Duren Manis

Duren Manis
Extra part 56 Alan & Ginara


Extra part 56


Alan & Ginara


Alan memberikan keputusan itu pada Melda sebagai


nyonya di rumah itu. Ia tidak mau pusing dengan perabotan dan sejenisnya. Tapi


Alan mengatakan kalau Melda menginginkan sesuatu, ia bisa membelinya. Alan siap


membayar semuanya. Harapan author juga punya anak berbakti seperti Alan. Bisa


ngebebasin mamanya belanja tanpa takut budget.


“Benarkah? Mama udah lama mau beli presto. Kita


bisa makan sup iga terus,” kata Melda sumringah.


Ina mengatakan kalau perabotan masak di rumah itu sudah


dilengkapi dan Melda tinggal memeriksa yang kurang. Alan hanya mengatakan kalau


Ina bisa mulai masak makan malam untuk mereka semua dan ART itu mengatakan


kalau makanan sudah siap.


Melda dan X saling pandang, mereka masih berada di


antara alam nyata dan alam mimpi. Meskipun makanan sudah terhidang di meja


makan, siap disantap, mereka masih belum percaya dengan apa yang terjadi.


“Alan, kamu kerja apa sebenarnya?” tanya X.


“Pah, aku nggak bisa bilang apa kerjaanku. Kontrak


kerjaku sangat ketat, pah. Tapi papa sama mama tenang aja, kerjaanku tidak


berbahaya,” kata Alan.


”Kerjaannya


nggak bahaya, tapi bos-nya yang berbahaya” batin Alan.


X dan Melda memahami keputusan Alan untuk tidak mengatakan


pekerjaannya. Mereka menikmati makan malam sebelum berangkat ke rumah Ginara.


Alan ingin bicara dulu dengan orang tua Ginara untuk melamar gadis itu.


**


Kedatangan Alan dan orang tuanya ke rumah Ginara,


cukup mengejutkan Anisa dan Guntur. X meminta maaf karena mereka datang tanpa


pemberitahuan dan tentu saja sudah malam. Tapi Alan memaksa untuk datang karena


ada hal penting yang perlu ia sampaikan malam itu juga.


“Om, tante, kedatangan saya kesini ingin


menyampaikan maksud baik. Sekiranya om dan tante bisa mempertimbangkan keinginan


saya ini. Saya ingin melamar Ginara untuk menjadi istri saya,” kata Alan dengan


tegas.


Guntur dan Anisa saling pandang, mereka menatap


sosok pemuda di hadapan mereka itu. Alan pemuda yang baik, dan sepertinya bisa


bertanggung jawab. Pemuda ini juga menyelamatkan Ginara dari penyerangan yang


terjadi padanya dan membantu menangkap pelakunya.


“Alan, maafkan om karena menuduhmu tanpa bukti yang


jelas,” ucap Guntur.


“Tidak apa-apa, om. Saya maklum, jadi bagaimana


dengan lamaran saya, om?” tanya Alan tidak sabaran.


“Semuanya biar Ginara yang memutuskan ya. Om dan


tante masih berusaha menyembuhkan rasa traumanya. Atau mungkin Alan mau ketemu


dengan Ginara?” tanya Guntur.


“Kalau boleh, saya mau ketemu Ginara, om,” ucap


Alan.


Guntur dan Anisa mengangguk menyetujui permintaan


Alan. Mereka mengantar Alan ke kamar Ginara yang ada di lantai dua rumah itu.


Tok, tok, tok! Guntur mengetuk pintu kamar Ginara,


ia membukanya setelah beberapa saat. Ginara tampak sedang melamun menatap


keluar jendela kamarnya. Angin malam yang dingin berhembus masuk membuat


suasana kamar itu semakin dingin.


“Beberapa hari ini, dia selalu melamun seperti itu.


Ginara lebih banyak diam setelah peristiwa itu. Bahkan pengobatan dari psikiater


juga tidak bisa mengembalikan keceriaannya lagi. Alan, kamu yakin dengan


keputusanmu?” tanya Guntur.


“Iya, om. Saya ijin mendekati Ginara, om.” Alan


berjalan mendekati Ginara dan memanggilnya. Gadis itu menoleh dengan cepat saat


mendengar suara Alan.


“Alan?” panggil Ginara.


“Iya, Gina. Ini aku,” kata Alan.


Tiba-tiba Ginara menundukkan kepalanya, ia


berteriak minta tolong sambil memanggil-manggil nama Alan terus-menerus.


“Alan! Tolong!” jerit Ginara.


Alan naik ke atas tempat tidur Ginara, lalu memeluk


gadis itu. Perlahan Ginara berhenti berteriak, ia juga memeluk Alan dengan


tubuh gemetar.


“Sudah aman, Gin. Tenang, tenang ya. Aku ada


disini,” ucap Alan di telinga Ginara.


Ginara mulai tertidur setelah Alan menenangkannya. Perlahan


pemuda itu membaringkan Ginara dibantu Guntur dan Anisa. Ketika Alan beranjak


dari sisi Ginara, tangannya masih digenggam gadis itu dengan erat.


“Sepertinya Ginara sangat mempercayaimu, Alan,”


ucap Anisa.


“Mungkin kebetulan karena saya yang terakhir sama


Ginara, tante.” Alan masih berusaha melepaskan tangannya yang masih di genggam


Ginara.


Meskipun ia sangat senang karena Ginara menggenggam


tangannya, tapi masih ada orang tua mereka disana. Alan tidak mau orang tuanya


menggoda dirinya lagi di depan orang tua Ginara.


