
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 47
“Trus ngapain kakak gini? Kakak mau tidur? Jangan tidur dulu, kita harus ketemu Ken dan Kaori,” pinta Renata sambil mencubit hidung Reynold.
Reynold menjatuhkan tubuhnya ke atas tubuh Renata. Ia benar-benar kesal dengan sikap tidak peka Renata. Kesabarannya sudah habis untuk saat ini. Waktunya juga semakin sedikit karena tuntutan mamanya. Reynold
tidak ingin mengambil resiko adanya perjodohan. Ia tidak mau terlibat dengan wanita lain karena kuatir Renata akan mendukungnya.
“Kakak!! Berat banget!! Aku nggak bisa nafas!!” jerit Renata sambil meronta-ronta.
"Iya, bawel,” sahut Reynold sambil menahan tubuhnya dengan kedua tangan dan lututnya.
Renata mencubit pipi Reynold hingga dower memperlihatkan deretan gigi putihnya. Ia tahu kalau Reynold hanya ingin bercanda, tapi Renata sedang sangat serius kali ini. Mereka harus segera bertemu Ken dan Kaori sebelum terlambat. Reynold yang belum ingin beranjak dari atas tubuh Renata, menatap dalam mata gadis itu.
“Nona, apa kau mencintaiku?” tanya Reynold.
Renata menatap Reynold bingung, perkataan pria itu jarang ada yang serius. Makanya Renata tidak tahu kalau Reynold sangat mencintainya. Seperti saat sekarang, Renata yakin kalau Reynold sedang bermain-main seperti biasanya.
“Iya, aku mencintaimu, tuan,” sahut Renata sambil menatap Reynold dengan mata jereng yang sengaja di buatnya.
Reynold kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas tubuh Renata, membuat gadis itu meronta-ronta karena tidak bisa bernafas. Renata berteriak-teriak di telinga Reynold yang asyik mengerjai aunty-nya itu.
“Hahahahahaha...,” tawa geli Reynold terdengar di kamar itu setelah ia berpindah ke samping Renata.
“Iih, kakak tuch bercanda aja trus. Serius sedikit kenapa sich?” ucap Renata sambil duduk. Rambut dan gaunnya jadi berantakan karena ulah Reynold.
“Yang barusan aku serius, Renata,” ucap Reynold.
Renata menoleh menatap mata Reynold yang sudah menatapnya dengan serius. Ekspresi Renata sedikit tertegun. Dalam hati gadis itu, mulai goyah karena ulah Reynold. Sejurus kemudian, pria itu kembali tertawa sambil berguling-guling.
“Tuch kan! Ketawa sana trus, sampe keselek!” jerit Renata kesal.
“Coba kamu bayangin kalau setiap wanita yang aku temui, aku tanyai seperti itu. Jawabannya pasti sama kan. Jelas mereka mau. Aku kan ganteng, modis, tajir, dan juga smart. Paket khusus yang cuma ada satu diantara satu juta orang di dunia,” ucap Reynold menyombongkan dirinya.
Renata memajukan bibir bawahnya, ia memutar bola matanya malas mendengar kesombongan Reynold. Tapi apa yang dikatakan Reynold memang benar. Semua wanita single akan bertekuk lutut dengan mudah dihadapan Reynold. Semua yang ada di dalam diri Reynold saja sudah menarik perhatian apalagi printilannya juga. Reynold memang benar, ia adalah pria paket khusus yang jarang ditemukan di dunia.
“Kakak, minggir, aku mau bangun. Sesak kalo terus duduk gini,” kata Renata.
“Kalo sesak, berbaring aja. Kita istirahat dulu sebentar disini. Aku yakin pestanya akan selesai nanti malam. Undangannya kan datang bergantian,” balas Reynold.
“Kalo gitu, aku mau ganti baju dulu. Pinjem kaos kakak,” pinta Renata.
Reynold meminta Renata mengambilnya sendiri di lemari. Reynold memang tidak pernah membawa koper ketika pulang. Semua kebutuhannya selalu siap di kamar dan mobilnya. Kalaupun ia harus menginap di
rumah Alex, Reynold akan meminta seseorang mengambil bajunya di rumah Rara.
Setelah berhasil turun dari atas tempat tidur, Renata berjalan mendekati lemari pakaian Reynold. Ia memilih kaos yang cukup besar dan juga celana pendek milik pria itu. Ketika ingin mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi, Renata kuatir kalau gaunnya sampai basah. Ia akhirnya mengusir Reynold dari dalam kamar itu.
