Duren Manis

Duren Manis
Saingan nich


Elo dan Riri berjalan ke toko buku di sudut mall setelah berpisah dengan yang lainnya. Mereka ingin mencari buku terbaru yang ingin mereka baca.


Keduanya tampak berjalan tidak terlalu rapat, sambil ngobrol ringan. Sampai di dalam toko, Riri langsung melihat buku yang ingin ia beli.


Riri : "Kak, yang itu bukunya."


Elo mengambil buku yang ditunjuk Riri dan mereka membaca ringkasan dibelakang buku itu. Riri menjelaskan singkat kalau itu buku kedua dan yang pertama Elo harus baca dulu baru ngerti lanjutannya.


Elo : "Coba spoiler lagi."


Riri : "Ihh.. kakak nyindir ya."


Elo : "Gak, lebih cepet kalo kamu spoiler jadi kita bisa baca buku ini sama-sama."


Wajah Riri merona mendengar kata-kata Elo. Ia menyukai Elo yang selalu bisa membuatnya tertarik menghabiskan waktu bersamanya.


Selain tampan, Elo juga sangat pintar. Ia bisa mengimbangi pembicaraan Riri yang terkadang terlalu berat untuk remaja seusianya.


Riri mencari terbitan pertama buku itu di temani Elo. Ia segera menemukannya di tumpukan buku baru dan mereka membaca ringkasannya bersama.


Riri : "Kakak yakin nich mau aku spoiler? Gak baca sendiri?"


Elo : "Iya, nanti ada waktu lagi aku baca dari awal."


Sedang asyik menceritakan isi buku pertama pada Elo, seseorang datang diantara mereka.


Keith : "Hai, Ri. Kamu disini?"


Riri : "Iya, hai Keith."


Keith : "Loh, pak Angelo juga disini."


Elo : "Kebetulan ketemu Riri tadi waktu nonton."


Keith : "Kalian nonton bareng?"


Nada suara Keith yang biasanya ceria, jadi agak rendah dan berat.


Riri : "Iya tadi nonton bareng."


Riri tidak menanyakan sedang apa Keith disini. Ia tidak ingin berlama-lama berinteraksi dengan Keith. Fokusnya kembali ke Elo yang masih menunggunya selesai cerita.


Keith : "Ri, kamu uda makan?"


Riri : "Uda."


Keith : "Nanti pulangnya ama sapa? Aku anter ya."


Riri : "Aku pulang dianter kak Elo."


Keith : "Aku..."


Riri : "Kak, bisa kasi waktu kami buat bicara berdua sebentar."


Riri menatap Elo yang mengangguk, ia beranjak dari samping Riri dan berjalan menjauh sedikit.


Riri menoleh menatap Keith,


Riri : "Kak, aku lagi ngobrol sama kak Elo. Bisa gak ganggu kami dulu."


Keith : "Apa hubungan kamu sama dia?"


Riri : "Aku rasa kakak gak berhak menanyakan itu. Kita hanya teman dan tidak seakrab itu. Jadi, bisa kasi kami waktu?"


Keith : "Tapi, Ri... Masa kamu gak paham perasaanku?"


Riri : "Maksud kakak apa? Aku harus balik ke kak Elo."


Keith : "Kalo gitu, sampai ketemu lagi..."


Riri balik badan, berjalan cepat mendekati Elo yang berdiri di dekat rak buku sambil melihat kearahnya.


Elo : "Uda, Ri?"


Riri : "Uda, kak. Kita lanjut lagi?"


Elo : "Aku uda ketemu buku yang kucari. Gimana kalo kita beli buku ini trus kita ke cafe depan sana. Kita baca sambil nyemil."


Riri : "Mmm... Tapi..."


Elo : "Gak akan lama, Ri. Jam 8 aku anter kamu pulang."


Riri : "Iya, kak. Mau."


Elo tersenyum menatap Riri yang terlihat bersemangat. Mereka berjalan menuju kasir dan Elo membayar buku yang diinginkan Riri setelah berdebat kalau Riri yang akan bayar sendiri buku itu.


Disudut toko buku, Keith masih memperhatikan kedekatan Riri dan Elo. Tangannya mengepal kesal dan cemburu. Ia memutuskan mengikuti kemana mereka pergi.


🌻🌻🌻🌻🌻


Sampai di cafe, mereka mencari tempat duduk yang nyaman dan tenang. Pelayan datang menanyakan pesanan mereka danΒ  Elo memesan ice capucino untuk mereka.


Elo membuka plastik buku yang tadi dibelinya. Riri mendekatkan dirinya melihat ringkasan buku itu,


Elo : "Buku ini referensi dari temenku. Dia juga suka baca dan katanya buku ini cukup menarik."


Riri : "Temen cowok apa cewek?"


