Duren Manis

Duren Manis
Dilema Rio


Setelah selesai dengan urusan mengantarkan


belanjaan Katty, Rio dan Kaori melanjutkan perjalanan mereka menuju asrama.


Kaori : “Kita gak jemput Riri?”


Rio : “Kak Elo yang bakal nganterin katanya.”


Kaori : “Kita langsung ke asrama nich?”


Rio : “Iya, kamu mau kemana lagi?”


Kaori : “Aku...aku masih penasaran...”


Rio : “Penasaran apa?”


Kaori : “Yang tadi masalah Kak Katty ngapain gigit


kak Jodi.”


Rio : “Mungkin kak Katty lagi mimpi makan burger,


trus ngira lehernya kak Jodi itu burger. Digigit dech.” Rio menjawab sekenanya.


Ia berusaha tidak menanggapi rasa penasaran Kaori.


Kaori : “Masa gitu?”


Rio : “Emang kamu pernah mimpi makan sesuatu trus


nggigit bantal?”


Kaori : “Gak pernah sich. Trus yang kak Jodi capek


itu, mereka ngapain?”


Rio : “Mungkin kak Jodi habis lembur.”


Kaori : “Hari Sabtu juga kerja?”


Rio menghentikan mobilnya di depan sebuah mini


market, ia menghadap ke Kaori yang sudah menatapnya dengan pandangan mata polos


mirip anak kucing.


Rio : “Sebenarnya kamu mau tanya apa?”


Kaori : “Aku cuma tanya yang aku gak paham, dan aku


ngrasa jawaban kamu tadi mengada-ada. Masih belum sreg gitu.”


Rio : “Trus aku harus jelasin detail gitu, apa aja


yang mereka lakukan?”


Kaori : “Sudah pasti. Jadi kamu tahu kan mereka


ngapain?”


Rio menelungkupkan wajahnya di setir mobil, Rio


mulai frustasi dengan Kaori yang terus menggodanya tanpa dirinya sadari.


Kaori : “Rio... Aku juga mau tahu, kenapa mereka


bisa tinggal serumah tapi belum menikah.”


Rio : “Aku gak tahu jawaban pertanyaanmu, okey. Tapi


aku tahu gimana prakteknya.”


Kaori : “Oh ya? Kasi tahu aku.”


Shit!! Rio memaki dirinya yang keceplosan bicara


tentang praktek dan semakin menambah rasa ingin tahu Kaori.


Kaori : “Rio... kasi tau ya.”


Rio : “Kamu beneran mau tahu?”


Kaori : “Iya. Kasi tau, cepetan.”


Rio : “Kalau kamu maksa, kita harus ke apartment


papaku lagi.”


Kaori : “Sekarang ya? Masih ada waktu kan.”


Entah apa yang ada dipikiran Rio ketika ia


melajukan mobilnya menuju apartment Alex yang berada tak jauh dari tempat


mereka berhenti tadi.


*****


Keduanya kini sudah berada di dalam apartment Alex.


Alex memang memberikan kartu akses masuk ke apartmentnya pada Rio karena Rio


sering memakai mesin cuci di apartment itu untuk mencuci pakaiannya sambil ia


beristirahat setelah berkeliling ngojek.


Rio kurang suka memakai fasilitas laundry di kampus


karena harus antri lama dan itu cukup membuang waktunya untuk bekerja.


Kaori sudah duduk manis di atas sofa, ia menatap


Rio yang baru meletakkan dua gelas air putih di depan mereka.


Kaori : “Kita mulai?”


Rio : “Kamu beneran gak tahu? Atau cuma mau


menggodaku?”


Kaori : “Apa?!”


Rio : “Dengar baik-baik, yang ada di leher kak Jodi


itu namanya tanda ciuman atau biasa dibilang cupangan. Itu biasanya dibuat saat


dua orang laki-laki dan perempuan sedang melakukan aktifitas panas.”


Kaori : “Aktifitas panas? Seperti olahraga?”


Rio : “Bisa dibilang begitu, karena aktifitas ini


juga bisa membuat keringatan.”


Kaori : “Cu... Cupangan itu sakit gak?”


Rio : “Mungkin... aku gak pernah tuch.”


Kaori : “Kalau aku mau merasakannya, kamu mau bantu,


kan?”


Rio : “Apa?! Maksudmu?!”


Kaori : “Aku mau tahu rasanya cupangan...”


Rio menelan salivanya, sejak mereka memasuki


apartment  Alex, Rio sudah mati-matian


menahan dirinya agar tidak menyerang Kaori. Tapi gadis ini seolah tidak


menyadari kalau di depannya ada serigala yang siap menerkamnya.


Rio menarik nafas panjang, ia akan penuhi keinginan


Kaori. Apapun yang Kaori mau akan ia berikan sekarang.


Rio : “Kamu mau dicupang di bagian mana?”


Kaori : “Di leher, sama kayak kak Jodi.”


Rio : “Kamu mau diliatin teman sekelas besok?”


Kaori : “Oh, iya ya. Tapi kenapa kalau diliatin?”


Rio : “Kamu bisa dikira perempuan nakal dan


digodain seisi kampus.”


