
Katty menatap Jodi
yang terlihat pucat, ia sudah memuntahkan semua isi perutnya di toilet. Jodi
sampai dipapah keluar toilet oleh Arnold, sampai ke mobilnya juga.
Katty : “Kamu gak
pa-pa, sayang?”
Jodi : “Nggak...
Eh, tunggu tadi kamu bilang apa?”
Katty : “Kamu gak
pa-pa, sayang?”
Katty mengulang
kata-katanya dengan wajah datar. Jodi tersenyum manis, merayu Katty.
Jodi : “Ngomongnya
sambil pake ekspresi khawatir gitu.”
Katty : “Banyak
permintaan, aku pulang nich.”
Jodi : “Eh, gak
jadi. Maaf, sayang.”
Anisa dan Guntur
senyum-senyum sendiri mendengar pembicaraan Katty dan Jodi di belakang mereka.
Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Anton.
Flash back...
Anton meminta Katty
dan Jodi tinggal di rumahnya sampai kondisi mereka berdua membaik. Katty dan
Jodi sempat sama-sama menolak, tapi Anton langsung mengancam akan menarik
fasilitas yang ia berikan untuk Jodi. Emang dasarnya gak ada sopan sama
papanya, Jodi hanya melirik papanya dan tidak peduli dengan ancaman Anton.
Anton : “Pokoknya
kalian harus tinggal di rumah papa dulu. Jodi, kamu gak kasian liat Katty
sendirian di rumah?”
Jodi : “Jodi bisa
sewa suster buat jagain Katty.”
Anton : “Gak
nurutin papa, papa tarik semua fasilitasmu.”
Jodi : “Fasilitas
yang mana? Mobil, Jodi yang beli. Rumah, Jodi sama Katty yang beli, apa lagi?
Jet pribadi papa? Gak butuh. Heli? Gak butuh juga.”
Anton ingin memukul
kepala Jodi yang bicara dengan songong. Anton beralih ke Katty,
Anton : “Nak, mau
ya tinggal di rumah papa.”
Katty : “Katty ntar
ngerepotin papa.”
Anton : “Nggak akan
ngrepotin!”
Katty : “Papa mau
nurutin semua permintaan Katty?”
Anton : “Mau. Mau
apa? Rumah, tanah, kartu kredit?”
Katty : “Gak jadi
dech, pah.”
Anton : “Yah, kok
gak jadi? Cucu kakek mau apa?”
Mereka bertiga
melihat perut Katty, dan Katty menggeleng. Ia sedang tidak ingin apa-apa.
Anton : “Katty, mau
ya...”
Katty juga terlihat
B aja dengan ancaman Anton. Melihat anak dan calon menantunya sama-sama keras
kepala tidak mau menurutinya, Anton langsung memasang tampang memelas yang
membuat Katty kasian dan menyetujui permintaan calon mertuanya itu.
Katty : “Iya, dech
pah. Jodi, kita tinggal sama papa aja sementara.”
Anton : “Yes...”
Jodi : “Hadeh, pake
mindahin baju lagi, males banget.”
Anton : “Gak usah
bawa apa-apa. Papa siapin semua di rumah.”
Katty cuma bengong
melihat papa mertuanya menelpon Pak Jang dan minta disiapkan macam-macam. Horang
kaya mah bebas.
Flash back end...
Anisa : “Mereka
lucu banget ya.”
Guntur : “Iya.
Apalagi pak Jodi, makin aneh waktu tahu mau jadi papa.”
Anisa : “Kamu mau
cepet jadi papa juga gak?”
Guntur : “Maunya
sich... kamu mau cepet jadi mama, gak?”
Anisa mengangguk
malu-malu. Jodi dan Katty serasa sedang menonton drama korea dari kursi
belakang karena tiba-tiba ada banyak bunga diantara Guntur dan Anisa. Bahkan
kursi mobil sudah menghilang, berganti layar TV.
Jodi : “Sayang,
nanti gak jadi nonton drakor ya. Uda ada nich live.”
Katty : “He-eh.”
Anisa menoleh ke
belakang dan malu sendiri karena kepergok keponakannya.
Katty : “Biasa aja
kali tante, kita sama-sama uda mau nikah ini.”
Anisa : “Tetep aja
malu, tau. Kalian kan enak uda ada calon debay.”
Katty : “Iya sich,
tante. Ibarat beli rumah, harus DP dulu.”
Anisa : “Tante
tunggu sah aja dech.”
Anisa tersenyum
penuh arti sambil melirik Guntur yang sudah tersenyum juga.
Jodi : “Kamu mau
tidur di kamarku diatas atau kamar di bawah?”
Katty :
“Tergantung.”
Jodi : “Tergantung
apa?”
Katty : “Tergantung
warna kamarnya.”
lebar membayangkan dirinya mulai mendekorasi kamar sesuai keinginan Katty. Dan
tentu saja ia akan sangat merepotkan papanya. Membayangkan papanya kelimpungan
memenuhi keinginan Katty membuat Jodi senyum-senyum sendiri.
