
Gak Percaya
Elo membawa Riri ke apartmentnya lagi. Riri menatap Elo saat mereka sampai di parkiran.
Riri : "Kesini, kak?"
Elo : "Iya, kenapa? Masih takut?"
Elo mengambil sesuatu di bangku belakang. Dan menyerahkannya pada Riri.
Elo : "Nih, pakai." Riri menerima hoodie dari Elo.
Riri : "Buat apa, kak?"
Elo : "Biar aku gak bisa nerkam kamu."
Riri : "Ach, kakak bercanda aja."
Elo : "Kalau kamu ngrasa lebih nyaman, pakai aja."
Riri : "Iya, kak."
Riri memakai hoodie itu dan turun dari mobil Elo. Mereka berjalan beriringan masuk ke apartment.
Sampai di kamar, Riri menurunkan topi hoodie itu dan duduk di tempat favoritnya. Elo mengambil beberapa buku yang baru ia beli. Masih gres dan terbungkus plastik.
Ia menyiapkan teh dan juga cemilan untuk Riri.
Elo : "Kamu mau makan apa? Ada cumi asam manis, ayam goreng, atau capcay?"
Riri : "Cumi asam manis enak kayaknya, kak."
Elo : "Ok, tunggu ya. Sambil nunggu, coba buka dulu plastik di bukunya."
Riri membuka pelan-pelan plastik yang membungkus buku baru itu. Ia melihat ada notif pesan di ponselnya.
Riri ingin membuka notif itu tapi Elo sudah memanggilnya.
Makan malam sudah siap diatas meja.
Elo : "Ri, ayo makan dulu."
Riri mendekati Elo dan duduk di meja bar. Suasana cukup romantis karena Elo menghidupkan musik dan lilin untuk menemani mereka makan malam.
Elo : "Makan yang banyak, Ri. Aku ada kejutan buat kamu."
Riri : "Oh ya? Apaan kak?"
Elo : "Gak kejutan dong kalo kubilang sekarang."
Riri : "Kakak nich, kan jadi penasaran."
Elo : "Sabar, makan dulu."
Riri menghabiskan masakan Elo dengan cepat. Ia membantu Elo mencuci piring danΒ kembali duduk di sudut apartment Elo.
Elo mendekati Riri membawa kertas catatan percepatan kuliah yang sudah ia siapkan.
Elo : "Dengar, tadi kan aku rapat sama dosen yang lain. Dekan bilang ada kesempatan percepatan kuliah untuk mahasiswa penerima beasiswa."
Riri : "Maksudnya gimana, kak?"
Elo : "Artinya kalau kamu mau ikut percepatan, kamu bisa lulus kuliah lebih cepat."
Riri : "Beneran, kak? Mau, mau...! Gimana caranya?"
Elo menerangkan cara untuk percepatan kuliah pada Riri yang mencatat pada ponselnya.
Riri : "Jadi kalau aku bisa ngambil semua mata kuliah ini dalam 2 tahun aku bisa lulus ya kak?"
Elo : "Iya, sayang. Dan kau tau apa artinya itu?"
Riri : "Aku bisa cepat cari kerja?"
Elo : "Kita bisa segera menikah, sayang."
Bluss. Wajah Riri memerah, ia belum ingin menikah secepat ini. Ia berharap bisa kerja dulu di salah satu perusahaan swasta sambil tetap mengerjakan novel online-nya.
Riri : "Kak, gak kecepetan ya?"
Elo : "Sebenarnya aku ada rencana kuliah lagi di luar negeri, tapj aku gak mau kesana sendiri. Aku harap kamu mau nemenin aku."
Riri : "Kuliah ke luar negeri? S2?"
Elo : "S3, Ri. Kakek mau aku gantikan posisi kakek di kampus. Tapi aku harus kuliah lagi. Kamu juga bisa kuliah S2 disana."
Riri : "Kuliah ke luar negeri, kak... Waoow... Tawaran yang menarik sekali."
Elo : "Makanya kita nikah, terus kesana berdua."
Riri : "Waduh, mama sama papa ngasi gak ya?"
Elo : "Aku pasti jagain kamu, Ri."
Riri : "Kak, kalau kesana, aku kan akan jauh sama keluargaku. Aku harus pertimbangkan dulu baik-baik."
Elo : "Waktu sampai kamu lulus kuliah masa gak cukup? Kita bisa tunangan dulu."
