Duren Manis

Duren Manis
Ancaman lain


Jodi menyadari dirinya diperhatikan Arnold dan Rara, dia berdehem sebentar.


Jodi : "Ra, ayo pulang. Uda malem nich."


Arnold mendengar nada suara Jodi lebih mirip kakak laki-laki yang lagi mengajak adik perempuannya pulang.


Rara : "Iya, kak. Mas, aku pulang dulu ya. Besok aku kesini lagi."


Jodi menelpon ke ruang suster dan meminta perawat datang untuk membantu Arnold. Setelah perawat datang, Rara dan Jodi keluar dari sana.


Mereka berjalan beriringan ke tempat parkir.


Jodi : "Tadi aku ketemu adikmu, Rio. Dia lagi pacaran sama adiknya Katty."


Rara : "Kaori? Dia adiknya kak Katty? Dunia sempit ternyata."


Jodi : "Kata-katamu mirip Katty. Kamu gak pa-pa?"


Rara : "Gak pa-pa, kak. Kenapa nanya?"


Jodi : "Mukamu pucat. Pinggangmu masih sering sakit?"


Rara : "Iya, kak. Biasa ibu hamil. Udah biasa."


Jodi : "Nanti minta mb Minah oleskan minyak hangat ya."


Jodi menoleh karena Rara tidak merespon ucapannya. Rara sudah tertidur dengan pulasnya.


Jodi kembali fokus menyetir hingga mereka tiba di depan rumah Alex. Jodi menoleh menatap Rara, ia mengguncang lengan Rara untuk membangunkannya.


Saat itu ia merasakan tubuh Rara panas.


Jodi : "Ra? Kamu kenapa?"


Jodi mendengar nafas Rara ngos-ngosan. Ia demam tinggi. Jodi segera mengarahkan mobilnya kembali ke rumah sakit.


Jodi menghentikan mobilnya di depan UGD. Ia menggendong Rara keluar dari mobil dibantu perawat. Setelah meletakkan Rara di atas bed rumah sakit, Jodi kembali lagi ke depan untuk memarkir mobilnya.


Dokter tampak masih memeriksaΒ  Rara ketika Jodi kembali ke UGD.


Jodi : "Gimana dia, dokter?"


Dokter : "Demamnya cukup tinggi. Berapa usia kandungannya?"


Jodi : "Masuk 6 bulan."


Dokter : "Sepertinya ibunya terlalu capek. Dia dehidrasi dan kurang istirahat."


Jodi : "Mungkin dia kecapean menunggu suaminya di sini."


Dokter : "Loh, bukan suaminya?"


Jodi : "Saya kakaknya, dok."


Dokter : "Sementara ibunya biar istirahat disini ya."


Jodi : "Bisa dipindah ke kamar suaminya ya?"


Dokter : "Oh, bisa. Diurus saja administrasinya dulu, nanti saya minta suster bantu pindah."


Jodi menyelesaikan administrasi masuk untuk Rara di lobby dan ketika ia kembali ke UGD, suster sudah siap memindahkan Rara. Jodi berjalan di samping bed yang membawa Rara menuju kamar Arnold.


Sampai di depan kamar Arnold, Jodi mencoba membuka pintu dan masuk ke dalam. Perawat tidak tampak didalam sana. Hanya ada Arnold yang sedang tidur.


Jodi membuka pintu lebih lebar, membantu suster membawa Rara masuk ke dalam. Arnold yang merasa ada seseorang masuk ke kamarnya, membuka mata.


Arnold : "Jodi? Kenapa balik...? Rara? Rara kenapa?"


Jodi : "Tenang, bro. Tadi sampai rumah badannya demam tinggi. Aku balik lagi ke UGD. Dokter bilang dia kecapean dan dehidrasi."


Arnold melihat Jodi menggendong Rara pindah ke bed disampingnya. Suster mengatur infus yang masuk ke tangan Rara, dan berpamitan.


Jodi menghempaskan tubuhnya ke sofa tanpa bicara lagi pada Arnold. Dia sudah cukup lelah seharian ini.


Arnold menatap wajah tenang Rara, dan juga Jodi yang sudah tertidur lelap. Arnold menekan tombol memanggil perawat.


Perawat : "Ada apa, pak?"


Arnold : "Tolong selimuti teman saya. Dan tambahkan air putih lagi ya. Makasi."


Perawat melakukan yang diminta Arnold dan pamit keluar kamar.


