
DM2 – Ingin anak
Mereka melambaikan tangan pada Mia dan Alex
yang masih berdiri di samping mobil. Setelah beberapa menit kemudian, mereka
sampai di sekolah si kembar dan Reynold. Ketiganya turun bersama Rio dan Gadis.
Gadis menggandeng tangan Reynold masuk
lebih dulu. Putra Rara itu selalu tidak sabaran kalau menyangkut sekolahnya.
Semuanya harus sempurna atau dia akan ngambek seharian. Kalau si kembar Rava
dan Reva gak usah di gandeng. Mereka berjalan di samping kiri dan kanan Rio,
pura-pura sok keren seperti Rio yang memang selalu pasang tampang cool.
Kehadiran mereka selalu menarik perhatian
mahmud yang sedang mengantar anak-anak mereka juga. Gadis melirik deretan
mahmud yang siap menyambut kedatangan Rio seperti barisan pagar ayu di undangan
pernikahan.
“Pagi, mama Gadis.”sapa seorang anak
perempuan sebaya Reynold.
“Pagi juga, Amanda. Hari ini diantar mama
lagi?”
“Iya, mama Gadis. Tuch lagi liatin papa Rio
disana.”
“Mereka bukan orang tuamu kenapa kau selalu
memanggil mereka begitu!”ketus Reynold sebal.
Teman sekelasnya ini selalu sok akrab
dengan Gadis dan Rio, Reynold tidak menyukainya.
“Rey, gak boleh gitu ya. Sama teman jangan
galak-galak.”
“Mama Gadis lupa, ya?”
“Oh iya, bukan teman ya tapi...”
“Calon mama anak-anaknya Rey.”sahut Amanda
cepat.
Reynold memasang ekspresi ingin muntah, ia
menarik lengan Gadis dan mencium pipi wanita itu sebelum masuk ke kelasnya.
Amanda mengejarnya seperti biasa. Gadis terkikik geli melihat tingkah bocah SD
yang bahkan belum tumbuh bulu itu. Ia geleng-geleng kepala sendiri bingung
dikasi makan apa sampai bisa kepikiran punya anak diusia semua itu.
Anak. Hati Gadis terasa sakit setiap kali
mengingat tentang anak. Tahun-tahun sudah berlalu sejak pernikahannya dengan
Rio, tapi belum ada tanda-tanda kehadiran seorang anak dalam rahimnya lagi. Rio
tidak pernah menuntut tentang itu, ia selalu mengatakan tidak apa-apa saat
Gadis menanyakannya.
Bagi Rio, meskipun belum dikarunia seorang
anak kandung sekalipun, asalkan bisa bersama Gadis seumur hidupnya, Rio sudah
sangat bersyukur. Dan Gadis akan sangat terharu sampai melupakan rasa sakit
hatinya. Lagipula mereka memiliki Reynold untuk diasuh.
“Gadis.”panggil Rio
Gadis berbalik, ia terpana melihat Rio
menggendong seorang bayi dengan kedua tangannya. “Gadis, liat nich adiknya
Marcel udah lahir.”ujar Rio lagi sambil menunjuk seorang teman sekelas si
kembar. Hati Gadis terasa sesak dengan segala perasaan yang campur aduk di
dalam dirinya. Sedih, kesal, marah, senang semuanya berperang hebat dalam
hatinya.
Gadis mencoba tersenyum, ia menulikan
telinganya agar tidak mendengar nyinyiran ibu-ibu disana yang mulai bergosip
tentang dirinya yang tidak subur. Gadis mendekati Rio dan mengajaknya segera
berangkat ke kantor.
Rio mengembalikan bayi itu kembali ke
stollernya, mereka berlalu kembali ke dalam mobil. Gadis sibuk mengusap sudut
matanya sambil melihat ke luar jendela.
“Kamu kenapa?”
Gadis menggeleng, ia menghela nafas
panjang, kembali tersenyum. “Apa kita tidak bisa mendapat seorang anak? Apa
kamu tidak menginginkannya, menggendong bayimu sendiri.”
“Gadis, kita sudah sering membicarakan ini.
Kamu sudah tahu jawabanku tetap tidak akan berubah. Lagian kita masih muda,
kan.”
“Kamu mau nunggu umur kita berapa? 40
tahun? Kamu denger gak ibu-ibu di sekolah tadi ngomongin aku.”
“Aku dengar. Apa urusannya sama mereka?
Kita yang jalanin hidup kita sendiri.”
“Rio, aku ingin seorang anak darimu.”
Rio menoleh pada Pak Yanto yang sudah
memasang headset-nya. Pak Yanto sudah hafal akan jadi kemana pembicaraan mereka
nanti dan memilih tidak mendengarkannya. Ia juga membalik kaca tengah mobil
dengan cepat. Kepalanya kini mengangguk-angguk mengikuti alunan musik yang ia
dengar. Gorden yang terpasang di tengah mobil itu sudah tertutup sempurna.
“Kita bisa membuatnya sekarang.”