“Kamu ganti baju aja, aku nggak akan ngintip. Nggak ada yang bisa dilihat juga,” sahut Reynold mulai nyebelin.
Renata menabok lengan pria itu yang masih asyik berbaring di tempat tidurnya. Bahkan jas mahalnya masih ia pakai. Renata sedikit tersinggung dikatai tidak menarik. Ia juga bingung kenapa sikap Reynold jadi menyebalkan sekarang. Biasanya sikap Reynold sangat manis dan mau menuruti semua keinginan Renata. Akhirnya gadis itu mengeluh lapar dan meminta Reynold mengambilkan makanan untuknya.
“Aku pesenkan makanan. Sudah sana, ganti baju,” sahut Reynold lagi. Pria itu berbalik menelungkup membelakangi Renata dan menutup kepalanya dengan selimut. “Aku nggak akan ngintip, aunty. Emangnya
selama ini aku suka ngintipin aunty?” tanya Reynold kembali memanggil Renata dengan sebutan aunty.
Terpaksa Renata mengganti pakaiannya di dalam kamar Reynold. Sesekali Renata melirik Reynold yang masih tetap berada di tempat semula. Pria itu memang tidak perlu mengintip Renata secara langsung. Ia bisa
memakai software mata-matanya untuk melakukan itu. Seringai mesum Reynold menghiasi bibirnya.
Bruk! Renata yang sudah selesai ganti baju, berbaring lagi diatas tempat tidur. Ia juga kurang tidur kemarin malam. Setidaknya Renata ingin tidur sebentar sebelum kembali ke rumah Alex.
“Jangan tidur dulu, aunty. Makan dulu,” kata Reynold ketika melihat Renata memejamkan matanya.
“Iih, berisik,” sahut Renata sambil mengambil bantal dan memeluknya. Gadis itu bergerak menyamping lalu tidur membelakangi Reynold.
**
Sementara itu di rumah Alex, pesta masih tetap berlangsung. Hanya saja, tamu undangan sudah pulang semua. Tinggal keluarga dan teman dekat saja yang masih ada di tempat pesta. Kaori dan Ken sudah duduk di
“Kaori, nenek bukannya mau merusak hari baik kalian ini ya. Tapi nenek perlu mengatakan sesuatu yang penting. Kaori kan sudah tahu yang sebenarnya. Apa tidak sebaiknya kalau Kaori dinikahkan lagi oleh Endy?”
tanya nenek Almira.
“Apa maksud nenek? Apa pernikahan kami belum sah?” tanya Kaori takut.
Kaori menggenggam tangan Ken dengan erat. Ken melihat sekeliling, memastikan tidak ada yang cukup dekat untuk mendengar pembicaraan mereka saat itu. Kaori yang menyadari suaranya cukup kencang, sontak berhenti bicara.
“Ya, begitulah. Sebaiknya kita pindah duduk untuk membahas ini ya. Atau disini cukup aman?” tanya nenek Almira.
Kakek Martin mengatakan kalau mereka duduk di bagian VVIP, jadi semua pembicaraan mereka sangat aman karena beberapa bodyguard yang berjaga tidak akan membiarkan siapapun mendekat. Nenek Almira
mengangguk, lalu melanjutkan pembicaraan tentang sah-nya sebuah pernikahan dalam agama mereka.
“Seharusnya seorang anak perempuan dinikahkan oleh ayah kandungnya, saudara laki-lakinya, atau wali nikah yang dikuasakan. Kita bisa memanggil wali nikah sekarang juga. Nenek akan menghubungi Endy untuk
mengirimkan surat kuasanya,” kata nenek Almira.
Kaori tidak mengatakan apa-apa, ia hanya mengangguk. Mau dikuasakan juga tidak apa-apa, baginya pernikahannya dengan Ken harus sah secara agama dan negara. Kalau tidak, ia takut pernikahan mereka akan bermasalah nantinya.
Ken memanggil Rio, Gadis, Alex, dan Mia untuk bergabung dengan mereka. Nenek Almira menjelaskan apa yang mengganjal di hatinya dan mulai terdengar keberatan dari Rio.
“Kaori adalah putri saya. Pernikahan mereka sudah sah. Tidak perlu menikah ulang,” ucap Rio dengan suara tertahan.