Riri : "Kak, bisa kita pelan-pelan dulu. Kita baru aja kenal."
Elo menyandarkan tubuhnya ke bantal besar di sampingnya. Susah sekali membujuk Riri, dan sepertinya dia terlalu terburu-buru.
Riri : "Kakak bisa sabar kan? Kalau gak, mungkin kita harus mempertimbangkan lagi hubungan ini."
Riri : "Sabar ya, kak. Aku masih terlalu muda untuk menikah."
Elo menarik Riri hingga bisa memeluknya. Menghirup wangi rambut Riri yang lembut. Elo selalu merasa nyaman bersama Riri.
Riri mendongak menatap Elo, suasana yang sepi hanya ada mereka berdua. Elo menunduk mencium bibir Riri. Jemari mereka bertaut sangat erat.
Riri melepaskan ciuman mereka dan bersandar dengan nyaman pada tubuh Elo.
Riri : "Kak..."
Elo : "Kenapa sayang?" Elo belum puas mencium Riri tapi ia tidak mau memaksa dan membuat Riri tidak nyaman. Sebagai gantinya ia mencium rambut Riri.
Riri : "Kapan kita mulai review bukunya?"
Elo : "Sebentar lagi. Kita masih punya waktu."
Riri : "Sebenarnya asrama tutup jam 11 dan ini sudah jam 8, kita perlu waktu 30 menit sampai di asrama dari sini."
Elo : "Kamu paling bisa merusak suasana romantis ya. Ok, kita mulai."
Riri tersenyum manis saat Elo mengambil salah satu buku yang menumpuk di dekat kakinya. Elo membalik tubuh Riri dan mereka mulai membaca review buku pertama.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Rio menghentikan mobilnya di salah satu tempat pacaran yang terkenal di kota Y. Saat itu masih terlalu awal tapi sudah banyak mobil terparkir disana.
Kaori : "Kita ngapain kesini?"
Rio : "Pacaran lah, apalagi?"
Kaori : "Dan tepatnya ngapain?"
Rio : "Kamu gak lihat langitnya. Malam ini bulan purnama, kita bisa melihatnya sambil ngobrol."
Kaori : "Oh, ngobrol..."
Rio : "Kamu mikir apa? Jangan bilang kamu mau yang lain?"
Rio melepas sabuk pengamannya dan mulai mendekati Kaori. Kaori menahan tubuh Rio.
Kaori : "Kamu mau apa sich?"
Rio : "Aku mau menghukummu."
Kaori : "Aku kan benar jawabnya. Dihukum darimana? Bisa-bisanya kamu aja nich."
Rio : "Kasi ja, bentar aja..."
Kaori : "Nggak! Nanti ada yang liat. Kita bisa disidang disini."
Kaori masih mendorong Rio yang akhirnya duduk kembali ke kursinya.
Rio : "Pelit..."
Kaori : "Biarin... Weekk...!"
Rio membuka pintu mobil,
Kaori : "Mau kemana?"
Rio : "Kenapa? Aku mau beli cemilan."
Kaori : "Aku ikut."
Mereka berdua berjalan beriringan mendekati penjual makanan di dekat sana. Setelah membeli apapun yang mereka inginkan, Rio mengajak Kaori kembali ke mobilnya.
Kaori berjalan sambil memperhatikan satu persatu mobil yang terparkir disana. Tiba-tiba ia berhenti saat melihat seseorang yang ia kenal sedang berciuman dengan seseorang didalam salah satu mobil-mobil itu.
Kaori : "Kakak! Kak Katty!!"
Kaori memukul kaca mobil dengan telapak tangannya membuat penghuni dalam mobil terkejut.
Katty : "Kaori?"
Kaori : "Kak Katty! Ngapain disini?"
Wajah Kaori memerah melihat Katty sedang bersama seorang pria di dalam mobil itu. Ia baru saja melihat kakaknya itu berciuman. Astaga!
Katty keluar dari mobil dan memeluk Kaori. Entah sudah berapa lama mereka tidak bertemu.
Kaori : "Kak, kenapa kakak gak pulang?"
Katty : "Aku kan sibuk, dek. Kamu sama siapa?"
Rio bengong menatap pria yang tadi bersama Katty.
Rio : "Kak Jodi?!"
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
π²π²π²π²π²