia tampak
memikirkan sesuatu untuk membuat pernikahan mereka istimewa. Tapi kediaman Alan
membuat Ginara berpikir kalau pemuda itu kecewa padanya.
“Lan, maafkan aku. Aku sedang berusaha
menghilangkan rasa takut ini. Tapi aku butuh waktu. Tidak apa-apa kalau
pernikahan kita dibatalkan,” ucap Ginara sedih.
Grep! Ginara merasakan tubuhnya ditarik masuk ke
dalam pelukan Alan. Ginara terkejut merasakan tubuh Alan gemetar saat
memeluknya, pemuda itu terisak sedikit saat ia membenamkan wajahnya ke pundak
Ginara.
“A—Alan...,” panggil Ginara cemas.
“Jangan tinggalkan aku, Ra. Terserah kamu maunya
gimana. Tapi tolong menikahlah denganku. Aku nggak mau kamu pergi, Ra,” pinta
Alan.
Ginara tersenyum senang, ia mengelus kepala Alan,
meyakinkan pemuda itu kalau dirinya tetap akan menikah dengan Alan. Yang
diinginkan Ginara hanya pernikahan sederhana yang dihadiri keluarga inti mereka
saja.
“Bagaimana dengan saudaramu yang lain? Teman-temanmu?
Kita tidak mengundang mereka?” tanya Alan masih menikmati pelukan dengan
Ginara.