
Extra part 60 Keira & Bilar
Keira juga melihat wajah Bianca yang terlihat
shock. Ia menelan salivanya sebelum nyengir lagi. Takut-takut, Keira mendekati
Bianca lalu duduk di sampingnya.
“Mah, aku bisa jelasin semuanya. Ini nggak seperti
yang mama bayangin. Sungguh, mah,” kata Keira takut kalau Bianca shock
mendengar kata-katanya tadi.
“Kamu beneran bantuin Bilar dengan cara seperti
itu?” tanya Bianca malah mempertegas kata-kata Keira tadi.
“Kan ngga mungkin kalau pakai cara yang biasa, mah.
Aku masih perawan. Satu-satunya cara ya, pakai itu,” kata Keira malu banget
sampai rasanya ingin membenamkan dirinya di kolam cendol. Cendol, cendol,
dawet, dawet, cendol dawet!
“Ya, udah. Rasa penasaran mama terjawab sudah. Jadi
kalian selama ini juga begitu caranya,” kejar Bianca masih kepo.
Keira tidak menjawab, ia lebih takut pada Bilar
sekarang. Kalau Keira berani menjawab pertanyaan Bianca sekarang, Bilar akan
terus mengejarnya untuk melakukan apa yang dilakukan Keira di kamar hotel itu.
Tapi Keira memilih menggeleng, ia sudah menyimpan rahasia itu agar Bilar tidak
menuntut apapun darinya. Keira pasrah sudah menunggu reaksi Bilar nanti.
“Mah, aku maunya melakukan itu kalau udah nikah.
Kata papa, rasanya lebih tenang. Kan udah sah,” kata Keira mencoba memberi
pengertian pada Bilar tapi bicara lewat mamanya.
“Iya, mama setuju. Papa sama mama juga melakukannya
di malam pertama setelah pernikahan kami. Sampai sekarang mama masih ingat
rasanya,” kata Bianca mengenang saat-saat ia melalui malam yang indah bersama
Ilham.
“Mama diapain sama papa?” bisik Keira kepo sambil
celingak-celinguk memastikan Ilham sudah berangkat ke kantor atau belum.
“Iih, kepo sekali kamu. Kalo nggak diapa-apain
gimana bisa jadi Bilar segede gini,” kata Bianca mau jujur tapi malu.
“Kan sharing pengalaman, mah. Minta saran gaya yang
bagus gitu,” kata Keira mulai jahil pada calon ibu mertuanya.
Bianca tidak bisa berkata-kata lagi menghadapi
kelakuan Keira. Kalau dulu tentu saja ia akan mengejar gadis itu dan
mencubitnya. Tapi sekarang ia sudah terlanjur sayang pada calon menantunya itu.
Mereka berdua bicara seolah-olah Bilar tidak ada disana. Padahal pria itu
menguping pembicaraan dewasa antara calon mertua dan menantu itu.
“Mah, masih ada sarapan nggak?” tanya Bilar yang
mulai lapar.
“Loh, kalian belum sarapan?” tanya Bianca.
Keduanya kompak menggeleng, gimana mau buat sarapan
kalau Bianca sudah memanggil mereka pagi-pagi. Mereka berpindah ke meja makan.
Mereka asyik ngobrol sampai sejam berikutnya sambil menikmati sarapan. Keira
menepuk keningnya, ia terlambat datang ke kantor. Pantas saja sejak tadi
ponselnya berisik dengan chat masuk.
“Mah, aku ke kantor dulu ya. Nanti lanjut lagi
ngobrolnya,” kata Keira sambil mencium tangan Bianca.
“Aku juga ke kantor ya, mah,” kata Bilar berpamitan
pada mamanya.
Bianca mengantar mereka sampai di depan pintu. Ia
tersenyum melihat kemesraan Keira dan Bilar yang berjalan mendekati mobil
Bilar. Keira sudah takut karena kini tinggal dirinya berdua dengan Bilar. Dalam
hatinya ia berdoa agar Bilar melupakan kejadian memalukan tadi.
Bilar melirik Keira, calon istrinya itu lebih
pendiam dari sebelumnya. Ia ingin menggoda Keira tapi memilih mendiamkan gadis
itu. Sikap Bilar yang dingin membuat Keira bingung. Ia berpikir kalau Bilar
merasa jijik padanya setelah mendengar apa yang terjadi dengan mereka berdua di
kamar hotel.
Keira tidak berani bertanya pada Bilar tentang
perasaannya setelah mengetahui kemahiran Keira untuk urusan yang satu itu. Rasa
malu membuat Keira menunduk hampir menangis, ia tidak memperhatikan jalanan
sama sekali. Bilar membawa mereka kembali ke apartment Keira.
