
Setelah selesai dengan urusan mengantarkan
belanjaan Katty, Rio dan Kaori melanjutkan perjalanan mereka menuju asrama.
Kaori : “Kita gak jemput Riri?”
Rio : “Kak Elo yang bakal nganterin katanya.”
Kaori : “Kita langsung ke asrama nich?”
Rio : “Iya, kamu mau kemana lagi?”
Kaori : “Aku...aku masih penasaran...”
Rio : “Penasaran apa?”
Kaori : “Yang tadi masalah Kak Katty ngapain gigit
kak Jodi.”
Rio : “Mungkin kak Katty lagi mimpi makan burger,
trus ngira lehernya kak Jodi itu burger. Digigit dech.” Rio menjawab sekenanya.
Ia berusaha tidak menanggapi rasa penasaran Kaori.
Kaori : “Masa gitu?”
Rio : “Emang kamu pernah mimpi makan sesuatu trus
nggigit bantal?”
Kaori : “Gak pernah sich. Trus yang kak Jodi capek
itu, mereka ngapain?”
Rio : “Mungkin kak Jodi habis lembur.”
Kaori : “Hari Sabtu juga kerja?”
Rio menghentikan mobilnya di depan sebuah mini
market, ia menghadap ke Kaori yang sudah menatapnya dengan pandangan mata polos
mirip anak kucing.
Rio : “Sebenarnya kamu mau tanya apa?”
Kaori : “Aku cuma tanya yang aku gak paham, dan aku
ngrasa jawaban kamu tadi mengada-ada. Masih belum sreg gitu.”
Rio : “Trus aku harus jelasin detail gitu, apa aja
yang mereka lakukan?”
Kaori : “Sudah pasti. Jadi kamu tahu kan mereka
ngapain?”
Rio menelungkupkan wajahnya di setir mobil, Rio
mulai frustasi dengan Kaori yang terus menggodanya tanpa dirinya sadari.
Kaori : “Rio... Aku juga mau tahu, kenapa mereka
bisa tinggal serumah tapi belum menikah.”
Rio : “Aku gak tahu jawaban pertanyaanmu, okey. Tapi
aku tahu gimana prakteknya.”
Kaori : “Oh ya? Kasi tahu aku.”
Shit!! Rio memaki dirinya yang keceplosan bicara
tentang praktek dan semakin menambah rasa ingin tahu Kaori.
Kaori : “Rio... kasi tau ya.”
Rio : “Kamu beneran mau tahu?”
Kaori : “Iya. Kasi tau, cepetan.”
Rio : “Kalau kamu maksa, kita harus ke apartment
papaku lagi.”
Kaori : “Sekarang ya? Masih ada waktu kan.”
Entah apa yang ada dipikiran Rio ketika ia
melajukan mobilnya menuju apartment Alex yang berada tak jauh dari tempat
mereka berhenti tadi.
*****
Keduanya kini sudah berada di dalam apartment Alex.
Alex memang memberikan kartu akses masuk ke apartmentnya pada Rio karena Rio
sering memakai mesin cuci di apartment itu untuk mencuci pakaiannya sambil ia
beristirahat setelah berkeliling ngojek.
Rio kurang suka memakai fasilitas laundry di kampus
karena harus antri lama dan itu cukup membuang waktunya untuk bekerja.
Kaori sudah duduk manis di atas sofa, ia menatap
Rio yang baru meletakkan dua gelas air putih di depan mereka.
Kaori : “Kita mulai?”
Rio : “Kamu beneran gak tahu? Atau cuma mau
menggodaku?”
Kaori : “Apa?!”
Rio : “Dengar baik-baik, yang ada di leher kak Jodi
itu namanya tanda ciuman atau biasa dibilang cupangan. Itu biasanya dibuat saat
dua orang laki-laki dan perempuan sedang melakukan aktifitas panas.”
Kaori : “Aktifitas panas? Seperti olahraga?”
Rio : “Bisa dibilang begitu, karena aktifitas ini
juga bisa membuat keringatan.”
Kaori : “Cu... Cupangan itu sakit gak?”
Rio : “Mungkin... aku gak pernah tuch.”
Kaori : “Kalau aku mau merasakannya, kamu mau bantu,
kan?”
Rio : “Apa?! Maksudmu?!”
Kaori : “Aku mau tahu rasanya cupangan...”
Rio menelan salivanya, sejak mereka memasuki
apartment Alex, Rio sudah mati-matian
menahan dirinya agar tidak menyerang Kaori. Tapi gadis ini seolah tidak
menyadari kalau di depannya ada serigala yang siap menerkamnya.
Rio menarik nafas panjang, ia akan penuhi keinginan
Kaori. Apapun yang Kaori mau akan ia berikan sekarang.
Rio : “Kamu mau dicupang di bagian mana?”
Kaori : “Di leher, sama kayak kak Jodi.”
Rio : “Kamu mau diliatin teman sekelas besok?”
Kaori : “Oh, iya ya. Tapi kenapa kalau diliatin?”
Rio : “Kamu bisa dikira perempuan nakal dan
digodain seisi kampus.”
