
DM2 – Hutang penjelasan
Ponsel Romi berdering, ia harus segera
kembali ke kantor untuk mengurus kantor Alex. Polisi juga sudah datang dan
memulai penyelidikan tentang jatuhnya lift yang mencelakai Alex.
“Aku harus balik ke kantor dulu. Ini surat
untuk booking kamarnya. Semuanya sudah selesai, tinggal pindah ke kamar aja.”
Mia mengangguk, ia sangat berterima kasih
karena Romi sangat bisa diandalkan disaat seperti ini. Rara masuk ke ruang UGD,
sementara Riri menuntun Mia ke kamar inap Alex. Alex sudah siap dipindahkan ke
ruang rawat inapnya.
Mia tersenyum dengan wajah pucatnya saat
Alex dibawa masuk. Ia duduk disamping Alex ketika satu persatu menantu mereka
datang termasuk Jodi dan Katty. Gadis ingin ke rumah sakit juga tapi ia tidak
bisa meninggalkan Rio dan Kaori dirumah. Ia hanya bisa melihat keadaan Alex
lewat v-call.
Gadis memberikan Kaori pada mb Roh sementara
ia v-call dengan Rara bersama si kembar dan Rio di belakang mereka. Si kembar
bicara dengan Alex yang tersenyum menenangkan mereka.
“Papa sakit gini, perusahaan papa
gimana?”tanya Gadis.
Rio menoleh saat mendengar Gadis bicara di
telpon. Alex mengatakan kalau sementara perusahaan di handle Romi dibantu
Melda. Mendengar nama Melda disebut, Mia jadi ingat kenapa ia datang ke kantor
Alex tadi pagi.
“Siapa Melda, mas?”tanya Mia.
“Dia sekretarisku yang baru. Kan Romi
sering cuti ketemu Jelita. Jadinya dia nyari sekretaris lagi untuk bantu aku.”
Mia tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia sudah
cukup lelah dengan situasi kecelakaan Alex dan sekarang energinya terasa hampir
habis untuk cemburu pada seorang sekretaris.
“Yang penting papa cepat sembuh ya.”kata
Gadis.
“Iya. Eh, itu Rio noleh kesini ya?”tanya
Alex melihat ke layar ponsel.
Rio memang sedang menatap ke layar ponsel
Gadis tapi tidak ada reaksi apapun selain tatapan kosong.
“Coba Rio udah sembuh ya. Papa kan bisa
tenang ada yang jagain perusahaan.”kata Alex.
Gadis hanya bisa menatap Rio yang masih
belum sembuh sepenuhnya.
*****
Tiga hari kemudian, penyelidikan polisi
menemukan bahwa lift yang digunakan Alex saat itu memang sudah usang talinya
dan alatnya juga sudah harus diganti. Mereka bisa menuntut perusahaan yang
menyediakan lift tersebut karena masih memiliki garansi. Romi mengurus semua
dokumen yang diperlukan untuk menuntut perusahaan yang di maksud. Setidaknya
mereka bisa mendapatkan ganti rugi penggantian lift baru dan juga pengganti
biaya pengobatan Alex dan Melda.
Selama tiga hari itu, Melda yang sudah
membaik keesokan harinya, mulai bekerja membantu Romi mengurus perusahaan Alex.
Ia cukup cekatan mengerjakan tugasnya meskipun sering bertanya pada Romi. Tiga
hari pula mereka berdua lembur di kantor Alex.
“Melda, bawa dokumen ini ke ruang meeting.
Sebentar lagi meeting internal akan dimulai.”pinta Romi.
“Baik, pak.”Melda berjalan ke ruang
meeting, lalu meletakkan dokumen yang dibawanya diatas meja meeting.
Saat itu Bianca datang bersama X, Mia meminta
Bianca datang untuk membantu menghandle meeting dengan salah satu client lama
mereka dulu. Harusnya meeting itu bisa dihandle Alex sendiri, tapi kondisi Alex
masih dirawat di RS. Mia jelas tidak bisa meninggalkannya.
“Romi,”panggil Bianca. “Aku dah dateng
nich. Mana dokumennya?”tanya Bianca.
