Duren Manis

Duren Manis
Lamaran kakek


Jet pribadi kakek


sudah parkir di bandara kota Y, tadi keempat penumpangnya masih tertidur pulas.


Sopir limosin yang bertugas menjemput mereka jadi bingung menunggu mereka


bangun. Saat Pak Kim menelpon sopir itu, ia mengatakan kalau tuan mudanya masih


betah tidur di dalam pesawat.


Pak Kim : “Masih


tidur, coba kirim fotonya dan kamu coba bangunkan mereka.”


Sopir : “Kalau tuan


muda marah, gimana Pak Kim?”


Pak Kim : “Bilang


saja tuan besar sudah menunggu di rumah nona Riri.”


Sopir : “Baik, Pak


Kim.”


Sopir itu mengambil


foto mesra Riri dan Elo, Rio dan Kaori dan mengirimkannya pada Pak Kim. Pak Kim


menunjukkan foto mereka berempat pada Alex, Mia dan Pak Michael yang jadi


senyum-senyum sendiri melihatnya.


Pak Michael :


“Sepertinya Angelo kami sudah tidak sabaran untuk memperistri Riri ya. Saya harap


pernikahan mereka bisa secepatnya dilaksanakan. Dan Angelo bisa segera


berangkat bersama Riri.”


Alex : “Mia,


gimana?”


Mia : “ Kalau


memang sudah terjadi sesuatu dengan mereka berdua, sebaiknya Riri segera


menikah, mas. Tapi coba kita tanya anaknya dulu ya. Aku yakin niat Pak Michael


dan Elo pasti baik.”


Alex : “Baik, kalau


dari kami sebagai orang tua sejak awal sudah setuju dengan hubungan mereka. Dan


masalah pernikahan, sebaiknya kita tunggu saja keduanya. Biar mereka berdua


yang putuskan.”


Pak Michael : “Bagus


sekali. Kim, segera buat persiapannya. Aku mau pestanya berlangsung 2 minggu


lagi.”


Alex dan Mia


bengong melihat Pak Michael mengatakan banyak hal yang ia inginkan ada di pesta


pernikahan Elo dan Riri. Padahal kedua calon pengantin itu bahkan belum


mengatakan keinginannya.


*****


Elo : “Pak sopir


yakin kalau kakek ada di rumah Riri?”


Elo kembali


meyakinkan sopir yang mengemudi dengan kecepatan sedang menuju rumah Riri. Tadi


mereka dibangunkan dan diberitahu kalau kakek Elo ada di rumah Riri.


Sopir : “Saya yakin


sekali, tuan muda. Pak Kim sendiri yang mengatakannya.”


Elo : “Mau apa


kakek kesana? Apa mau melamarmu?”


Riri : “Melamarku,


mas?”


Rio : “Ya iyalah,


masa nglamar mb Minah.”


Riri : “Sempatnya kamu


bercanda, aku grogi tau.”


Rio : “Ciee... yang


dilamar grogi nich yee...”


Riri memukul lengan


Rio yang menggodanya. Wajahnya sudah memerah membayangkan reaksi mama dan


papanya nanti.


Riri : “Papa uda


tau belum ya?”


Elo : “Tau apa?”


Riri : “Masalah


kita tidur bersama...”


Rio : “What??!!”


Kaori : “Apa??!!”


Rio : “Kok bisa?


Pantesan kalian gak keliatan dari kemarin siang. Apa yang terjadi?”


Kaori : “Apa ada


hubungannya sama si Elena itu? Riri... cerita, cepat...”


Sepasang kekasih


itu mencerca Riri dengan berbagai macam pertanyaan yang membuat Riri


kebingungan menjawabnya.


Riri : “Aku gak tau


apa yang terjadi, kami gak ingat apa-apa.”


Elo : “Aku sudah


menawari untuk visum, kan. Kamu gak mau.”


Riri : “Itu


memalukan, mas. Nanti kalau tersebar beritanya gimana?”


Elo : “Sebenarnya


kami punya dokter pribadi yang bisa melakukan visum tanpa takut tersebar, Ri.


Mereka tim dokter yang khusus menangani keluargaku. Itupun biar kita bisa tahu


apa yang sebenarnya terjadi.”


Riri memikirkan


kata-kata Elo, dirinya juga penasaran sebenarnya ia masih utuh atau Elo sudah


mengambil mahkotanya.


Elo : “Coba


pikirkan baik-baik, Ri.”


Riri : “Kalau mas


maunya gitu, aku mau tapi harus ditemenin mama Mia ya.”


Elo : “Iya, kita


bisa panggil dokternya ke rumahmu.”


Mereka sampai juga


di rumah Alex. Tampak mobil kakek parkir di depan rumah.


Elo : “Beneran


disini. Kapan kakek berangkatnya?”


Riri : “Mama Ratna


kan tadi bilang kakek sudah pergi sejak pagi gak tahu kemana.”


Elo : “Ayo masuk,


Ri. Pak sopir, tolong barang-barangnya diturunkan pelan-pelan ya.”