“Ki—kita ngapain kesini lagi, Bi? Aku harus kerja,”
tanya Keira bingung.
Bilar tidak mengatakan apa-apa, ia hanya keluar
dari mobil lalu berjalan mendekati lift. Keira cepat-cepat menyusul Bilar.
Melihat dari gelagatnya sepertinya Bilar akan mengemasi barang-barangnya dan
pergi dari apartment Keira.
“Bilar, kamu kenapa sich?” tanya Keira setelah
mereka berdua masuk ke dalam apartmentnya.
Saat pintu apartment sudah tertutup sempurna, pria
itu membopong tubuh Keira lalu menjatuhkannya ke atas tempat tidur.
“Bi—Bilar! Kamu mau apa? Jangan mendekat!” jerit
Keira mulai takut.
Bilar menarik dasinya sampai lepas lalu membuka
kemejanya. Bertelanjang dada, Bilar mengukung tubuh Keira yang deg-degan
melihat ulah calon suaminya itu. Keira masih berusaha mempertahankan
kehormatannya sekarang, tapi kalau Bilar memaksa, ia akan memukul pria itu
sampai pingsan. Tangan Keira meraih jam di atas nakas. Ia menggenggamnya dengan
kuat, bersiap memukul Bilar.
“Kamu ngapain ngambil jam gitu? Kamu mau pukul aku?”
tebak Bilar yang sudah waspada.
“Kamu mau ngapain? Jangan maksa, Bi. Aku nggak mau
itu sekarang!” bentak Keira hampir menangis.
“Aku mau gantian, buka dech,” kata Bilar dengan
wajah polosnya.
Keira menggeleng, ia tidak yakin kalau Bilar bisa
menahan dirinya kalau Keira membuka semua pakaiannya. Tubuh Keira cukup
sensitif hingga tanpa membuka semuanya, gadis itu bisa merasakan kepuasan juga.
Tangan Keira meraih pundak Bilar, memeluk pria itu dengan lembut.
“Bi, kamu nggak perlu melakukan hal yang sama seperti
yang sudah aku lakukan. Kamu pegang disini aja, aku udah nyampe, kok,” bisik
Keira sambil mengarahkan tangan Bilar ke dadanya.
Hari itu sampai sore hari, Keira mengajari Bilar
tidak terlalu menanggapi kalau Bilar mulai bermain-main dengan tubuhnya. Jujur
saja, dengan Reynold yang sama-sama saling memuaskan, Keira saja hampir
beberapa kali terlena. Apalagi dengan Bilar, pria yang ia cintai. Keira takut
lupa diri dan akhirnya menyesali kenikmatan sesaat itu.
“Kei...,” panggil Bilar setelah Keira mencapai
kepuasannya sekali lagi.
“Ya, sayang?” sahut Keira mesra, ia belum bisa
fokus pada Bilar.
“Aku inget sesuatu yang dikatakan om X waktu itu
dan aku penasaran. Kalau kita belum melakukannya, kenapa perutmu sakit waktu
itu? Om X bilang gitu, kamu megangin perutmu terus setelah dua jam kita di
dalam kamar,” tanya Bilar kepo.
“Aku kira waktu itu aku lagi PMS, jarang sakit
sich, tapi mungkin karena aku terlalu tegang,” ucap Keira sambil mengingat apa
yang terjadi waktu itu.
“Tegang kenapa? Bukannya harusnya lemes ya?” tanya
Bilar dengan wajah seriusnya.
“Kamu bisa bayangin nggak aku ngelakuin itu sama
kamu, trus mama sama papamu nungguin kita di depan pintu kamar. Om X itu
nungguin di depan kamar, Bilar. Aku tuch udah mau nenggelemin diri di bathup
saking malunya. Ada kali setengah jam aku di kamar mandi, nggak berani keluar.
Setengah jamnya lagi aku bolak-balik di kamar, nggak tahu harus gimana. Trus
kamu cuma bisa ngorok diatas tempat tidur,” jelas Keira.
“Trus kenapa kamu menghilang gitu aja? Nggak ada di
apartmentmu?” tanya Bilar lagi.
“Aku malu, Bi. Malu banget sama kamu, sama om X,
sama mamamu juga. Entah apa yang kalian pikirkan tentang aku. Padahal aku sudah
biasa melakukannya, tapi ketika sama kamu, rasanya beda. Aku ngerasa nggak utuh
lagi, gitu. Kayaknya semua orang yang ngeliat aku tuch, menilai aku wanita
murahan,” lirih Keira.
