Duren Manis

Duren Manis
Tinggal di rumah mertua


Katty menatap Jodi


yang terlihat pucat, ia sudah memuntahkan semua isi perutnya di toilet. Jodi


sampai dipapah keluar toilet oleh Arnold, sampai ke mobilnya juga.


Katty : “Kamu gak


pa-pa, sayang?”


Jodi : “Nggak...


Eh, tunggu tadi kamu bilang apa?”


Katty : “Kamu gak


pa-pa, sayang?”


Katty mengulang


kata-katanya dengan wajah datar. Jodi tersenyum manis, merayu Katty.


Jodi : “Ngomongnya


sambil pake ekspresi khawatir gitu.”


Katty : “Banyak


permintaan, aku pulang nich.”


Jodi : “Eh, gak


jadi. Maaf, sayang.”


Anisa dan Guntur


senyum-senyum sendiri mendengar pembicaraan Katty dan Jodi di belakang mereka.


Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Anton.


Flash back...


Anton meminta Katty


dan Jodi tinggal di rumahnya sampai kondisi mereka berdua membaik. Katty dan


Jodi sempat sama-sama menolak, tapi Anton langsung mengancam akan menarik


fasilitas yang ia berikan untuk Jodi. Emang dasarnya gak ada sopan sama


papanya, Jodi hanya melirik papanya dan tidak peduli dengan ancaman Anton.


Anton : “Pokoknya


kalian harus tinggal di rumah papa dulu. Jodi, kamu gak kasian liat Katty


sendirian di rumah?”


Jodi : “Jodi bisa


sewa suster buat jagain Katty.”


Anton : “Gak


nurutin papa, papa tarik semua fasilitasmu.”


Jodi : “Fasilitas


yang mana? Mobil, Jodi yang beli. Rumah, Jodi sama Katty yang beli, apa lagi?


Jet pribadi papa? Gak butuh. Heli? Gak butuh juga.”


Anton ingin memukul


kepala Jodi yang bicara dengan songong. Anton beralih ke Katty,


Anton : “Nak, mau


ya tinggal di rumah papa.”


Katty : “Katty ntar


ngerepotin papa.”


Anton : “Nggak akan


ngrepotin!”


Katty : “Papa mau


nurutin semua permintaan Katty?”


Anton : “Mau. Mau


apa? Rumah, tanah, kartu kredit?”


Katty : “Gak jadi


dech, pah.”


Anton : “Yah, kok


gak jadi? Cucu kakek mau apa?”


Mereka bertiga


melihat perut Katty, dan Katty menggeleng. Ia sedang tidak ingin apa-apa.


Anton : “Katty, mau


ya...”


Katty juga terlihat


B aja dengan ancaman Anton. Melihat anak dan calon menantunya sama-sama keras


kepala tidak mau menurutinya, Anton langsung memasang tampang memelas yang


membuat Katty kasian dan menyetujui permintaan calon mertuanya itu.


Katty : “Iya, dech


pah. Jodi, kita tinggal sama papa aja sementara.”


Anton : “Yes...”


Jodi : “Hadeh, pake


mindahin baju lagi, males banget.”


Anton : “Gak usah


bawa apa-apa. Papa siapin semua di rumah.”


Katty cuma bengong


melihat papa mertuanya menelpon Pak Jang dan minta disiapkan macam-macam. Horang


kaya mah bebas.


Flash back end...


Anisa : “Mereka


lucu banget ya.”


Guntur : “Iya.


Apalagi pak Jodi, makin aneh waktu tahu mau jadi papa.”


Anisa : “Kamu mau


cepet jadi papa juga gak?”


Guntur : “Maunya


sich... kamu mau cepet jadi mama, gak?”


Anisa mengangguk


malu-malu. Jodi dan Katty serasa sedang menonton drama korea dari kursi


belakang karena tiba-tiba ada banyak bunga diantara Guntur dan Anisa. Bahkan


kursi mobil sudah menghilang, berganti layar TV.


Jodi : “Sayang,


nanti gak jadi nonton drakor ya. Uda ada nich live.”


Katty : “He-eh.”


Anisa menoleh ke


belakang dan malu sendiri karena kepergok keponakannya.


Katty : “Biasa aja


kali tante, kita sama-sama uda mau nikah ini.”


Anisa : “Tetep aja


malu, tau. Kalian kan enak uda ada calon debay.”


Katty : “Iya sich,


tante. Ibarat beli rumah, harus DP dulu.”


Anisa : “Tante


tunggu sah aja dech.”


Anisa tersenyum


penuh arti sambil melirik Guntur yang sudah tersenyum juga.


Jodi : “Kamu mau


tidur di kamarku diatas atau kamar di bawah?”


Katty :


“Tergantung.”


Jodi : “Tergantung


apa?”


Katty : “Tergantung


warna kamarnya.”


lebar membayangkan dirinya mulai mendekorasi kamar sesuai keinginan Katty. Dan


tentu saja ia akan sangat merepotkan papanya. Membayangkan papanya kelimpungan


memenuhi keinginan Katty membuat Jodi senyum-senyum sendiri.