“Apa? Bukan itu maksudku. Rio! Kamu...”
Mereka sampai di depan kantor Alex, Gadis
merapikan penampilannya, lalu turun dari mobil. Ia sempat berpapasan di depan lobby
dengan Alex yang baru datang juga.
“Pah, Gadis duluan keatas.”
melihat Rio yang baru selesai merapikan penampilannya di dalam mobil yang
pintunya terbuka.
“Masih pagi, woi!”teriak Alex pada Rio.
“Semalem gak dapet, pah.”balas Rio dengan
wajah cengengesan tanpa dosa. “Rio, ngantor dulu ya. Bye, pah.”
“Dasar bocah gemblung. Kalo gini aku kan
juga pengen pulang lagi.” Alex mengambil ponselnya, ia meminta Mia mengantarkan
makan siang untuknya nanti.
Rio sampai juga di kantornya, Pak Yanto membuka
pintu untuk Rio. “Makasi, pak. Habis ini langsung pulang ya. Jangan lupa ambil
laundry-an, pak.”
Pak Yanto mengangguk. Rio memasuki lobby
perusahaan Arnold. Ia tidak melihat beberapa karyawan yang baru masuk sedang
dipandu HRD berkeliling.
“Nah, itu Pak Mario, beliau direktur
disini. Ruangan beliau ada di lantai paling atas.”
Sosok Rio yang tampan membuat beberapa
karyawan wanita berbisik-bisik kagum, tak terkecuali Kinanti. Gadis itu terus
menatap Rio yang masih berdiri di depan lift dengan sabar. Ilham yang juga baru
datang, segera bergabung dengan Rio.
“Pagi, om.”
“Pagi, Rio.Siap meeting hari ini.”
“Ya, seperti biasa, om. Kak Rara bilang mau
balik segera, apa semua dokumennya sudah siap?”
“Masih proses. Sebulan lagi baru bisa,
sesuai kontrakmu.”
Keduanya masuk ke dalam lift yang terbuka.
Setelah 5 tahun berlalu, Rara dan Arnold
akhirnya bisa mengawasi bisnis Ronald dari jauh. Semua struktur perusahaan
sudah bisa berjalan dengan baik tanpa perlu pengawasan. Saatnya Rara kembali ke
kota kelahirannya. Arnold sudah membangun rumah tak jauh dari rumah Alex
untuknya tinggal bersama Rara dan Reynold nantinya.
Tapi masalah kembalinya Rara belum
diketahui Gadis. Rio belum mendapat kepastian kapan tepatnya Rara akan kembali.
Rio juga akan menyerahkan jabatannya sebagai direktur sesuai kontrak yang sudah
mereka sepakati.
Kontrak itu salah satu syarat yang diajukan
Rio pada Rara saat kakaknya memintanya untuk jadi direktur di perusahaan Arnold
menggantikan dirinya. Rio akan kembali jadi wakil direktur di perusahaan Alex
setelah urusan dengan perusahaan Arnold beres.
Meskipun mereka bersaudara, tapi untuk
urusan bisnis, harus profesional. Rio masuk ke ruang kerjanya selama 5 tahun
ini. Ia melirik ponselnya yang berdering,
“Halo, kak.”
“Rio, kamu dimana?” Rara menelpon Rio. “Kakak
dari bandara. Kamu di kantor, kan?”
“Ya, kak. Kakak pulang sekarang?! Kakak mau
mampir?”
“Nggak. Kakak mau bicara sama kamu sama
Gadis juga tentang Rey. Jam berapa Rey pulang?”
“Hari ini jam 1, kak. Besok jam 3, lusa jam
1...” Rio nyerocos membeberkan jadwal Reynold yang ia hafal di luar kepala.
Meskipun sibuk kerja, Rio dan Gadis selalu mengurus keperluan Reynold dan si
kembar dengan baik.
“Haduh, banyak amat kegiatannya. Itu
sekolah SD?”
“He-eh. Kakak mau jemput dia?”
“Iya. Yang biasanya jemput siapa? Kamu atau
Gadis?”
“Kadang aku, kadang Gadis, kadang mama.
Gantian, kak.”
Rio mengatakan kalau Rara harus
menjemputnya bersama Mia sambil kenalan dengan gurunya. Rara memutuskan
langsung ke rumah Alex dulu.
Rio meletakkan ponselnya diatas meja. Ia
belum memberitahu Gadis tentang rencana Rara yang akan kembali. Rio baru
mengambil ponselnya lagi, tapi Ilham memanggilnya untuk meeting.
Sore harinya sepulang kerja, Gadis pulang
bersama Alex. Mereka sampai di depan rumah bersamaan dengan Rio yang tiba
bersama Pak Yanto.
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah yang
saat itu sedang ramai dengan celotehan si kembar Rava dan Reva.
“Rara?”panggil Alex ketika melihat putrinya
duduk diantara dibelakang Rey.
“Kak Rara?” Gadis menoleh Rio yang
mengangguk.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.