Kaori : “Apa?!!”


Rio : “Dengar, Ri. Aku sudah bilang kan tadi


cupangan itu dilakukan saat aktifitas panas atau aktifitas ****, kamu ngerti


kan?”


Kaori : “Maksudmu, hubungan suami istri?”


Rio : “Pinter.”


menikah, kenapa mereka melakukan itu?”


Rio : “Mereka sudah dewasa, Ri. Sudah bekerja dan


mapan, pasti mereka punya alasan sendiri kenapa melakukan itu.”


Kaori : “Tapi aku tetap mau tahu rasanya... di


bagian tubuh mana yang aman dan gak keliatan?”


Rio menepuk jidatnya, ia tidak punya alasan menolak


lagi. Padahal ia sudah memberi peringatan pada Kaori tadi.


Rio : “Buka kaosmu.”


Kaori : “Apa?!”


Rio : “Yang aman cuma dipunggung atau didada. Kamu


yang pilih mau dimana.”


Kaori : “Kalau dipunggung, aku gak bisa liat dong.


Didada aja.”


Shit!! Rio semakin keras memaki dirinya, imannya


mulai goyah dengan godaan Kaori yang tidak langsung.


Rio : “Tenang, Rio. Jangan jadi laki-laki brengsek,


penuhi saja keinginannya dan lakukan dengan cepat.” Batin Rio.


Rio menepis pikiran kotor yang berputar di


kepalanya, ia menghempas setan yang terus membisikinya untuk menerjang Kaori.


Kaori : “Aku harus lepas kaos nich?”


Rio : “Iya, pake selimut tuch. Bisa lebih cepat? Aku


balik badan nich.”


Kaori beranjak ke tempat tidur dan masuk ke bawah


selimut. Ia beneran melepas kaosnya karena rasa penasaran yang mungkin akan


menghancurkan masa depannya sebentar lagi.


Kaori : “Sudah, Rio.”


Rio menghela nafas panjang, situasi macam apa ini?


Jantungnya deg-degan, keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Rio


berjalan mendekati Kaori, duduk di depannya.


Rio : “Kamu uda siap?”


Kaori : “Iya.”


Rio menurunkan sedikit selimut yang menutupi dada


Kaori, ia menelan salivanya ketika kulit putih mulus Kaori terlihat di depan


matanya. Tidak mau menunggu lagi, Rio segera melakukan keinginan Kaori.


Rio : “Lembut sekali. Harum dan kenyal sekali.”


Batin Rio.


Kaori : “Adduch...! Sakit!”


Rio menegakkan tubuhnya dengan cepat, ia melihat


hasil perbuatannya barusan mulai tampak memerah.


Rio : “Sudah tuch.”


Kaori : “Sekali lagi ya... Sebelah sini belum.”


Kaori menunjuk dadanya sebelah kanan, tadi Rio melakukannya di dada sebelah


kiri.


Rio : “Apa kamu tahu apa yang kamu minta ini?”


Kaori : “Aku kan cuma minta bantuanmu karena aku


penasaran.”


Rio : “Tadi kan sudah tahu rasanya. Sakit kan?


Sudah cukup.”


Kaori : “Sekali lagi, Rio... Sekali aja.”


Rio meremas rambutnya dengan keras, ia mulai stress


dengan permintaan Kaori. Apa Kaori pikir dirinya bukan laki-laki sejati?


Rio : “Ya, Lord. Gini amat ya punya pacar polos.


Apa kugarap sekalian? Gak boleh! Gak boleh nakal, Rio. Kamu mau mati!” batin


Rio berperang dengan hebat.


Rio : “Sekali aja ya. Habis ini kita pulang.”


Kaori : “Iya...”


Rio kembali menunduk, kali ini langsung memberikan


apa yang diminta Kaori. Lalu cepat-cepat kembali duduk di sofa.


Kaori : “Rio! Kamu belum selesai jelasin masalah


kak Jodi yang capek itu.”


Rio : “Aku gak tau kenapa kak Jodi capek, Ri. Udah


dong. Kita pulang yuk.”


Kaori : “Iya, deh.”


Kaori memakai kaosnya lagi dan turun dari atas


ranjang. Kaori merapikan selimut diatas ranjang itu sebelum mendekati Rio yang


duduk di sofa sambil memejamkan matanya.


Kaori : “Kamu kenapa?”


Rio : “Gak, cuma kepanasan.”


Kaori : “AC-nya dingin gini. Panas dari mana?”


Rio : “Badanku yang panas.”


Kaori : “Kamu sakit?”


Kaori memegang kening Rio, mendekatkan tubuhnya


pada Rio. Rio mendorong Kaori sampai Kaori terduduk di sofa lagi.


Kaori : “Kamu kenapa sich? Kasar banget!”


Rio : “Kamu yang kenapa? Maumu apa?”


Kaori : “Aku salah apa?”


Rio : “Salahmu sudah memancing gairahku...”


Kaori menatap Rio yang semakin mendekatinya, ia


tercekat saat tangannya ditarik Rio.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca


novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk


Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya


para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak


ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