Katty : “Kamu


kenapa senyum-senyum gitu? Stress?”


Jodi : “Sayang...


Yang manis dikit kenapa sich. Masa calon suami dikatain stress.”


Katty memeletkan


lidahnya pada Jodi. Jodi mencubit hidung Katty dengan gemas, ia mengelus-elus


perut Katty yang masih rata.


Mobil Jodi memasuki


halaman rumah Anton yang sangat luas. Pak Jang tampak keluar dari pintu depan


rumah bak istana itu.


Pak Jang : “Tuan


muda, nona muda, selamat datang.” sapa Pak Jang ketika mobil sudah berhenti dan


Pak Jang membuka pintu belakang.


Jodi : “Papa mana,


Pak Jang?”


Pak Jang : “Ada di


dalam, tuan muda.”


Jodi menggendong


Katty turun dari mobil, padahal Katty bilang mau jalan sendiri. Anisa dan


Guntur berjalan mengikuti mereka masuk ke dalam rumah. Jodi mendudukkan Katty


di sofa besar di ruang keluarga. Pak Jang segera memanggil pelayan yang membawa


teh dan cemilan untuk mereka.


Dalam sekejap, meja


sofa penuh dengan minuman dan makanan ringan yang sehat. Katty menatap penuh


minat pada makanan di depannya. Ia mencari salad buah tapi tidak menemukannya.


Katty : “Pak Jang,


boleh minta salad buah?”


Jodi : “Apa?


Nggaakk!!!!”


Jodi sudah minggat


dari samping Katty dan duduk jauh darinya.


Pak Jang : “Baik,


nona muda.”


Jodi : “Pak Jang,


jangan bawa kesini. Awas aja.”


Pak Jang : “Maaf


tuan muda, tapi saya harus mendahulukan permintaan nona muda sekarang.”


Jodi : “Pasti papa nich


yang punya kerjaan. Papa mana sich?”


Pak Jang : “Tuan


Besar akan turun setelah selesai dengan pekerjaannya.”


Jodi : “Papa masih


meeting?”


Pak Jang : “Iya,


tuan muda.”


Salad buah yang


diinginkan Katty segera datang, Jodi sudah bersiap menutup hidungnya. Tapi


ketika melihat Katty memakan satu persatu buah dalam piring itu, membuat Jodi


mulai lapar. Ia berjalan mendekat dan mengambil sepiring cemilan dan mulai


memakannya.


Katty : “Gak mual


lagi, Jodi?”


Jodi : “Nggak. Aku


laper. Guntur, tante Nisa silakan dinikmati makanannya.”


Mereka menghabiskan


satu persatu makanan diatas meja sambil mengobrol dengan akrab. Katty sampai


ketiduran setelah perutnya terasa kenyang. Saat itu Anton tampak berjalan turun


dari lantai 2.


Anton : “Halo


semua. Guntur... dan ini pasti Anisa.”


Guntur : “Selamat


siang, pak. Iya, ini calon istri saya.”


Jodi menatap Guntur


yang tampak sangat senang memperkenalkan calon istrinya. Tak! Jodi memegangi


kepala yang dipukul Anton.


Anton : “Kamu ini,


lihat Katty sudah tidur, bukannya dibawa masuk ke kamar.”


Jodi : “Ini baru


mau ngangkat dia ke kamar. Papa nich, jangan pukul kepalaku. Kalau aku jadi


bodoh, gimana?”


Anton : “Kau memang


sudah bodoh, anak bodoh.”


Jodi : “Pak Jang,


kamar yang mana? Di lantai bawah?” Jodi berjengit menatap papanya dan


menggendong Katty.


Pak Jang menunjuk


kamar yang paling dekat dengan ruang keluarga. Anisa beranjak mengikuti Jodi


setelah meminta ijin pada Anton. Ia membawa tas tangan Katty bersamanya.


Kamar yang sudah


disiapkan Pak Jang sangat nyaman dengan dekorasi minimalis dan jendela yang


besar hingga sinar matahari berebutan masuk ke dalam kamar itu. Jodi


membaringkan Katty pelan-pelan diatas ranjang berseprai pink muda.


Baru saja Jodi


meletakkannya, Katty menggeliat bangun.


Katty : “Aku


dimana?”


Jodi : “Ini kamar


kita selama disini. Kamu mau sesuatu?”


Katty : “Nggak.


Tante, duduk sini.”


Jodi : “Kalau gitu,


aku tinggal keluar bentar ya. Kalau ada perlu dengan Pak Jang, tekan saja


tombol merah itu.”


Jodi menunjuk


tombol merah diatas di samping nakas. Katty mengangguk dan Jodi meninggalkan


mereka berdua kembali duduk lagi bersama papanya dan Guntur di ruang keluarga.


🌻🌻🌻🌻🌻


Kk reader sekalian,


author kan uda up, bagi vote dan like dong. Biar semangat up nich... Ya... Baik


dech.


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).