“Eh, sudah datang ya. Sini masuk dulu.”ajak
Romi membuka pintu ruang kerja Alex. “Silakan duduk dulu. Tunggu ya.”
mendapati Melda sudah duduk lagi di mejanya. “Melda, cepat bawa dokumen meeting
client A. Bianca sudah datang. Itu di dalam.”tunjuk Romi ke ruang kerja Alex.
Melda membawa dokumen yang dimaksud Romi
masuk ke ruang kerja Alex. Ia menyapa dengan ramah pada Bianca, tapi saat
melihat X, raut wajah Melda berubah dingin. “Halo, Melda. Aku Bianca. Mana
dokumen meeting nanti?”tanya Bianca gak peka.
Melda duduk di samping Bianca, ia membuka
satu persatu lembar dokumen di tangannya. Sesekali ia menjelaskan apa yang
ingin dibahas client mereka pada Bianca. Romi tidak kembali ke ruang kerja
Alex, ia sedang memimpin rapat internal perusahaan Alex.
Saat Bianca masuk ke toilet, X menatap
tajam ke arah Melda. “Sedang apa kau disini?”hardik X.
“Bukan urusanmu.”saut Melda dingin.
“Apa kau ada hubungannya dengan kejadian di
lift itu?”tanya X yang tahu kecelakaan Alex.
“...Bukan urusanmu. Lagian ngapain kamu
kesini?”tanya Melda.
“Kau tahu kenapa aku disini. Melda, ini
sudah hampir 8 tahun. Apa kau masih melakukan pekerjaan kotor itu?”tanya X.
Melda tidak mengatakan apa-apa lagi karena
Bianca sudah kembali duduk diantara mereka. Bianca menatap keduanya yang
sepertinya sedang marah. “Kalian kenapa? Ada yang salah?”tanya Bianca.
“Ach, tidak. Sampai dimana tadi kita?”tanya
Melda.
Bianca menanyakan e-mail yang terakhir
dikirimkan client itu dan Melda keluar dari ruang kerja Alex untuk mengambil
laptopnya. Ia memperlihatkan e-mail terakhir client itu dan Bianca siap untuk
meeting. Romi sudah membubarkan meeting internal. Melda membantu merapikan
ruangan kembali agar siap menerima client yang akan meeting dengan Bianca.
Sepuluh menit kemudian, client yang ditunggu
akhirnya datang juga. Romi dan Bianca menyambut kedatangan mereka dan membawa
mereka masuk ke ruang meeting. Selama meeting, X mengawasi Bianca lewat layar
CCTV di ruang kerja Alex.
Melda juga duduk disana, membereskan
dokumen yang akan dibawanya ke rumah sakit. Alex masih harus menandatangani
beberapa dokumen dan Romi biasanya mengirimkan dokumen itu sepulang kantor.
Saat Melda berbalik ingin keluar ruang
kerja Alex, X sudah menahannya. “Katakan, Melda. Ngapain kamu disini?”
“Aku kerja untuk tuan Endy, okey. Aku hanya
diminta mengawasi nona Kaori.”jawab Melda.
“Tapi kenapa di kantor ini? Kau bisa
menyamar jadi baby sitternya.”kejar X. “Apa lift itu ulahmu?”
“Aku tidak diijinkan melukai keluarga pak
Alex. Apapun yang terjadi. Tuan Endy ingin perusahaan pak Alex tetap stabil
untuk nona Kaori. Lift itu murni kecelakaan.”jelas Melda. Dia harus mengatakan
semuanya pada X atau pria itu akan membongkar identitasnya pada semua orang.
X semakin mendekati Melda, ia menyentuh
pipi Melda dengan lembut. “X, nanti ada yang masuk.”ucap Melda menahan X.
“Kamu tinggal dimana sekarang?”tanya X.
“Kamu gak perlu tahu.”saut Melda. “Kita gak
akan ketemu lagi, kan.”
”Tentu kita akan ketemu lagi. Kau
berhutang penjelasan yang sangat panjang, Melda.” X memindai ponsel Melda
dengan cepat. Ia kembali duduk di depan layar CCTV tanpa mengganggu Melda lagi.
*****
Maaf kalo up-nya cuma 1 ya. Baby lagi sakit
dan rewel. Harus extra jagainnya. Sekarang baby udah membaik, semoga bisa up
seperti biasanya ya.
Penasaran hubungan X dan Melda? Tunggu up
berikutnya ya.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.