
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 30
Kebenaran itu belum bisa diungkapkan sekarang. Ken
sudah jelas meminta agar rahasia itu tidak diketahui siapapun lagi. Renata
tidak boleh tahu kalau ia bukan anak kandung Mia dan Alex.
“Memangnya Kinanti sakit apa, Rio?” tanya Alex
mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
“Entahlah, pah. Yang jelas Kinanti diperiksa dokter
psikiater. Apa dia gila?” tanya Rio balik.
Mereka sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan
Rio. Alex sempat berpikir untuk mengatakan semua yang diketahui Rio pada Ken.
Tapi Ken selalu minta pada Alex untuk tidak membicarakan hal-hal seperti itu
lewat telpon atau chat. Ken mengatakan kalau kemungkinan orang yang suka
menguping mereka bisa menyadap saluran komunikasi mereka nantinya.
“Jadi, bagaimana dengan lamaran Ken? Apa mereka
bisa menikah?” tanya Mia masih mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Tergantung Kaori, mah. Apa dia mau menikah
sekarang atau kapan? Lagipula Ken sepertinya sibuk sekali bekerja. Aku jarang
mendengar Ken menelpon Kaori atau datang berkunjung kesini,” kata Rio.
“Bukannya kamu ngelarang Ken ketemu sama Kaori dulu
sampai hasil tes ini keluar. Lupa ya?” tanya Mia sambil nyengir.
Rio menggaruk kepalanya, memang ia melakukan itu,
tapi setidaknya Ken harus berusaha menunjukkan dirinya juga. Masa seorang pria
yang sedang berjuang demi cinta, tidak mau berkorban sedikit pun.
“Iya, sih mah. Tapi seharusnya dia berjuang untuk
mendapatkan Kaori juga kan,” kata Rio ngeles.
“Mama rasa, Ken sudah cukup berjuang untuk
mendapatkan Kaori. Dia berusaha jadi lebih kuat dan hebat sekarang. Bukan hal
mudah loh, mengelola perusahaan besar diusia yang masih muda seperti Ken,” puji
Mia sedikit berlebihan.
Rio sedikit galau mendengar kata-kata Mia, dirinya
saja sudah kepala empat tapi masih saja bekerja sebagai asisten papanya. Alex
meminta Mia tidak mengatakan hal-hal seperti itu, lagipula Ken mendapatkan itu
semua karena warisan. Apa yang sudah dicapai Ken saat ini adalah karena
kemudahan yang diberikan kakek Martin padanya.
“Papamu benar, Rio. Mama minta maaf ya. Tanpa mama
sadari, mama sudah membandingkan kalian berdua. Seharusnya mama tidak
mengatakan hal seperti itu,” sesal Mia menyadari kekecewaan Rio.
“Nggak apa-apa, mah. Aku cuma takut karena
kekuasaan yang besar, Ken akan jadi seenaknya,” ucap Rio.
Mereka terdiam lagi, terakhir kali kakek Martin
mengancam Alex adalah demi membawa Kaori pergi ke rumah besarnya. Entah apa
yang akan dilakukan Ken kalau Rio menolak lamaran pria itu pada Kaori. Mereka
berempat saling pandang terus nyengir satu sama lain.
“Sebaiknya kita setujui saja. Meskipun harus
berbesan dengan Endy dan Kinanti, aku rasa Ken bisa mengatasi mereka. Tapi
kenapa aku jadi ragu ya?” tanya Rio pada dirinya sendiri.
“Sepertinya kita harus bicara dengan Ken sebelum
menyetujui lamarannya. Tapi apa yang akan kita bahas?” tanya Alex.
“Mungkin kita bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi
pada Kinanti. Lagipula kalau Ken menikah dengan Kaori, cepat atau lambat Kaori
akan bertemu dengan Kinanti. Kita tidak bisa melarangnya, kan?” tanya Mia.
“Aku masih tidak rela kalau Kaori harus bertemu
dengan Kinanti. Entah apa yang akan dikatakan Kinanti pada Kaori. Jangan sampai
rahasia kelahirannya diketahui Kaori. Entah apa yang akan terjadi padanya
nanti,” kata Rio lagi.
“Papa akan telpon Ken dulu. Mungkin kita harus
membuat janji untuk ketemu dia,” kata Alex.