Perlahan Arnold juga ikut tertidur.


🌼🌼🌼🌼🌼


Sementara itu Alex sudah tertidur sambil memeluk Mia diatas bed rumah sakit. Bayi kembar mereka sudah kembali ke ruang bayi.


Tidak pernah Mia bayangkan dirinya akan jadi ibu sungguhan dari dua bayi kembar.


Mia melihat wajah Alex, tampak kelelahan. Wajah suaminya mulai tampak ada keriput karena usia hampir 45 tahun.


Ia mengakui meskipun bertambah tua, Alex tetap gagah dan tampan.


Mia menunduk mencium bibir Alex, ia sedikit terkejut ketika tangan Alex meraih tengkuknya dan balas menciumnya.


Mia : "Mas, belum tidur?"


Alex : "Aku kebangun... Kamu ngapain nyium aku?"


Mia : "Gak boleh?"


Alex : "Boleh kok, cium aja sampai puas."


Alex memonyongkan bibirnya, Mia menutup bibir Alex dengan tangannya.


Alex : "Mmmmpphh..."


Mia terkikik geli, ia kembali melihat foto-foto anak mereka termasuk si kembar dan Rara. Sebentar lagi Rara akan melahirkan juga. Dan dia akan dipanggil nenek.


Mia : "Nenek??!! Astaga, aku belum cocok jadi nenek."


Sekarang saja dia masih syok dipanggil tante apalagi ibu. Biasanya staf Alex memanggilnya begitu. Dan setiap dipanggil gak sesuai umur, Mia merasa ada uban yang tumbuh di kepalanya.


Mia berjengit memikirkan dia akan jadi tua sebelum waktunya.


Mia menatap Alex yang sudah tidur lagi. Ia memperhatikan ada uban yang muncul lagi dari sela-sela rambut hitam Alex. Iseng, ia mencoba mencabut uban itu tapi susah karena rambut Alex yang pendek.


Merasa kesal karena tidurnya terganggu, Alex membenamkan wajahnya di dada Mia. Mia melenguh saat Alex menggesekkan hidungnya. Keduanya mulai terlelap lagi dengan posisi yang sangat intim.


🌼🌼🌼🌼🌼


Malam itu juga di salah satu rumah mewah di kota Y, tante Dewi tampak bicara dengan seseorang di telpon.


Tante Dewi : "Elena, kamu harus segera kembali. Angelo sudah menemukan penggantimu."


Elena : "Heh, Angelo tidak akan pernah berpaling dariku, mah."


Wanita cantik bernama Elena itu tampak sedang duduk di salah satu club di negara AS. Pakaiannya terlihat sangat mahal, seksi dan ketat.


Tante Dewi : "Tapi Elena, kamu harus cepat datang. Mama tau gadis ****** itu tidak sebanding dengan kamu. Tapi Angelo terlihat sangat menyukai dia."


Elena : "Seberapa cantik dan kaya sich, dia. Siapa namanya?"


Tante Dewi : "Angelo memanggilnya Riri. Mama belum tahu latar belakang keluarganya tapi mama yakin tidak sebanding dengan harta kekayaan kakek Michael."


Elena : "Trus kenapa mama khawatir? Elena akan kembali kalau situasinya memungkinkan untuk kembali."


Tante Dewi : "Kau akan menyesal kalau itu terjadi."


Elena : "Aku atau mama? Aku masih bisa hidup disini. Om Brian menunjang hidupku dan semua yang aku inginkan."


Tante Dewi : "Oh, hentikan itu. Kenapa kau memilih bersama pria tua seperti itu daripada Angelo?"


Elena : "Angelo membosankan, mah. Aku bosan bersamanya. Dia selalu alim, kurang liar."


Tante Dewi : "Apa kau gila?!"


Elena : "Mah, berhentilah menggangguku atau kuhentikan transferan bulanan mama. Silakan hidup dari uang bulanan kakek sana."


Tante Dewi : "Baiklah. Mama tidak akan bicara lagi."


Tante Dewi melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Ia juga menendang sepatunya terlepas dari kakinya.


Ia mengusap wajahnya dengan kesal. Impiannya untuk bisa mewarisi seluruh harta kekayaan hancur berantakan karena Elena memilih keluar negeri mengejar pria kaya raya lainnya.


Saat ini yang bisa ia lakukan adalah menjaga Angelo tetap single sampai Elena kembali.


γ€€


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