
Berusaha tegar
Yang lebih mengerikan, Rio mengambil banyak mata
kuliah untuk percepatan kuliah. Ia akan mulai magang 2 bulan lagi dan sedang
mencari tempat magang.
*****
Gadis berdiri di samping kuburan Kaori. Ia
berjongkok dan meletakkan setangkai bunga mawar putih diatas kuburannya yang
masih basah.
Gadis : “Hai, Kaori. Kamu masih ingat aku, kan?
Tentu saja kamu ingat. Maaf, aku baru sempat kesini lagi setelah pemakamanmu.”
Gadis mengusap-usap nisan Kaori.
Gadis : “Boleh aku mengaku? Kau bisa jaga rahasia
kan? Jangan beritahu Rio ya. Aku tahu kalau aku ini sangat tidak tahu malu. Aku...
Aku mencintai Rio, Kaori. Tapi kamu tenang aja. Hanya kita berdua yang tahu.
Aku tidak akan berusaha mengejar Rio atau semacamnya. Kita teman kan?”
Gadis mengusap air matanya. Ia sudah seperti orang
gila karena bicara sendiri dengan nisan Kaori.
Gadis : “Aku sangat sedih melihat Rio hancur saat
kehilanganmu. Entah kamu ini sangat jahat atau sangat baik. Tapi aku yakin kamu
orang yang sangat baik. Buktinya kamu dipanggil lebih dulu. Mengenai
penyakitmu, aku tidak bisa membayangkan rasa sakit yang kau rasakan saat
mimisan itu. Tapi kamu sangat kuat, Kaori.”
Gadis mengusap nisan Kaori lagi. Ia tersenyum dan
berjanji akan datang sesering mungkin untuk mengobrol dengannya.
Gadis : “Aku harus pergi. Kau tahu tugasku lebih
banyak sekarang karena aku ikut percepatan. Aku ingin lulus secepatnya dan
bekerja. Sepertinya bekerja itu sangat keren. Sampai jumpa lagi, Kaori.”
Gadis melangkah meninggalkan kuburan Kaori, ia
tidak tahu setelah kepergiannya, Rio juga datang ke kuburan itu. Rio
mengkerutkan keningnya melihat sekuntum mawar putih tergeletak di atas kuburan
Kaori. Ia melihat sekeliling, tidak ada siapapun disana.
Rio : “Siapa yang memberimu bunga, sayang?”
Rio mengusap nisan Kaori dan mulai bicara
dengannya.
*****
Alex melihat hasil tes masuk Rio, ia tersenyum
melihat hasilnya. Putranya itu sangat pintar, ia bisa magang di kantor Alex
bersama teman seangkatannya bernama Gadis.
Alex : “Romi, sepertinya sebentar lagi aku akan
memiliki asisten baru.”
Romi : “Maksudmu Rio?”
Alex : “Hmm...”
Romi : “Biarkan aku yang mengurusnya.”
Alex : “Apa yang akan kau lakukan pada putraku?”
Romi : “Akan kusiapkan dia menjadi penggantimu dan
bukan penggantiku.”
Alex : “Kau ini. Seharusnya kau bantu Jelita
mengurus perusahaan papanya.”
Romi : “Jelita sudah bisa mandiri. Istriku itu
sangat cerdas dan cantik.”
Alex menaikkan alisnya melihat Romi membicarakan
Jelita dengan sangat bangga.
Alex : “Seharusnya tugasmu berikutnya membuat
Jelita cepat hamil.”
Romi : “Bicaramu seperti mertuaku saja. Tanya
Jelita sana, dia yang belum mau hamil. Kalau aku coba-coba bermain tanpa
pengaman, alamat gak dapet jatah sebulan. Bisa mati kering, aku.”
Alex : “Hahahahaha... kenapa kau tidak masukkan
obat dalam minumannya.”
Romi : “Maksudmu obat itu?”
Alex : “Obat itu apa? Maksudku yang bikin setengah
sadar. Bukannya Jelita gak bisa minum? Ajak minum wine, sana.”
Romi : “Kalau dia tahu, aku akan dibunuhnya.”
Alex : “Anggap saja kau juga mabuk.”
Romi menunjuk-nunjuk Alex sambil tersenyum nakal.
Ia mengatakan kalau Alex sangat nakal sampai bisa memikirkan hal-hal seperti
itu. Alex menepuk dadanya dengan bangga. Untuk urusan begituan, emang gercep
*****
Gadis menerima pemberitahuan tentang magangnya yang
diterima di kantor Alex. Ia bersorak girang sampai semua teman-temannya di
kelas menoleh padanya termasuk Rio. Saat itu dosen mereka sedang keluar kelas untuk
mengambil tugas yang ketinggalan. Gadis menatap Rio tapi segera menunduk lagi.