Kaori : “Apa?!!”
Rio : “Dengar, Ri. Aku sudah bilang kan tadi
cupangan itu dilakukan saat aktifitas panas atau aktifitas ****, kamu ngerti
kan?”
Kaori : “Maksudmu, hubungan suami istri?”
Rio : “Pinter.”
menikah, kenapa mereka melakukan itu?”
Rio : “Mereka sudah dewasa, Ri. Sudah bekerja dan
mapan, pasti mereka punya alasan sendiri kenapa melakukan itu.”
Kaori : “Tapi aku tetap mau tahu rasanya... di
bagian tubuh mana yang aman dan gak keliatan?”
Rio menepuk jidatnya, ia tidak punya alasan menolak
lagi. Padahal ia sudah memberi peringatan pada Kaori tadi.
Rio : “Buka kaosmu.”
Kaori : “Apa?!”
Rio : “Yang aman cuma dipunggung atau didada. Kamu
yang pilih mau dimana.”
Kaori : “Kalau dipunggung, aku gak bisa liat dong.
Didada aja.”
Shit!! Rio semakin keras memaki dirinya, imannya
mulai goyah dengan godaan Kaori yang tidak langsung.
Rio : “Tenang, Rio. Jangan jadi laki-laki brengsek,
penuhi saja keinginannya dan lakukan dengan cepat.” Batin Rio.
Rio menepis pikiran kotor yang berputar di
kepalanya, ia menghempas setan yang terus membisikinya untuk menerjang Kaori.
Kaori : “Aku harus lepas kaos nich?”
Rio : “Iya, pake selimut tuch. Bisa lebih cepat? Aku
balik badan nich.”
Kaori beranjak ke tempat tidur dan masuk ke bawah
selimut. Ia beneran melepas kaosnya karena rasa penasaran yang mungkin akan
menghancurkan masa depannya sebentar lagi.
Kaori : “Sudah, Rio.”
Rio menghela nafas panjang, situasi macam apa ini?
Jantungnya deg-degan, keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Rio
berjalan mendekati Kaori, duduk di depannya.
Rio : “Kamu uda siap?”
Kaori : “Iya.”
Rio menurunkan sedikit selimut yang menutupi dada
Kaori, ia menelan salivanya ketika kulit putih mulus Kaori terlihat di depan
matanya. Tidak mau menunggu lagi, Rio segera melakukan keinginan Kaori.
Rio : “Lembut sekali. Harum dan kenyal sekali.”
Batin Rio.
Kaori : “Adduch...! Sakit!”
Rio menegakkan tubuhnya dengan cepat, ia melihat
hasil perbuatannya barusan mulai tampak memerah.
Rio : “Sudah tuch.”
Kaori : “Sekali lagi ya... Sebelah sini belum.”
Kaori menunjuk dadanya sebelah kanan, tadi Rio melakukannya di dada sebelah
kiri.
Rio : “Apa kamu tahu apa yang kamu minta ini?”
Kaori : “Aku kan cuma minta bantuanmu karena aku
penasaran.”
Rio : “Tadi kan sudah tahu rasanya. Sakit kan?
Sudah cukup.”
Kaori : “Sekali lagi, Rio... Sekali aja.”
Rio meremas rambutnya dengan keras, ia mulai stress
dengan permintaan Kaori. Apa Kaori pikir dirinya bukan laki-laki sejati?
Rio : “Ya, Lord. Gini amat ya punya pacar polos.
Apa kugarap sekalian? Gak boleh! Gak boleh nakal, Rio. Kamu mau mati!” batin
Rio berperang dengan hebat.
Rio : “Sekali aja ya. Habis ini kita pulang.”
Kaori : “Iya...”
Rio kembali menunduk, kali ini langsung memberikan
apa yang diminta Kaori. Lalu cepat-cepat kembali duduk di sofa.
Kaori : “Rio! Kamu belum selesai jelasin masalah
kak Jodi yang capek itu.”
Rio : “Aku gak tau kenapa kak Jodi capek, Ri. Udah
dong. Kita pulang yuk.”
Kaori : “Iya, deh.”
Kaori memakai kaosnya lagi dan turun dari atas
ranjang. Kaori merapikan selimut diatas ranjang itu sebelum mendekati Rio yang
duduk di sofa sambil memejamkan matanya.
Kaori : “Kamu kenapa?”
Rio : “Gak, cuma kepanasan.”
Kaori : “AC-nya dingin gini. Panas dari mana?”
Rio : “Badanku yang panas.”
Kaori : “Kamu sakit?”
Kaori memegang kening Rio, mendekatkan tubuhnya
pada Rio. Rio mendorong Kaori sampai Kaori terduduk di sofa lagi.
Kaori : “Kamu kenapa sich? Kasar banget!”
Rio : “Kamu yang kenapa? Maumu apa?”
Kaori : “Aku salah apa?”
Rio : “Salahmu sudah memancing gairahku...”
Kaori menatap Rio yang semakin mendekatinya, ia
tercekat saat tangannya ditarik Rio.
🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca
novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk
Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya
para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak
ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
🌲🌲🌲🌲🌲