“Rio, kamu juga tahu kan kalau apa yang dikatakan nyonya Almira adalah yang seharusnya. Ini hanya pernikahan ulang dan kita bisa melakukannya dengan tertutup. Hanya kita yang tahu,” kata Alex.
Rio menghela nafas menahan amarahnya. Ia menatap Kaori yang terlihat sedih lalu mengangguk menyetujui pernikahan ulang. Tapi masalah kembali muncul ketika Rio menanyakan orang tua kandung Ken. Jelas-jelas
suami Kaori itu tidak tahu siapa orang tua kandungnya. Lalu bagaimana pernikahan ulang bisa dilakukan. Masa iya, Endy akan jadi ayah untuk kedua mempelai.
Alex dan Mia saling pandang, lalu kompak menatap Ken. Kakek Martin dan nenek Almira juga menatap Ken. Hanya dia yang bisa mengatakan kebenarannya. Semua orang yang tahu sudah berjanji tidak akan membuka rahasia kelahiran Ken apapun yang terjadi.
Ken jadi dilema ingin mengatakan yang sebenarnya. Baru saja Kaori merasa lebih baik setelah mengetahui rahasia kelahirannya. Hubungan antara Ken dengan Endy dan Kinanti juga membaik setelah mereka akhirnya sadar dengan perbuatannya. Tapi Ken tidak ingin menambah garam di luka Kaori. Sudah cukup ia merasakan sakit hati karena perbuatan Endy dan Kinanti.
“Pasti ada cara yang bisa dilakukan. Jangan sampai aku batal malam pertama karena orang tua kandungku,” kata Ken mengelak. Kaori mencubit lengan Ken karena sempat bercanda di saat yang serius seperti itu.
“Bagaimana kalau pakai nama papa saja?” tanya Alex.
“Sepertinya bisa dilakukan. Ken bisa pakai nama Alex Putra Pratama,” sambar nenek Almira tidak sabaran. Sejujurnya ia gemas sekali pada Ken yang masih menjaga perasaan saudaranya. Tapi mengatakan yang
sebenarnya, hanya akan menambah kebencian Rio pada Endy dan Kinanti.
Wali nikah yang ditunjuk nenek Almira segera datang. Surat kuasa dari Endy juga sudah diterima. Tanpa banyak pertanyaan, Endy menandatangani surat kuasa yang dikirimkan padanya. Ia juga ingin
pernikahan Kaori sah secara agama. Ken dan Kaori dituntun menuju ruang kerja bersama Alex, Mia, Rio, dan Gadis. Nenek Almira dan kakek Martin juga ada di dalam ruangan itu. Selain wali nikah, ada dua saksi yang ditunjuk dari orang kepercayaan kakek dan nenek Ken.
Tentu saja kepergian mereka dari tempat pesta, menarik perhatian beberapa orang. Tapi Alex mengalihkan perhatian semua orang dengan mengatakan kalau kakek Martin akan memberikan hadiah secara pribadi
kepada Kaori dan Ken sebelum pergi.
Sekali lagi, Ken mengucapkan sebaris kalimat dengan lantang setelah wali hakim mengucapkan kalimatnya duluan. Kedua saksi langsung mengatakan sah dan mereka berdoa bersama untuk kebahagiaan Kaori dan Ken. Rio yang masih terlihat sedih, merasakan pundaknya di tepuk seseorang.
“Sudahlah, Rio. Yang penting Kaori dan Ken bisa bahagia bersama,” ucap Alex.
“Iya, pah. Tapi tetap nggak rela rasanya. Endy bahkan tidak menginginkan Kaori. Dia tidak punya hak sama sekali,” sahut Rio.
Alex terdiam, ia akan merasakan hal yang sama kalau Renata menikah nanti. Biar bagaimanapun Renata juga adalah putri kandung Endy dan Kinanti. Terlepas dari siapa pria yang akan menikahi Renata, masalah seperti ini pasti akan terulang lagi. Tapi Alex juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah pernikahan ulang itu selesai, mereka keluar dari ruang keluarga lalu kembali ke tempat pesta. Kecuali kakek dan nenek Ken yang segera berpamitan pulang. Ken masih menahan Kaori di dalam ruang kerja itu. Ia ingin Kaori beristirahat sebentar sebelum kembali ke tempat pesta.
Visual Kaori
Visual Ken