Gadis tersenyum pada teman disampingnya dan
menggeleng saat ditanya apa yang membuat dia bersorak. Rio juga menerima
pemberitahuan yang sama. Keduanya tidak tahu kalau akan magang di tempat yang
sama.
Rio mengirimkan screen shot penerimaannya pada Alex
dan menanyakan apa papanya ikut campur dalam penerimaan itu. Alex yang menerima
chat dari Rio, membalasnya dengan foto hasil tes Rio dan mengatakan kalau dirinya
tidak bisa ikut campur penerimaan mahasiswa magang. Semua itu sudah diatur oleh
HRD.
Rio membaca chat dari papanya dan mengatakan
dirinya akan pulang hari ini. Ia merindukan si kembar Rava dan Reva. Dosen
mereka masuk lagi ke dalam kelas dan membagikan tugas untuk mereka.
Dosen : “Sekarang kalian sebut angka 1 sampai 3
mulai absen 1.”
Gadis menoleh pada Rio saat ia mendapatkan nomor
yang sama bersama satu teman Rio, Luki. Mereka harus duduk berkelompok dan
Gadis membawa barang-barangnya bergabung dengan Rio dan Luki. Dosen memberikan
selembar kertas pada Gadis yang langsung membacanya. Melihat kening Gadis
mengkerut, Rio mengambil kertas itu.
Dosen : “Dengarkan saya. Aturannya, harus tulis
tangan dan selesai dalam waktu 30 menit. Tulisan tangannya harus bisa saya baca
ya. Silakan mulai.”
Gadis sudah mengeluarkan kertas double folio. Rio
mencari jawaban soal nomor 1 dan ia menemukannya. Gadis menulis nama mereka
bertiga dan mulai menyalin jawaban dari ponsel Rio tanpa bicara apa-apa. Luki
melirik keduanya yang tampak acuh tak acuh.
Sejak Kaori meninggal, Gadis juga banyak berubah,
ia tak lagi dekat-dekat dengan Rio bahkan terkesan menghindar. Mereka hanya
dekat saat seperti sekarang ini, mengerjakan tugas kelompok. Gadis
menyelesaikan jawaban nomor 1 dan lanjut jawaban nomor 2 dari ponsel Luki. Gadis
meletakkan ponsel Rio di meja.
Luki meminta ponsel Gadis karena ia ingin mencari
jawaban nomor 4. Sementara Rio mencari jawaban nomor 3. Gadis membuka kunci
ponselnya, Rio sempat melirik wallpaper ponsel Gadis. Itu foto bunga mawar
putih yang tergeletak di tanah.
Gadis mengambil foto itu setelah meletakkan bunga
mawar di kuburan Kaori. Ia menjadikannya wallpaper agar ia selalu ingat untuk
mengunjungi kuburan Kaori dan tidak mengejar Rio lagi. Rio mencoba mengingat
dimana ia melihat bunga itu, tapi Luki keburu menegurnya.
Mereka harus cepat mengerjakan tugas itu atau
dosennya akan mengurangi nilai mereka. Gadis merenggangkan jari-jarinya yang
kaku karena kebanyakan menulis. Rio sudah berjalan ke depan, mengumpulkan tugas
mereka ke meja dosen. Gadis mengemasi barang-barangnya, ia berpamitan pada Luki
dan melewati Rio begitu saja seolah Rio tidak berada di dekatnya.
Sore harinya, ketika Rio akan pulang ke rumah Alex.
Gadis tampak sedang berkacak pinggang di depan ban depan mobilnya. Rio melihat
ban mobil Gadis kempes. Rio berusaha tidak mengacuhkan Gadis, tapi saat ia
berbalik hendak menolong temannya itu, ia tidak melihat Gadis dimanapun.
Gadis melihat Rio mendekati mobilnya dan langsung
sembunyi di balik mobilnya. Dia bisa pulang naik ojol dan membiarkan supir
papanya mengurus mobil itu nanti, tapi ia tidak akan menerima bantuan dari Rio
meskipun belum tentu Rio akan menolongnya.
Gadis berjalan cepat melewati parkiran mobil, ia
ingin memesan ojol sambil duduk di halte kampus. Gadis tertegun saat mobil Rio
berhenti di depannya.
Rio : “Kamu mau pulang?”
*****
Gadis : “Nggak, tapi mau vote novel ini.” Author
manggut-manggut.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).