Wajah Alan langsung merona sangat merah sampai ke


telinganya juga. Pemuda itu berdehem sebelum mengangguk malu-malu. Alan segera


menormalkan ekspresi wajahnya kembali, ia mengusap-usap tangan Ginara agar mau


melepaskan tangannya.


Ketika tangan Alan terlepas, pemuda itu segera


bangkit dari sisi Ginara dan berjalan keluar dari kamar gadis itu. Ia sempat


mendengar Ginara memanggil namanya lagi, tapi Alan sudah terlalu malu untuk berada


di dekat gadis itu sekarang.


Setelah mereka duduk kembali di ruang tamu, Guntur


dan Anisa tidak punya alasan lagi untuk menolak lamaran Alan. Tapi tetap saja,


mereka harus menunggu persetujuan Ginara juga. Malam itu, Alan pulang dari


rumah Ginara dengan hati lega.


**


Keesokan harinya, Alan datang lagi ke rumah Ginara.


Pemuda itu menunggu Ginara turun di ruang tamu dengan perasaan gugup. Alan akan


mengatakan sendiri pada Ginara kalau ia ingin menikahi gadis itu.


“Alan,” sapa Ginara saat gadis itu sampai di ruang


tamu rumahnya.


“Ginara, apa kabar?” tanya Alan sambil berdiri


menyambut kehadiran Ginara.


“Aku baik. Kamu sudah lama? Mau minum apa?” tanya


Ginara.


“Mamamu sudah menawari minum tadi,” sahut Alan.


Ginara duduk di ruang tamu menemani Alan. Pemuda


itu terlihat ragu ingin mengatakan sesuatu, tapi ia harus mengatakannya juga.


“Ginara, aku kesini. Mau bilang sesuatu sama kamu.


Mau nanya sich, kalo boleh,” ucap Alan hati-hati.


“Ada apa, Lan?” tanya Ginara ikut tegang.


“Aku... Ginara, mau nggak kamu menikah denganku?”


tanya Alan akhirnya.


Ginara melongo dengan bibir sedikit terbuka, ia


menunduk sebentar lalu menatap Alan lagi. Untuk sesaat Ginara tidak bisa


berkata-kata.


“A—Alan, tolong jangan tanya hal seperti itu. Aku


bukan gadis yang pantas untuk kamu. Aku kotor,” ucap Ginara sambil


meremas-remas ujung bajunya.


“Ginara, kamu masih suci. Sungguh. Orang itu belum


sempat melakukan apa-apa. Aku lihat sendiri, Ra,” kata Alan mencoba menjelaskan


situasi saat ia menemukan Ginara malam itu.


“Tetap saja orang jahat itu sudah menyentuh


tubuhku, Lan. Aku merasa ada yang hilang dari diriku,” lirih Ginara mulai sedih


lagi.


Alan bisa melihat pakaian Ginara lebih tertutup


dari biasanya. Ia bahkan memakai kerudung untuk menutupi rambut indahnya. Alan


mencoba mengalihkan perhatian Ginara agar tidak sedih.


“Semalam aku datang. Kau ingat?” tanya Alan. Ginara


mengangguk, ia merasa sangat nyaman saat melihat Alan. Gadis itu tersenyum pada


Alan, membuat jantung pemuda itu semakin berdebar. “Kenapa kamu nggak mau


ngelepasin tanganku?” tanya Alan lagi.


Ginara menggeleng, ia tidak tahu jawabannya. Alan tiba-tiba


berlutut di depan Ginara, ia mengulurkan tangannya agar digenggam gadis itu.


“Pegang tanganku, Ginara. Katakan jujur, apa aku


bertepuk sebelah tangan?” tanya Alan.


“Kamu tepuk tangan?” tanya Ginara agak loading.


Alan menahan senyumnya melihat kepolosan Ginara.


Pemuda itu menggenggam tangan Ginara lalu menatap matanya.


“Ginara...,” panggil Alan.


“Ya?” sahut Ginara.


“Menikahlah denganku,” pinta Alan lagi.


Ginara menelan salivanya, ia masih merasa tidak


pantas untuk Alan. Dalam pikirannya, tubuhnya sudah disentuh pria lain. Gadis itu


merasa kehilangan yang sebenarnya belum terjadi pada dirinya. Ginara ingin


menggeleng tapi ia melihat kesungguhan Alan dan akhirnya mengangguk tanpa


sadar.


“Benarkah? Kamu mau menikah denganku?” tanya Alan


meyakinkan dirinya.


Ginara mengangguk sekali lagi, membuat Alan ingin


memeluknya tapi memilih mengecup punggung tangan gadis itu. Anisa yang


mengintip keduanya dari balik sekat pembatas ruang tamu, segera mengabari


Guntur kalau Ginara sudah mau menikah dengan Alan.


Wanita itu melihat keduanya berjalan mendekati


dirinya. Alan meminta ijin mengajak Ginara ke rumahnya. Anisa bertanya sekali lagi


apa Ginara mau ikut ke rumah Alan dan gadis itu mengangguk malu-malu. Anisa


mengijinkan mereka berdua pergi dan berpesan pada Alan untuk menjaga Ginara.


**


Sampai di rumah baru Alan, Ginara melihat-lihat rumah


itu. Perabotannya belum lengkap semua karena Alan ingin Melda dan Ginara yang


mengisinya nanti. Pemuda itu juga mengajak Ginara masuk ke kamarnya. Ginara


yang merasa tidak nyaman, sempat menolak masuk. Tapi Alan mengatakan kalau ia


ingin membeli perabotan untuk wanita dan bingung memilihnya.