Sopir : “Baik, tuan


muda.”


Sopir kakek Elo


melihat sopir limosin menurunkan barang dan ikut membantunya. Elo, Riri, Kaori


dan Rio masuk duluan dan menyapa semua orang yang ada di ruang tamu.


Elo : “Kakek, Om


Alex, Mama Mia, Pak Kim selamat siang.”


Riri : “Kakek, Pak


Rio dan Kaori juga


menyampaikan salam mereka dan Kaori memberanikan diri menyampaikan terima


kasihnya pada Pak Michael.


Kaori : “Kakek


Michael, saya mau mengucapkan terima kasih atas bantuan kakek, jadi saya bisa


berbelanja titipan kakak saya.”


Kakek : “Oho...


Kaori tidak perlu sungkan. Apa Kaori juga membeli sesuatu untuk cucu menantuku


juga?”


Kaori : “Ada, kek.


Sebenarnya Rebecca menyampaikan pesan kakek juga.”


Kakek : “Anak


pintar.”


Rio dan Kaori


menyingkir ke ruang keluarga karena kedua sopir kakek sudah membawakan semua


belanjaan mereka dan meletakkannya disana. Mb Minah sampai memindahkan kasur si


kembar karena ruang keluarga langsung penuh dengan paper bag.


Kaori : “Kita harus


membereskan barang-barang ini. Rio, coba buka kotak sepatu itu.”


Rio dan Kaori


membongkar sambil memeriksa satu persatu barang belanjaan yang diminta Katty.


Kaori juga mencatat berapa total belanjaan Katty dengan detail.


Sementara itu di


ruang tamu, Elo duduk disamping kakeknya dan Riri duduk diapit orang tuanya.


Kakek : “Jadi


Angelo, kakek sudah mengatakan semuanya. Pak Kim juga sudah cerita detail apa


yang terjadi dengan kalian berdua disana. Sekarang tinggal keputusan kalian mau


menikah kapan ya. Kakek harap 2 minggu lagi.”


Alex menatap Riri


yang terkejut dengan kata-kata kakek, ia terlihat malu setelahnya.


Elo : “Elo juga


berharap secepatnya, kek. Tapi Riri...”


Semua orang disana


menatap Riri yang mulai merasa gugup.


Riri : “Mah...


tolong.”


Mia : “Aduch,


jangan diliatin Riri-nya. Anaknya jadi grogi. Riri, sayang liat mama.”


Riri menatap mamanya


yang menggenggam tangannya.


Mia : “Riri, kak


Elo menunggu jawaban dari Riri.”


Riri : “Apa mama


setuju?”


Mia : “Iya, Ri.


Mama setuju.”


Riri : “Papa juga?”


Alex : “Iya,


sayang. Papa juga setuju.”


Riri menarik nafas


panjang dan mengangguk,


Riri : “Iya, Riri


mau menikah dengan kak Elo secepatnya.”


Elo : “Yeess...!”


Elo mengacungkan


kedua tangannya ke atas. Ia juga memeluk kakek dan menyalami Pak Kim. Riri


tercengang melihat reaksi Elo yang ia rasa berlebihan. Wajahnya semakin merona


saat Elo menatapnya lagi.


Elo : “Aku akan


penuhi janjiku, Ri. Terima kasih sudah menerimaku.”


Alex : “Janji apa?”


Kakek : “Janji apa?”


Elo : “Janji antara


kami berdua, kek. Kami sepakat menunda punya bayi sampai Riri lulus kuliah.


Umurnya juga masih terlalu muda untuk hamil dan melahirkan.”


Kakek : “Kalau


sekarang sudah hamil, bagaimana?”


Riri : “Riri akan


jaga dengan baik, kek.”


Elo : “Oh, iya. Ri,


kamu jadi visum?”


Kakek : “Visum?


Buat apa?”


Elo : “Elo sama


Riri masih bingung dengan apa yang terjadi dan biar gak ada kebingungan lagi,


kami mau panggil dokter Merry untuk memeriksa Riri.”


Kakek : “Riri mau


diperiksa?”


Riri : “Iya, kek.”


Kakek : “Kim,


panggil dokter Merry kesini.”


Pak Kim : “Baik,


tuan besar.


Tak perlu waktu


lama, sebuah mobil berhenti di depan rumah Alex. Seorang wanita cantik


berpakaian modis, masuk ke dalam rumah Alex.


dr. Merry : “Selamat


siang semuanya. Tuan besar, tuan muda, pak Kim.”


Kakek : “Dokter


Merry sudah datang. Segera periksa cucu menantuku.”


dr. Merry : “Baik,


tuan besar.”


Mia, Riri dan dr.


Merry berjalan ke kamar tamu untuk memulai pemeriksaan Riri. Sambil menunggu,


kakek kembali bicara panjang lebar tentang apa yang boleh dan tidak boleh ada


di pesta pernikahan Riri dan Elo.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya


para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