Katty : “Kamu
kenapa senyum-senyum gitu? Stress?”
Jodi : “Sayang...
Yang manis dikit kenapa sich. Masa calon suami dikatain stress.”
Katty memeletkan
lidahnya pada Jodi. Jodi mencubit hidung Katty dengan gemas, ia mengelus-elus
perut Katty yang masih rata.
Mobil Jodi memasuki
halaman rumah Anton yang sangat luas. Pak Jang tampak keluar dari pintu depan
rumah bak istana itu.
Pak Jang : “Tuan
muda, nona muda, selamat datang.” sapa Pak Jang ketika mobil sudah berhenti dan
Pak Jang membuka pintu belakang.
Jodi : “Papa mana,
Pak Jang?”
Pak Jang : “Ada di
dalam, tuan muda.”
Jodi menggendong
Katty turun dari mobil, padahal Katty bilang mau jalan sendiri. Anisa dan
Guntur berjalan mengikuti mereka masuk ke dalam rumah. Jodi mendudukkan Katty
di sofa besar di ruang keluarga. Pak Jang segera memanggil pelayan yang membawa
teh dan cemilan untuk mereka.
Dalam sekejap, meja
sofa penuh dengan minuman dan makanan ringan yang sehat. Katty menatap penuh
minat pada makanan di depannya. Ia mencari salad buah tapi tidak menemukannya.
Katty : “Pak Jang,
boleh minta salad buah?”
Jodi : “Apa?
Nggaakk!!!!”
Jodi sudah minggat
dari samping Katty dan duduk jauh darinya.
Pak Jang : “Baik,
nona muda.”
Jodi : “Pak Jang,
jangan bawa kesini. Awas aja.”
Pak Jang : “Maaf
tuan muda, tapi saya harus mendahulukan permintaan nona muda sekarang.”
Jodi : “Pasti papa nich
yang punya kerjaan. Papa mana sich?”
Pak Jang : “Tuan
Besar akan turun setelah selesai dengan pekerjaannya.”
Jodi : “Papa masih
meeting?”
Pak Jang : “Iya,
tuan muda.”
Salad buah yang
diinginkan Katty segera datang, Jodi sudah bersiap menutup hidungnya. Tapi
ketika melihat Katty memakan satu persatu buah dalam piring itu, membuat Jodi
mulai lapar. Ia berjalan mendekat dan mengambil sepiring cemilan dan mulai
memakannya.
Katty : “Gak mual
lagi, Jodi?”
Jodi : “Nggak. Aku
laper. Guntur, tante Nisa silakan dinikmati makanannya.”
Mereka menghabiskan
satu persatu makanan diatas meja sambil mengobrol dengan akrab. Katty sampai
ketiduran setelah perutnya terasa kenyang. Saat itu Anton tampak berjalan turun
dari lantai 2.
Anton : “Halo
semua. Guntur... dan ini pasti Anisa.”
Guntur : “Selamat
siang, pak. Iya, ini calon istri saya.”
Jodi menatap Guntur
yang tampak sangat senang memperkenalkan calon istrinya. Tak! Jodi memegangi
kepala yang dipukul Anton.
Anton : “Kamu ini,
lihat Katty sudah tidur, bukannya dibawa masuk ke kamar.”
Jodi : “Ini baru
mau ngangkat dia ke kamar. Papa nich, jangan pukul kepalaku. Kalau aku jadi
bodoh, gimana?”
Anton : “Kau memang
sudah bodoh, anak bodoh.”
Jodi : “Pak Jang,
kamar yang mana? Di lantai bawah?” Jodi berjengit menatap papanya dan
menggendong Katty.
Pak Jang menunjuk
kamar yang paling dekat dengan ruang keluarga. Anisa beranjak mengikuti Jodi
setelah meminta ijin pada Anton. Ia membawa tas tangan Katty bersamanya.
Kamar yang sudah
disiapkan Pak Jang sangat nyaman dengan dekorasi minimalis dan jendela yang
besar hingga sinar matahari berebutan masuk ke dalam kamar itu. Jodi
membaringkan Katty pelan-pelan diatas ranjang berseprai pink muda.
Baru saja Jodi
meletakkannya, Katty menggeliat bangun.
Katty : “Aku
dimana?”
Jodi : “Ini kamar
kita selama disini. Kamu mau sesuatu?”
Katty : “Nggak.
Tante, duduk sini.”
Jodi : “Kalau gitu,
aku tinggal keluar bentar ya. Kalau ada perlu dengan Pak Jang, tekan saja
tombol merah itu.”
Jodi menunjuk
tombol merah diatas di samping nakas. Katty mengangguk dan Jodi meninggalkan
mereka berdua kembali duduk lagi bersama papanya dan Guntur di ruang keluarga.
🌻🌻🌻🌻🌻
Kk reader sekalian,
author kan uda up, bagi vote dan like dong. Biar semangat up nich... Ya... Baik
dech.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).