Pria paruh baya itu menelpon Ken, tapi Ken tidak
mengangkatnya. Saat itu Ken sedang berada di tempat Endy dan Kinanti. Ken
membawa dokumen akuisisi perusahaan milik Endy dan Kinanti. Endy sudah
menandatangani dokumen bagiannya, tinggal menunggu Kinanti yang masih berusaha
menggerakkan jarinya.
Ken melihat keadaan Kinanti yang bahkan lebih parah
dari kakek Martin. Ia terlihat lebih rapuh dan kurus. Sampai sekarang Endy masih
belum mau terbuka tentang penyakit yang dialami Kinanti. Meskipun Ken sudah
bertanya, tapi Endy masih saja bungkam.
“Pah, sebenarnya mama kena penyakit apa sich? Papa
harus bilang atau kita tidak bisa menemukan obatnya,” kata Ken mulai kesal.
“Papa sudah bilang, mamamu harus ketemu Kaori dan
Renata. Tapi kamu nggak mau bantu, ya sudah. Cerewet sekali,” sahut Endy cuek.
Ken cemberut, ia mendekati Kinanti yang baru saja
selesai tanda tangan dengan susah payah. Kinanti menjatuhkan pulpen di
tangannya dan pulpen itu menggelinding ke pinggir kursi rodanya. Saat Ken
membungkuk di samping Kinanti untuk mengambil pulpen itu, Kinanti mengelus
kepalanya lalu mengucapkan kata maaf.
“Mama bilang apa?” tanya Ken sambil menengadah
menatap Kinanti.
“M—maaf, Ken,” lirih Kinanti dengan susah payah.
Suara Kinanti terdengar sangat berat dan lemah. Ken
menggenggam tangan Kinanti, ia tersenyum pada wanita yang Ken anggap mamanya
selama ini. Sebuah pelukan hangat diberikan Ken untuk Kinanti. Meskipun kesal
pada kedua orang tua itu, Ken tidak bisa mendendam pada mereka berdua. Ia masih
menjaga perasaan semua orang karena ada orang-orang yang akan tersakiti kalau
Ken memilih membalas dendam.
Ken tidak perlu bersusah payah membalas apapun yang
terjadi pada hidupnya. Melihat Kinanti sakit, mendapatkan warisan yang sangat
banyak, dan juga kekuasaan yang tidak terbatas. Terlebih yang paling penting
adalah Kaori, mereka berdua sama sekali tidak memiliki hubungan darah. Ken
tidak punya alasan lagi untuk membalas rasa kecewanya.
“Ken..., maafkan mama, nak.” Kinanti berucap lirih
penuh penyesalan.
Ken menatap Endy yang juga mendengar kata-kata
tadi ponselnya sempat berdering.
“Oh, om Alex menelponku. Ma, pa, aku harus pergi
dulu. Apa mama perlu sesuatu?” tanya Ken.
“Kaori... kapan menikah?” lirih Kinanti.
“Aku belum tanya dia mau menikah kapan, ma. Kak Rio
sempat tidak setuju karena sesuatu. Mungkin mereka ingin membicarakannya lagi.
Semoga saja mereka sudah setuju sekarang,” kata Ken.
“Kenapa mereka tidak setuju, Ken?” tanya Endy.
Ken terlihat ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan
Endy sekarang. Tapi rahasia ini cepat atau lambat akan terbongkar juga.
Terlebih penyakit Kinanti mungkin bisa sembuh kalau ia bertemu dengan Kaori.
Ken akan mengatakan ini dengan cepat.
“Kak Rio mengira kalau aku dan Kaori adalah kakak
dan adik,” sahut Ken akhirnya. “Om Alex mengatakannya dengan jelas tentang
rahasia kelahiran Kaori. Kaori adalah kakakku. Apa benar begitu, pa?” tanya Ken
ingin melihat reaksi Endy dan Kinanti.
Endy dan Kinanti terdiam, saling menatap satu sama
lain. Ken tidak punya waktu lagi untuk menunggu, ia lebih ingin bertemu dengan
Alex saat ini.
“Kalau papa tidak mau jawab, aku nggak maksa. Yang
jelas, aku sudah melakukan tes DNA untuk membuktikan kak Rio salah. Aku harus
menemui om Alex dulu, pa, ma. Sampai jumpa,” kata Ken lalu pergi dari sana.
Ken menelpon Alex, ia meminta maaf karena tadi
masih mengurus sesuatu yang penting. “Maaf, om. Tadi ada urusan penting. Ada apa,
om?” tanya Ken.