Riri terdiam setelah mulutnya refleks meluncurkan kata-kata itu. Elo tersenyum menatapnya,


Elo : "Temen cewek. Kami ketemu di toko buku dan langsung akrab."


Riri sangat sadar kalau dia tidak pantas menanyakan hal-hal seperti itu. Tapi mulutnya tidak mau berhenti komentar.


Elo : "Iya cantik."


Elo menoleh menatap Riri yang tiba-tiba diam menatap buku yang dipegangnya.


Elo : "Kenapa?"


Riri : "Apa? Oh, gak pa-pa, kak."


Riri sedikit kecewa karena Elo memuji gadis lain di depannya. Ia jadi sedikit kesal dan ingin cepat pulang. Tapi ia masih mau ngobrol sama Elo.


Pesanan mereka datang. Riri langsung meminum capucinonya tanpa menggunakan sedotan. Ia sedikit terburu-buru tanpa sadar kalau busa capucino menempel di atas bibirnya.


Elo melihat itu, ia menggunakan jempolnya mengusap sisa busa capucino di atas bibir Riri dan menjilatnya.


Elo : "Manis..."


Blush! Wajah Riri merona merah mendapat perlakuan yang tidak terduga dari Elo. Elo menatap Riri yang sudah membersihkan bibirnya dengan tisu.


Sedang asyik pandang-pandangan, keduanya menoleh bersama saat seseorang menyapa Elo.


Siska : "Hai, Angelo."


Elo : "Hai, Siska. Apa kabar? Duduk."


Riri melihat seorang perempuan yang cantik dan seksi duduk di samping Elo, bergabung dengan mereka.


Elo : "Riri, ini Siska. Dia teman yang kuceritakan tadi."


Siska : "Kamu ngomongin aku? Gak yang jelek-jelek kan."


Siska meletakkan tangannya di bahu Elo, menepuk bahu laki-laki itu dengan mesra. Riri cemberut melihat kedekatan mereka. Ia gak suka Siska dekat dengan Elo.


Siska : "Dia siapa?"


Siska menatap penuh minat pada Riri yang cemberut tapi masih terlihat cantik.


Elo : "Ini Riri, dia adik teman kuliahku. Kebetulan hoby kita sama-sama suka baca."


Riri kecewa mendengar Elo memperkenalkannya sebagai adik Rara. Memang kenyataannya sich, tapi ia ingin dikenalkan sebagai teman pada awalnya.


Siska : "Kamu suka baca juga? Buku siapa itu?"


Riri hampir menjauhkan buku Elo yang dipegangnya tadi. Tapi Elo keburu mengambil buku itu.


Siska : "Ach, ini. Pilihan bagus. Kau harus membacanya."


Riri : "Memangnya kakak uda baca?"


Siska : "Uda. Ceritanya menarik. Mau spoiler?"


Elo : "Noo...! Diamlah. Kami mau membacanya sama-sama."


Riri tersenyum mendengar Elo melarang Siska bicara lagi. Perubahan ekspresi wajah Riri menarik perhatian Siska. Ia menarik Elo mendekatinya dan berbisik sesuatu.


Lagi-lagi Riri cemberut melihatnya. Siska hampir ketawa ngakak melihat wajah Riri. Siska duduk tegak kembali, ia melihat jam tangannya dan mengeluh.


Siska : "Tuch kan uda jam 8 aja. Cepet banget sich waktu berjalan. Aku pulang duluan ya."


Riri : "Iya, kak. Dadah, kak."


Siska tersenyum melihat reaksi Riri yang heboh melihatnya mau pergi. Ia menyikut lengan Elo yang entah kenapa merona setelahnya.


Siska : "Bye, Angelo. Sampai jumpa, Riri."


Riri : "Dadah, kak."


Riri menatap Elo yang masih merona, entah apa yang dibisikkan Siska padanya dan Riri gak suka melihat reaksi Elo.


Elo : "Ri, ayo kita pulang. Uda jam 8."


Riri : "Yah, baru mulai baca. Ya uda dech."


Elo membayar pesanan mereka dan menuntun Riri keluar dari sana. Mereka berjalan berdampingan sampai ke tempat parkir.


Elo membukakan pintu mobilnya untuk Riri, baru saja mau masuk, suara klakson mobil mengagetkan mereka. Keith melongok dari dalam mobil mewah menatap mobil mini bus Elo.


Keith : "Ri, ayo pulang sama aku."


Riri : "Aku dianter kak Elo. Makasih."


Keith berlalu tanpa bicara apa-apa lagi. Riri menatapnya kepergiannya sedikit kesal.


Riri : "Ayo, kita pulang, kak."


Elo duduk di samping Riri dan mengemudikan mobilnya ke rumah Riri.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