“Yank, kamu bukan seperti itu. Aku nggak pernah
menganggapmu seperti itu. Meskipun kita melakukannya waktu itu, aku akan tetap
mencintaimu, Kei,” kata Bilar manis.
Keira tersenyum senang, ia tidak salah jatuh cinta
pada Bilar. Keduanya saling memeluk dengan sangat nyaman sambil berbaring
diatas tempat tidur dan bicara dari hati ke hati.
Suara ponsel Bilar lagi-lagi mengganggu keasyikan
mereka. Bilar meraih ponselnya yang tergeletak di lantai, ada notif dari
sosmednya. Seseorang mengunggah foto dirinya yang masuk ke kamar hotel bersama
Silvia. Lalu ada foto testpack dengan dua garis merah. Dan kata-kata postingan yang
seolah teraniaya dari Silvia.
“Segalanya udah aku kasih, tapi balasannya aku
dibuang begitu saja.
“Oh, berani cari masalah. Beneran mau aku bongkar
semuanya ya,” kata Keira penuh ancaman.
“Emang kamu punya buktinya, yank?” tanya Bilar miris
melihat akun sosmednya dihujani kecaman dan hujatan.
Keira mengambil ponselnya, lalu menghubungi
Reynold. Ia bisa melakukannya tanpa takut kena roaming karena Reynold yang akan
bayar semuanya.
“Halo, beb,” sapa Reynold mesra. Kalau nggak ada Renata di dekatnya, Reynold akan memanggil
semua wanita yang menelponnya dengan panggilan mesra.
“Beb, gue dizolimi nenek lampir nich. Tolongin ya,”
rengek Keira auto manja. Sungguh itu hanya kebiasaan Keira kalau bicara pada
Reynold. Ia sama sekali tidak pakai hati kalau dengan Reynold.
Bilar jadi kesal mendengar cara bicara Keira yang mesra-mesraan
dengan Reynold. Belum lagi suara pria itu juga sama mesranya. Ponsel Bilar
kembali tergeletak di sampingnya, ia masuk ke balik selimut yang menutupi tubuh
Keira. Gadis itu masih bicara dengan Reynold, menceritakan masalah yang
dihadapinya.
“Ach! Bilar! Ach! Tunggu!” jerit Keira keenakan.
Reynold mengerutkan keningnya mendengar suara
desahan Keira yang sangat jelas. Ia jadi penasaran apa yang sedang dilakukan
Keira. Iseng, Reynold menekan laptopnya lalu membuka software rahasianya. Kamera
ponsel Keira menyala, Reynold bisa melihat gerakan Keira yang tidak stabil
diatas tempat tidurnya.
Pria itu beralih mencari kamera lainnya, kebetulan
laptop Keira terbuka di atas meja. Reynold bisa melihat lebih jelas, seseorang
sedang bergerak di balik selimut Keira.
“Bilar! Tunggu, aku masih ngomong. Ach! Bentar...,”
jerit Keira kelimpungan sendiri.
“Lo masih
sibuk ya? Ntar aja ngomong lagi, hehe...,” kata Reynold yang mulai pusing
mendengar suara Keira.
“Bentar, Rey. Tolong dong. Gue kirimin fotonya
nenek lampir itu ya. Dia yang pernah kita pergokin di club itu. Inget nggak?
Yang lo minta jatah lagi akhirnya karena nggak tahan liat dia main sama cowok,”
kata Keira.
Bilar yang mendengarnya, semakin marah. Pria itu
membuat Keira semakin belingsatan sampai menendang selimutnya sampai terjatuh
ke samping tempat tidur. Kali ini Reynold bisa melihat dengan jelas apa yang
terjadi di kamar Keira.
“Bilar, stop dulu bentar. Aku nggak kuat... Ach!”
jerit Keira akhirnya saat kepuasan menghajar tubuhnya dengan sangat hebat.
Reynold nyengir, ia mendapat tontonan gratis.
Sambil menunggu Keira kembali sadar, ia mencari biang kerok masalah yang
dikatakan Keira. Tidak sulit menemukan foto wanita itu karena di sosmed Bilar
jelas terlihat. Software rahasia Reynold mulai bekerja, mencari CCTV yang
merekam wajah Silvia. Ada beberapa yang langsung muncul, bahkan ada yang paling
baru disebuah kamar hotel.
Reynold menekan icon pencari peralatan berisi kamera
yang aktif di dalam kamar hotel itu. Ada dua ponsel yang sepertinya sedang
aktif kameranya. Reynold menggosok tangannya, jemarinya menari lincah
mengaktifkan softwarenya lalu mengirimkan link ke beberapa situs terkenal.