“Ken, kamu ada dimana sekarang? Bisa nggak kamu
datang ke rumah, malam ini?” tanya Alex.
“Aku otw, om. Boleh numpang makan?” tanya Ken
dengan senyum jahilnya.
“Kamu minta dipukul ya. Nanti tante Mia masakin
makanan kesukaanmu. Hati-hati dijalan,” sahut Alex.
“Pa, boleh ngajak adikku, nggak? Kenzo?” tanya Ken
lagi dengan suara berbisik.
“Iya, ajak saja. Siapa lagi yang mau kau ajak? Om
harus siapkan kursi tambahan,” kata Alex.
Ken akhirnya datang bersama Kenzo, Alan, dan
Ginara. Setelah menikah bertahun-tahun, Ginara belum juga hamil. Mereka masih
berusaha mendapatkan keturunan, tapi Alan sama sekali tidak mau memaksa Ginara.
Mereka masih sama-sama muda dan masih punya cukup waktu untuk memiliki
keturunan.
Mia menyambut kedatangan mereka semua, Ginara
memberikan puding buah dan puding coklat untuk keluarga Alex. Mereka segera
bergabung dengan keluarga Alex yang sudah duduk di meja makan. Ken sibuk
celingak-celinguk mencari Kaori. Tingkahnya menarik perhatian Rio yang menegur
Ken.
“Ken, kenapa kamu gelisah gitu? Nyari siapa? Renata
nggak ada disini,” kata Rio menahan geli.
“Renata nggak ada, tapi ponakannya ada kan, kak?”
tanya Ken tengil.
“Ada ini Reymond, Reyna, Roy, Riana, Riani, itu
Varrel juga ada,” sahut Rio menunjuk anak-anaknya dan anak Rava.
“Kak, Kaori mana?” tanya Ken to the point. Ia sudah
tidak sabaran ingin bertemu dengan Kaori.
Rio masih ingin menjahili Ken, ia tidak mau
mengatakan dimana Kaori. Akhirnya Ken menoleh menatap Reymond, ia membujuk
pemuda itu untuk mengatakan dimana Kaori berada. Tentu saja dengan iming-iming
game keluaran terbaru. Varrel yang mendengar kata game terbaru, segera menunjuk
kamar Kaori.
“Disana, kak. Kak Kaori ada di kamar itu. Mana
game-nya?” tanya Varrel.
Ken meminta Alan untuk menyuruh seseorang mengambilkan
hadiah yang sudah mereka bawa tadi. Sementara ia meminta ijin pada Alex untuk
memanggil Kaori di kamarnya. Rio tidak bisa berbuat apa-apa ketika Alex
mengangguk mengijinkan Ken masuk ke kamar Kaori.
Kaori yang masih duduk di dalam kamarnya, menoleh
saat pintu kamarnya terbuka. Ia menunggu orang yang masuk itu untuk bicara
lebih dulu.
“Kaori, apa kabar?” tanya Ken yang diijinkan masuk
ke kamar gadis itu.
“Ken? Kapan kamu datang?” tanya Kaori dengan senyum
sumringah.
“Kaori, aku kangen banget sama kamu. Om Alex
mengundangku makan malam. Ayo, kita keluar,” ajak Ken.
Kaori merasakan tangannya digenggam Ken, gadis itu
bangkit dari duduknya. Mereka hampir berjalan keluar kamar Kaori, tapi Ken
menghentikan langkahnya.
“Kaori, cium aku. Sebentar saja,” pinta Ken lalu
memeluk pinggang gadis itu.
“Ken, nanti papa marah sama kamu. Kita keluar aja ya,”
bujuk Kaori.
Tapi Ken tidak mau dengar, ia sudah menunduk
mengecup bibir pink Kaori. Tangan Kaori terangkat keatas memeluk leher Ken,
gadis itu terlena ciuman manis bersama kekasihnya itu. Rupanya Ken diikuti
anak-anak Rio yang lain, anak-anak itu mengintip Ken dan Kaori yang asyik ciuman
sampai lupa segalanya.
“Papa! Kak Ken cium kak Kaori!” adu Reymond dengan
kencang.
Kaori segera mendorong Ken setelah mendengar teriakan
Reymond. Ken menoleh menatap horor adik-adik Kaori yang nyengir lebar di depan
pintu kamar kekasihnya itu.